Rain In The Winter

Rain In The Winter
55.


__ADS_3

Bianca bangun terkaget saat air sedingin Es diguyurkan begitu saja ke tubuhnya, Bianca segera membuka matanya, tapi dia tak bisa melihat apapun, matanya tertutup sesuatu, begitu juga mulutnya yang terasa tertahan, tangannya tak bisa bergerak terikat ke belakang, hal ini menambah detak jantungnya dan napasnya menjadi berat dan cepat.


Bianca lalu segera mengerang dan berontak, mencoba untuk melepas dirinya dari ikatan-ikatan itu, namun usahanya tak berjalan lancar, dia sama sekali tak bisa melepaskan dirinya dari ikatan itu.


Bianca ingin berteriak, namun suaranya tertahan oleh ikatan yang cukup kuat menahan suaranya.


Tiba-tiba dia merasakan panas di salah satu tubuhnya, Bianca langsung bersiaga, sebuah bisikan pelan terdengar.


"Nona, tolong bekerja sama,"ujar pria itu berbisik, Bianca serasa kenal dengan suara pria itu, pria yang juga menghadiahkannya sebuah tamparan keras dan juga robekan di bibirnya.


Bianca bergumam ingin meminta melepaskan dirinya, namun sepertinya permintaannya tak di dengarkan, dia tetap saja seperti itu.


"Bagaimana?" Suara Drake terdengar agak jauh dari tempat Bianca.


"Aku baru saja membangunkannya, dia sudah bangun dan masih mencoba berontak," lapor pria dengan suara yang sama dengan suara yang tadi berbisik di telinga Bianca.


"Wanita menyusahkan, bagaimana dengan sambungannya?" tanya Drake lagi, langkah dan suaranya terdengar mendekati, membuat Bianca awas karenanya, dia meronta mencoba kembali untuk dilepaskan.


"Kami berhasil menghubungi Asisten Rain, dia mengatakan akan melapor segera," kata Pria itu lagi.


"Baguslah, kita akan lihat bagaimana respon pria yang sangat tergila-gila dengan mu itu," ujar Drake, suaranya tepat di depan wajah Bianca, membuat Bianca kaku seketika namun setelah merasakan napas pria itu menjauh, Bianca kembali berontak sekuat tenaga, lagi-lagi hanya sia-sia.


Drake menaikkan sedikit sudut bibirnya, wajahnya menatap sinis melihat Bianca yang meronta, sungguh menyukai gambaran itu sekarang.


"Baiklah, siapkan semuanya," kata Drake segera, dia sudah tak sabar untuk bermain sekarang.


---***---


Rain sedang duduk di kursi bagian tengah tempat dia selalu duduk untuk memimpin rapat, saat ini dia terlihat sedang serius mendengarkan laporan keuangan dari direktur keuangan perusahaannya.


Suasana yang sedang serius itu tiba-tiba terganggu ketika Ken mengetuk pintu ruangan, Rain segera menatap pintu besar itu, Luke yang saat ini bersamanya langsung bangkit dan berjalan ke arah pintu, tahu jika ada yang mengetuk pintu walau tahu ini sedang rapat penting, pastilah ada masalah atau urusan yang lebih penting lagi.

__ADS_1


Luke membuka pintu menemukan sosok Ken yang tampak berwajah tegas, Luke segera mengerutkan dahinya, Ken hanya membalas dengan kerutan wajah yang menunjukkan ada sesuatu, tanpa saling berbicara bagaikan memiliki ikatan batin, Luke segera tahu maksud Ken yang ingin segera berbicara dengan Tuan mereka.


Luke langsung mendatangi Rain yang masih fokus dengan wajahnya yang dingin itu memperhatikan semua laporan, Luke membisikkan bahwa Ken ingin bertemu dengan Rain.


Rain tak mengubah ekspresinya, dia hanya melirik ke arah Luke, lalu dengan cepat tiba-tiba saja dan bahkan sampai membuat semua orang di rapat itu menjatuhkan perhatiannya pada Rain, Rain berdiri dan menambah serius wajahnya.


"Luke akan mengambil alih rapat ini, lanjutkanlah aku punya hal penting," ujar Rain, tanpa ada persetujuan segera meninggalkan mereka yang hanya bisa diam, tak mungkin membantah juga.


Rain menatap Ken yang berwajah cemas, Ken memberikan satu anggukan pasti, Rain segera keluar dan Ken menutup pintu ruangan itu sebelum dia mengejar Rain.


"Mereka meminta sambungan melalui panggilan Video, semua sudah saya siapkan di ruang konferensi," ujar Ken pada Rain.


"Baiklah," kata Rain dengan wajah dingin nan tegas, rahangnya terlihat begitu keras, tangannya pun mengepal kuat.


Rain masuk ke ruang Konferensi, sebuah tablet sudah tersedia di sana, Rain langsung mengambil posisi, Ken segera memberikan kabar bahwa dari pihaknya siap melakukan panggilan itu.


Tak lama, tablet di depan Ken itu berdering, tercantum sebuah nomor yang tak dikenal oleh mereka, namun mereka tahu itu pastilah dari Drake.


Rain segera menjawab panggilan itu saat panggilan itu tersambung, Rain kembali menggenggam tangannya erat, dia melihat Drake di sana dengan tatapan liciknya, namun matanya tertuju pada wanita yang ada di belakang Drake, wanita yang mata dan mulutnya tertutup kain putih yang mencoba meronta, dia tahu percis itu siapa.


