Rain In The Winter

Rain In The Winter
41. Wanita yang begitu anggun.


__ADS_3

"Ya, ini kapal pesiar pribadi milik Tuan Rain, Ayo Nona, Tuan sudah menunggu di dalamnya," kata Yuri.


Bianca melangkahkan kakinya tak percaya, bahkan ketika dia ditolong oleh awak kabin dan juga beberapa penjaga yang di bawa oleh Rain, dia sangat kaget melihatnya.


Bianca bahkan seperti tidak sedang menaiki kapal pesiar, di dalamnya sangat mewah, lantainya terdiri dari karpet mewah dan juga interiornya bagaikan sebuah rumah yang nyaman.


"Nona, ayo kita ke kamar dahulu," ujar Yuri segera membawa Bianca ke arah kamarnya, melewati sebuah ruangan yang sangat nyaman, bahkan ada grand piano besar berwarna putih dengan sofa-sofa indahnya.


"Ini ruang berkumpul," kata Yuri yang memperlihatkan ruang berkumpul yang begitu luas, berdekorasi lebih rumit dari pada rumah pulau yang lebih minimalis.


Bianca hampir tak bisa menutupi rasa keterpukauannya, saat masuk ke dalam kamarnya pun mulut Bianca pun hampir terbuka, kamar itu bagai kamar kerajaan dengan dominasi warna emas dan coklat.


"Nona, tempat tidur ini bisa berputar sehingga Anda bisa menikmati semua pemandangan laut dari segala sisi tanpa beranjak dari tempat tidur cukup tekan tombol ini, kamar mandinya di sini," ujar Yuri menunjukkan sebuah remot, memperlihatkan bagaimana ranjang itu otomatis berputar ke arah jendela kaca lebar yang menunjukkan pemandangan laut yang indah, dia lalu membuka pintu kayu yang bisa di lipat.


Bianca mencoba tak terlihat kagum, tapi bagaimana tak kagum ruangan itu lebar dengan bath up marmer putih dan juga segala kemewahannya yang belum pernah Bianca lihat.


"Yuri, ini milik Rain?" tanya Bianca.


"Ya, ini kapal pesiar pribadi milik Tuan Rain, Tuan Rain dulu suka berlayar menggunakan kapal ini jika dia punya waktu, sudah lama dia tidak menggunakannya karena lebih memilih menggunakan helikopternya," ujar Yuri.


"Ini semua? ini punya dia?" kebiasaan Bianca yang tak langsung bisa percaya dengan hal yang menurutnya tak masuk akal, bagaimana bisa seseorang memiliki barang seperti ini, itu artinya Rain sangat kaya raya.


"Ya," kata Yuri lagi menyakinkan Bianca walau dalam hati dia cukup lucu melihat wajah kagum Bianca.


"Dia itu Miliarder ya?" tanya Bianca berbisik pelan.


"Aku rasa bukan," kata Yuri dengan wajah berpikirnya.


"Ehm? kalau bukan miliarder, bagaimana bisa memiliki kapal ini?" tanya Bianca.


"Sebelum Tuan Rain di penjara, kekayaannya sudah lebih dari 16 Triliun, jadi aku rasa Tuan Rain bukan Miliarder, dia sudah melewatinya," ujar Yuri membuat mata dan mulut Bianca makin ternganga lebar, 5 tahun yang lalu saja dia sudah punya uang sebanyak itu.


"Yuri, katakan jujur padaku, dia itu siapa? apa yang dia kerjakan? apa dia adalah seorang mafia? bagaimana dia punya uang sebanyak itu," tanya Bianca kembali berbisik, seolah dia takut diketahui seseorang karena telah mengatakan hal itu, padahal hanya dia dan Yuri di sana.

__ADS_1


"Tuan Rain sudah kaya sejak dia lahir, dia mengembangkan usahanya sendiri dari umurnya masih 20 tahun, dia mempunyai berbagai macam usaha, tapi tenang Nona, Tuan Rain tak punya bisnis ilegal, semuanya legal dan memang dia punya koneksi yang kuat, mungkin karena ayahnya sendiri adalah seorang Raja," ujar Yuri enteng sambil memindahkan perlahan mandi yang dibawa dari rumah.


