Rain In The Winter

Rain In The Winter
56. Kau harus bisa membuat semua orang ada dipihak mu.


__ADS_3

"Berhenti! aku akan mengatakannya!" kata Rain memekik, dia bahkan terlonjak, mengucapkan itu semua dengan penuh amarahnya. Panik, marah, dendam, takut tampak jadi satu di wajah Rain.


Drake mendengarkan hal itu segera menghentikan tangannya tepat sebelum ujung lancip pisau itu menyentuh kulit Bianca.


Rain menahan napas melihat ujung pisau yang hanya tinggal betapa centimeter dari jari Bianca, Bianca pun tadinya sudah ingin teriak, namun akhirnya hanya bisa diam merasakan detak jantungnya yang berburu kencang.


"Pilihan yang baik, asistenku akan mengirimkan kemana kau harus datang, aku minta hanya kau saja yang datang, waktumu hanya 30 menit, setelah itu aku akan kembali menghilangkan satu persatu jarinya kembali, atau mungkin bagian tubuhnya yang lain," ujar Drake santai, dia langsung mematikan panggilan video itu tanpa memberikan kesempatan untuk Rain menjawab.


Rain mengepalkan jarinya, matanya merah membara karena menahan kesalnya, wajah bengisnya muncul seketika.


"Tuan," kata Ken yang segera mengalihkan pikiran Rain.


"Mereka mengirim alamat ke bagian pegunungan di sebelah barat, ini Villa milik Tuan Drake," ujar Ken lagi.


"Baik, aku akan ke sana," kata Rain segera dengan tatapan penuh amarahnya.


"Aku akan menyiapkan helikopter untuk Anda, tapi Tuan, jika Anda datang sendiri ke sana, akan sangat berbahaya Tuan," kata Ken tak setuju jika Rain datang ke sana sendiri.


"Kau dengar bukan? dia meminta aku sendiri, siapkan saja semuanya, jangan sampai waktu kita lebih dari 30 menit, pria gila itu tak main-main," ujar Rain lagi segera keluar dari tempat konfrensi itu dan segera menuju landasan helikopter.


15 menit kemudian.


Helikopter Rain mendarat sempurna, dia segera turun, dia melirik sejenak ke arah Ken yang hanya memandang Tuannya dengan khawatir.


Rain memalingkan wajahnya, dengan langkah mantap dan wajah yang serius dia berjalan menuju villa cukup mewah yang ada di sekitar landasan itu, dia menaiki anak tangga terbuat dari kayu, dan tepat di depan villa itu 2 orang penjaga menahannya.


Penjaga itu menggeledah tubuh Rain dengan seksama, setelah merasa aman, penjaga yang mengalungkan senjata laras panjang itu membukakan satu daun pintu dari pintu utama itu.


Rain tak gentar, wajahnya tenang dan datar saat memasuki villa itu, bahkan ketika pintu utama itu ditutup dan ada 5 orang yang mengelilinginya dengan senjata lengkap, dia tampak santai saja.


"Welcome, wow, 15 menit, aku terkesan,ternyata gadis sampah itu benar-benar sangat berarti bagimu," ujar Drake yang keluar dari ruang tengah untuk menyambut Rain.

__ADS_1


Rain memandang pria itu tajam dengan wajah yang sangat dingin, matanya memunculkan amarahnya, urat-urat di matanya membuatnya merah, tangannya mengepal kuat, kalau saja tak ingat berapa banyak orang di sekeliling Rain, mungkin dia akan menerkam pria ini.


"Dimana dia?" tanya Rain berusaha setenang mungkin menutupi emosinya.


"Baiklah, sudah tak sabar bertemu ternyata, masuklah," kata Drake menunjukkan arah yang harus di tempuh oleh Rain.


Drake masuk ke dalam sebuah ruangan, Rain mengikutinya dari belakang, mata Rain langsung tertuju pada sosok yang sedang duduk di kursi itu, matanya menatap nanar, bagaimana dia biarkan gadis itu menderita seperti ini.