"Selamat siang, Rain, tentu kau kaget mendapat panggilan dari ku?" suara Drake menghancurkan keheningan semuanya.


Rain hanya mengeraskan wajahnya, menajamkan tatapan matanya, namun tak menjawab atau melontarkan sepatah kata pun.


"Oh, kau mau melihat dia?" tanya Drake pura-pura tak tahu arah pandangan Rain.


Drake dengan kasarnya menarik ikatan di mata Bianca, membuat Bianca sedikit merasa nyeri ketika ikatan itu ditarik begitu saja, Bianca langsung melayangkan tatapan sinisnya yang penuh emosi pada wajah Drake yang tersenyum senang, Drake membiarkan ikatan di mulut Bianca, terlalu malas mendengarkan ocehan wanita ini.


Mata Rain sedikit membesar ketika dia melihat cara Drake membuka ikatan itu, apalagi saat melihat lirikan mata Bianca yang penuh amarah, namun saat dia menatap ke arah Rain, sorot mata Bianca segera melunak, begitu juga Rain, saat maat mereka saling terpaut, terlihat kerinduan dan juga kelembutan yang tercipta, membuat gerah Drake yang ada di antara mereka.


Drake seketika menjambak rambut Bianca, membuat pandangan mereka terputus, Rain sampai hampir terlonjak dari tempat duduknya, melihat wajah meringis Bianca.

__ADS_1


"Apa yang kau mau?" tanya Rain akhirnya angkat suara.


"Akhirnya kau menanyakan hal itu, aku dengar kau sedang mengembangkan wilayah kekuasaanmu, aku ingin wilayah itu," ucap Drake segera tanpa basa basi, Bianca yang mendengar itu membesarkan matanya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebisanya agar memberikan kode pada Rain agar tak menyutujui.


Rain menatap tajam pada Drake dengan wajah yang penuh emosi, wajah pria itu membuat Rain benar-benar ingin membunuh Drake secepatnya.


Namun dia juga tidak bisa lepas melihat mata Bianca yang tampak berkaca, apalagi saat Drake kembali menarik rambut Bianca.


"Lepaskan tangannya," ujar Drake menyuruh pria yang pendiam itu, pria itu segera melakukannya, dia melepaskan ikatan tangan Bianca, namun segera menahan kedua tangan itu di meja yang ada di depan Bianca.


Bianca sekuat tenaga ingin melepaskan tangannya, namun kekuatan pria itu jauh sekali di atasnya.


"Ada 28 ruas jari-jari di tangan kita," kata Drake yang segera mengambil sebuah pisau army yang dia mainkan di tangannya, Rain mengerutkan dahinya, begitu pula dengan Bianca dan Ken yang ada di belakang Rain.


"28 ruas itu akan mewakili tiap menit yang bisa kau gunakan untuk memikirkan keputusanmu, aku akan memotong seruas demi seruas tangan wanita sampah ini jika kau masih bersikukuh untuk tidak memberitahukan aku wilayah itu," kata Drake yang mulai mendekatkan pisau itu ke ruas pertama jari kelingking kanan Bianca, mulai menekannya dengan pisau, "waktu berpikirmu dimulai sekarang."


Drake menekan sedikit pisau itu hingga menimbulkan luka kecil di jari Bianca, Bianca tentu tak bisa menutupi rasa sakitnya, namun sebisa mungkin dia menyembunyikannya, tetapi tetap saja Rain dapat melihat hal itu.


Rain tak bisa menutupi wajah tegangnya, dia tak percaya Drake begitu kejam hingga bisa ingin memotong jari-jemari Bianca.


"Semenit itu tidaklah lama, sebentar lagi dia akan kehilangan ruas tangannya ini," ujar Drake yang tak punya rasa belas kasih sama sekali menekan semakin dalam pisau itu, tentu membuat Bianca semakin kesakitan hingga refleks mengerang,


Rain semakin panik melihatnya, tapi Bianca terus menggelengkan kepalanya, dia tak mau Rain hancur hidupnya gara-gara dirinya, dia lebih baik kehilangan semua jarinya dari pada membuat hidup seseorang runtuh karena dirinya.


"Tinggal beberapa detik lagi, dan dia akan …!" kata Drake semakin menjadi, dia bahkan ingin segera menancapkan pisau itu, menaikkan pisau itu dan segera ingin menusukkan pisau itu pada ruas jari kelingking kanan Bianca, Bianca bahkan sudah menutup matanya, menerka-nerka seberapa sakitnya itu.


_______


pojok Aurthor.


Hai kakak2, maaf aku baru bisa nulis kelanjutannya sekarang, kemarin malam keluarga terdekatku harus segera dilarikan ke rumah sakit kerena demam tinggi dan hampir kehilangan kesadaran, karena itu 1 harian ini aku harus menjaga dan mengurusi semuanya hingga tak bisa memegang ponsel atau laptop sama sekali.

__ADS_1


Sekali lagi aku minta maaf karena sudah Up malam dan juga sudah tak sesuai ekspektasi upnya ya..


selamat malam kakak2 semua, semoga Tuhan menganugrahkan kita semua kesehatan yang berlimpah, amin.


__ADS_2