Rain In The Winter

Rain In The Winter
40 - Kau suka Helikopter atau Kapal?


__ADS_3

Bianca membuka matanya perlahan, rasa kantuknya masih terasa karena dia baru saja bisa tertidur pukul 3 tadi pagi akibat dari perlakuan dan pengakuan Rain tadi malam, dia benar- benar tak bisa menutup matanya hingga dia akhirnya tertidur sendiri setelah lelah memaksakan dirinya untuk tidur.


Bianca mendengar ketukan di pintu kamarnya, dia menyibakkan sedikit selimutnya, perlahan menurunkan kakinya ke lantai yang tertutup karpet dan berjalan perlahan ke arah pintu kamarnya. Saat dia membukanya, Bianca mencoba untuk mengintipnya dulu takut tiba-tiba jika pria itu kembali muncul  dan membuat dia langsung mengalami serangan jantung.


Ternyata sosok yang dia pikir akan ada di sana tidak muncul, hanya ada Yuri yang sudah siap dengan pakaian kerjanya yang formal, senyumnya sangat lebar menyambut Bianca.


“Nona, Tuan menunggu Anda di meja makan untuk sarapan,” ujar Yuri.


“Oh, baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi,” ujar Bianca.


“Baik Nona.”


Bianca segera menutup pintunya, perlahan berjalan ke arah kamar mandi sebelumnya dia melirik ke arah jam, masih pukul 7, pria itu bangun pagi-pagi sekali, pikir Bianca.


Bianca memutuskan untuk hanya menggosok gigi dan mencuci mukanya karena jika mandi Rain akan lama menunggunya. Bianca menggunakan sedikit riasan tipis di wajahnya, membuatnya lebih segar, namun mata pandanya masih terlihat akibat tidurnya yang masih kurang.


Bianca segera keluar dari kamarnya  dan perlahan menuju ke ruang makan, namun ruangan itu kosong, bukannya katanya Rain sudah menunggunya?


“Nona,” suara Ken membuat Bianca hampir copot jantungnya.


“Ya?” Kata Bianca.


“Tuan Rain menunggu di ruang makan luar,” ujar Ken.


Bianca mengangguk, ingat rumah ini memang punya ruang makan di bagian luar yang langsung menghadap ke laut. Bianca segera pergi ke sana dan benar saja Bianca melihat Rain sudah duduk manis sambil menikmati secangkir kopi, saat Bianca muncul di tepi pintu, Rain langsung melayangkan tatapannya ke arah Bianca. Membuat Bianca langsung kaku melihatnya.


“Duduklah,” ujar Rain biasa saja, datar dan dingin bersamaan.

__ADS_1


“Iya,” kata Bianca.


Bianca segera duduk di salah satu kursi, Pelayan segera menyiapkan makanan untuk Bianca, sebuah English breakfast yang lengkap, Bianca kembali tak bisa menelan makanannya entah benar atau tidak, Namun Bianca merasa Rain terus menatapnya.


“Apa tidurmu nyenyak?” Tanya Rain yang memang memperhatikan Bianca, melihat wanita ini hanya dari tadi makan sambil tertunduk di depannya.


“Ehm?” Tanya Bianca yang tak begitu mendengar suara Rain, terlalu gugup makan di depan pria ini. Mau tak mau sekarang dia melihat pria ini, wajahnya langsung memerah menatap wajah tampan itu.


“Apa kau akan selalu menunduk di depanku?” Tanya Rain.


“Eh, aku hanya tak biasa makan diperhatikan seperti itu,” ujar Bianca dengan suara ragu-ragu, takut menyinggung Rain.


“Biasakanlah, aku akan sering melakukan hal itu, mungkin seumur hidupmu,” ujar Rain pada Bianca tanpa melihat Bianca, hal itu semakin membuat Bianca tak bisa menelan makanannya, dia menyambar gelas berisi jus jeruknya dan meminumnya secepatnya, memperhatikan pria yang ternyata sedang fokus dengan tabletnya.


“Tuan, semua keduanya sudah siap,” ujar Ken yang baru datang dan memberikan salam pada Rain.


Bianca melirik ke arah pria itu sambil menguyah makanannya, dia kira mungkin Rain akan pergi kembali ke Ibukota sekarang, dia kan memang harus bekerja.


“Kau suka helikopter atau kapal?” Tanya Rain tiba-tiba.


