Rain In The Winter

Rain In The Winter
165.


__ADS_3

Bianca mengelus kepala Gio yang tampak masih mengantuk, dia baru saja dibangunkan oleh ibunya karena pramugari baru saja mengatakan mereka akan segera mendarat.


Sama dengan kakak kembarnya, Gwi bahkan segera terlelap lagi di kursinya sambil bersandar pada Bibi Yurinya, memang terlalu pagi bagi mereka untuk mendarat bahkan matahari saja belum tampak di cakrawala.


Bianca tersenyum melihat Gwi yang sangat mengantuk, Gio menahan kantuknya karena sedikit penasaran dan tak mau kehilangan momen mendarat pertamanya dengan pesawat.


Gio memegang tangan ibunya dengan sangat erat, pendaratan itu sebenarnya berjalan sangat mulus namun tentu saja terdapat goncangan yang membuat Gio kaget. Bianca mengembangkan senyumnya, menatap anaknya mencoba menenangkannya.


"Mami, Apa kita sudah sampai?" Kata Gio menatap ibunya dengan matanya yang cemerlang.


"Ya, kita sudah sampai, tunggulah sebentar Sampai mereka mengatakan kita boleh keluar," kata Bianca pada anaknya yang sibuk melihat keluar jendela, melihat landasan udara yang masih saja tampak gelap namun penuh dengan kerlap-kerlip lampu.


"Siapa yang akan menjemput kita, Mami?" Tanya Gio, apakah ada yang menjemput mereka.


Bianca melihat ke arah luar jendelanya, entahlah siapa yang akan menjemput mereka, entah ada atau tidak? Bahkan tempat ini begitu asing bagi mereka.


"Nyonya, sabuk pengamannya sudah boleh di lepaskan, saran saya, Tuan dan Nona muda untuk menggunakan jaket, udara di luar cukup dingin," ujar pramugari itu ramah.


"Oh, ya, terima kasih," ujar Bianca, dia membuka sabuk pengamannya, mengambil jaket untuk Gio lalu menggunakannya pada Gio yang tampak tenang dan menurut apa yang di lakukan oleh ibunya.


Bianca juga tak lupa menggunakan jaket untuk dirinya, melirik ke arah Yuri yang membantu Gwi yang masih saja enggan membuka matanya menggunakan jaketnya, seperti sangat nyaman dengan udara dingin di kabin pesawat itu.


Pintu pesawat itu terbuka, Bianca segera membuka sabuk pengaman Gio.


"Ingin digendong atau dituntun?" Tanya Bianca.

__ADS_1


"Tuntun saja Mami, Gio sudah besar, mami gendong Gwi saja," ujar Gio, melihat adiknya masih lemas di gendongan Yuri, tak terusik sama sekali dengan semua ini.


Bianca mengambil Gwi dalam gendongan Yuri, tangan yang satunya menggenggam tangan kecil Gio yang sudah semangat berjalan di depan mereka.


"Yang Mulia," ujar Tuan Gilbert menyapa Bianca di dekat pintu keluar, Gio yang mendengar ibunya dipanggil yang mulia hanya memasang wajahnya yang bingung dan polos.


"Ehm, adakah yang menjemput atau kita langsung pergi ke suatu tempat?" Tanya Bianca pada Tuan Gilbert.


"Nona Siena dan Tuan Ken sudah menunggu anda di luar, silakan Yang Mulia," ujar Tuan Gilbert menunjuk sopan ke arah luar membuat mata Bianca mengikuti arahnya, dia melihat Siena dengan mantel tebal berwarna coklat dan juga Ken sudah berdiri dengan senyum mereka.


Gio turun duluan menapaki tangga itu di susul oleh Bianca yang tampak mengawasi anaknya itu. Udara di sana jauh berbeda, di tempatnya yang dulu begitu panas khas udara pantai, namun di sini malah dingin bahkan saat mereka bernapas, napas mereka segera berubah menjadi asap yang keluar. Membuat hidung Bianca terasa sangat dingin sekarang.


"Hati-hati," ujar Bianca melihat anaknya lincah turun.


