Rain In The Winter

Rain In The Winter
142.


__ADS_3

Rain membuka perlahan pintu kamar Bianca, remang hanya ada cahaya dari jendela yang tertutup oleh gorden putih yang membuat cahaya matahari samar.


Dia mendekati perlahan Bianca yang sedang tertidur dibawah selimutnya, Rain bisa melihat mata lelahnya seolah dia tak tidur semalaman, namun sekarang dia tampak seperti malaikat yang tidur begitu nyenyaknya.


Rain membenarkan rambut Bianca yang menutupi wajahnya, perlahan sekali, menyentuh halusnya kulit wajah Bianca, namun dia melihat Antony muncul di pintu kamar Bianca, Rain tahu apa artinya.


Rain segera berjalan ke arah pintu itu melihat ke arah Antony dengan tajam.


"Beritahu Rio untuk mengantarnya pulang setelah dia bangun, siapkan sarapan sebelumnya untuknya," kata Rain sambil berjalan keluar dari sana.


"Baik Tuan, Nyonya sudah menelepon Anda lebih dari 10 kali pagi ini," kata Antony memberitahukannya pada Rain.


"Katakan saja aku sedang tak bisa di ganggu, putuskan aksesnya untuk datang ke sini, aku tak ingin di ganggu olehnya sekarang," ujar Rain menutup pintu itu perlahan Agar Bianca tak terganggu.


Ketika pintu itu tertutup Bianca perlahan membuka matanya yang tampak lelah, dia menggigit kembali bibirnya, sebenarnya dia sudah terbangun saat pintu itu dibuka oleh Rain.


Bianca awalanya gugup dan hendak segera bangun sebelum pria itu melakukan hal-hal yang tidak-tidak lagi, namun saat Rain mendekat, detak jantung Bianca jadi tak beraturan, setelah itu Bianca hanya bisa terdiam dan berpura-pura tidur.


Bianca benar-benar terkaku ketika sentuhan tangan hangat Rain menyentuh dahinya, lembut mengelus dahinya hingga dia tak bisa bernapas dan juga jantungnya rasanya berdetak begitu kencang hingga dia sendiri tak menyangka jantungnya bisa berdetak hingga seperti.


Sejenak saja, sejenak tadi dia bisa merasa pria yang dia cintai itu ada di sana, lagipula kenapa Bianca harus menghukum Rain? bukan salahnya melupakan Bianca? Rain pun pastinya tak ingin mengalami kecelakaan itu dan hilang ingatan, soal melenyapkan mereka, mungkin saat Bianca bingung dengan seluruh keadaan, dan tiba-tiba begitu banyak yang muncul untuk mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan namun sama sekali tak ada di ingatan, Bianca juga pasti sangat kesal dengan segalanya dan pastinya akan menjadi orang pemarah sesaat. Jadi haruskan Bianca bersikap baik pada Pria ini?


Bianca menyibakkan selimutnya, dia perlahan duduk di ranjangnya, merasa kepalanya cukup berat, namun kesuyian tempat itu malah lebih menganggunya.

__ADS_1


Bianca juga sempat mendengar bagaimana Rain memperlakukan Lidia, bahkan Dia tak ingin mengangkat teleponnya, saat mereka bersama dulu, bahkan Rain tak bisa berhenti menghubunginya hanya sekedar tahu apa yang dia lakukan.


Bianca segera turun, dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan sedikit dirinya karena dia tak mungkin mandi di sini.


Bianca segera keluar dan melihat Rio ada di sana, Rio segera mendekatinya dengan senyuman ala pasta giginya itu.


"Selamat pagi Nona, Tuan meminta anda untuk makan dulu," kata Rio segera. Bianca memutar matanya, melihat sekeliling yang kosong dan sepi, dari romannya Rain sudah pergi dari sana.


"Bisakah kita langsung pulang saja, ini sudah sangat pagi, aku harus bekerja," ujar Bianca lagi.


"Ehm, baiklah," kata Rio yang merasa tak mungkin memaksa Bianca untuk makan.


Bianca segera masuk ke dalam mobil dan Bianca segera pergi dari sana, tak jauh sebenarnya, hanya beberapa menit dia sudah mendekati rumahnya.


