
Bianca memandang langit-langit kamarnya, suasana kamar mereka sudah begitu remang, Dia sudah berusaha untuk menutup matanya, namun bahkan dia sudah mencoba menutup matanya dengan paksa, hal itu malah membuatnya sama sekali tidak bisa tertidur.
Kepalanya masih begitu penuh dan juga begitu sakit, dia melirik pria yang tidur di sampingnya, sudah tampak menutup mata dan suara napasnya sudah teratur, Bianca berpikir Rain sudah tidur.
Bianca tampak gelisah, mencoba mencari posisi yang nyaman agar dia bisa tidur, dia membelakangi Rain, menarik selimutnya dan menarik napasnya panjang.
Tak lama sebuah tangan hangat menyusup di antara pinggang Bianca, memeluknya erat, dan Bianca bisa mendengar suara napas mendekat ke arah telinganya, Bianca melirik ke arah Belakang,Rain tampak ada di sampingnya.
"Tidak bisa tidur?" tanya Rain terdengar lembut berbisik pada Bianca.
Bianca hanya menggeleng lemah sambil melirik ke arah suaminya itu, "Aku kira kau sudah tidur? "
"Bagaimana bisa tidur jika melihat kau begitu gelisah," kata Rain sedikit menggoda Bianca, menciptakan sebuah senyuman manis tipis di bibir Bianca. "Masih memikirkan esok? "
"Ya, Rain, bagaimana jika Lidia memintamu untuk menikahinya? Jika Carel adalah anakmu maka … " kata Bianca membalik tubuhnya, memandang wajah suaminya dengan tatapan lembut, matanya tampak cemerlang di bawah cahaya yang temaram itu. Rain langsung mengecup bibir Bianca membuat Bianca langsung terdiam.
"Jangan dipikirkan, aku sudah mengatakan padamu, apakah belum juga yakin? aku tetap akan memilihmu, jika benar Carel adalah anakku, maka aku akan hanya menerimanya, bukan Lidia, bukannya aku sudah berjanji padamu akan selalu bersamamu hingga akhir? " kata Rain lembut sambil mengelus pipi halus istirnya.
"Bagaimana jika Lidia tidak ingin seperti itu, bagaimana jika dia tidak akan mengizinkan anakmu jika kau tidak menikahinya?" kata Bianca lagi cemas.
"Maka biar saja dia membawanya," kata Rain mengganti posisinya menjadi terlentang menatap langit-langit kamarnya, Bianca diam, walau terasa begitu serius mengatakannya, namun dari gerak geriknya Bianca tahu Rain pun bingung bagaimana dia harus bertindak.
Senyap sesaat…
"Tidurlah, kita akan tahu jawabannya esok, tidak perlu khawatir, aku akan selalu bersamamu," kata Rain menyakinkan Bianca walaupun hal itu sama sekali tidak berguna, hati Bianca tetap saja tak tenang, namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut, dia juga yakin Rain tak punya jawaban pastinya sekarang, semua tinggal menunggu esok.
----***---
Bianca berjalan di sebelah Rain yang mengandeng tangannya, Bianca sama sekali tidak bisa tidur tadi malam, dia akhirnya tertidur pukul 4 pagi, namun sudah harus bangun kembali pukul 06.00 pagi karena dia harus segera menemani Rain ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.
__ADS_1
Bianca menatap prianya, tampak wajahnya begitu dingin dan ketat, sepertinya banyak hal yang dia pikirkan sekarang, sejak pagi tadi Rain cukup pendiam, Bianca bahkan tidak melihat senyuman Rain pagi ini.
"Ada apa? " tanya Rain akhirnya buka suara melihat istrinya hanya menatap dirinya.
"Tidak, tidak apa-apa," kata Bianca membuang wajahnya.
Rain menarik napasnya, mengenggam tangan Bianca lebih erat hingga terasa mantap membuat Bianca kembali melihat suaminya itu.
"Kita akan hadapi bersama," kata Rain memberikan senyuman tipisnya, membuat Bianca juga membalas senyuman kaku itu.
Mereka tak lama segera masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah ditunjukkan oleh Luke, saat pintu itu terbuka, tampak Lidia segera bangkit dari duduknya, di sebelahnya seorang pengasuh sedang menggendong Carel yang tampak habis menangis.
Lidia segera tersenyum menyambut pria yang selalu saja menjadi cintanya itu, namun senyuman itu pudar ketika melihat Bianca yang ada di belakang Rain, apalagi melihat pautan tangan Rain yang begitu erat memegang tangan Bianca, Lidia ingin sekali menghambur dan melepaskan ikatan itu, tapi dia harus tenang, sebentar lagi, dia yang akan memegang tangan Rain itu setelah mendapatkan hasil dari DNA anaknya itu.
"Carel, jangan menangis ibu di sini," kata Lidia mengelus kepala Carel, Carel tampak membuang wajahnya, Rain mengamati itu, tampak sekali Lidia sengaja untuk menunjukkan betapa dia dekat dengan Carel, Bianca hanya diam mengamati tingkah dari Lidia yang cukup menganggu itu.