Saat Bianca menapak ke aspal yang masih dingin itu, Siena tampak sudah mendekati mereka, terlalu tak sabar melihat keponakan barunya yang bahkan baru beberapa hari ini dia tahu mereka ada karena Bram mengatakan bahwa anak dari kakaknya ini tak selamat dulunya.


"Ah! Aku ingin memelukmu, tapi dia sedang tidur," ujar Siena mengibaskan tangannya ke wajahnya yang menahan air mata senang, melihat Bianca menggedong gadis kecil yang tidur lelap, bahkan tak terganggu dengan udara dinginnya.


"Mami, ini siapa?" Ujar Gio, dia sedikit bingung dengan wanita ini, dia tak pernah bertemu dengannya.


"Hai, siapa namamu?" Kata Siena menatap ke arah Gio kecil yang mengamatinya, Siena terpukau, sekecil ini saja sudah sangat tampan.


"Giovan, itu saudara kembarku, Gwiyomi," ucap Gio tak lupa mengenalkan separuh dirinya yang bahkan tak terpisahkan dari kandungan.


"Ya, ampun, kenapa kau lucu sekali, kau harus berikan aku anak kembar juga," ujar Siena melirik suaminya yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Ehm, itu bagaimana yang di atas," suara Ken terdengar berat, Bianca menatap sosok yang juga sudah lama tak dilihatnya, Ken menunduk sejenak, "Nyonya."


"Jangan panggil aku Nyonya, kalian sudah menikah, aku juga jadi kakak iparmu sekarang," ujar Bianca dengan senyumannya, Ken hanya mengangguk, Ken lalu melemparkan pandang pada Yuri, Yuri menundukkan kepala sejenak tanda penghormatan.


"Gio, ini Bibi Siena dan Paman Ken, Bibi Siena adalah adik papi Gio dan Gwi," kata Bianca memperkenalkan sosok yang dari tadi diamati oleh Gio, mendengar penjelasan itu Gio mengerti, dia memberikan salam hormat yang formal.


"Paman, Bibi, salam kenal," ujar Gio sopan.


"Ah! Kau benar-benar manis," ujar Siena ingin sekali mencubit pipi Gio yang merah karena perubahan cuaca.


Mendengar suara Siena yang cukup memecah keheningan, akhirnya Gwi terbangun juga, dia mengusap hidungnya yang terasa dingin, dengan mata sipit yang mengantuk, dia melihat ke arah suara tadi berasal, antara sadar dan mengantuknya, dia asal saja tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahu kecil ibunya.


"Kau membangunkannya," kata Ken melirik istrinya yang begitu semangat.


"Ya ampun, pantas kakak langsung mengakui mereka dan dia juga tak akan bisa mengelak, gadis kecil ini seperti fotokopi ayahnya," ujar Siena tak percaya ada anak seimut dan semanis ini.


"Benarkah? Tak mirip denganku?" Ujar Bianca, selalu saja mereka mengatakan Gwi mirip dengan Rain.


"Ya, mungkin hidungnya mirip denganmu kak, boleh aku menggendongnya? Sini bibi gendong," ujar Siena, Gwi yang memang selalu gampang dekat dengan siapapun mau saja langsung di gendong oleh Siena, Siena tentu senang, sudah 4 tahun ini berumahtangga namun dia dan Ken belum dikaruniai keturunan, dia sangat berharap mendapatkan anak perempuan apalagi bisa secantik dan seimut Gwi ini.


"Ayo, kita segera masuk, udara sangat dingin," ujar Siena menuju sebuah mobil yang khusus di siapkan untuk menjemput Bianca.


Bianca dan Gio langsung masuk ke sebuah mobil keluarga Mercedes Benz Sprinter A3 yang mewah, mereka masuk namun Ken tidak masuk ke dalamnya.


"Yakin bisa sendiri?" Tanya Ken pada Siena yang duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Tentu, kau tidak lihat pengawalannya, ini sudah seperti pengawalan presiden, lagipula mereka tak akan berani berkutik di sini," ujar Siena menatap suaminya yang dari tadi tampak cemas.


"Ken tidak ikut?" Tanya Bianca yang ada di sebelah Siena.


__ADS_2