Rain In The Winter

Rain In The Winter
102.


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan suasana berduka yang kental menyelimuti keadaan rumah mereka,


Rain pun tak bisa menutupi kesedihannya sehingga dia tak telalu banyak berbicara dalam seminggu ini. Bianca mengerti hal itu, dia pun memberikan waktu untuk Rain menata kembali emosinya.


Mereka sudah kembali ke rumah Mediterania milik mereka, setelah kematian Carel, tiba-tiba saja Lidia tidak menunjukkan batang hidungnya, bahkan Rain kesulitan mencari wanita itu, dia ingin tahu apa lagi yang akan wanita itu lakukan, sumpah serapahnya kemarin walaupun tak membuat Rain takut namun cukup mengusik pikirannya.


Rain melihat air hujan yang jatuh dan mengalir di kaca jendela dekat ruang kerjanya, semenjak kemarin hujan tak kunjung berhenti, tak membiarkan sedikit saja waktu agar Matahari memberikan kehangatannya pada bumi.


Kesenduan suasana malam itu sedikit terganggu dengan suara ketukan di pintu kamarnya, tak terlalu keras sebenarnya, hanya saja langsung membuat Rain teralihkan.


"Masuk," ujar Rain dengan suara beratnya, mengalahkan suara rintik hujan yang cukup bergemuruh.


Pintu itu terbuka, sosok Luke terlihat sungkan menganggu waktu sendiri Tuannya, seminggu ini dia sering melakukannya.


"Selamat malam Tuan," ujar Luke memberikan salam.


"Hmm?" Jawab Rain melirik Luke.


"Saya hanya ingin melaporkan, orang yang kita utus untuk mencari keberadaan Nona Lidia melaporkan bahwa 3 hari setelah kematian Tuan Muda Carel, Nona Lidia menggunakan paspornya untuk pergi meninggalkan negara ini," lapor Luke.


Rain diam sejenak, wajahnya yang tadinya enggan untuk di ganggu berubah sedikit serius.


"Kemana dia pergi?" Tanya Rain lagi, bagaimana bisa seorang Ibu pergi dari tempat anaknya di kuburkan bahkan 3 hari setelah kematian anaknya, Kecurigaan Rain semakin pekat.


"Ke Amerika," kata Luke lagi yakin.


Rain mengerutkan dahinya, apa yang dilakukan oleh Lidia ke negara yang jauh sekali dari tempat mereka sekarang.


"Aku ingin tahu apa yang dia kerjakan di sana," perintah Rain pada Luke yang segera diberikan anggukan oleh Luke, dia langsung membungkukkan dirinya sedikit seolah meminta izin untuk keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Luke, dimana nyonya?" Tanya Rain yang teringat dengan istrinya itu, terlalu lama dia ada di ruangan kerjanya hingga tak tahu keberadaannya.


"Yuri mengatakan Nyonya sedang ada di dapur, dia sedang ingin menyiapkan makan malam Tuan," kata Luke yang seketika terhenti langkahnya.


"Baiklah," kata Rain, dia segera berdiri, meninggalkan kursi dan suasana nyamannya, dia tak mungkin terus menyendiri seperti ini, istrinya juga membutuhkan dirinya.


Luke mempersilakan Rain untuk keluar duluan dari ruang kerjanya, Rain dengan gayanya pergi menuju dapur, saat dia masuk ke dalam dapur para staff yang menunggui Bianca memberikan salam pada Rain, namun Rain melarang mereka untuk mengucapkan salam, mereka mengerti.


Rain memandangi sejenak sosok yang sedang sibuk sendiri meracik makanannya, tubuh wanita yang kecil dan kurus itu terlihat lucu dengan celeme


k putihnya, lincah sekali memotong beberapa bahan makanan.


Dari wajahnya begitu serius, bahkan saking seriusnya dia, dia tak sadar atas keberadaan Rain. Rain mengangkat sedikit sudut bibirnya, dia tahu Bianca juga sama terpukulnya dengan dirinya, Namun karena dia tak ingin membebani Rain, dia malah menyibukkan diri dengan makanan dan pekerjaan rumahnya. Rain jadi merasa bersalah mengacuhkan istrinya seminggu ini.


