Rain In The Winter

Rain In The Winter
147.


__ADS_3

Ini adalah kamarnya, tentu yang Bianca tiduri sekarang adalah ranjang Rain, namun pria itu malah membiarkan Bianca tidur sedangkan dia hanya tertidur di sofa, padahal dia bisa saja tidur di sampingnya, Bianca tersenyum manis, ingat bagaimana dulu Bahkan saat Bianca menggodanya saat Bianca mabuk, Rain tetap tak mau menyentuhnya, Rain memang bukan pria yang suka mengambil kesempatan.


Bianca segera turun dari ranjangnya, perlahan mendekati pria yang bergeming dengan posisi tidurnya yang pastinya tak nyaman, Bianca melambaikan pelan tangannya ke depan wajah Rain, mencoba memastikan pria ini tidur atau hanya pura-pura.


Rain tak bergerak sedikitpun, kelopak matanya pun tampak tenang, Bianca tersenyum manis, bagaimana seseorang tidur bisa tampak begitu tampan, bagaikan patung dengan pahatan sempurnanya.


Bianca perlahan mengarahkan tangannya ingin menyentuh pipi Rain yang tampak tidur tenang, Bianca baru saja bermimpi tentangnya, dulu mimpi itu setiap saat akan membuatnya menangis setelah bangun, namun sekarang saat dia terbangun, mimpi itu bukan hanya mimpi, pria itu ada di sini, walau berbeda, namun dibeberapa kesempatan, Bianca melihat pria ini seperti suaminya yang dulu.


Bianca hampir saja menyentuh Rain saat dia sadar bisa membangunkan Rain karena sentuhannya dan segera ingin menarik tangannya, namun tanpa diduganya, tangannya malah langsung digenggam erat oleh Rain, Bianca tentu kaget, dia bahkan melihat mata Rain masih tertutup sempurna.


"Kenapa tak jadi menyentuhku?" Kata Rain, dingin sebenarnya, namun karena dia mengatakannya sambil perlahan membuka matanya yang sayu Bianca malah merasa dadanya kembali berdetak kencang yang seketika menyemukan pipinya.


"Eh? Aku? Kau pura-pura tidur?" Ujar Bianca awalnya panik namun segera memikirkan apa alasan untuk mengelak, untungnya dia cepat menemukannya.


"Tidak, seharusnya kau tahu aku mudah terbangun," kata Rain pada Bianca.


"Dulu kau tak begitu," ujar Bianca, rasanya dulu Rain tidur selalu nyaman di sampingnya.


"Benarkah? Apa setiap hari kita tidur bersama?" Rain menaikkan satu sudut bibirnya, akhirnya dia mengatakan kebiasaan mereka dulu, ini yang Rain butuhkan. Mendengar hal itu Bianca sedikit kaget, kenapa bisa dia mengatakan hal ini.


"Eh?" Bingung Bianca mencari alasannya kembali.


"Jika aku tak berjanji membiarkanmu pulang sore ini, aku pasti sudah menidurimu," ujar Rain ceplas-ceplos, membuat Bianca membesarkan matanya, satu perubahan Rain yang nyata, dia sekarang suka bicara apapun yang ada di kepalanya.


"Ya, jadi sekarang kau izinkan aku pulang?" Kata Bianca salah tingkah karena melihat tatapan Rain yang bagi Bianca punya seribu arti.


Rain hanya diam, enggan pastinya, dia ingin Bianca ada bersama dengannya selamanya di sini, dia tak ingin sejenak saja kehilangan Bianca dari pandangannya, namun dia adalah pria tepat janji, dia harus membiarkan Bianca pulang Agar sahabatnya itu tak curiga, alasan yang sedikit tak masuk di akal Rain, jika sahabat lalu kenapa harus memikirkan dia curiga atau tidak?


Rain melepaskan tangan Bianca, membuat Bianca langsung menarik tangannya, dia tahu artinya bahwa Rain sudah mengizinkannya pulang, karena itu dia sedikit tersenyum karena dia lega, lebih lama sedikit saja, rasanya Bianca bisa gila karena tingkah Rain ini.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Bianca senang.


Rain lalu berdiri di depan Bianca, membuat sekali lagi Bianca terkaku karena masuk ke dalam perangkap tatapan tajam itu.


"Malam ini datang lagi," kata Rain sebelum melangkah meninggalkan Bianca, Bianca mendengar itu kaget, tak mungkin malam ini dia pergi lagi, dia tak bisa meninggalkan si kembar lagi, lagipula apa kata Yuri nanti.


"Tidak! Malam ini aku tak bisa!" Kata Bianca sedikit tegas, ya dia harus menegaskan hal ini, Bianca boleh ada di sisi Rain pagi hingga sore hari, namun malam adalah waktunya untuk si kembar, tak boleh di ganggu gugat.


Rain yang awalnya ingin meninggalkan Bianca segera menghentikan langkahnya, bagaimana bisa Bianca menolak hal itu, penting sekalikah sahabat Bianca itu?


"Kenapa?" Kata Rain, mencoba bersabar sedikit menghadapi Bianca, ingin tahu alasan apa sehingga Bianca tak bisa menemaninya malam ini.