“Ha?” Tanya Bianca bingung.


“Kau suka naik Helikopter atau kapal pribadi?” Pertegas Rain memandang wajah polos Bianca yang kebingungan, tentu saja Bianca bingung di tanya begitu, mana dia tahu dia suka naik kapal pribadi atau helikopter, keduanya belum pernah dia naiki.


“Aku tidak tahu, aku belum pernah naik keduanya,” jujur Bianca.


“Baiklah, siapkan saja kapal pribadi, aku ingin berlayar sesekali,” kata Rain pada Ken membuat Bianca makin bingung, Rain lalu kembali berpindah menatap wajah Bianca yang menyimpan tanya, “aku ingin mengunjungi resortku di pesisir timur, bisa menggunakan kapal atau helikopter, karena itu aku bertanya padamu, kau lebih memilih yang mana?”

__ADS_1


“Maksudmu aku juga ikut?” Kata Bianca mempertegas kesan yang diberikan oleh Rain.


“Kalau kau tidak ikut aku tak perlu membuang waktu untuk bertanya,” kata Rain lagi sedikit ketus, masa Bianca tak tahu arti kata-kata yang daritadi dia ucapkan?


“Benarkah?” Tanya Bianca benar-benar tak percaya kalau dia akan diajak pergi keluar dari pulau ini. Bianca langsung tersenyum sumringah, bayangan tentang liburan itu sudah ada di dalam kepalanya.


Rain menatap Bianca dengan datar, Bianca lalu mengulum senyumnya, sadar bahwa Rain tidak suka jika dia ditanya dengan pertanyaan yang terus berulang seperti itu.


"Yuri, Bantu Nona Bianca untuk mengemasi barang-barangnya, bawa langsung ke kapal," ujar Rain pada Yuri yang berdiri setia menunggu mereka di sana.


"Baik Tuan," ujar Yuri sembari memberikan anggukan.


"Bersiaplah, aku menunggumu di kapal," ujar Rain yang segera berdiri ingin meninggalkan Bianca.


"Baik," kata Bianca dengan senyuman yang begitu sumringah, Bianca sangat senang, belum pernah ada yang mengajaknya liburan seperti ini, walau dia bukan orang yang cepat bosan jika ada di suatu tempat, tapi melihat dunia baru pasti akan sangat menyenangkan.


Rain sejenak melihat senyum sumringah nan cerah ceria itu, dia menaikkan sedikit sudut bibirnya, merasa tingkah Bianca seperti kekanak-kanakan, masa dia bisa begitu senang hanya diajak bekerja olehnya.


Bianca cepat menghabiskan sisa makanan dan minumannya, setelah itu dia segera berjalan ke arah kamarnya, menemukan Yuri sudah berdiri dengan koper berwarna coklat.


"Nona, saya akan membantu anda mengemasi barang-barang Anda, pakaian apa yang ingin Anda bawa?" tanya Yuri.


Sejujurnya Bianca bingung pakaian apa yang harus dia bawa karena dia tak tahu bagaimana tempat yang mereka tuju, namun setelah bertanya pada Yuri Bianca mendapatkan sedikit gambaran tentang Daerah pesisir timur, daerah itu adalah sebuah kawasan yang sangat indah, pantai dengan pasir putih dan juga air yang sangat jernih sejernih kaca bahkan terkadang kapal-kapal di sana seperti terbang karena airnya begitu jernih, di sekitarnya terdapat tebing-tebing tinggi yang indah, banyak orang yang mendatanginya. Resort Rain sendiri terletak di tebing, menghadap ke arah laut dan memiliki pantai pribadinya sendiri. Setelah mendengarnya dan meminta saran dari Yuri, akhirnya Bianca bisa tahu apa yang harus dia bawa.


Setelah mengemasi barangnya, Bianca langsung menuju dermaga, Bianca hampir saja menolongo melihat apa yang sekarang ada di depannya, dia kira dia akan pergi dengan kapal yang biasa dia lihat di TV, yah, hanya sebuah kapal biasa.


Tapi kapal yang tertambat di dermaga dan ada di depannya kini begitu mewah, sangat besar dan juga panjang, Bianca bahkan melihat bahwa kapal itu punya 3 atau 4 lantai.

__ADS_1


"Kita Naik ini?" tanya Bianca tak percaya.


__ADS_2