Rain In The Winter

Rain In The Winter
184.


__ADS_3

"Ya ,aku tahu," Tanya Ceyasa, akhirnya berani juga Bibinya ini memanggilnya.


"Apakah kau mengetahui tentang penyakit keturunan itu? Bisakah kau memberitahuku tentang hal itu?" Tanya Bianca.


"Eh? Kenapa Bi? Apakah ada terjadi sesuatu?" Tanya Ceyasa bingung, kenapa tiba-tiba saja Bianca menanyakan itu pada Ceyasa.


"Tidak, sebelum si kembar, Rain memiliki seorang anak dan dengan mata kepalaku sendiri aku melihat bagaimana dia meregang nyawa, aku hanya ingin tahu apakah anakku akan seperti itu pula?" Tanya Bianca tampak berharap agar Ceyasa menjelaskannya. Ceyasa mengerutkan dahinya sejenak, namun dengan senyuman manisnya dia segera buka suara.


"Ya, aku tahu sedikit, setiap darah kerjaan membawa penyakit yang kapan pun bisa menyerang mereka, seperti bom waktu yang bisa terjadi pada siapapun, mereka dilarang menikahi keturunan dari kerajaan juga karena takut membuat penyakit itu semakin parah, awalnya tak ada yang bisa selamat dari penyakit itu, namun akhirnya Paman Angga, raja sebelum Archie tiba-tiba sembuh dan darahnya bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit itu, lalu Xander mendapatkan berkat yang tak pernah dibayangkan, darahnya bisa membersihkan penyakit itu keseluruhan, jadi Bibi, aku rasa selama kalian ada di sini, jangan khawatir tentang penyakit ini," kata. Ceyasa menenangkan.


"Benarkah?" Kata Bianca cukup senang mendengarkannya.


"Ya, benar, tenang saja, Bibi juga tak terlalu sungkan, seringlah datang kemari, tak perlu memikirkan bagaimana masa lalu kami semua, jika Paman melupakannya, anggap saja kami pun sudah melupakan nya," ujar Ceyasa dengan lembut.


"Baiklah, aku akan sering membawa Gio dan Gwi ke sini," kata Bianca tersenyum manis.


"Ya, aku rasa Gwi sangat manis, aku jadi sangat ingin mencubit pipinya, ah, seandainya aku bisa punya anak perempuan," kata Ceyasa sembari menghela napas.


"Kalau begitu buatlah satu, pasti akan secantik ibunya, lagipula Xander sudah cukup besar untuk punya adik."


"Haha, seandainya aku masih bisa hamil, aku pasti akan meminta lebih banyak anak lagi, terlalu sepi hanya punya Xander di sini karena itu bibi seringlah membawa mereka ke sini, lagi pula kalau ingin tinggallah di sini," tawa Ceyasa terasa ringan namun membuat Bianca langsung tak enak.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud …." Kata Bianca yang tak tahu ternyata Ceyasa tak bisa lagi mengandung, dia jadi tak enak karenanya.


"Tak apa-apa, aku tidak punya masalah lagi dengan itu, Xander bisa lahir dengan sehat saja aku sudah bersyukur dengan sangat, jadi itu tak jadi masalah," kata Ceyasa yang tersenyum sedikit getir mengingatkan masa lalunya itu.


Bianca menggigit bibirnya, samar dia mengingat bahwa Rain pernah mengatakan bahwa dia yang menyebabkan Ceyasa dan Pangerannya hampir meregang nyawa, jangan-janhan ini ulah Rain.


"Ceyasa, maaf, apakah ini ulah Rain?" Tanya Bianca, dia harus meminta maaf dengan sangat untuk hal ini jika memang terbukti seperti itu.


"Tidak, bukan, ini karena Lidia, aku tak tahu bibi kenal dengannya atau tidak, dia terlalu terobsesi dengan Paman sehingga ya mungkin membuatnya menjadi alasan untuk menyelakakanku, tapi semua sudah berlalu," kata Ceyasa lagi, matanya menatap ke arah yang menunjukkan Suaminya sudah kembali, Bianca cukup kaget dengan pengakuan Ceyasa, ternyata Lidia memang benar-benar jahat, bahkan bukan hanya dia yang celaka karenanya. Bianca mengikuti arah tatapan Ceyasa.


"Sudah selesai bicaranya?" Tanya Ceyasa lagi bangkit dari duduknya, sebuah adap untuk menyambut suaminya.

__ADS_1


"Ya, kemana anak-anak? Apa Xander belum pulang juga?" Tanya Archie yang dari tadi tak melihat anak kesayangan mereka.


