
Bianca sedang sibuk di dapurnya, ini adalah rutinitas paginya, dia melirik ke arah jendela di rumahnya yang sangat sederhana, dia tersenyum melihat seekor kupu-kupu yang masuk ke dalam rumahnya.
Bianca sedang mencuci sayurannya, dia lalu mendengar sebuah langkah kecil mendekat, saat dia menoleh ke sampingnya, tangan mungil menjulur ke arahnya.
Gadis kecil dengan rambut lurus poni rata membuat wajahnya begitu imut sedang menaikkan tangannya tanda dia ingin mendapatkan gendongan ibunya, Bianca tersenyum, dia lalu meletakkan sayurnya, mengelap tangannya dan menggendong gadis cantik dengan wajah baru bangun itu, bahkan sangat mengemaskan.
"Selamat pagi, Gwiyomi," kata Bianca mencolek hidung mancung anaknya, mirip sekali dengan hidung ayahnya.
"Mami," kata Gwiyomi memeluk leher Bianca, mencium wangi tubuh ibunya yang selalu menangkannya.
"Mami! Mami!" Suara hentakan kaki yang terdengar gaduh di lantai kayu yang sudah usang itu terdengar, tubuhnya kecil namun kemampuan berlarinya sangat baik, di belakangnya Yuri mengejar Tuan muda kecilnya.
"Giovan! Kenapa berlari-lari?" Tanya Bianca, anaknya itu segera menyergap kakinya.
"Tuan Muda semakin hebat saja," ujar Yuri kehabisan napas di kerjai anak berusia 3 tahun ini.
"Gio, minta maaf pada bibi," kata Bianca, Giovan tampak sedikit menyun tapi dia adalah anak penurut, apapun yang dikatakan oleh ibunya, pasti di turutinya.
"Maafkan aku bibi," kata Giovan memberikan sedikit salam, melihat wajah menggemaskan yang bahkan dari lahir tampak begitu tampan itu, Yuri tak mungkin bisa marah.
"Tak apa-apa, ayo, kita pergi bermain saat mami memasak," kata Yuri, mengambil Gwi yang masih manja pada ibunya, namun di tak masalah digendong oleh Yuri, sedangkan tangannya yang lain mengandeng Gio.
Baru saja Yuri ingin membuka pintunya, mereka langsung melihat sosok yang membuat Gio tersenyum semangat.
"Paman Bram," ujar Gio berlari, lepas dari pegangan Yuri, Bram langsung melemparkan senyumannya, dia mencoba membuka pagar rumah yang sudah usang, Bianca yang sedang memasak sayur mendengar suara senang Gio, sudah tahu siapa yang datang.
"Hai, jagoan," ujar Bram mengacak-acak rambut Gio.
"Paman bawa apa?" Tanya Gio, dia tahu pamannya selalu membawa sesuatu yang dia sukai.
"Ayam, kesukaan Gio," kata Bram, Gio tentu terlonjak senang, dia mengikuti Bram dengan senang hati.
"Selamat datang, Nyonya ada di dalam," ujar Yuri.
"Terima kasih, oh, baiklah, Gwi, paman punya pudding strawberry juga," ujar Bram, membuat Gwi yang masih lekat memeluk Yuri langsung menatapnya, senyuman manis nan cantik akhirnya tampak juga.
"Paman ayo masuk! Mami sedang masak," kata Gio tak sabaran.
__ADS_1
"Baiklah, ayo," kata Bram masuk, saat dia masuk dia bisa melihat Bianca sedang menumis sayuran, rumah ini sangat kecil, hanya ada 2 kamar, kamar Bianca dan sikembar, lalu satu lagi kamar Yuri, sedangkan Bram tinggal di tempat lain.
"Duduklah Bram," ujar Bianca melirik sekilas lalu segera memasak kembali.
"Terima kasih Nyonya," kata Bram sungkan.
"Mami, paman membawakan aku ayam lagi," kata Gio semangat.
"Gwi dapat pudding," ujar Gwi senang.
"Sudah bilang terima kasih pada paman?" Tanya Bianca.
kembar saling menatap, wajah mereka kaget dan merasa bersalah, mereka saling berpegangan tangan lalu segera membungkukkan badannya serentak.
"Paman, terima kasih," kata Gwi dan Gio kompak, selalu mengundang rasa gemas semua yang melihatnya, Bram Dan Yuri yang ada di sana malah tertawa melihat mereka.
"Sama-sama," ujar Bram, tak perlu terima kasih, melihat si kembar tertawa senang dengan barang sederhana bawaannya saja membuat Bram senang.
"Terima kasih Bram, jangan terlalu memanjakan mereka, nanti mereka akan terus meminta padamu," kata Bianca, Yuri menyiapkan ayam tepung yang dibawa oleh Bram, menghidangkannya untuk dimakan bersama.
Sejak di dalam kandungan, dia yang menjaga mereka, saat Bianca mengalami pendarahan karena pelarian mereka dulu, Bram yang ada di sana, saat Bianca harus dioperasi karena keadaan Bianca yang tak memungkin melahirkan normal, Bram lah yang pertama kali menggendong keduanya, baginya Giovan dan Gwiyomi adalah anaknya.
"Tuh, paman tak masalah Mami," kata Gio, menunggu orang tua memulai makan baru dia makan, sangat tahu kesopanan.