Rain memberikan gestur agar para staff yang ada di sana untuk keluar dari dapur meninggalkan mereka berdua, tentu mereka mengerti dan langsung melakukannya.


Rain jalan perlahan mendekati istrinya, berusaha mendekatinya sehening mungkin sehingga tak menganggu wanita yang benar-benar fokus memotong sayuran itu.


"Nyonya Huxley, Anda sibuk sekali," ujar Rain lalu mencium kepala Bianca melepaskan candunya dengan aroma tubuh Bianca.


"Rain?" Tanya Bianca yang seketika terhenti pekerjaannya, memandang ke arah suaminya yang tersenyum tipis, dia lalu melihat ke arah sekitarnya, hanya mereka berdua rupanya.


"Kenapa?" Tanya Rain yang melihat Bianca kaget dan gusar melihat sekelilingnya, pasti Bianca malu jika ada yang melihatnya nya seperti ini, pipi Bianca sekarang saja sudah bersemu merah.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Bianca, kembali memotong sayurannya takut tak terkejar untuk waktu makan malam suaminya yang selalu sama, jam 7 malam.


"Kau ingin aku terus berkerja?" Kata Rain mengerutkan dahinya, masa Bianca tak senang Rain ada di sini sekarang.


"Bukan, tapi biasanya kau banyak pekerjaan," ujar Bianca tak memperhatikan suaminya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku," suara Lembut Rain terdengar, Pelukannya semakin erat membuat Bianca kembali menghentikan pekerjaannya, selain itu juga karena kata-kata Rain yang membuat Bianca menatap ke arah suaminya itu.


Bianca memutar tubuhnya, sekarang mencoba menganalisa wajah suaminya, Rain melepaskan pelukan pinggangnya, menatap sendu ke arah Bianca.


"Kenapa minta maaf?" Tanya Bianca, menurutnya tak ada Yang salah.


"Aku sudah kurang perhatian padamu seminggu ini," ujar Rain.


Mendengar perkataan Rain membuat Bianca menginginkan senyuman lebarnya, bahkan seperti tawa kecil yang manis nan bahagia.


Rain hanya merespon dengan wajahnya yang berkerut heran seolah bertanya kenapa Bianca tertawa?


"Aku kira ada apa, aku bahkan tidak memikirkannya sama sekali, kita memang terkadang butuh waktu sendiri, sekarang, lepaskan aku Tuan Huxley, atau kita tidak bisa makan malam," ujar Bianca mencolek hidung suaminya, lalu kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan pekerjaannya.


Rain menaikan sudut bibirnya, dia perlahan bergeser ke sisi Bianca, memandangi istrinya sedang menyiapkan sayuran untuknya.


"Jika kau memandangiku terus, aku bisa gugup lalu kita tidak akan makan malam, "ujar Bianca lagi, suaminya ini punya lirikan mata yang bisa membuat semua orang gugup karenanya.


"Berikan padaku," ujar Rain meminta tempat Bianca meletakkan sayur-sayuran, baru saja Bianca ingin mencucinya, namun Rain menghalanginya dan sudah mengambil tempat sayur itu, "aku akan mencucinya."


Bianca mengerutkan dahinya sejenak, bisakah?


Bianca menatap diam ke arah Rain yang berjalan ke westafel, membuka keran airnya perlahan dia mencuci sayuran itu.


"Kalau kau melihatku terus seperti itu, aku akan gugup nantinya," ujar Rain membalikan kata-kata Bianca tadi, membuat Bianca tambah mengerutkan dahinya, orang sedingin ini tak disangka punya selera humor yang begini, pikir Bianca tak habis pikir.


Bianca segera memulai masaknya, sebenarnya dia sudah masak cukup banyak, ada 3 piring lauk, 1 sup, dan dia ingat betapa Rain suka dengan sayuran, dia lalu memutuskan untuk memasak sayuran kembali.


Bianca sesekali melirik suaminya yang masih berkutat dengan sayurnya, rasanya dia ingin mencucinya hingga sangat bersih, Bianca jadi tertawa kecil karenanya.

__ADS_1


Tak lama Rain mendekati Bianca, dia lalu menyerahkan sayuran itu, Bianca mengambilnya dengan senyuman, lalu dengan cepat memasukkannya.


__ADS_2