"Dia di kamar bersama Gio dan Gwi, apakah paman dan Bibi sudah ingin pulang sekarang?" Tanya Ceyasa yang rasanya masih ingin mereka berlama di sini, suasana kerjaan ini sangat sepi hanya ditinggali mereka bertiga.


"Ya, kami harus istirahat," ujar Rain terdengar cukup datar bahkan tak melirik sedikit pun ke arah Ceyasa, melingkarkan tangannya pada pinggang kecil istrinya agar istrinya merasa lebih nyaman.


"Aku akan memanggil Siena dan anak-anak," ujar Ken berinisiatif, mereka hanya melihat kepergian Ken dari sana.


---***---


Di kamar Pangeran Xander.


Siena, Gio dan Xander tampak seru dengan game mereka, Gwi yang tak begitu mengetahui apa game yang sedang mereka mainkan hanya duduk di sofa dekat dengan jendela yang memperlihatkan taman bunga mawar merah yang indah.


Awalnya Xander tak terlalu memperhatikan sekitarnya, namun dia sedikit terusik melihat Gwi yang tampak melamun sendiri, sedangkan Siena dan Gio masih tampak seru.


Xander meletakkan konsol permainannya, dia segera bangkit lalu mendekati Gwi yang bertopang dagu melihat arah jendela itu.


"Ehm, bibi kau melihat apa?" Kata Xander menegur, tak melihat apapun yang aneh dari luar jendela kamarnya, rasanya sudah lama dia tak pernah menatap ke arah luar jendela itu.


Xander menatap ke arah Gwi, melihat matanya yang indah dengan pipi seputih salju dan sedikit memerah bagaikan buah persik. Xander cukup terpana melihat kecantikan itu, ternyata dia punya saudara secantik ini.


"Itu," tunjuk Gwi pada suatu titik.


"Yang mana?" penasaran Xander tak melihat apapun.


Gwi tampaknya sedikit kesal, dia memegang sisi kepala Xander lalu memposisikan kepalanya agar tepat dan melihat apa yang dia lihat, saat itulah dia melihat ke arah seekor burung yang sedang mengembangkan bulunya, tampak sangat kedinginan meringkuk di dekat atap ruangan yang ada di seberang taman bunganya.


"Lihat?" Tanya Gwi.


"Ya."


"Kasihan sekali ya, mungkin dia kedinginan," kata Gwi lagi kembali dengan posisinya bercagak dagu sambil memandangi burung itu, imut sekali.

__ADS_1


"Ya, aku akan meminta pengawal untuk membawanya turun dan membiarkannya hangat," kata Xander melirik Bibinya dengan senyum hangat, senyum yang diturunkan langsung oleh ibunya.


"Eh, tapi jangan memakannya," ujar Gwi menatap Xander dengan matanya yang bulat.


"Aku tidak suka makan burung, lagi pula burung itu terlihat tak enak," ujar Xander.


"Baguslah, setelah itu lepaskan," kata Gwi lagi.


"Tak boleh aku pelihara," ujar Xander lagi, sebenarnya dia tak punya keinginan untuk memeliharanya.


"Tidak, bagaimana jika dia punya ayah dan ibu, kau akan memisahkannya," kata Gwi lagi.


"Baiklah, aku janji hanya akan menghangatkannya, setelah itu aku akan melepaskannya," kata Xander melirik Bibi kecilnya yang mengemaskan.


"Baiklah, kau sudah berjanji," kata Gwi tak punya minat menatap wajah tampan di sebelahnya, dia hanya larut melihat burung itu kedinginan.


Xander hanya tersenyum melihat tingkah bibi kecilnya, perhatian semua orang teralih ketika mendengar seseorang masuk ke dalam kamar Xander.


"Paman Ken," ujar Xander melihat Ken di sana.


"Pangeran Xander," kata Ken memberikan hormat formalnya.


"Bangkitlah, Paman bukan ingin menjemput bibi Siena kan?" Tanya Xander, kalo Siena pergi, paman dan bibi kecilnya juga pasti pergi.


"Sayangnya saya harus menjemput mereka, kami harus pulang sekarang," kata Ken.


"Kenapa cepat sekali?" Kecewa Xander.


"Maafkan kami," kata Ken lagi.


"Tenang saja, bibi akan sering membawa Gio dan Gwi ke sini, nanti kita akan mengundang Gwyneth juga ya," kata Siena membuat keponakannya ini sedikit senang.


"Baiklah, janji ya Bi," kata Xander.

__ADS_1


"Ya, pasti, Gio, Gwi, Ayo kita pulang," kata Siena mengajak keponakannya yang lain untuk keluar dari sana.


__ADS_2