"Baiklah, silakan Tuan," kata dokter itu.
Rain memandang Bianca seolah ingin mengatakan untuk menunggu, Bianca segera mengaggukkan kepalanya mengerti, Rain mau tak mau melepas tangan Bianca, memandang kepada 2 orang penjaganya dan juga Luke.
"Jaga Nyonya dengan baik, jangan izinkan siapapun mendekatinya," kata Rain dengan suara yang tegas, ada sedikit kecemasan pada suaranya.
"Baik Tuan, serahkan saja pada kami," kata Luke menyakinkan Rain bahwa dia akan menjaga Bianca.
Lidia yang mendengar itu menyipitkan matanya, sebegitu takutkah Rain jika gadis itu tergores sedikit saja, tentu hal itu membuat Lidia merasa terbakar cemburu, nikmati saja waktumu untuk menjadi ratu, setelah semuanya jelas, Lidia yakin Rain akan menerima dirinya daripada wanita itu.
Rain masuk ke dalam sebuah ruangan, dari baunya saja sudah sangat mengganggunya, apalagi sekarang dia melihat Lidia sedang menggendong Carel di dekatnya, berusaha untuk membuat Carel berinteraksi dengan Rain.
Rain memandang wajah anak itu, tak bisa dipungkiri, dia tahu anak itu sangat mirip dengannya waktu dia masih kecil, percis bagaikan foto kopinya, namun dia tetap tidak bisa menerima hal ini, dia harus mempunyai bukti konkret bahwa Carel adalah anaknya.
__ADS_1
"Baiklah, silakan Tuan Rain, saya akan mengambil darah Anda, itu adalah sampel paling baik untuk tes DNA," kata dokter itu meminta Rain untuk duduk di salah satu kursi agar melakukan prosedur pengambilan darah.
Rian segera menurut, seorang suster lalu mengambil Carel dari gendongan Lidia, dia tampak segera menangis mengusik Rain yang melihatnya.
"Apakah dia juga akan diambil darahnya?" tanya Rain yang tidak bisa membayangkan anak sekecil itu akan diambil darahnya, ada perasaan tidak tega melihatnya.
"Oh, kita bisa mengambil sampel yang lain," kata dokter yang sudah menacapkan jarum cukup besar itu di tangan Rain, dia sedikit meringis merasakannya, tahu akan rasa sakitnya, Rain mengangguk.
"Ya, jangan ambil darahnya," kata Rain pada dokter itu.
"Tapi bukannya yang paling bagus untuk sampel DNA adalah darah? " tanya Lidia yang tadi mendengar kata-kata dokter itu.
"Ya, benar Nona, tapi ludah, rambut dan yang lain juga bisa," kata Dokter itu.
"Kalau begitu ambil saja darahnya, agar tak ada lagi keraguan atas dirinya," ujar Lidia santai, hal itu tentu membuat Rain keget, dia bahkan lupa akan sakit di tangannya hingga dia menegakkan tubuhnya.
"Apa maksudmu?" tanya Rain, bahkan dia yang belum tahu pasti bahwa Carel adalah anaknya tidak tega membayangkan rasa sakit yang akan Carel rasakan ketika dia diambil darahnya, kenapa Lidia selaku ibunya tega sekali untuk melakukan hal itu.
"Jika nanti diambil yang lain, kau akan punya alasan mengatakan bahwa Carel bukanlah anakmu, aku tahu bagaimana sifatmu kak, kau akan selalu ingin yang benar-benar pasti, karena itu dari pada kau nantinya masih merasa ragu, aku meminta Carel untuk diambil darahnya," kata Lidia lagi memandang Rain dengan tatapan seolah menantang pria itu. Rain mengerutkan dahinya lebih dalam melihat tingkah wanita ini.
"Jangan, ambil saja rambutnya," kata Rain lagi.
"Aku sudah setuju untuk pengambilan. Darah, lagi pula dia sudah diambil darahnya," ujar Lidia santai, Rain kembali memandang sinis wanita ini, benarkah dia ibu kandungnya?
Tak lama Carel keluar dengan wajah merah padam dan juga tangis yang menjadi, Rain sudah tahu bahwa Carel baru saja di ambil darahnya, padahal dia tidak setuju melakukan hal itu. Carel terus menangis, membuat suasana ruangan itu sangat riuh, ingin menggapai Lidia, namun Lidia bahkan tak seperti ingin menenangkan anaknya.
"Bawa saja dia keluar dulu, tenangkan dia," kata Lidia memerintahkan pengasuhnya, Carel tampak memeluk pengasuhnya dengan sangat erat, Rain memandang hal itu, sepertinya Lidia benar-benar memanfaatkan Carel untuk mendapatkan dirinya, bahkan saat Carel menangis seperti itu, Lidia tak menunjukkan simpati sama sekali.
"Sudah Tuan," ujar dokter itu setelah mengambil sempel darah dari Rain, dia segera berdiri dan memperhatikan Lidia yang tampak tersenyum-senyum menatap ke arah Rain.
__ADS_1