
Yuri menyudahi tatanan di rambut Bianca, rambut coklat hazel itu hanya ditata sederhana, Yuri tersenyum puas melihat mahakaryanya, sebuah sentuhan make up natural tampak hanya membuat wajah Bianca lebih bersinar, tak berlebihan menutupi kecantikan aslinya.
Sebuah gaun pengantin sederhana dengan potongan garis A, tanpa brokat berbahan sifon terbaik hanya sedikit aksen tangan menjuntai tembus pandang membuat putihnya tangan Bianca terlihat, menambah elegan penampilannya
Yuri menyerahkan bouquet kecil bunga angrek putih yang segera diambil oleh Bianca, Bianca tersenyum manis, membuat siapapun tak akan pernah bisa berpaling darinya.
"Gugup nona?" Ujar Yuri menangkap wajah tegang di wajah Bianca.
"Yah, aku susah bernapas sekarang," ujar Bianca begitu polos menjawab pertanyaan Yuri, membuat Yuri tertawa kecil mendengarnya.
Sebuah ketukan kecil sebagai pertanda bahwa mereka sudah ditunggu, membuat Yuri akhirnya sigap untuk sekali lagi melihat penampilan Bianca.
"Nona, tarik napas, anda begitu cantik, aku yakin Tuan akan begitu terkesan melihat anda," ujar Yuri menenangkan Bianca.
"Ya, aku harap," ujar Bianca, dia menarik napasnya ketika Yuri mulai membuka pintu kamar itu, Bianca menatap lorong yang tampak cukup remang, Yuri mengikutinya dari belakang.
Lorong itu cukup panjang yang membawanya langsung ke dek belakang kapal pesiar pribadi milik Rain, di ujungnya, perlahan dan pasti Bianca bisa melihat sosok gagah itu sudah ada di sana, berdiri berlatarkan matahari yang akan tenggelam, berwarna jingga kemerahan dengan awan-awan yang juga ikut menjingga.
Mereka memang akhirnya memutuskan untuk melakukan pernikahan mereka dengan tertutup di atas kapal pesiar ini, selain memang akan menjadi momen bersejarah yang lain dari pada yang lain, mereka juga tak ingin kehilangan keintiman dan kesakralan janji suci hanya karena ribuan orang yang datang, saat ini hanya ada mereka berdua, seorang pemimpin pernikahan, beberapa penjaga, Luke dan Yuri, bahkan Ken dan Siena pun tak mereka beritahu, salah satu alasannya karena Rain tak ingin Siena terkena masalah dengan Drake tentunya.
Bianca berjalan perlahan, Rain yang tadinya tampak diam berdiri akhirnya pandangannya teralihkan pada sosok yang berjalan ke arahnya, dingin dan tajamnya pandangan yang selalu menghiasi wajah juga mata Rain kali ini luluh, berganti dengan sebuah senyuman manis dan wajah lembut.
Melihat tatapan penuh kelembutan dan cinta dari Rain, kegelisahan dan kegugupan Bianca hilang seketika.
Rain menjulurkan tangannya, menggenggam tangan kecil wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, wanitanya selamanya.
__ADS_1
Rain membimbing Bianca berdiri berhadapan dengannya, Rain tak menyangka, gadis yang dia temui dalam keadaan genting, gadis manja yang bahkan tahunya protes saja itu malah membuat hatinya mantap memilihnya menjadi satu-satunya wanita yang akan ada dalam hidupnya.
Bianca pun sama, tak menyangka pria yang harusnya dia hancurkan, pria dengan tatapan tak ada ramahnya, irit sekali berbicara, bahkan sering membuatnya pusing ini akhirnya akan menjadi suaminya.
Pemimpin upacara pernikahan itu segera melakukan tugasnya dan dengan mantapnya Rain menjawab pertanyaan dari pemimpin upacara itu, begitu juga Bianca, tak ada lagi ragu yang tersisa, hanya terlena oleh keseriusan dan mata indah seindah malam ini.
"Aku umumkan kalian berdua adalah sepasang suami istri," kata pemimpin upacara pernikahan itu.
Semua bertepuk tangan, suara ombak pun sedikit keras memecah seolah dia juga memberikan selamat pada pasangan yang baru saja bersatu itu.
Sebuah ciuman hangat dengan latar bintang-bintang bertaburan di malam yang cerah itu menambah hikmat suasana.
Tak banyak acara yang mereka lakukan, hanya sedikit jamuan makan malam bersama dengan para asisten dan juga penjaga Rain, namun suasana begitu hangat, malam ini bahkan Luke baru pertama kali melihat Tuannya banyak tersenyum, sesekali matanya tak lepas dengan wanita yang ada di sampingnya, tangannya tak lepas merangkul wanitanya dari belakang, tak ada yang menyangka, pria dengan sifat sedingin es ini, ternyata begitu hangat dengan pasangannya.
