Rain In The Winter

Rain In The Winter
106. Kabar mengejutkan (2)


__ADS_3

"Nyonya, tampung air seni anda di sini, setalah itu kita bisa periksa," kata Dokter Sani segera, Bianca yang belum pernah memeriksakan kehamilan seperti ini langsung mengangguk, perlahan dia segera melakukan apa yang dokter inginkan.


Dokter Sani segera melakukan pemeriksaan setelah Bianca memberikan air seninya, Bianca dan Yuri berwajah berharap ketika Dokter Sani sedang membaca hasilnya.


Wajah Dokter Sani langsung dihiasi senyuman, membuat Bianca pun tersenyum padahal dia tak tahu apa artinya, namun senyuman dokter itu sangat menular.


"Nyonya, selamat, anda sedang mengandung, Anda dan Tuan akan memiliki bayi kecil," kata Dokter Sani senang, melihat perubahan wajah Bianca dari wajah terkejut menjadi begitu bahagia, benar-benar sebuah pemandangan yang selalu dia sukai sebagai dokter.


"Benarkah?" Tanya Bianca masih tak percaya, dia menatap ke arah Yuri yang juga girang.


"Benar Nona, setelah saya hitung mungkin kehamilan anda Baru memesuki Minggu ke 4, USG juga belum menunjukkan apapun hanya penebalan rahim, saya sarankan anda datang ke praktek saya untuk USG setelah usia 8 Minggu agar terlihat perkembangan dan detak jantungnya," kata dokter Sani, sambil memberikan nasehat dia menuliskan resep penguat kandungan dan vitamin yang bagus untuk dikonsumsi oleh Bianca.


"Baiklah," kata Bianca semangat, dia melihat ke arah Yuri yang juga tampak sangat bahagia bagaikan keluarganya yang sedang hamil.


"Jangan dulu berhubungan Sampai 16 Minggu, istirahatlah nyonya, sebisa mungkin banyak makanan yang bergizi ya nyonya dan minum susu, tak perlu susu khusus kehamilan jika anda mual, susu khusus kehamilan memang banyak mengandung zat besi yang membuat anda mual, susu biasa pun tak apa, kita akan bertemu 1 bulan lagi," kata Dokter Sani memberikan resep itu agar di beli oleh Yuri


Terima kasih dokter," ujar Bianca, belum bisa dia menutupi ke semangatnya, Bianca bahkan sampai hampir melompat senang, tapi Yuri langsung segera mengingatkannya.


"Nyonya, jangan melakukannya," kata Yuri.


"Oh, ya, benar," kata Bianca.


"Nyonya, apakah saya harus melaporkannya sekarang?" Kata Yuri lagi.


"Jangan, aku akan menunggu, katakan saja keadaanku baik-baik saja kalau Tuan menanyakannya, aku akan mengatakannya langsung," ujar Bianca dengan semangat, pasti Rain akan sangat senang, dia benar-benar menanti anak ini.


Bianca mengelus perutnya, belum ada apa-apa, hanya saja dia tak menyangka bahwa di dalam perutnya sekarang sudah ada kehidupan baru yang berkembang, sangat menakjubkan, seharian ini Bianca hanya duduk, sesekali mengelus perutnya yang rata, tak sabar menunggu kepulangan suaminya malam ini.


---***---


Rain tampak diam mendengarkan Tuan Jefrey bercerita tentang kerja sama mereka, namun Rain tampak sekali sedang tak begitu fokus dengan hal ini, Tuan Jefrey lalu mengerutkan dahinya, tak biasanya Rain yang dia kenal perfeksionis dalam pekerjaan ini bisa seperti ini.

__ADS_1


"Tuan Rain ada apa?" Tanya Jefrey, usianya tak jauh beda dengan Rain.


"Maafkan aku Tuan Jefrey, tapi ada hal lain yang sedang menganggu pikiranku, aku minta maaf jika anda tersinggung, tapi aku rasa aku harus pulang sekarang," ujar Rain, percuma saja dia tetap tak bisa bekerja jika tahu Bianca sakit di rumah, padahal Yuri sudah mengabarkan pada Luke bahwa dia baik-baik saja, namun tetap Rain tak bisa tenang karenanya.


Tuan Jefrey sedikit mengerutkan dahinya, memandang dengan wajah penasarannya.


"Memangnya ada apa Tuan Rain?" tanya Tuan Jefrey lagi.


"Istriku sedang sakit, aku tak bisa meninggalkannya sendirian di rumah," ujar Rain serius, Tuan Jefrey mengerutkan dahinya lebih dalam namun dengan senyuman, dia tak percaya bahwa tuan Rain yang tampak dingin sekali ini bisa begitu perhatian dengan istrinya, tentu dia mengerti Jika alasannya seperti ini.