"Tak setiap malam aku bisa tidur di sini, ini pulau kecil, melihat setiap malam aku pergi dan pulang setiap pagi akan membuat namaku jelek, aku bisa dikatakan wanita yang tak baik, aku tak bisa malam ini," ujar Bianca lagi, mencoba mencari alasan tanpa menggunakan Si kembar.


Rain menatap ke arah Bianca, dia tampak tak menyetujui hal itu, namun dia bisa mengerti, sayang sekali dia ada di pulau terpencil ini, jika di ibukota, tak ada yang akan mengurusi hal itu.


"Baiklah, temui aku besok pagi, malam ini kau bebas," kata Rain mencoba mengalah.


Rain tak ingin ribut, dia hanya menahan pertanyaan itu dan keluar dari kamarnya, Bianca dengan cepat mengganti bajunya dengan baju yang dia pakai untuk bekerja, dia juga tak lupa membereskan tempat tidur Rain, tahu Persis suaminya ini suka kerapian.


Bianca segera keluar, melihat Rain sedang sibuk dengan ponselnya, dia bahkan tak melirik Bianca yang keluar dari kamarnya.


"Rio, antarkan dia pulang," ujar Rain acuh tak acuh dengan Bianca, Bianca hanya mengerutkan dahinya namun tak ingin berbicara, takut nanti malah Rain berubah pikiran, dalam pikirannya sekarang yang penting malam ini dia bersama si kembar.


"Baik tuan," ujar Rio, dia tersenyum pada Bianca sambil menunjukkan arah Jalan, Bianca segera berjalan duluan, sebelum Rio pergi, Rain menatap ke arah Bianca pergi, dia melirik Rio yang langsung di sambut Anggukan oleh Rio, hanya dia yang tahu artinya.


Bianca segera di antar ke rumahnya, namun berbeda dengan biasanya Rio tak mengantarkan Bianca sampai ke depan rumahnya malah berhenti di halte dekat rumahnya.


"Tuan Rain berpesan agar jangan menurun anda tepat di depan rumah anda, Beliau juga mengatakan pada saya untuk tidak turun agar tak membuat orang-orang menjadi curiga, maaf nona saya hanya mengantar anda Sampai di sini, tapi saya akan tetap mengawasi hingga anda sampai di rumah," ujar Rio.

__ADS_1


"Oh, baiklah, itu bukan masalah," ujar Bianca, merasa benar-benar dia seperti selingkuhan Rain, bahkan di antarkan sembunyi-sembunyi, tapi bukannya dia yang membuatnya seperti ini.


"Nona, Tuan Rain mengatakan untuk mengaktifkan ponsel yang beliau berikan, jika tidak beliau akan sangat marah," kata Rio lagi.


Bianca hanya mengangguk pelan, benar, dia belum mengaktifkan ponsel itu lagi dari kemarin.


"Terima kasih," kata Bianca sebelum menutup pintu mobilnya.


"Sama-sama Nona," kata Rio menjawab.


Bianca menutup pintu itu, perlahan berjalan ke arah rumahnya, saat dia masuk ke dalam rumahnya tentu langkah kecil namun riuh itu langsung menyambutnya, membuat Bianca langsung tersenyum bahagia.


"Selamat datang Mami," sambut Gio.


"Terima kasih," kata Bianca mengecup pipi Gio lalu Gwi yang ada di belakang Gio.


"Mami capek?" Tanya Gwi.


"Tidak," jawab Bianca, tentu saja, perkerjaanya hanya tidur siang hari ini.


"Mami, tadi siang Gwi bertemu paman tampan lagi, dan dia membelikan Gwi dan kakak ayam yang sangat banyak," kata Gwi sambil menggandeng ibunya masuk lebih dalam ke rumah mereka, Yuri tampak sedang menyiapkan makan malam. Bianca mengerutkan dahinya, siapa paman tampan ini?


"Ya, lihat ada mainannya," ujar Gio menunjukkan mainan yang dia dapat.


"Wah, bagaimana bisa kalian Bertemu dengannya?" Tanya Bianca sebenarnya pertanyaan ini untuk Yuri, Bianca juga melirik Yuri, takut paman tampan itu hanya ingin mengambil hati anaknya lalu nantinya menculik mereka.


"Maaf Nyonya, tadi si kembar seharusnya pulang cepat, tapi karena pekerjaanku, aku tak bisa menjemputnya dengan tepat waktu, namun saat aku ke sana pria itu sudah tidak ada, Gurunya mengatakan Pria itu tampak tak punya niat jahat, dia juga memberikan makan siang Tuan dan Nona muda di sekolah, tak mengajak mereka keluar," ujar Yuri sangat merasa bersalah, Bianca mengerti itu.


"Tak apa-apa Yuri," ujar Bianca, tak mungkin memarahi Yuri karena hal ini, dia bekerja juga karena ingin membantu Bianca.

__ADS_1


"Benar, bibi Yuri datang 1 jam kemudian, tapi Gio menjaga Gwi agar tetap di sekolah, lagi pula paman itu baik dan kaya, dia tak mungkin menculik kami, mobilnya saja sangat bagus," kata Gio dengan gayanya.


"Benarkah?" Kata Bianca, wajahnya sedikit mengerut, kenapa sekarang Gio juga menyanjungnya? Gio dan Gwi mengangguk mantap.


__ADS_2