
Bianca membuka matanya perlahan, kepalanya sedikit pusing, dia langsung ingin melihat ke sekelilingnya dan hampir saja jantungnya meloncat keluar ketika melihat Yuri yang tampak mengantuk menunggu Bianca.
"Nona, Anda sudah bangun?" tanya Yuri dengan suara riangnya, akhirnya dia bisa setidaknya tak terkurung di ruangan itu jika Bianca sudah bangun.
"Kenapa kau di sini?" tanya Bianca yang merasa aneh, kenapa Yuri menungguinya tidur, Bianca lalu segera mengambil posisi duduknya, sesekali masih menguap, badannya terasa berat.
"Karena Tuan Rain meminta saya untuk menjaga Anda, tadi Tuan Rain yang duduk di sini menunggu dan menjaga Anda namun Beliau memiliki sesuatu yang harus dikerjakan dan dia meminta saya untuk mengantikannya," kata Yuri berdiri menatap ke arah Bianca yang mengerutkan dahinya.
Bianca diam, akhirnya dia mengingat apa yang terjadi sebelum dia tak sadarkan diri, Rain mencium bibirnya, dan tiba-tiba saja dia merasa seperti terserang sesuatu yang membuatnya panik, setelah itu dia tak sadar setelah meminum obatnya.
Bianca membasahi bibirnya, menggigit bibirnya, sentuhan bibir lembut itu masih terasa, begitu juga rasa sakit di hatinya, masih juga membekas.
Suara ketukan terdengar dari pintu kamar Bianca, membuat Bianca kembali ke dunia, Yuri segera berjalan dan membuka pintu kamarnya, memunculkan sosok Ken di sana.
"Saya diperintahkan Tuan Rain untuk melihat keadaan Anda, dan meminta Anda untuk bergabung dengan Beliau di geladak kapal bagian depan jika Anda sudah bangun," ujar Ken menyampaikan untuk apa dia ada di sana.
"Oh, baiklah," kata Bianca.
Ken tak membalas perkataan Bianca, dia hanya mengangguk kaku lalu segera menutup pintu itu. Bianca sedikit melirik Yuri.
Bianca sebenarnya sedang tak ingin bertemu dengan Rain, dia masih belum tahu harus berbuat apa dengan pria itu, tapi jika sudah di minta seperti ini, rasanya sungguh tak sopan jika tak datang, apalagi seluruh tempat ini dan orang-orangnya adalah milik Rain.
Bianca turun dari ranjangnya, berjalan sejenak untuk sekedar membasuh wajahnya untuk menghilangkan sembab dan kantuknya. Bianca mengikat rambutnya agar lebih terlihat rapi, sedikit memberikan sentuhan riasan tipis lalu segera berjalan keluar.
"Yuri, antarkan aku ke geladak depan."
__ADS_1
"Ya, baik Nona."
Bianca berjalan menyusuri segala kemewahan yang ada di kapal itu, bahkan Bianca yang sudah pernah melihatnya masih terkagum-kagum karenanya.
Bianca menyipitkan matanya, melihat silau matahari yang menyambutnya ketika Yuri membuka pintu menuju geladak depan, Pandangan matanya langsung tertuju pada sosok yang tampak begitu terang bercahaya tertimpa matahari, berbeda dengan penampilannya yang bisa selalu berbalut baju formalnya, kali ini pria itu tampak santai dengan kemeja putih yang dikeluarkan dan juga celana selutut.
Pria itu tampak menikmati angin pantai yang menabrak tubuhnya, menggoyangkan rambutnya, Bianca tak bisa memungkirinya, itu adalah pemandangan yang menakjubkan.
Rain mengalihkan pandangnya, merasa ada yang sedang menatapnya, matanya segera berpaut ketika dia melihat sosok Bianca, wajahnya yang diam itu segera melunak, tak ada senyum namun terlihat hangat menyambut Bianca, Rain mengeluarkan gesturnya untuk memanggil Bianca.
Bianca tentu ragu, terakhir kali bertemu keadaan mereka membuat kaku suasana, namun Rain terus memanggilnya, Bianca sudah bisa membaca bagaimana sifat Rain, jika dia sudah meminta dan tak
dituruti pria itu tetap akan memaksa untuk memenuhi keinginannya, dari pada Rain akhirnya menyeret dirinya ke sana, lebih baik Bianca yang datang padanya.
Rain berjalan perlahan menghampiri Bianca, Bianca menatap Rain sejenak dengan tatapan nanarnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rain sambil menatap wajah Bianca yang walaupun sudah di cuci masih tetap terlihat sembab.
"Aku baik-baik saja," kata Bianca.
"Kemarilah, aku ingin memperlihatkan padamu sesuatu," ujar Rain yang tanpa aba-aba, seperti biasa selalu spontan memegang tangan Bianca, Bianca mengerutkan dahinya, hanya bisa menurut kemana pria ini membawanya, karena dari pengalaman melawan pun Bianca gak akan bisa.
