
Bianca menatap ke arah kaca transparan, melihat tubuh kecil itu sekarang penuh kabel dan juga dikelilingi begitu banyak orang yang mencoba mempelajari keadaannya.
Tangannya dia letakkan ke kaca jendela itu, dingin bagaikan akan membekukan tangannya, dia tak tahu bagaimana keadaan di dalam sana,apakah tak apa membiarkan tubuh kecil itu tidak menggunakan baju atau celana?
"Dia tidak akan apa-apa," suara lembut itu terdengar, walau berat namuun bisa menghangatkan hati siapapun yang mendengarnya.
Bianca melihat ke arah Rain yang menaruhkan tangannya di pundak Bianca, mencoba memberikan kekuatan dan ketenangan di hati Bianca yang kecil. Mata Bianca yang berkaca itu tampak berkilau di bawah lampu, dia tak menjawab hanya kembali memandang tubuh kecil nan ringkih itu diotak-atik oleh para dokter yang sengaja dipanggil oleh Rain.
Rain memidahkan Carel ke tempat perawatan khususnya, setelah memastikan semua alat dan kebutuhan dari Carel terpenuhi di sana, mereka tanpa menunggu waktu lagi langsung memindahkan Carel ke rumah pulau, salah satu alasannya adalah agar tak ada waktu Lidia untuk bisa kembali melarang mereka melihat keadaan Carel.
"Tim dokter akan mencari cara untuk menemukan obat untuk Carel, mereka yang terbaik, Siena juga akan mencari tahu dokter yang selama ini dipercaya untuk menjadi dokter kerajaan, dia yang melakukan penelitian bertahun-tahun untuk penyakit ini," ujar Rain lagi, suaranya cukup bergetar apalagi melihat darah merah yang dokter tarik dari pembuluh darah kecil di tangan Carel, dia tidak menangis seperti 3 hari yang lalu, bahkan merespon tidak, ternyata ini lebih menyakitkan hati dari pada mendengarnya menangisnya seperti kemarin, kenapa Rain rindu tangisan kecilnya itu.
"Bianca sudah malam, dari siang kau belum makan, kita makan dan membersihkan diri, kita juga butuh istirahat agar bisa menjaganya," suara Rain begitu halus, perhatiannya terasa sekali, jauh berbeda dengan dirinya saat berbicara dengan para pegawainya, seolah dia berusaha sekali merayu istrinya ini untuk sejenak beristirat dan sejenak beranjak dari sisi Carel.
Bianca sebenarnya enggan untuk melakukannya, namun apa yang dikatakan oleh Rain ada benarnya, walau tak sadar bahwa dirinya sudah lapar, kata-kata Rain mengingatkannya pada perutnya yang tiba-tiba saja terasa nyeri, jika dia tak menjaga dirinya, bagaimana dia bisa menjaga si kecil Carel.
__ADS_1
Bianca mengangguk setelah terdiam sesaat, Rain tersenyum tipis, dia lalu merangkul pinggang Bianca, membawa istrinya itu kembali ke ruang utama rumah pantai mereka, untung saja tempat perawatan Carel tak jauh, kapan pun dia ingin, dia bisa melihat Carel dari balik kaca itu.
Setelah makan malam yang cukup hening tanpa kata-kata, Bianca berhasil memasukkan setengah dari porsi makannya yang biasa, Rain yang melihat itu tidak bisa memaksa, pasti perut kosong diisi pun rasanya akan tak nyaman.
"Mandilah, aku sudah mengisi air hangat," ujar Rain pada Bianca, Bianca hanya menganggukkan kepalanya, berjalan ke arah kamar mandinya, tak lama Bianca berendam, tak seperti biasanya yang membuatnya lebih rileks kali ini malah membuat kepalanya semakin penuh, tak tahu pusing karena terlalu banyak pikiran atau malah karena memang kekurangan gula, Bianca sering mengalaminya dulu, saat makan saja untuknya sangat susah.
