
"Gio begitu karena dia memang baik atau karena dia membelikan Gio ayam?" Tanya Bianca lagi sambil mencolek hidung anaknya, Gio tertawa geli, benar ayam adalah alasannya.
"Tuh kan, lain kali jangan pernah menerima apapun lagi, ya? Kita tak akan enak menerima kebaikan orang terus menerus, Janji pada mami," kata Bianca pelan penuh keibuan agar anaknya tak merasa di melarang kesenangan mereka.
"Baik mami," ujar Gio dan Gwi serempak, walaupun sedikit kecewa tapi Gio dan Gwi harus patuh pada ibunya.
"Tapi Gio mengundang paman itu datang ke rumah, mami jika dia datang mami mau kan memasak untuknya?" Tanya Gio.
"Bagaimana bisa Gio mengundang paman itu?" Kata Yuri kaget yang mewakilkan pertanyaan di kepala Bianca.
"Ya, habis dia memberikan kami makanan, jadi Gio mengundangnya sebagai tanda terima kasih, katanya dia akan datang," kata Gio lagi, sedikit merasa bersalah, dia terlalu cepat dan banyak omong.
"Tak apa, jika memang dia akan datang, suruh saja dia datang, Gio sudah mengundangnya, tak enak jika tiba-tiba melarangnya datang, mami juga ingin melihat bagaimana orangnya agar mami kenal, selain itu mami pasti memasak untuknya karena sudah memberikan Gio dan Gwi makanan," ujar Bianca menenangkan anaknya.
"Baiklah, Gwi akan mengatakannya pada paman itu, terima kasih mami," kata Gwi yang senang, tentu dia yang paling senang. Gwi langsung mencium pipi kanan Ibunya yang langsung diikuti oleh Gio, mencium pipi kiri Bianca membuat Bianca lebih merasa senang hari ini.
"Baiklah, mami mandi dulu, nanti kita akan bersiap makan malam ya?" Kata Bianca izin pada anak-anaknya.
"Ya mami," serempak Gio dan Gwi lagi.
---***---
Sore bergulir malam, membuat tak hanya dunia yang meredup juga suasana di sana, sepi dan sayup, hanya beberapa suara serangga dan juga deburan ombak yang pelan terdengar seolah sebagai musik pengantar malam yang indah.
Bianca baru saja mengajak ke dua anaknya duduk di meja makan mereka, sebuah meja cukup lebar yang cukup mereka gunakan sebagai meja makan tanpa kursi, mereka langsung duduk di lantai, semacam ala makan lesehan.
"Ini makanannya," kata Yuri menyiapkan semuanya, Bianca yang memasak namun dia yang menyiapkannya ke meja karena tadi Bianca langsung mandi.
__ADS_1
"Wah, makanannya enak sekali," ujar Gio, memberi sedikit apresiasi pada masakan ibunya, hal ini selalu sukses membuat Bianca bahagia.
"Ya, Gio dan Gwi makan yang banyak biar cepat tumbuh besar," kata Bianca.
"Ya, dan Gio akan menjaga mami dengan lebih baik," ujar Gio senang melihat Ibunya memberikan nasi panas ke piringnya, Yuri memberikan sepotong ikan yang dimasak oleh Bianca lalu semangkuk sup, itu juga menu yang di berikannya pada Gwi yang juga menunggu makan malamnya.
Baru saja mereka ingin makan, terdengar ketukan di pintu dari rumah mereka, Yuri sigap langsung ingin membuka pintu namun karena Bianca yang paling dekat, dia yang berdiri duluan.
"Biar aku saja," ujar Bianca, sedikit siaga mana tahu ini adalah Rio, mana tahu Rain kembali kumat menginginkannya kembali.
Bianca segera berjalan dan membuka pintu rumahnya, dia sedikit kaget melihat sosok pria yang ada di depannya.
"Selamat malam Nyonya," ujar Bram yang tiba-tiba sudah muncul di sana, Bianca tentu kaget, jika Bram muncul akankah Rain tahu?