Bianca yang menangkap sosok Rain menatapnya dengan tatapan sedih, matanya tampak berkaca-kaca, dia baru sadar betapa dia ingin merindukan sosok dingin bermata tajam itu, namun sebenarnya dari tadi dia berdoa agar pria itu tak akan datang, nyatanya dia tetap saja datang, sebegitu pedulinya kah Rain padanya?


Drake menarik kasar sebuah kursi yang ada di depan Bianca, Rain tahu bahwa itulah tanda Drake ingin Rain duduk di sana, Rain berjalan mantap lalu duduk di depan Bianca yang sudah berlinang Air mata, apa yang dia takutkan ternyata benar-benar terjadi.


Rain menatap mata basah itu, pandangan tajam itu selalu saja bisa melunak di depannya, Bianca bahkan sampai menangis sesenggukan, dari semua siksaan ini, entah kenapa inilah yang paling menyesakkannya, dia menjadi kehancuran untuk orang lain.


"Lalu katakan padaku, dimana kau mengembangkannya?" tanya Drake langsung tanpa basa basi.


Rain melirik ke arah Drake dengan lirikan tajam setajam elang, Drake hanya tersenyum sinis, tangannya mengeluarkan gestur hingga pria pendiam itu mengeluarkan kembali pistolnya, dia segera menodongkan muncung senjatanya ke kepala Bianca, Bianca terlihat pasrah saja.


"Wilayah lepas pantai Utara," ujar Rain langsung, mendengar itu mata Bianca membesar, tubuhnya serasa lemas, Rain sendiri yang mengatakan wilayah itu hanya karena dirinya, dirinya memang tak pernah berguna, hanya menyusahkan saja.


Drake mengamati dan menganalisa raut wajah Rain dan Bianca, saat dia bisa melihat perubahan wajah Bianca, Drake tahu bahwa Rain mengatakan yang sebenarnya, apalagi tak lama Ben mendekati Drake, menunjukkan bukti bahwa benar Rain sedang berinvestasi di sana. Senyuman sinis itu mengembang sempurna.


Drake menyerahkan selembar kertas dengan legalisir yang sah, Rain mengerutkan dahinya, melihat apa yang tertulis di dalam kertas itu.


"Surat penyerahan kekuasaan atas wilayah yang sedang kau kembangkan itu, aku ingin kau menandatanganinya," ujar Drake dengan senyuman sinis. Jika Rain menandatanganinya maka dia yakin dia akan mendapatkan semuanya, dan riwayat Rain akan tamat segera, pria ini dipastikan rugi besar bahkan bisa gulung tikar, benar-benar perasaan yang memuaskan bagi Drake.


Rain menatap mata basah Bianca lagi, Bianca mencoba untuk menggelengkan kepalanya, walau saat dia melakukannya pria pendiam itu tetap mengacungkan pistol di kepalanya.


"Cepatlah, jangan terlalu banyak drama, kalau kau ingin kepalanya meledak di depanmu, silakan saja, aku akan menyukai hal itu," ujar Drake geram, merasa kenapa mereka malah mengulur waktu.


Rain masih tampak enggan untuk menandatangani surat itu karena dia tahu apa efeknya jika dia melakukannya, walau dia sudah mengambil pena yang telah di sediakan, tapi Rain tampak bergeming menatap surat itu, lalu berubah ke arah Bianca.

__ADS_1


Drake geram karenanya, dia lalu segera mengambil pistol dari tangan pria itu, dan dengan cepat mengacungkannya ke arah Bianca kembali, Rain membesarkan matanya, mengingat seberapa nekat pria ini.


"Baik! akan aku tanda tangani," ujar Rain yang cukup panik, dia langsung menandatangi surat penyerahan kekuasaan itu.