Dia keluar, kali ini tak menggunakan jas mandinya, hanya dengan lilitan handuk, lagi pula dia tak perlu lagi malu-malu, di dalam sana hanya ada suaminya, tak mungkin ada yang berani masuk selain Rain.
Dan benar saja, mata Bianca langsung menatap ke arah sosok pria yang sekarang sudah berganti dengan pakaian santainya, sebuah kaos abu-abu tua dan celana tidur panjang yang longgar.
Rambutnya yang terurai sedikit di bawah bahunya, coklat indah, dengan beberapa helai tampak basah, sebenarnya sedikit berantakan namun entah kenapa bagi Rain itu menggoda. Tubuh putih bak porselen itu tampak memantulkan cahaya kuning di dekatnya. Melihat itu Rain menahan napasnya.
Bianca yang kalut dengan pikirannya tak menyadari suaminya perlahan mendekatinya, dia bahkan sibuk menggunakan lotion untuk tubuhnya, meletakkannya di bagian leher bahu hingga ke tangannya yang mulus.
Tiba-tiba Bianca kaget dan baru sadar mendengar suara napas berat yang jelas di belakang telinganya, menghembuskan napas hangat yang membuat dia geli karena langsung menerpa daun telinga belakangnya.
__ADS_1
Rain mencium bau lotion lembut itu, sangat lembut hingga tak menyengat sama sekali, bau ini terpatri di otaknya sebagai bau Bianca.
Bianca bisa melihat pancaran nafsu di mata Rain yang mengamati tubuh istrinya itu dengan lekat.
Beberapa hal dan masalah yang timbul akhir-akhir ini membuat dia lupa akan hal ini, mereka tidak lagi seintim ini beberapa hari ke belakang, padahal saat di daerah bersalju itu, mereka begitu dekat dan hangat.
Rain tanpa banyak bicara langsung mendaratkan sebuah ciuman hangat pada leher belakang Bianca, menghirup bau Bianca yang memabukkannya, lembut dan perlahan menyisir leher belakang itu dengan bibirnya turun ke bawah dan menyapu bagian bahu Bianca. Membuat Bianca mengelinjang geli karena perlakuan suaminya ini, geli namun mengasikan.
Saat Rain melakukan hal itu, tangannya bergerak, perlahan melepas handuk satu-satunya yang menyangkut di tubuh Bianca, membuka kaitan yang menahan handuk itu untuk tetap ada di tubuh Bianca, dengan satu tarikan, handuk itu lolos sempurna dari tubuh Bianca, membuat bayangan kulit putih polos itu terpantul di cermin di depan mereka.
Bianca kaget lalu menutupi tubuhnya yang tak semulus tangan atau kakinya, namun Rain menarik pelan tangan Bianca, mencoba untuk menghalau tangan yang menutupi pemandangan indahnya, hal itu membuat napasnya jauh lebih berat, Bianca pun begitu, napasnya semakin sesak.
Rain terus menyentuh bahu bagian belakang Bianca, menciumnya, menyusurnya dengan bibirnya yang hangat, membuat Bianca menegang, apalagi tangan Rain mulai menjelajah ke bagian depannya, mulai dari dada turun perlahan ke arah perutnya, semua sentuhan itu membuat Bianca hanya bisa menegang, sesekali mendesah jika dia menemukan sensasi indah itu.
Bianca semakin tenggelam, Rain tahu betul bagaimana membuat Bianca tak lagi bisa menolak dirinya, bahkan Bianca cukup gila rasanya, seluruh badannya, depan dan belakang digarap oleh Rain, depan dengan jari jemarinya yang panjang namun dengan gentle menyentuhnya, bagian belakang apalagi, hangat napas dan lembutnya bibir, halusnya menyapu dan mengecup bagian bahu, leher dan juga punggung Bianca.
__ADS_1
Rain bisa melihat Bianca sudah larut dengan semuanya, dia lalu memutar tubuh Bianca, bukan hanya Bianca, walau wanita ini tak melakukan apapun padanya, tapi Rain juga sama bernafsunya dengan Bianca saat ini, dia sudah rindu kehangatan yang diberikan oleh tubuh istrinya ini.