Rain mengajak Bianca ke ujung dari kapalnya, melihat ke arah lautan luas yang biru seakan berbatas langsung dengan langit dan awan-awan putih lah yang menjadi pembatasnya, di arah yang mereka tuju terlihat sebuah pulau yang tampak indah dengan warna hijau yang cocok sekali dengan warna langit dan lautan, angin menerpa begitu menyegarkan, membuat Bianca terkagum dengan lukisan alam yang diciptakan oleh Sang Pencipta itu.
Bianca masih terkagum saat dia merasakan Rain yang berdiri di belakangnya, Bianca lalu segera melihat ke belakang, pria itu tepat di depan wajahnya saat dia berbalik karena itu Bianca segera memalingkan wajahnya lagi ke arah depan, namun bukan hanya itu yang lagi-lagi membuat Bianca terkaku, tangan Rain menyusup diantara tangan Bianca, mengapit pingangnya, dan memegang pagar pembatas di sana, Bianca benar-benar terkaku.
__ADS_1
"Maafkan aku tadi, aku tak bermaksud memaksamu," suara itu lembut berbisik di dekat telinga Bianca, membuat bulu kuduk Bianca berdiri seketika, perasaan geli menjalar di seluruh tubuhnya. Bianca tak bisa mengatakan apapun dia hanya mengangguk pelan, jangan tanya bagaimana keadaannya, dia ingin pingsan sekarang karena keadaan ini.
Udara laut yang panas bahkan kalah panas dengan tubuhnya karena perlakuan Rain ini, benar-benar gerah dia dibuat oleh Rain yang tak bergeming, mengurungnya dalam pelukan tak langsung ini.
"Sebentar lagi kita akan sampai, aku harap kau suka tempatnya," ujar Rain, Bianca memberanikan diri untuk menatap pria itu, Rain nyatanya memberikan dirinya sebuah senyuman yang cukup lebar, seketika membuat jantung Bianca ingin keluar dari dadanya.
"Ya," hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.
"Beri aku kesempatan," kata Rain lagi pada Bianca, Bianca menarik napasnya yang berat, tiba-tiba ada perasaan yang tak nyaman, bukan, bukan dia tak ingin memberikan Rain kesempatan, tapi pantaskah dia mendapatkan kesempatan oleh Rain?
Bianca menggigit kembali bibirnya, dia memberanikan diri memutar tubuhnya, memandang pria yang tadinya ada di belakangnya, Bianca menatap mata tajam itu, selalu saja bisa menusuk perasaannya, Bianca lalu tersenyum tipis membuat Rain mengerutkan wajahnya.
"Rain, aku rasa kau tak akan butuh kesempatan dariku jika kau tahu keadaanku sebenarnya, aku yang tak pantas diberi ke sempatan oleh mu, setelah kau tahu bagaimana diriku, kau bahkan tak akan mau menerimaku," kata Bianca masih dengan senyuman tipisnya yang menyiratkan luka di hatinya, Dia wanita yang tak punya apa-apa, bahkan harga dirinya pun sudah terenggut paksa, memberikan dirinya pada pria sebaik Rain, bahkan dirinya sendiri saja tak rela.
Rain memandang mata indah itu yang kembali menyuram, namun wajahnya datar tak berekspresi sama sekali, Bianca merasa dia sudah tak seharusnya ada di sini, Bianca lalu ingin meninggalkan Rain, namun baru saja dia melewati Rain, tangannya langsung di tahan oleh Rain.
Bianca langsung melihat ke arah Rain dengan sedikit kaget, Rain memandangnya dengan mata datar itu.
"Aku seorang mantan narapidana, aku pernah menjadi dalang pembunuhan seseorang, aku pernah menculik seorang wanita dan juga menyuruh orang mencambuk seorang wanita hingga dia tak sadarkan diri, jika itu pun belum cukup buruk untuk bisa pantas denganmu, katakan padaku harus sekelam apalagi kelakuanku agar aku pantas mendapatkan kesempatanmu?" tanya Rain yang bahkan membuat Bianca kaget, pertama kali dia mendengar pria itu berbicara begitu panjang, lalu dia malah berbicara seperti itu, tentu semakin membuat sesak Bianca, sejujurnya, Bianca tak peduli bagaimana dulu kehidupan Rain, tapi dia tak bisa membiarkan Rain harus menderita karena tahu apa yang terjadi padanya, bahkan sejak dia bangun tadi dia meragukan dirinya sendiri, dia takut dia bahkan tak bisa menerima pria lain untuk menyentuhnya karena traumanya yang berat.
"Tuan!" suara Ken tiba-tiba memecah segalanya, semua orang langsung melihat Ken termasuk Yuri yang memandangnya sinis, pria ini bisanya menghancurkan momen saja, pikir Yuri.
Karena perhatian Rain sejenak teralihkan, pegangan tangannya merenggang, Bianca akhirnya lepas dan Rain akhirnya kembali melihat Bianca yang tersenyum tipis lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
Rain memasukkan kedua tangannya memandang wanita itu menghilang masuk ke dalam kapalnya, Ken berwajah sungkan mendekat ke arah Rain.
__ADS_1