
Air mata Bianca sudah lama mengering, namun ujung-ujung bulu matanya yang lentik masih terlihat basah, hidungnya sudah berair dan kembali memerah, namun dia hanya bisa berada dalam selimut tebalnya, nyatanya tubuhnya tetap saja menggigil mengingat bagaimana ibunya dan juga apa yang akan terjadi nantinya, dia masih menebak-nebak apa yang akan mereka minta untuk Bianca, dia yakin ini semua didalangi oleh Drake, siapa lagi yang bisa mengancurkan hidup Bianca lebih dari Drake.
Bianca sengaja mendekam di kamarnya, bahkan Yuri pun tidak dizinkannya untuk masuk, alasannya hanya dia merasa tidak enak badan.
Semakin menggelapnya malam semakin menggigil tubuh Bianca, dia malah semakin tidak bisa diam, dia terkadang duduk, dia terkadang berdiri, entah sudah berapa kali dia mengelilingi kamarnya yang luas itu, tetap saja tak bisa membuat Bianca tenang dan dia sangat berharap malam ini segera selesai.
Bianca sedang mondar mandir saat dia terkejut mendengar ketukan pintu kamarnya, Bianca bahkan hingga harus mengelus dadanya.
Dia perlahan berjalan ke arah pintu kamarnya, membukanya sedikit untuk melihat siapa yang ada di sana, dia takut tiba-tiba saja Rain ada di sana, untunglah hanya Yuri yang tampak.
"Nona, sudah waktunya makan malam," ujar Yuri segera.
"Oh, apaka Rain yang memintaku?" tanya Bianca yang sampai sekarang bahkan tidak mempunyai selera makan sedikit pun. Yuri mengerutkan dahinya, bahkan Bianca tidak membuka pintu untuknya, hanya mengintip sedikit di celah pintu yang terbuka sedikit, seolah takut sesuatu.
"Tuan sedang makan malam dengan koleganya sebelum mereka melanjutkan acara mereka selanjutnya," kata Yuri lagi.
"Baiklah, Yuri, apa boleh aku makan di kamarku, aku masih tak enak badan, dan tolong jangan melapor tentang keadaanku, aku tidak ingin pekerjaan Rain akan terganggu nantinya."
"Baiklah Nona," kata Yuri segera mengangguk, memberikan salam setelah itu pergi dari sana.
Bianca segera menutup pintu kamarnya, saat dia menutupnya, tiba-tiba telepon kamarnya berdering, membuat Bianca langsung terkaku dan detak jantungnya bertambah kencang.
__ADS_1
Langkahnya perlahan dan dengan tangan gemetar dia segera menyambar gagang telepon yang berdering sangat mengganggu itu. Bianca perlahan meletakkan gagang telepon itu ke telinganya, napasnya berat dan cepat, namun dia tidak mendengar apapun dari sana.
"Halo?" kata Bianca yang memberanikan diri untuk berbicara dengan suaranya yang gemetar.
"Dengar baik-baik apa yang ku katakan, jika kau tidak melakukan seperti apa yang aku katakan, maka aku pastikan kau mengerti konsekuensinya," suara berat seorang pria yang langsung membuat gentar dan ciut nyali Bianca.
"Ya," kata Bianca mengangguk, padahal tak ada satu orang pun yang akan melihatnya.
"Aku ingin kau melihat hasil dari rapat Rain yang sekarang sedang berlangsung, aku ingin kau menyerahkan padaku wilayah pegembangan bisnis dari Tuan Rain."
Bianca mengerutkan dahinya, dia diam dan kaku seketika, apa yang mereka inginkan sangat jauh dari apa yang dipikirkan oleh Bianca, dia kira mungkin Drake ingin dia kembali, atau apalah, tapi dia tak pernah berpikir bahwa dia harus melakukan hal ini.
"Tidak, aku tidak bisa," air mata Bianca turun dengan suaranya yang bergetar hebat, "Aku mohon, jangan minta aku untuk melakukan hal ini, aku tidak bisa," suara Bianca semakin histeris.
"Itu terserahmu, laporan wilayah atau hidup ibumu, aku rasa bukan pertukaran yang seimbang bukan?" suara itu berpindah dari suara berat menjadi suara yang membuat Bianca ingin berteriak, namun yang ada malah bibirnya makin mengunci, dia makin tak bisa melakukan apa-apa, bahkan mendengar suara menjijikkan itu saja, Bianca langsung tak dapat bernapas.