"Baiklah, tidak masalah, bagaimana dengan lusa, kita bisa bertemu lagi, " ujar Tuan Jefrey, sedikit membuat Rain kaget karena dia berpikir dia sudah bertindak tidak profesional dan menyinggung Tuan Jefrey, nyatanya dia mengerti.


"Baiklah, terima kasih Tuan Jefrey, saya undur diri dulu," ujar Rain, dia berdiri di ikuti oleh Tuan Jefrey, langsung berjabat tangan lalu segera pergi dari sana.


Rain segera berjalan menuju helikopternya, dia sedikit mengerutkan dahinya, tak melihat pilot yang mengemudikan helikopter mereka.


"Dimana dia?" Tanya Rain, memang dia lebih cepat satu jam dari yang di janjikan, tapi seharusnya pilot itu tetap stand-by di sana.


Rain menunggu dengan tak sabaran, dia merasa waktunya menunggu ini memperlama dirinya untuk bertemu dengan Bianca.


"Dia akan segera kemarin Tuan, dia sedang ada di kamar mandi," ujar Luke. Rain hanya mengangguk kesal, tak bisa lagi menunggu.


Tak begitu lama akhirnya pilot itu datang, dia tampak begitu sungkan melihat wajah Rain yang sangat ke arah padanya, namun Rain hanya bisa menahannya, tak ingin berdebat, dia ingin cepat pulang.


Rain langsung naik, Luke ingin mengikutinya namun Rain langsung menghalanginya.


"Tinggallah dan temani tuan Jefrey hingga dia kembali, setelah itu helikopter akan menjemputmu," kata Rain, merasa sungkan jika meninggalkan tempat itu dan tak ada yang menemani Tuan Jefrey di sana, padahal dia lah yang memintanya bertemu di sini.


"Baik Tuan," ujar Luke, merasa sedikit tak ingin meninggalkan Rain sendiri tapi dia tak bisa menolak hal itu.


Rain mengangguk, Luke pergi menjauh sebelum mereka mulai mengudara. Luke melihat Helikopter itu mengudara, perlahan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Cukup lama dia memandangi helikopter itu, dan dia perlahan masuk ke dalam ruangan pertemuan mereka kembali, namun dalam hatinya terasa ada yang janggal.


"Yuri, hubungi aku jika Tuan sudah sampai, dia sudah pulang," kata Luke segera menelepon Yuri.


"Baiklah," kata Yuri yang melihat ke arah Bianca yang bahkan setiap menit mengelus perutnya, mungkin dia tak perlu mengatakannya, agar menjadi kejutan pula bagi Nyonyanya, Tuannya pulang cepat.


---***---


Rain tampak mencoba menenangkan dirinya sejenak, perjalannya tak lama hanya 1 jam dari sini, mereka sudah mengudara 30 menit dan mereka sedang ada di atas lautan.


Saat Rain mencoba untuk mulai menutup matanya, tiba-tiba helikopter mereka berguncang keras, selain itu terdengar suara ledakan yang cukup kuat.


"Ada apa?" Kata Rain panik, dia juga melihat pilot yang panik, mencoba mengendalikan helikopternya yang mulai oleng tak terkendali.


Suara mesin dan peringatan terdengar cukup memekakkan.


"Tuan kita akan jatuh," ujar pilot itu, Rain membesarkan matanya, merasa helikopter itu memang tak bisa lagi di kendalikan, asap tebal terlihat di ekor helikopter itu, cepat sekali helikopter itu terjun ke bawah, ingin menghujam lautan.


Rain melepaskan dirinya dari sabuk pengamannya, begitu melihat helikopter itu sudah ingin masuk ke air, Rain segera membuka pintunya dan lompat dari sana, dia masuk ke dalam air dan saat dia berenang ke permukaan, tepat di atasnya helikopter itu masuk ke dalam air, membuatnya tenggelam lebih dalam ke dalam lautan yang mulai menggelap.


---***---


Suara bunyi ponsel.terdengar, tak lama langsung di angkat oleh empunya.


"Nona, Elang sudah jatuh Kel lautan," suara dari seberang terdengar, wanita itu menaikkan satu sudut bibirnya, membuat wajahnya yang manis terlihat sinis dan menyeramkan, dia sedang senang, amat senang hati ini, dia lalu menggigit kukunya yang panjang dan dipoles berwarna merah.


"Bagus sekali, lanjutkan, aku akan segera kembali."


Lidia menutup panggilan itu, dia tahu kali ini dia akan berhasil.


Rain! kau hancurkan hatiku? ku hancurkan hidupmu! pikirkya

__ADS_1


__ADS_2