Rain In The Winter

Rain In The Winter
113. Wanita yang seumur hidup tak ingin dia lihat.


__ADS_3

"Iya, tak apa-apa peluru itu hanya menyerempet tanganku," ujar Siena, Yuri segera memberikan tissue pada Siena, Bram melirik ke arah Siena, gadis itu hanya tampak santai dengan semua keadaan ini, bahkan tangannya yang berdarah tak membuatnya panik, Bram baru tahu, pantas saja gadis ini bisa menarik perhatian Ken.


"Kemana kita akan pergi?" Tanya Siena menatap ke arah Bram.


"Ke daerah perlindungan, aku akan memberitahu Ken," ujar Bram.


Siena yang mendengar itu hanya mengangguk, karena kejadian tadi dia tak tahu lagi dimana dia meletakkan ponselnya.


Bram mencoba menghubungi Ken, sialnya ponselnya tak bisa di hubungi baik nomor biasa maupun satelitnya.


"Yuri, kau bisa hubungi Ken?" Tanya Bram.


"Akan ku coba," ujar Yuri.


Siena yang mendengarkan hal itu hanya diam saja, dia melirik ke arah Bianca yang menutup matanya sambil mengenggam erat tangan Yuri, tampaknya dia masih syok dengan hal ini, sedangkan Yuri sedang membuat panggilan, namun sama saja tak ada yang bisa menghubungi Ken.


"Tidak bisa," ujar Yuri.


"Benarkah? Tinggalkan saja pesan agar mengatakan kita tak lagi ada di rumah, jangan sampai di pulang, tak bisa kah kau melacaknya dia ada di mana sekarang?" Tanya Siena khawatir.


"Aku akan meminta temanku untuk mencari dimana Ken, tapi sekarang kita fokus membawa Anda dan Nyonya ke tempat perlindungan, darah anda cukup banyak keluar," ujar Bram melihat darah mulai mengental di tangan Siena,membuat semuanya merah, Siena pun beberapa kali meringis walau disembunyikannya, jika terlalu lama takut Siena kekurangan darah.


"Kabarkan dia dulu, aku takut dia kembali ke rumah dan mereka masih di sana," ujar Siena bersikukuh, matanya tajam menatap ke arah Bram yang sibuk membawa mereka secepat mungkin ke tempat perlindungan.


Melihat tatapan tajam Siena, Bram langsung mengangguk, dia mengambil ponselnya dan langsung menelepon temannya.


"Aku ingin kau mencari Ken, beritahu kami di mana dia? Jika bisa hubungi dia dan katakan bahwa kami sudah pergi ke perlindungan," kata Bram segera, tak lama langsung mematikan panggilan itu. Bram lalu melirik ke arah Siena, dia tampak sedikit lega.


"Terima kasih," kata Siena, akhirnya dia bisa menyandarkan dirinya ke kursi sambil menahan rasa perih dan nyeri di tangannya, Bram hanya mengangguk dan segera fokus ke tempat perlindungannya.

__ADS_1


---***---


Ken melangkah cepat memasuki perusahan itu, dia yakin ada sesuatu yang direncanakan oleh Lidia kalau tidak untuk apa dia datang ke perusahaan Rain.


Ken langsung masuk ke lift utama, menekan tombol lantai khusus ruangan Rain dan begitu Lift terbuka, Ken langsung diam melihat seluruh kepala devisi berkumpul di ruang rapat, siapa yang memimpin rapat, Tuannya belum di temukan dan Luke sekarang masih ada di tengah lautan.


Ken berjalan ke arah ruangan itu, namun matanya menatap ke arah sosok yang tertutup oleh kaca yang kabur, dengan cepat Ken membuka pintu ruangan itu tepat di samping tempat pemimpin rapat biasa berada.


Semua mata menatap Ken dengan gugup, namun mata Ken hanya tertuju pada sosok manis yang tampaknya tahu Ken akan datang, dia langsung melirik Ken dengan senyuman cukup lebar.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Ken, suaranya cukup besar hingga semua orang di sana bisa mendengarnya. Semua orang di sana juga tampak gugup.


Lidia kembali menaikkan sudut bibirnya, dia perlahan berdiri dan mendekati Ken.


"Apa hakmu berbicara dengan pemilik perusahaan? Kau hanya asisten di sini, apa kau merasa sudah memiliki?" Tanya Lidia santai sambil melipat tangannya ke depan dadanya, memandang rendah Ken.


"Apa maksudmu?" Tanya Ken mencoba menahan dirinya, dia tahu bagaimana parahnya wanita ini, dan dia tahu bagaimana Tuannya sangat membenci wanita ini, bahkan dia selalu mengatakan hanya Lidia lah wanita yang tak ingin dia lihat lagi seumur hidupnya.


"Nona Lidia adalah pemilik dari Marka Corp. Setelah kepergian Tuan Rain," kata Pengacara itu tampak cukup ketakutan.


"Bagaimana bisa?" Tanya Ken kaget, bagaimana pun dia yakin Rain tak mungkin menyerahkan semua hartanya pada wanita ini.