Jam berdentang menunjukkan waktu jamuan akhirnya harus selesai, tengah malam Rain dan Bianca akhrinya meninggalkan ruang tengah yang di sulap para penjaga dan asistennya menjadi tempat mereka berpesta, bahkan saat Rain meninggalkan tempat itu mereka masih berpesta.
"Akan ku bantu," ujar Rain berbisik di belakang telinga Bianca, Bianca mengangguk pelan merasa sedikit berat dia bernapas, apalagi merasa hangat tubuh Rain yang terpancar di belakangnya.
Jemari-jemari hangat itu menyentuh belakang leher Bianca ketika Rain mencoba untuk membuka kalung berlian yang digunakan oleh Bianca, menimbulkan sensasi menyengat namun juga gugup yang membuat Bianca menggigit bibirnya.
Bianca bisa mendengar hembusan napas Rain yang tadinya pelan dan ringan menjadi dalam dan berat, tak dipungkiri, melihat leher putih mulus dan juga bagian bahu Bianca yang kecil itu membuat sisi kejantanannya muncul, wanita ini sudah resmi miliknya, Rain tentu berhak mendapatkan hal yang menjadi haknya malam ini.
Kalung itu berhasil dibuka oleh Rain, perlahan dia meletakkannya di kotak perhiasan Bianca, Bianca yang sudah menahan napasnya juga bergeming dalam posisinya, dia menelan ludahnya dengan susah ketika Rain juga kembali ke posisinya di Bianca.
"Akan ku bantu membukakan," kata Rain berat, kali ini berbisik tepat di belakang telinga Bianca, suara dan terpaan napas hangat itu membuat seluruh tubuhnya bergidik, namun juga mulai merasakan napasnya tercekat.
__ADS_1
Rain menarik resleting gaun itu turun hingga ke pinggang Bianca, memperlihatkan punggung yang mulus itu, napas Rain semakin berat, Bianca bisa menatap wajah dengan kilatan nafsu itu dari pantulan cermin, membuat Bianca benar-benar tak bisa bernapas, entah kenapa takut melihatnya, rasa sakit akibat paksaan itu membuatnya bukannya merasakan rangsangan malah kengerian.
"Rain! Rain!" Teriak Bianca saat jari jemari Rain menyentuh bahu Bianca, Bianca yang ketakutan itu segera berbalik, wajahnya tampak menunjukkan trauma yang nyata, di menutupi tubuhnya yang bahkan belum lepas dari gaunnya.
Rain yang menatap wajah takut dan juga mata yang penuh kengerian itu akhirnya sadar, dia menarik tangannya.
"Maafkan aku, aku tidak bisa," ujar Bianca yang juga sadar, ini malam pertama mereka, tak salah jika Rain melakukan hal itu, tapi dia hanya tak siap, dia belum siap, bukannya dulu sudah dikatakannya pada Rain.
"Aku mengerti," kata Rain menahan dirinya, gejolak di jiwanya nyatanya harus dia tahan. Ternyata lebih sulit menahan nafsu jika sudah ada wanita yang telah menjadi miliknya.
Rain membuang wajahnya dari Bianca, dengan bingung harus apa lalu memutuskan untuk masuk ke kamar mandinya mungkin bisa menuntaskan hasrat dengan cara lain di sana.
Bianca menarik napasnya panjang ketika Rain pergi meninggalkannya, menatap wajah bingung Rain nyatanya perasaan Bianca benar-benar tak enak, bagaimana jika dia tak bisa melakukannya selamanya? Apakah tetap tak masalah dengan Rain.
Bianca menunggu cukup lama, setelah melihat Rain keluar, Bianca bahkan tak bisa tersenyum.
"Bersihkanlah dirimu, lalu tidur," perintah Rain pada Bianca, dia pergi begitu saja menuju ke ranjang pengantin mereka, pria itu berbaring lalu mulai terpejam.
Bianca mengikuti perintah Rain, setelah membersihkan dirinya, Bianca melihat pria itu sudah bernapas teratur dan tenang, Rain sepertinya sudah tertidur.
Bianca masuk ke ranjangnya, tidur di sebelah Rain dengan perasaan bersalah, dia hanya menatap pria itu dengan matanya yang sedih.
"Jangan berwajah begitu dimalam pertama kita menikah," suara Rain nyatanya terdengar, membuat Bianca kaget.
"Rain, kau belum …." Kata Bianca kaget.
__ADS_1
Rain bangkit dengan topangan tangan kirinya, menghadap Bianca yang ada di sisinya, dengan cepat menghadiahkan ciuman hangat di bibir istrinya, tak terlalu lama agar Bianca tak merasa Rain ingin memperkosanya.
"Maafkan aku, aku yang terlalu memaksa, aku sudah mengatakan akan menunggu kau siap, akan ku lakukan, sekarang tidurlah, esok kita akan pergi menyelam," ujar Rain pada Bianca, mencoba untuk membuat istrinya ini tak merasa bersalah, Rain tahu, bukan Bianca tak mau, dia hanya tak bisa, dia yang sudah setuju menikah dengannya, maka dia juga harus bisa menerima segalanya.