Drake langsung menariknya, dan cepat dia menyerahkannya pada Ben. Drake tersenyum sinis, akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini, tak akan ada lagi yang bisa mencegahnya untuk menguasai bisnis di negara ini.


"Aku sudah menyerahkannya, serahkan. Bianca," kata Rain langsung, dia berdiri menantang Rain.


"Kapan aku katakan untuk menukar wanita ini dengan wilayah itu, aku tak punya niat, dia tetap milikku, terserah padaku ingin melakukan apa," ujar Drake hampir saja ingin menarik pelatuk pistol itu ke kepala Bianca, dia memang berencana melenyapkan wanita ini agar Rain mendapatkan 2 kali kegagalan, gagal dalam bisnis, gagal pula bersama wanita yang dia cintai, benar-benar akan menjadi tragedi.


"Jangan Coba-coba," kata Rain yang entah dari mana, dia mengeluarkan pistol ke arah kepala Drake yang kaget, bukannya seharusnya Rain sudah digeledah? kenapa dia bisa mempunyai senjata?


Ben yang melihat Tuannya sedang ditodongkan senjata, dia langsung mengarahkan pistol yang dia punya ke arah Rain, membuat Bianca kaget dan terpikik. Namun di saat itu pula sebuah senjata juga tertodong di kepala Ben, pria pendiam itu ternyata menodongkan pistolnya yang lain, dan di sana mereka saling menodongkan pistol, memcoba membela Tuan mereka masing-masing.


Tapi tak lama pintu pun terbuka, Ken masuk sambil membawa beberapa orang yang juga menodongkan senjata ke arah Drake, para penjaga Drake yang setia juga sudah di amankan oleh mereka, membuat keadaan berbalik, kubu Drake kalah jumlah.


"Apa-apaan ini?" tanya Drake cukup Syok, lebih dari 5 pistol mengarah ke arahnya, bagaimana mereka bisa menyusup ke tempatnya.


Rain menatap pada Drake yang dimatanya terlihat kengerian, dia tak bisa banyak melakukan perlawanan, selain tubuhnya yang masih lemah, sudah pasti dia mati konyol kalau masih mencoba melawan.


Rain mendekat, meletakkan pistolnya di meja, dan dengan cepat dia memberikan Drake sebuah pukulan telak yang membuat Drake langsung tersungkur jatuh, Rain lalu berdiri di samping Drake lalu menginjak bagian tangan Drake yang masih tertutup perban, pria itu sontak menjerit ke sakitan.


"Kau harus banyak belajar di dunia ini, kau harus bisa membuat semua orang ada di pihakmu, aku orang yang fair, kau dapatkan wilayah, aku dapatkan Bianca," kata Rain menatap wajah Drake yang meringis ke sakitan, untung saja hanya tangannya jika sampai Rain menginjak lukanya yang lain, sudah pasti Drake akan kembali ke rumah sakit.


Rain segera mendekati Bianca, dia menarik wanita yang masih tampak syok itu, membuka ikatan pada bibirnya, dan dengan cepat Bianca memeluk Rain, Rain tentunya sedikit kaget, namun dia segera membalasnya.


"Kita keluar dari sini saja dulu," bisik Rain, bagaimana pun ini bukan tempat yang pantas untuk mereka memadu kerinduan.


Bianca yang mendengar itu mengurai pelukannya, dia mengangguk, Rain segera menarik Bianca dari sana, sebelum dia keluar, dia melirik ke arah Ken, Ken mengerti dan mencoba menjaga agar Rain dan Bianca tetap bisa keluar tanpa ada masalah apapun.


Drake yang melihat Rain pergi membawa Bianca hanya berdecih marah dan kesal, namun tak bisa apa-apa, dia tak ingin nyawanya hilang sia-sia hanya gara-gara hal ini, setidaknya dia tetap memiliki wilayah itu, itu sudah cukup.

__ADS_1


__ADS_2