"Surat penyerahan kekuasaan ini menyatakan bahwa Tuan Rain memberikan seluruh aset dan kekayaannya pada keluarga Angkatnya, keluarga Ran, jika terjadi apapun padanya. Ditanda tangani dan disegel resmi dengan sidik jari Tuan Rain, dan ini semua asli," kata pengecara itu menjelaskan, menunjukkan salinan surat penyerahan kekuasaan itu, Ken membacanya, melihat sidik jari hingga tanda tangan Rain, semua terlihat asli, apalagi jika dikatakan bahwa sidik jari itu asli, tapi Ken benar-benar tak percaya, Rain pernah mengatakan dia sudah menghapus semua nama keluarga angkatnya dari aset yang dia miliki.


"Tidak mungkin, ini tak mungkin asli," ujar Ken. Lidia hanya tersenyum senang.


"4 pengacara Tuan Rain sudah mengatakan bahwa ini semua asli, sidik jarinya sudah di periksa dan berhasil membuka brankas utama, ini milik Tuan Rain," kata Pengecara itu, dia mengambil salinan surat itu dari tangan Ken sebelum Ken hendak memerasnya.


Lidia tersenyum menang, dia mendekat ke arah Ken lebih dekat. Matanya begitu menggoda.

__ADS_1


"Dimana Tuan Rain?" Tanya Ken dengan tatapan mata tajamnya. Lidia tersenyum tambah licik. Dia mencondongkan tubuhnya ke Ken lebih dekat, lalu berbisik pelan.


"Tak perlu memikirkan itu, aku rasa kau ingin melihat keadaan Tunangan dan Nyonya barumu, apakah pengamanan yang ada cukup? Apa kau tak ingin menyelamatkan mereka?"


Ken membesarkan matanya, dia melihat Lidia dengan api amarah, dia ingin sekali memukul dan menghabisi wanita ini tak peduli dia wanita atau bagaimana, tapi dia tak bisa melakukannya di depan lebih dari 20 orang yang dari tadi menatapnya.


Ken menggertakkan giginya hingga rahangnya terlihat keras, dia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk daging tangannya, amarahnya terlihat jelas namun dia hanya bisa menahannya, dengan tatapan yang ingin membunuh Ken segera meninggalkan tempat itu.


Cepat langkahnya bahkan sampai berlari, dia segera masuk ke dalam mobilnya, dia mengambil ponselnya dan melihat bahwa ponselnya dua duanya sudah mati, dia lupa untuk mengisi daya ponselnya yang aktif dari tadi.


Ken segera mengendarai mobilnya, tak perduli jalanan yang begitu padat dia menyalip semuanya, bahkan beberapa kali dia mengambil jalan yang bukan jalannya, namun dia memang pengemudi yang handal hingga bisa Sampai ke rumah Rain dengan cepat.


Ken langsung keluar dari mobilnya ketika melihat rumah itu penuh dengan jasad para penjaga yang begelempangan, Ken segera mengambil senjatanya, perlahan dia masuk ke dalam rumah itu, mencoba mencari apakah Bianca atau Siena ada di sana, namun baru saja dia masuk pintu langsung tertutup, dia langsung di todong oleh 8 orang bersenjata api hingga melingkarinya.


Ken yang terdesak hanya bisa diam, dia lalu mencoba menunjukkan sikap menyerahnya karena bagaimanapun dia tak mungkin melawan mereka semua, dia lalu berlutut dan meletakkan pistolnya ke lantai.


"Akhirnya kau datang juga," suara Drake terdengar menggema, dia tersenyum senang. Ken hanya diam menatap dengan tajam pria itu.


"Dimana Nyonya dan Siena?" Tanya Ken dengan suara beratnya, matanya tak bisa lepas dengan sosok yang membuatnya ingin menjadi binatang buas.


"Tenang saja, dia akan datang jika aku punya dirimu, lumpuhkan," ujar Drake dengan suara sinisnya, dengan cepat salah satu dari mereka ingin menusukkan cairan ke leher Ken namun Ken segera berontak, namun baru beberapa pukulan, kepala dan pipinya ditekan oleh mulut senjata yang di bawa oleh para penjaga itu.


Napas Ken berat, emosinya benar-benar terkuras, dia menatap ke arah Drake yang santai merokok di dekatnya, menghamburkan asap tebal yang membuat wajahnya buram.


"Jangan coba-coba, tak menyangka seorang wanita membuat kita berdua bodoh bukan, suntikkan!" Kata Drake dengan sangat menjijikkan.


Seorang pengawal dari Drake mengambil suntikan yang tadi jatuh karena Ken mencoba berontak, dengan cepat dia mesukkan jarum tajam itu ke leher Ken dan memasukkan cairan bening itu langsung.


Ken awalnya tak merasakan efeknya tiba-tiba tak menyangka dia tak bisa berdiri dengan baik, pandangannya menjadi berganda dan kabur, perlahan dia rubuh juga, Drake tersenyum sinis membuang puntung rokok yang bahkan baru di isapnya dua kali ke tubuh lunglai Ken.

__ADS_1


"Bawa dia, aku sudah rindu melihat gadisku," ujar Drake, pergi begitu saja keluar, para pengawal Drake segera menyeret tubuh lunglai Ken.


__ADS_2