"Tunggu, Raja?" tanya Bianca yang bahkan begitu penasarannya sampai mengikuti Yuri ke kamar mandinya.


"Ya, Yang Mulia Raja Leonal, dari negara X, Tuan Rain memiliki darah kerajaan, namun dia tidak mengambil haknya, dan menyerahkannya pada keponakannya, Yang Mulia Raja Archie," kata Yuri yang terus diikuti oleh Bianca kemana pun dia bergerak.


"Apa keponakannya itu yang menikahi wanita yang dulu disukai oleh Rain?" tanya Bianca yang ingat pernah mendapat cerita itu.


"Ya, Yang Mulia Ratu Ceyasa," kata Yuri tersenyum.


Bianca terdiam, seorang ratu, pastilah begitu anggun dan cantik, bagaimana bisa dia dibandingkan dengan seorang ratu? tapi kemarin Rain sendiri yang mengatakan dia menyukai Bianca, apakah itu hanya perasaan kasihan? mungkin, mungkin saja itu hanya kasihan. Perasaanya seketika nyeri, dadanya sesak sekali, namun sesaknya ini berbeda dengan sesak saat berada di dekat Rain, ini sesak yang begitu tak nyaman.


"Yuri, kau punya foto Ratu?" tanya Bianca, walaupun nyeri, entah kenapa dia merasa penasaran dengan sosok wanita yang pernah begitu mengisi hati Rain hingga dia rela di penjara hanya untuk bisa melupakannya.


"Tidak, tapi aku yakin ada di internet, sebentar saya akan menghubungkan tablet saya ke internet, tapi nona jangan mengatakan hal ini pada Tuan Rain, Beliau sangat melarang apapun tentang Nona Ceyasa, kalau saya ketahuan, saya bisa dikeluarkan," kata Yuri mewanti-wanti.


Bianca mengangguk sambil menggigit bibir dalamnya, meremas tangannya sendiri menunggu dengan cemas, yakin kah dia ingin melihat bagaimana wanita itu? entah kenapa semakin lama dia semakin tak yakin, wanita itu pasti jauh segalanya di atas dirinya.


"Ini Nona, Yang Mulia Ratu Ceyasa," ujar Yuri yang tanpa aba-aba menyodorkan tabletnya pada Bianca.


"Ini Yang Mulia Raja Archie dan Pangeran Xander putra mereka," ujar Yuri menjelaskan.


"Pangeran yang lucu," ujar Bianca tersenyum kaku penuh rasa sesak yang menyesakkan dadanya, itu hanya pengalihnya karena matanya semakin perih melihat foto wanita itu.


Tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka, Rain masuk begitu saja tanpa mengetuk sama sekali, membuat Yuri dan Bianca langsung gelagapan dan tak sengaja menjatuhkan tablet yang sedang dia pegang, Rain melihat ke arah tablet itu, wajahnya langsung keras, dia menekan kedua giginya, sudah entah berapa tahun dia menolak melihat foto itu, tapi sekarang dia malah melihatnya.


Bianca segera mengambil tablet itu cepat, Yuri sudah berkeringat dingin, apalagi itu tablet milik dirinya.


Bianca melirik ke arah Yuri yang hanya tertunduk, sepertinya dia sudah menjerumuskannya.


"Aku yang ...." kata Bianca ingin mengakui bahwa dia yang meminta Yuri untuk mencari foto Ceyasa, namun belum selesai dia mengatakannya, tangan Rain terangkat memberikan gestur untuk Bianca diam.


Bianca langsung diam, perubahan wajah Rain yang sangat nyata itu ternyata semakin menyakitkan hatinya, jika Rain masih bisa begitu terpengaruh hanya karena foto wanita itu, itu artinya wanita itu masih ada di dalam hatinya, Dia masih mencintainya.

