Rain In The Winter

Rain In The Winter
149.


__ADS_3

"Menginap atau tidak itu bukan keputusanmu," ujar Rain singkat, suaranya yang dingin membuat Bianca sedikit menggigit bibirnya, membungkamnya seketika. Lagi pula Bianca tak ingin ribut dengan Rain sekarang, bisa-bisa akan didengar oleh orang-orang di luar.


"Bisakah aku menghabiskan makananku dulu?" Tawar Bianca.


"Tidak, kita akan makan bersama, waktumu tinggal 2 menit untuk keluar dari sana," ujar Rian.


"Iya, baiklah!" Kata Bianca akhirnya menyerah, dia langsung mematikan panggilan itu, dia sudah kesal dengan Rain, tak ada haknya sebenarnya melakukan hal ini pada Bianca, namun mau bagaimana lagi, kalau Rain kemari, Yuri dan Bram akan kaget dan semua akan berantakan, apalagi ada di kembar, bisa-bisa mereka ketakutan nantinya karena kerusuhan yang di bawa oleh Rain.


Bianca menyambar mantelnya, berjalan segera keluar hanya membawa ponsel yang diberikan oleh Rain.


"Mami? Mami ingin kemana?" Gio langsung bertanya melihat ibunya sudah memakai mantel tebalnya.


"Oh, bos mami menelepon, mami harus pergi sekarang, tapi mami akan usahakan pulang sebelum kalian tidur, " ujar Bianca yang segera memberikan senyuman manisnya, Bram mengerutkan dahinya, jarang sekali Bianca bekerja selarut ini, Yuri hanya diam, dia menunduk sambil terus menikmati makannya, si kembar tampak sedikit kecewa.


"Kenapa mami harus bekerja Sampai larut malam?" Ujar Gwi yang enggan ibunya pergi.


"Ibu harus bekerja ekstra agar Gio dan Gwi bisa bersekolah dengan baik," kata Bianca sambil mengelus kepala kedua anaknya.


"Kalau begitu Gio dan Gwi berhenti sekolah saja," ujar Gio merasa sedih, ibunya harus bekerja keras agar mereka bisa bersekolah.


"Hei, tak boleh, itu tak boleh, mami akan sedih jika Gio dan Gwi tidak bersekolah, seharusnya jika tahu mami harus bekerja keras, Gio dan Gwi Makin giat dan mendapatkan nilai bagus agar mami senang dan tak sia-sia bekerjanya," ujar Bianca menasehati kedua anaknya, Yuri yang melihat itu hanya memipihkan bibirnya.


"Jangan khawatir nyonya, aku akan menjaga mereka," ujar Yuri, tak tahu apakah Bianca bohong atau benar, tak tahu juga pekerjaan apa yang sekarang dilakukan oleh Bianca, namun melihat ketulusan kata-kata Bianca dia yakin tak mungkin Bianca pergi demi kesenangannya, Yuri tahu seberapa dalamnya Bianca mencintai kedua anaknya, separuh nyawanya ada pada mereka.

__ADS_1


"Terima kasih Yuri," ujar Bianca.


"Nyonya, aku bisa membantumu, jangan bekerja malam seperti ini," ujar Bram, tak tega melihat Bianca harus bekerja malam, tubuhnya yang kecil, sepertinya sudah banyak menanggung beban.


"Tak apa, mereka anak-anakku, mereka tanggung jawabku," ujar Bianca, "mami pergi dulu ya, habiskan makanan kalian, setelah itu bersiaplah tidur, esok harus sekolah bukan?"


Gio dan Gwi mengangguk pelan, Bianca menatap Yuri, Yuri hanya mengangguk seolah mengatakan jangan khawatir.


"Nyonya, biar saya antar," ujar Bram, tak ingin Bianca pergi malam-malam begini sendirian, lagipula dia harus tahu dimana Bianca bekerja.


"Tak perlu, aku punya jemputan," ujar Bianca.


Bianca segera pergi, mengingat semakin lama dia di sini, semakin gila Rain nantinya, Bianca segera berjalan dan membuka pintu rumahnya, ketika dia menutup pintu itu, Bram langsung berdiri, perasaannya tak enak melihat Bianca pergi, dia mengamati wanita itu dari jendela kecil di dekat pintu masuk.


