Rain In The Winter

Rain In The Winter
202


__ADS_3

"Tak perlu, aku sudah pernah jatuh cinta padamu 2 kali, rasanya tak akan sulit mencintaimu untuk yang ke tiga atau yang kesekian kalinya, lagi pula itu hanya hipotesis dari Dokter Malvin, belum tentu benar, tak perlu khawatir," ujar Rain lembut menenangkan istrinya, sudah banyak sekali yang ditanggung oleh istrinya ini, tak akan menambahnya lagi.


Bianca mengerutkan dahinya, kenapa Rain tak ingin mengatakannya selalu saja mengatakan hal-hal yang ingin membuatnya tenang, karena sudah tahu sifat Rain inilah Bianca malah was was.


"Kenapa masih tak ingin mengatakannya padaku?"


"Apa yang harus aku katakan? Aku sendiri tak tahu kenapa bisa menyukaimu, aku rasa, bahkan dengan sentuhan mu nantinya aku akan menyukaimu, karena kau selalu tahu membuatku nyaman," ujar Rain menatap kedua mata cekung namun tak bisa menutupi keindahan nya, apalagi sekarang ada binar harapan, tak sesuram saat dia masuk tadi.


Bianca tersenyum aneh, ada rasa hangat namun juga ada rasa tak percaya, sedikit juga merasa lucu, pria dingin yang dulu dikenalnya kenapa sekarang malah mengatakan hal yang terasa cukup gombal, tapi mungkin cinta memang butuh kata-kata yang bagi orang yang tak melewatinya akan terasa sangat berlebihan seperti ini sebagai bumbu tambahan yang mewarnainya.


Bianca baru saja ingin membalas pria yang sekarang tersenyum tipis padanya itu, namun pintu ruang rawat Rain diketuk. Perhatian Rain dan Bianca langsung tertuju ke sana.


"Masuklah," ujar Rain seketika juga memegang tangan Bianca, menariknya lembut sedikit ke sampingnya, melihat siapa yang akan datang.


Saat pintu terbuka, Dokter Malvis dan Dokter Derian masuk bersama dengan Antony yang ada di belakangnya, awalnya Antony hanya ingin menutup pintu karena baru mempersilakan Dokter-dokter itu masuk namun melihat lirikan mata Rain yang seolah memanggilnya masuk, Antony akhirnya memutuskan juga ikut ke dalam.


"Selamat Pagi Tuan Rain, apakah ada yang anda rasakan dari sejak bangun Hingga sekarang?" Tanya Dokter Derian profesional.


"Tidak," singkat Rain.

__ADS_1


"Bagaimana kepala anda? Pusing kah? Atau malah ada rasa lemah dan lemas?" Tanya Dokter Malvis.


"Tidak aku sudah tidak apa-apa, aku ingin keluar dari rumah sakit ini sekarang, aku ingin ke tempat anak-anakku," ujar Rain datar dan dingin, ciri khas nya saat berbicara dengan kebanyakan orang, hanya pada Bianca dan si kembar saja dia bisa jadi orang yang begitu hangat.


"Tuan, namun kami masih harus melakukan observasi pada Anda, Anda baru sadar dari koma beberapa jam, bahkan seharusnya anda masih ada di ranjang rawat," ujar Dokter Derian memberikan sedikit pengertian, kalau tadi Rain tidak memaksa, dia seharusnya masih berbaring di tempat tidurnya dengan alat infus, tapi Dokter Derian tahu tentang betapa risihnya Rain dengan hal-hal rumah sakit ini, seolah ada di sini malah memberatkan penyakitnya.


Bianca melirik ke arah Rain, entah karena kesedihan dan juga kerinduannya pada sosok Rain sampai dia lupa bahwa benar juga kenapa malah Rain tampak begitu biasa saja, bahkan tak seperti orang sakit, tak satupun alat medis di tubuhnya. Bianca melirik suaminya dengan sedikit cemas, tatapan itu dibalas oleh Rain dengan perasan tangan yang lembut, seolah itu menyatakan agar tetap percaya padanya.