__ADS_1


Bodoh, ya! Rain hanya menyukainya, suka, mungkin suka karena dia punya teman, suka karena mungkin mereka pernah bersama, suka mungkin karena Bianca gadis lemah yang bisa dia jaga.


"Yuri, keluar," kata Rain.


"Baik Tuan," kata Yuri, buru-buru dia meninggalkan ruangan itu dan segera menutup pintunya.


Bianca semakin menggigit bibirnya, sudah begitu nyeri namun tak senyeri rasa hatinya menatap tatapan tajam dari Rain.


"Aku ...." kata Bianca mencoba mencairkan suasana tapi suaranya begitu begetar, membuat Rain sedikit menekukkan dahinya.


"Kenapa mencari fotonya?" tanya Rain selangkah demi selangkah mendekati Bianca, membuat Bainca gugup hingga tak bisa menjawab, Rain berhenti hanya berjarak beberapa centimeter di depan Bianca, memandang wanita itu dengan sorot matanya yang bagaikan elang.


"Tidak, aku hanya diceritakan tentang silsilah keluargamu dan ternyata kau adalah keturunan kerajaan," Kata Bianca mencoba mencari alasan, dia tersenyum kaku yang aneh.


"Kau tak percaya aku menyukaimu?" tanya Rain lagi, sorot matanya itu benar-benar menghipnotis, membuat tekanan luar biasa buat Bianca, sialnya, dia tak bisa memalingkan wajahnya, seolah jika dia berpaling, dia bisa mati.


"Bu ... Bukan begitu, Aku ...." gagap Bianca menjawab pertanyaan Rain itu.


"Butuh bukti aku menyukaimu?"


Rain tak membiarkan Bianca untuk menjawab, tangannya cepat memegang belakang Bianca dan dengan cepat pula dia mendorong kepala Bianca. Bianca tentunya kaget, apalagi yang terjadi selanjutnya sangat tak terduga, tiba-tiba saja kehangatan sudah menyentuh bibirnya, membuat Bianca membesarkan matanya hingga tak bisa melakukan apa-apa, membatu, tegang padahal bibir Rain terasa begitu lembut.


Rain mencium Bianca dengan diam, mata mereka berpaut, kesan tajam itu berubah menjadi lembut perlahan, Saat Rain mulai ingin mencium lebih jauh, Bianca tiba-tiba merasa semakin kehabisan napas, dia benar-benar tak bisa bernapas, entah kenapa tiba-tiba kilasan tentang perbuatan Drake yang menciumnya dengan paksaan muncul, dan dia segera mendorong Rain hingga ciuman itu terlepas.


Bianca menutupi bibirnya, napasnya benar-benar tercekat, bagaikan ikan yang keluar dari airnya, dia tak bisa melakukannya, tubuhnya gemetar hebat karenanya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Rain yang mengerutkan dahinya, bingung dengan respon dari Bianca juga khawatir melihat Bianca.


"Maafkan aku, aku, aku tidak bisa, aku tidak bisa," ujar Bianca yang tampak sudah berurai air mata, rasa traumanya begitu menghantui, Drake selalu melakukan itu sebelum dia melakukan hal bejat yang lain.


"Bianca?" tanya Rain ingin mendekat.


"Tinggalkan aku sendiri, aku mohon, aku mohon," kata Bianca yang cukup histeris, Rain mengerutkan dahinya semakin dalam, namun melihat tangis Bianca yang semakin menjadi, Rain rasanya tak punya pilihan lain.

__ADS_1


Rain segera keluar dan begitu pintu tertutup, Bianca segera mengambil tas kecil yang dia bawa, mengambil obat anti cemas dan anti depresannya, dengan gemetar dia mengambil air mineral yang ada di samping ranjanganya, dan menegak obat itu segera.


Dia duduk di lantai bersandarkan ranjangnya, tetap menangis, tak tahu menangis karena traumannya atau karena rasa cemburu di dadanya yang tersisa, Bianca menangis hingga akhirnya tak sadar karena efek obat yang dia makan tadi.


__ADS_2