Bianca berjalan hati-hati, dia takut salah orang, apalagi tempat itu remang, selain itu kenapa Rio menunggunya bersandar begitu di pintu depan mobilnya.


Semakin lama semakin dekat dan sosok yang tadinya samar semakin jelas, Bianca sedikit kaget, tadinya dia berharap itu adalah Rio namun yang dia lihat malah Rain yang tampak diam, bersandar di mobilnya dengan api rokok yang menyala di tangannya, dia melirik ke arah Bianca dari tadi, dia segera menghisap rokok itu lagi, menghembuskannya, menutupi wajahnya, lalu dia membuang rokok itu kasar ke aspal yang mendingin.


"Masuk," katanya serak setelah Rain membukakan pintu penumpang di sebelah supir.


Tak menunggu Bianca masuk dia segera kembali ke posisi supir lalu masuk, pertama kalinya dia melihat Rain menyetir sendiri, biasa selalu ada supir yang siap membawanya kemana saja.


Bianca segera masuk dan memakai sabuk pengamannya, tak menunggu lama Rain langsung melajukan mobilnya, Bianca sedikit terganggu dengan bau nikotin yang menyeruak, pria ini kenapa menjadi pecandu begini?

__ADS_1


Rain membawa mobilnya melewati rumah Bianca, dia melirik sekilas ke arah rumah itu, melihat sosok pria yang dengan diamnya menatap mereka pergi, dengan senyuman liciknya dia segera menekan pedal gasnya dengan cepat, seolah memancing Bram untuk mengikuti mereka.


Pancingan Rain ternyata berhasil, Bram terbakar api penasaran dan juga cemburu, dia yakin melihat sosok pria yang sayangnya terlalu remang untuk bisa dia lihat dan analisa siapa orangnya.


Bram langsung bergegas menaiki mobilnya, mengikuti dengan cepat mobil Rain yang melaju di depannya.


Bianca yang ada di dalam mobil itu hanya diam, dia membesarkan matanya melihat jalanan yang tampak begitu cepat mereka lewati, Rain benar-benar ingin membuat jantungnya keluar dari dadanya, namun dia hanya diam, mengenggam erat sabuk pengamannya sambil melirik pria yang wajahnya tampak diam itu, berasumsi ini Rain lakukan karena dia sedang marah pada Bianca.


Bram terus mengikuti mobil pria itu, dia tampak hanya mengikuti emosinya.


Rain melirik spion mobilnya, sudut bibirnya terangkat, pria itu terpancing juga.


Tak lama di daerah pantai, mobil Rain akhirnya melambat, akhirnya jantung Bianca kembali ke tubuhnya saat Rain melambat, perlahan dia memasuki daerah pantai itu dan tanpa aba-aba dia berhenti di tempat parkir yang berbatasan langsung dengan tepi lautan.


"Kenapa kita kesini?" Ujar Bianca yang bingung, dia kira Rain ingin mengajaknya ke rumahnya lagi, membuat dia tawanan rumah seperti biasanya.


Rain hanya diam, wajahnya remang tertimpa dengan cahaya rembulan yang menerobos masuk melalui kaca mobilnya, Rain melirik Bianca, matanya yang tajam itu membuat Bianca terdiam.


"Aku bisa jelaskan," ujar Bianca, tahu pasti apa yang dipikirkan oleh Rain, dia pasti salah paham dengan Bram, dia pasti berpikir Bianca tak ingin dengannya malam ini Karena Bram.


"Dia hanya …." Kata Bianca yang masih mencoba memberikan penjelasan, namun Rain seolah tak ingin mendengarkannya, Rain mendekatkan dirinya ke arah Bianca, dengan sedikit kasar memegang kedua sisi kepala Bianca, lalu tanpa aba-aba mencium bibir Bianca.


Bianca membesarkan matanya, awalnya Bianca kira Rain akan memarahinya, atau akan membentaknya, namun kenapa tiba-tiba menciumnya, ciuman itu hanya sejenak, Rain segera menarik bibirnya lalu menatap sendu ke arah Bianca, Bianca semakin bingung dengan ulah Rian, 180 derajat berlawanan dengan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2