Bianca hanya tersenyum, walaupun awalnya hidupnya terkesan hancur, suaminya ingin membunuhnya, beberapa kali mereka harus lari hingga dia hampir kehilangan si kembar, namun saat mereka tumbuh, Bianca merasa hidupnya kembali lagi, apalagi Si kembar benar-benar bayi istimewa, mereka benar-benar berkembang pesat, 10 bulan saja keduanya sudah mulai bisa berjalan, berbicara lancar sebelum umur mereka 2 tahun, Gio yang sangat luar biasa berkembang, bahkan. Bianca kesusahan untuk bisa mengimbangi dan menjawab semua pertanyaannya, umurnya baru 3 tahun namun dia sudah bisa menulis dan juga mengerti angka, dia luar biasa.
"Ayo mulai makan," kata Bianca, dia tahu Bram dan Yuri tak akan mulai jika dia tak makan, dan anak-ankanya juga begitu, setelah dia makan sesuap, Bianca menarik napasnya dalam, keluarga kecilnya hangat sekali, walaupun bisa dia akui, masih ada lubang kesedihan di dalam hatinya, sosok pria itu tak bisa dia lupakan, namun suaminya, sudah meninggal 4 tahun yang lalu.
"Makan sayurnya juga Gio," kata Bianca yang melihat Gio makan, sudah lihai sekali.
"Terima kasih mami," kata Gio, walau tak ingin tapi dia tetap memakannya, tak ingin ibunya yang sudah memasak malah jadi kecewa dia tak makan makannya.
Bianca menatap Gwi, gadis kecil ini tak kalah dengan kakaknya, hanya saja dari kecil dia memang tak terlalu suka banyak bicara, wajahnya, benar-benar mirip dengan ayahnya sehingga bagaimana bisa dia melupakan Rain jika tiap hari Gwi selalu mengingatkannya pada pria itu.
"Mami makan," kata Gwi yang melihat ibunya menatap ke arahnya.
"Oh, ya," kata Bianca baru tersadar, Yuri dan Bram hanya sedikit melirik ke arah Bianca, tak menyangka wanita ini hidupnya harus seperti ini, dia seharusnya jadi nyonya yang memiliki semuanya, bukan menjadi wanita dengan baju sederhana, bahkan tanpa riasan sama sekali, harus hidup dan bekerja demi anaknya, seharusnya mereka punya segalanya.
__ADS_1
"Mami hari ini bekerja Sampai malam lagi?" Tanya Gwi.
"Hari ini hari Senin, mami akan kerja Sampai jam 7, benar kan mami?" Kata Gio yang malah menjawab pertanyaan adiknya. Bianca, Bram, Yuri senyum-senyum melihat tingkah si kembar.
"Benar, nanti mami akan membawakan makanan ya, hari ini dengan bibi Yuri dulu ya," kata Bianca mencoba untuk memberikan pengertian pada si kembar.
"Baiklah," kata Gwiyomi melanjutkan makannya, seolah mengerti hal itu.
"Paman juga akan ada di sini," kata Bram, hari ini dia tak kerja.
"Benarkah?" Kata Gio semangat.
"Ya, Nyonya, izinkan aku membawa mereka ke taman bermain, ada taman bermain di dekat tempatku, aku akan membawa Yuri juga," ujar Bram meminta Izin.
Bianca tampak agak khawatir, namun Gwi langsung menenangkan ibunya.
"Gwiyomi akan makan siang dengan baik, membawa jaket dan air minum, Gwi juga akan patuh."
"Gio juga, mami jangan khawatir, bekerjalah dengan baik," kata Gio menimpali, Bianca mengerutkan dahinya, kenapa anaknya cepat sekali dewasa.
Bianca tertawa, begitu juga Bram dan Yuri, mereka memang lucu sekali.
"Baiklah, ingat ya, jadi anak baik, cepat selesaikan makannya, kita pergi setelah ini," ujar Bianca.
Gio dan Gwi tampak semangat, mereka langsung menghabiskan makanannya, setelah mandi dan bersiap-siap, Bianca harus pergi duluan untuk bekerja.
"Nyonya, akan ku antar," kata Bram segan.
"Tak perlu, hanya dekat kok, aku naik bis saja, tak perlu repot," kata Bianca, Bianca langsung mencium dahi kedua anaknya, "menitip mereka pada kalian, maaf merepotkan, aku pergi dulu," ujar Bianca, dia langsung berjalan keluar, Bram menatap sosok wanita itu dari jauh, tubuhnya lebih berisi setelah melahirkan, namun membuatnya tambah indah di pandang.
"Ehem, masih tak ingin mengutarakan rasamu pada nyonya?" Sindir Yuri pada Bram, pria ini sudah lama menyimpan perasaannya pada Nyonya mereka.
"Bagaimana? Aku hanya bawahan dan dia adalah nyonya, tak pantas," kata Bram menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku rasa aku akan memperbolehkan paman mendekati mamiku, paman akan menjadi papi yang baik," ujar Gio, ntah dari mana muncul dan kata-katanya membuat Yuri dan Bram kaget, terlalu berat diucapkan anak berumur bahkan belum genap 4 tahun.
"Ah, itu bukan masalah, sudah siap Gio?" Kata Bram menggedong anak angkatnya itu, tak lama mereka juga pergi meninggalkan rumah itu untuk menikmati sedikit keceriaan yang bisa mereka dapatkan.
__ADS_1