Rain In The Winter

Rain In The Winter
30 - Bahkan bersamanya dia tetap tersiksa.


__ADS_3

Rian akhirnya menyudahi apa yang dia lakukan, dia menutup aplikasi itu dan bersiap-siap untuk kembali pulang ke kediamannya, perasaannya tak nyaman, ada rasa yang bahkan dia bingung menanggapinya. Rain hanya bisa terdiam selama perjalanan dan melihat wajah Rain yang begitu murung dan diam, bahkan Luke dan Ken tak berani untuk berbicara apapun.


Mobil Rain berhenti di pelataran gedung apartemennya, dia segera keluar saat Luke membukakan pintu dan memasuki lobby apartemennya yang mewah, keadaan sudah cukup sepi, namun masih ada beberapa orang yang masih berkerumul, tentu itu Rain tidak punya minat sama sekali untuk tahu, bahkan melihat mereka saja dia enggan melakukannya.


"Rain!” Suara wanita tiba-tiba memecah keheningan lobi itu, tentu membuat Luke dan Ken berhenti seketika, namun tidak dengan Rain, dia tak merasa punya janji untuk bertemu seseorang apalagi wanita, jadi dia rasa hal ini hanya akan menghabiskan waktunya saja.


“Tuan, itu Nona Lily,” ujar Luke yang mendekati Rain. Rain mengerutkan dahinya, mau tak mau dia berhenti juga akhirnya, saat dia berhenti, Lily sudah ada di depannya, ternyata dia mengejar Rain dari tadi.


“Hai, aku sudah menunggumu selama 4 jam di sini,” ujar Lily yang seperti sudah begitu akrab dengan Rain, Rain langsung mengerutkan dahinya, jika orang yang sudah mengenal Rain pasti tahu arti tatapannya yang mengisyaratkan untuk apa wanita ini menunggunya, namun sepertinya Lily tak mengerti hal itu.


“Untuk apa kau menungguku?” tanya Rain yang akhirnya buka suara. 


“Oh, ya tentu ingin bertemud denganmu,” kata Lily dengan sumringah.


Rain lalu melihat sebuah koper berwarna kuning cerah yang dibawa oleh Lily, dia kembali mengerutkan dahinya dalam, menatap wanita yang hanya tebar pesona dengan senyuman manisnya. Menangkap tatapan dan dahi berkerut Rain saat dia melirik ke koper kuningnya, Lily mengerti bahwa pria ini bingung kenapa dia membawa koper.


“Rain, ehm, kantorku dekat dari sini, apakah menurutmu aku bisa sekedar menumpang di rumahmu?” Tanya Lily yang tampak sungkan dibuat-buat, malah terkesan genit menggoda.


Rain memandang aneh wanita di depannya, bagaimana dia bisa ingin tinggal bersama dengan pria yang baru saja dia kenal dan anehnya lagi, dia pula yang menawarkan dirinya.


 


“Tidak, aku terbiasa tinggal sendiri,” tolak Rain dengan suara datarnya, tak punya minat untuk basa basi, kemarin dia berkata dengan nada yang baik pada Lily tentu saja untuk menghargai Tuan Costa. Rain kembali melangkah tanpa menunggu Lily untuk membalasnya.


 

__ADS_1


“Rain tunggu,” kata Lily dengan suara yang sedikit menggoda, seperti anak-anak yang tak diberikan mainan, tangannya mengenggam lengan atas Rain bermaksud untuk menahannya.


Luke dan Ken menahan napas mereka, membesarkan mata mereka melihat Lily menyentuh Rain, dari dulu, Rain paling anti disentuh, bahkan Luke dan Ken pun tak pernah menyentuh setitik pun pakaian dari Rain, namun wanita ini malah memegang lengan atasnya. Apa yang Luke dan Ken pikirkan tampaknya benar, melihat lengannya dipengang, mata Rain langsung menajam, Luke dan Ken hanya bisa geleng-geleng kepala, sepertinya mood Tuan mereka rusak gara-gara wanita ini dan bisa jadi imbasnya terkena mereka.


 


“Lepaskan,” dingin Rain mengatakan hal itu, namun malah membuat Lily terpesona oleh mata tajam dan suara dingin itu, jantungnya berdegup kencang, pria ini selalu bisa membuat adrenalinnya terpacu. Lily tersenyum menggoda lalu segera melepaskan tangannya.


 


“Dengarkan aku dulu ya, sebenarnya alasanku ingin tinggal bersamamu bukan karena itu, awalnya aku ingin mengatakannya nanti saat di ruanganmu, tapi kau malah menolakku mentah-mentah, Rain, aku meminta tolong untuk tinggal di tempatmu karena aku sudah tidak punya tempat tinggal, ayahku mengalami kesulitan keuangan, karena itu aku tidak tahu harus pergi kemana, bukannya kau sudah mengatakan pada ayahku bahwa kau ingin menjagaku?”  Kata Lily dengan suara lemah, mencari simpati pada pria dingin di depannya ini.