"Aku tidak apa-apa, aku ingin keluar dari sini," ujar Rain.


"Tuan Rain setidaknya tinggallah di sini untuk 1 malam lagi, kami ingin melihat Reaksi tubuh Tuan hingga esok," Rayu Dokter Malvis pada Rain.


"Tidak," singkat Rain, ogah berlama-lama di tempat seperti ini.


"Tinggallah, hanya tinggal 1 malam saja, aku juga tak akan tenang melihat keadaanmu, Dokter hanya ingin terbaik untukmu," ujar Bianca lembut pada suaminya, berusaha merayu agar Rain bisa mengubah pendiriannya, walau Bianca sedikit ragu, Rain bukan orang yang gampang merubah ketidaksukaannya.


Rain menekuk dahinya, merasa kenapa Bianca memihak pada dokter itu, bukannya dia tahu betapa bencinya dia ada di sini.


"Gio dan Gwi juga masih disini," ujar Bianca, kalau kata lembut darinya tak bisa menahan Rain, mungkin kedua buah hati mereka bisa, Rain merubah arah pandangnya, melirik ke arah dua dokter yang langsung cukup terintimidasi karenanya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anak-anakku?" Tanya Rain pada dokter itu kembali.


"Sama seperti anda, mereka memasuki tahap observasi, darah mereka masih di periksa di laboratorium sekarang, esok juga mereka bisa pulang," ujar Dokter Malvis yang segera menangkap maksud dari Bianca, titik kelemahan Rain ada pada dua anaknya itu, jika ingin menahan Rain, maka mereka juga harus sebisa mungkin menahan Gio dan Gwi.


Rain tampak diam, dia tak langsung menjawab perkataan Dokter Malvis, semua tampak harap-harap cemas dengan keputusan Rain, jika Rain tetap bersikeras pulang, Dokter Derian harus siap sedia, jika esok ada efek yang muncul maka dia harus segera kembali membawa Rain ke tempat ini, merepotkan memang, tapi apadaya orang seperti Rain tak mungkin dilawan.


"Aku hanya ingin ada di sini jika kalian memindahkan aku ke ruang rawat bersama anak-anakku," ujar Rain lagi dan sedikit mengalah, padahal dia sudah tak betah ada di tempat yang baunya saja menyesakkan baginya.


Bianca tersenyum juga, selalu jitu jika menggunakan anak-anaknya, untung saja ada mereka, jika tidak entahlah seberapa keras kepalanya Rain ini.


Dokter Malvis dan Dokter Derian saling melemparkan pandang, seharusnya Rain tetap ada di lantai ini karena sejauh ini keadaan Rain lah yang paling parah, dan ruang rawat khusus anak ada di bawah, tapi dari pada Rain tetap ingin pulang tak apalah memindahkan anak-anaknya ke kamar ini.


"Baiklah, kami akan mengatur kepindahan anak-anak anda kemari," ujar Dokter Malvis menyetujuinya.


Rain hanya mengangguk mengerti, anggukan itu juga seperti menyudahi pertemuan itu karena dokter Malvis ataupun Dokter Derian segera undur diri untuk keluar dari sana.


"Maaf aku tidak ada di sini saat kau bangun," ujar Bianca ketika semua orang sudah keluar dari sana, dia baru saja sadar untuk mengatakan itu.


"Tidak apa-apa, jika aku sadar pun aku akan memintamu menjaga mereka," kata Rain lagi, kali ini senyuman tipis itu menghias lagi, wajah dingin yang dari tadi ditunjukannya meleleh perlahan.

__ADS_1


"Aku rasa aku harus melihat Gio dan Gwi dulu, aku akan membawa mereka kemari, lagipula saat ini ada Ceyasa dan Suri di sana, mereka menjaga anak kita, aku tak enak jika tak mengatakan terimakasih karena aku rasa mereka tak akan kemari," ujar Bianca.


"Suri? Siapa?" Tanya Rain langsung menangkap nama asing.


__ADS_2