"Tuan mengatakan akan menghubungi anda secepatnya," ujar Rio lagi, kali ini Bianca tak banyak berkata atau membantah, dia hanya mengangguk pelan sambil keluar dari mobil itu dan menuju ke rumahnya. Untunglah masih terlalu pagi untuk melihat aktifitas yang ada lingkungannya, si kembar juga pasti belum bangun.


Bianca melihat suasana rumahnya yang masih hening, dia melihat ke arah kamarnya, kedua anaknya masih tidur dengan nyamannya, Bianca segera berjalan ke arah kamar mandi, dia ingin menyegarkan tubuhnya dulu.


Bianca melilitkan handuk putihnya lalu keluar dari kamar mandinya, dia sedikit kaget melihat sosok Yuri yang tiba-tiba saja sudah ada di sana, menatapnya cukup dalam.


"Eh? Yuri?" Tanya Bianca, mencoba mengartikan tatapan aneh dari Yuri.


"Anda baru pulang Nyonya?" Tanya Yuri yang mulai melunakkan pandangannya, sebenarnya dia ingin tahu kemana Nyonya pergi malam tadi, dan yang pasti hingga tadi pagi saat dia memeriksa keadaan si kembar Nyonya tetap tak ada di sana.

__ADS_1


"Ya, Pekerjaan banyak sekali, terima kasih sudah menjaga Gio dan Gwi, aku akan bangunkan mereka agar bersiap sekolah," ujar Bianca segera berjalan ke arah kamarnya.


"Aku akan membuat sarapan nyonya," ujar Yuri.


"Terima kasih," kata Bianca dengan senyuman sambil menutup pintu kamarnya.


Yuri mungkin terlalu membawa serius pekerjaannya, namun dia benar-benar ingin menjaga Nyonya-nya dengan baik, melihat pria itu semalam membuat perasaan sedikit tak nyaman, apalagi kenyataan Bianca bahkan tak pulang semalaman, walaupun dia suka mendorong Bram mendekati Bianca, sejujurnya dia masih berharap memiliki sedikit keajaiban agar keluarga kecil itu berkumpul kembali, Yuri tahu benar bagaimana perjuangan Tuannya dulu mendapatkan Bianca, jadi melihat Bianca sudah berdekatan dengan pria lain, seperti merasakan Bianca menghianati Tuannya.


"Ayo makan," kata Bianca saat semua sudah siap di meja makannya.


"Mami, mami nanti bekerja?" Tanya Gwi lagi, selalu menanyakan hal yang sama.


"Ya, mami akan pulang sore nanti," kata Bianca menghapus sedikit sisa makanan di bibir kecil anaknya yang merah.


"Nyonya, aku sudah mendapatkan pekerjaan di toko dekat dengan PAUD Tuan dan Nona Muda, aku akan pulang saat mereka pulang, apakah anda mengizinkannya?" Tanya Yuri, walaupun masih dikabuti oleh penasaran, tak ada haknya untuk bertanya lebih lanjut tentang apa hubungan Bianca dengan pria kemarin sebenarnya, lagi pula sudah 4 tahun, wajar jika Bianca membuka hatinya untuk yang lain.


"Oh, benarkah? Cepat sekali mendapatkannya?" Tanya Bianca dengan wajah senang.


"Ya, sebenarnya aku kenal dengan pemilik tokonya, dia adalah salah satu orang tua teman Tuan dan Nona Muda, mereka mintaku bekerja di sana," jelas Yuri lagi.


"Baiklah, tentu aku izinkan," kata Bianca lagi, dia juga kasihan melihat Yuri, hidup dengannya tanpa gaji sama sekali selama 4 tahun ini, mengabdi tanpa pamrih untuk mereka. "Gio, Gwi, Ayo makannya di selesaikan bisnya akan datang sebentar lagi."


"Iya mami," ujar Gio patuh dan segera lahap memakannya.

__ADS_1


Bianca mengecup dahi kedua anaknya sebelum mereka masuk ke dalam bis bersama Yuri, tak lupa lambaian tangan hangat untuk mereka. walaupun sedikit merasa tak enak badan, entah karena kurang tidur atau karena dia harus menahan Rain kemarin, tubuhnya jadi pegal-pegal, tapi tetap saja dia harus bekerja sekarang.


Tak butuh waktu lama, bis untuk mengantarnya ke tempat kerja akhirnya datang dan Bianca segera naik dan pergi dari sana.


__ADS_2