Bianca langsung melihat ke arah kanan dan kirinya, melihat apakah ada mobil sedan hitam yang terparkir di sana, jika ada bisa gawat, Rain bisa-bisa langsung marah padanya, bukannya Rain saja tak suka Bianca melayani pria walaupun itu sebenarnya adalah pekerjanya?
"Oh, tidak, tidak apa-apa," ujar Bianca sedikit menghembuskan napas lega, dia tak melihat mobil sedan di sekitar mereka.
"Ehm? Boleh aku masuk? Gio dan Gwi ada di rumah?" Tanya Bram sungkan, biasanya tanpa di minta Bianca pasti mengizinkannya untuk masuk.
"Oh, ya, tentu, silahkan," kata Bianca masih sedikit bersikap cemas sehingga gayanya masih terlihat canggung.
Bram tersenyum, dia segera masuk ke dalam rumah itu, sekali lagi Bianca memastikan, tak ada mobil itu di sekitar mereka.
Bianca menutup pintu perlahan, Bram melihat si kembar dan Yuri yang sudah mulai makan.
"Sedang makan, ayo, makan bersama," tawar Bianca ramah.
__ADS_1
"Saya sudah makan, saya juga hanya mampir, besok pagi harus sudah bekerja lagi," ujar Bram.
"Paman Bram! Kemari," ujar Gio yang senang pamannya datang.
"Baiklah, Nyonya, saya permisi dulu," ujar Bram dia meminta izin untuk segera mendekati Gio. Bianca hanya tersenyum lalu mengangguk mengizinkan Bram untuk segera mendekati Gio.
Bianca mengikuti Bram dari belakang, dia menggigit bibir dalamnya, walau sudah memastikan bahwa tak ada mobil itu di sekitar rumahnya namun entah kenapa perasaan Bianca tetap saja tak enak, jika kabar Bram datang sampai ke Rain, pria itu bisa melahapnya malam ini, apalagi tadi dia menginginkan Bianca datang dan Bianca menolak, Rain pasti salah sangka karenanya.
Bianca segera mengambil posisinya, dia segera duduk dan melihat Gio dan Bram tampak kompak dan sangat akrab bercengkrama. Melihat hal itu membuat semua orang tersenyum.
Namun baru saja Bianca ingin menyuapkan makanan ke mulutnya, suara panggilan terdengar cukup keras dari kamar Bianca, bukan Yuri atau Bram saja yang kaget, Bianca pun kaget, itu dari ponsel yang diberikan oleh Rain.
Bianca segera sigap berdiri, membuat Yuri dan Bram semakin kaget dan bingung, dengan tanpa meminta izin dia segera masuk ke dalam kamarnya. Bram mengerutkan dahinya menatap ke arah Yuri, awalnya Yuri ingin memberitahukannya namun urung dilakukannya, dia merasa itu privasi Nyonya-nya kepada siapa dia berlabuh, itu adalah pilihannya. Yuri memutuskan diam dan melanjutkan makannya bersama si kembar.
Bianca segera menyambar ponsel itu, di layarnya terlihat sebuah nomor yang tak di kenali, namun entah kenapa Bianca yakin itu adalah Rain, Bianca langsung mengangkatnya.
"Halo?" Pelan Bianca mengatakannya, namun tak segera ada jawaban hanya napas berat yang terdengar.
"Halo? Rain?" Tanya Bianca lagi memastikan namun suaranya tetap seperti berbisik, ruangannya ini tak kedap suara, sedikit saja lebih ribut maka semuanya akan terdengar 1 rumah ini.
"3 menit ini aku menunggumu," suara itu terkesan sangat dingin, bahkan tanpa melihat wajahnya saja Bianca sudah tahu bagaimana wajah Rain sekarang.
"Tapi …." Kata Bianca baru saja ingin mencari alasan.
"Kau ingin aku langsung ke sana?" Tanya Rain lagi, suaranya sudah menunjukkan emosinya.
"Tidak, tidak, baiklah aku akan ke sana, tapi aku tak akan menginap," kata Bianca.
__ADS_1