"Ingat Bianca, Aku punya kontrol penuh atas dirimu, walau kau sudah keluar dari sini, aku tetap tahu dimana dirimu, aku tahu apa yang kau lakukan, jika memang kau tidak ingin berkerja sama, aku akan pastikan kau hidup dalam penyesalan, karena dirimulah penyebab ibumu mati! aku akan terus menerormu, tenang saja sayang, tak akan kubiarkan kau bisa tidur dengan tenang," suara Drake terdengar tertawa renyah sebelum sambungan telepon itu terputus, Bianca hanya bisa diam dengan air mata yang turun begitu saja, begitu lemah dan syok atas permintaan dari mereka, apa yang harus dia lakukan sekarang?
Pintu kamar Bianca kembali terketuk, membuat dirinya segera sadar, dia melihat ke arah pintu itu, mengusap keras air matanya, sejenak dia meletakan telepon itu lalu segera berjalan ke pintunya, dia mengintip sedikit, ternyata seorang pelayan dengan Yuri ada di belakangnya, Bianca menghembuskan napasnya lega.
"Nona, ada apa dengan anda?" tanya Yuri yang dari tadi curiga melihat wajah Bianca yang sembab, namun sekarang lebih parah lagi, wajahnya benar-benar seperti habis menangis.
__ADS_1
"Oh, aku hanya, aku hanya teringat ibuku setelah menonton sebuah acara di TV, aku tidak apa-apa," ujar Bianca mencoba tersenyum, dia lalu melihat ke arah pelayan yang segera mendorong troli makanan itu ke sisi meja makan yang ada di ruangan kamar Bianca, perlahan pelayan itu meletakkan makanannya, Bianca segera duduk di salah satu kursinya, dan memberikan sebuah senyuman.
Tanpa diharapkan, pelayan itu juga tersenyum sambil meletakkan perlahan-lahan sebuah tisu, Bianca menatap senyum aneh itu, pelayan itu segera pergi setelah melakukan semuanya, Bianca menatap ke arah tisu yang diletakkan tepat di dekat tangannya, ada tulisan yang tampak di sana.
Bianca segera menyambar tisu itu, dia tak berani membacanya di depan Yuri yang masih menuangkan minuman untuk Bianca, Bianca menyimpan tisu itu ke sakunya, dengan gugupnya segera melihat makanan yang sudah tersedia di depannya.
"Silakan makan Nona," ujar Yuri.
"Ya," kata Bianca dengan wajahnya yang kembali pucat, tampak gugup, cemas dan ketakutan, Yuri melihat hal itu menjadi curiga, namun dia hanya diam saja.
Bianca lagi-lagi tak bisa menghabiskan makanannya, apalagi kehadiran Yuri malah membuatnya bingung harus berbuat apa.
"Nona, apakah Anda benar baik-baik saja? apa perlu saya memanggilkan dokter, Anda pucat sekali dan juga Anda hanya memakan makanan sedikit hari ini," ujar Yuri cemas.
"Tidak apa-apa, percayalah Yuri, aku tidak apa-apa, Ehm, apakah Rain sudah selesai rapat?" tanya Bianca mencoba memberanikan diri menatap ke arah Yuri, hal itu sebenarnya yang tak bisa dia lakukan, dia takut Yuri bisa membaca mimik wajahnya yang sedang sangat ketakutan itu.
"Tuan Rain akan selesai sekitar pukul 8 malam, apakah Anda ingin bertemu dengan Beliau? saya akan mengatakannya," kata Yuri.
"Tidak, ehm ...." kata Bianca dengan mata yang liar menatap ke segela arah, bingung harus melakukan apa. Apa yang harus dia lakukan sekarang, Bianca benar-benar tak tahu.
"Nona, Tuan pasti akan sangat khawatir jika tahu keadaan Anda seperti ini, bahkan tadi saja Beliau yang memindahkan tubuh Anda dari lantai dan tak beranjak sedikit pun dari sisi Anda, Tuan Rain bahkan tidak mengizinkan saya untuk membersihkan wajah Anda, Beliau yang melakukannya perlahan, saya yang menjadi saksinya, Beliau menjaga anda lebih dari 2 jam," ujar Yuri menjelaskan dengan perlahan, tak ingin lagi membuat Tuannya khawatir dengan keadaan Bianca, lagipula wanita ini harus tahu apa yang sudah dilakukan oleh Tuannya tadi.
__ADS_1