 


“Luke, berikan dia uang untuk bisa menyewa tempat tinggal,” perintah Rain. Luke langsung mengeluarkan tabletnya, siap mentransferkan berapa pun yang diperintahkan Tuannya.


Rain begah mendengar suara mendayu menggoda itu, apalagi wajah Lily yang dibuat-buat, benar-benar membuatnya yang sudah lelah itu ingin marah, namun dia masih punya akal sehat untuk tidak memarahi wanita di lobi dan juga masih ingat Lily ini siapa.


“Malam ini saja, besok pagi-pagi Luke akan menyewakanmu tempat tinggal lain,” kata Rain lagi berjalan, tak ingin berlama-lama, dia tahu wanita itu akan kembali berbicara hal yang tidak-tidak. 


Lily tersenyum senang mendapatkan persetujuan Rain, satu hari bersama pria ini, tentu tak akan dia sia-siakan.


Rain segera masuk ke dalam apartemennya, tentu sesuai dengan pemikiran Lily, apartemen itu sungguh mewah, Lily menatap sekelilingnya, kali ini dia benar-benar memilih pria yang tepat untuk menjadi pendampingnya, selain begitu tampan, dingin, dia juga begitu kaya.


“Antarkan dia ke kamar tamu, ingatkan dia dimana saja wilayah yang tak boleh dia masuki,” kata Rain dengan suara dingin dan datarnya, bahkan dia tak pernah melirik sedikit pun pada wanita yang terus menatapnya itu, Luke mengangguk mengerti. Rain segera masuk ke dalam kamarnya yang luas.

__ADS_1


Rain langsung menyegarkan dirinya, jam sudah hampir menunjukkan pukul 1 pagi saat dia akhirnya selesai dengan semua hal yang dia lakukan, Rain duduk di tepian ranjangnya, awalnya punya niatan untuk segera beristirahat namun baru sesaat memejamkan matanya, matanya langsung terbuka kembali.


Nyatanya perasaannya yang dari tadi serasa gundah lebih mendominasi daripada kantuknya, dia lalu segera menyambar tabletnya, segera membuka aplikasinya, Rain tak berharap banyak, biasanya dia melihat Bianca sudah tidur pukul 12 malam, dan dia juga tak pernah men-stalker Bianca lebih dari jam 12 malam.


Rain mulai melihat CCTV rumahnya yang hampir keseluruhan sudah remang, Dia mengganti kamera demi kamera, karena memang kamera di sana begitu banyak, Rain merasa tindakannya ini bodoh, dia segera ingin menutup aplikasi itu, namun sebelum menutupnya, dia tiba-tiba melihat sesuatu yang bergerak.


Dia melihat 3 orang wanita sedang menyeret seseorang, Rain hanya melihatnya sekilas karena setelah itu mereka keluar dari jangkauan CCTVnya, Rain segera mengganti arah kamera, melihat semua kamera utamanya, tapi tak melihat mereka.


Rain merasa ada yang tak beres, mereka membawa wanita itu yang diasumsikan oleh Rain adalah Bianca ke tempat yang tak bisa di jangkau oleh CCTV utamanya, untunglah Rain punya CCTV tersembunyi yang memang sengaja dia pisahkan dengan CCTV utama untuk memantau keadaan.


Dia segera memasukkan ID dan kode sandi agar bisa mendapatkan gambaran dari CCTV rahasia itu dan saat melihat gambar yang terpampang, Rain langsung geram, tangannya terkepal begitu erat, matanya begitu tajam, sorot kemarahan terpatri jelas.


Dia melihat, Bianca di sana dipegangi oleh dua orang pelayan wanitanya, satu orang lagi memberikannya begitu banyak minuman bahkan terlihat Bianca sampai tak bisa meminumnya, setelah itu salah satu dari mereka memukul perut Bianca hingga Bianca mengeluarkan lagi apa yang sudah dia minum.


Rain benar-benar marah dan tak bisa lagi tinggal diam melihatnya, dengan cepat dia berjalan keluar, bahkan Luke dan Ken yang berjaga di depan pintunya kaget kenapa Tuannya ini tiba- tiba keluar, sangat jarang jika dia sudah di kamar dan keluar selarut ini.


"Ken, siapkan Helikopter, aku ingin pergi ke pulau sekarang juga!" pinta Rain tegas tak terbantahkan, bahkan seolah tak membiarkan Ken untuk berpikir.


"Baik Tuan," kata Ken langsung.


"Tuan?" tanya Luke yang menunggu perintah.


"Tinggal saja dan pastikan perempuan itu keluar dari sini besok pagi," kata Rain dengan nada ketusnya, membuat Luke bahkan tak berani mengeluarkan suara apalagi membantah.


Rain kembali melihat ke arah CCTV, dia melihat wanita itu terkapar tak berdaya di belakang rumahnya di dekat kandang hewan, Rain miris melihatnya meringkuk, bahkan bersamanya gadis itu masih tersiksa.

__ADS_1


"Tuan, helikopter siap dalam 5 menit lagi,"ujar Ken segera mendatangi Rain, Rain tak menjawab, dia segera pergi keluar menuju landasan helikopter di atas apartemennya.


__ADS_2