
Bianca memberikan balasan salam dengan anggukan ketika Bram menatap padanya untuk permisi, Rain menekan jari Bianca lebih dalam hingga rasa nyerinya kembali terasa.
"Au," ujar Bianca meringis kesakitan, kenapa tiba-tiba malah begitu kasar. Bianca menatap wajah datar nan dingin itu, masih begitu susah dibaca oleh Bianca.
"Lain kali jangan membela pria lain di depanku, mungkin aku bisa lebih kejam daripada Drake," ujar Rain tiba-tiba berdiri membuat Bianca mengerutkan dahi sangat dalam, apa ini tandanya Rain cemburu.
"Selamat siang Tuan," ujar Dokter yang ternyata sudah ada di dekat mereka.
"Rawat lukanya, pergilah istirahat setelah ini, ada yang harus aku lakukan, jangan membantah," ujar Rain dengan nada dingin memerintahnya, tanpa melihat Bianca dan dokter itu, dia pergi berlalu saja.
Bianca mengerutkan dahinya dalam, dokter yang sudah biasa melihat Rain begitu dengan santainya langsung melakukan tugasnya, dia lebih ingin menangani perban berdarah Bianca, Dia dengan lembut menarik tangan Bianca dan ingin memotong perban itu untuk memeriksa seberapa parah lukanya.
Bianca sedikit beramah tamah dengan sebuah senyuman yang langsung dibalas senyuman pula oleh dokternya.
"Berhenti tersenyum, lakukan saja tugas kalian masing-masing," ujar Rain lagi dengan ketus, membuat Bianca dan dokter itu kaget, mereka kira Rain sudah pergi meninggalkan mereka, tak tahunya dia malah memutuskan untuk mengamati dokter itu mengobati luka di tangan Bianca.
Melihat Rain yang berdiri bersandar di dekat meja hias di sana sambil melipat tangan di dadanya, matanya awas dan tajam menatap mereka, dokter akhirnya cepat-cepat membersihkan dan juga menutup luka Bianca yang untungnya hanya terbuka sedikit tak perlu untuk kembali di jahit.
Setelah melihat tangan Bianca di perban, tanpa permisi atau apapun, Rain pergi begitu saja, Bianca kembali mengerutkan dahinya, pria yang benar-benar susah ditebak, terkadang dingin, bahkan terkesan kejam, namun di sisi lain, terasa hangat dengan kejutan-kejutan kecilnya.
"Nona, ayo saya bawa anda ke kamar Anda," ujar Yuri sungkan ketika dokter sudah selesai, sebuah senyuman kaku dan ragu di tunjukkan oleh Bianca, dokter itu hanya mengangguk tak berani untuk membalas senyuman itu. Bianca segera berdiri, dia memang ingin sekali secepatnya membersihkan dirinya, Bianca mengikuti Yuri masuk ke dalam sebuah ruangan luas, kamarnya.
---***---
Rain duduk di ruang kerjanya, menatap tajam pada pemandangan yang disuguhkan oleh dinding kaca apartemennya, sebenarnya sangat indah, khas pemandangan dari lantai atas sebuah apartemen, tapi sebenarnya Rain sedang tak menatapnya, pikirannya jauh memikirkan yang lain.
__ADS_1
Pintu ruangannya terketuk, Rain tak beranjak dan mengubah posisinya, Rain hanya mempersilakan siapa pun di balik pintu itu untuk masuk, Ken masuk dengan segala gaya militernya.
"Bagaimana?" ujar Rain akhirnya menjatuhkan perhatiannya ke arah Ken.
"Sudah dijalankan, aku rasa jika tak hari ini, mungkin besok mereka akan menghubungi Tuan Takigawa," ujar Ken menjelaskan.
"Baguslah, aku sudah tak ingin menunggu lama," ujar Rain lagi.
Ken mengangguk sejenak sebelum dia kembali berucap,"Tuan, kita sudah tidak membutuhkan Nona Bianca, apa yang harus aku lakukan padanya? apakah Anda ingin memberikannya rumah? atau yang lainnya?"
Rain diam, wajahnya tampak berpikir dengan datarnya.
"Biarkan dia di sini hingga lukanya sembuh, setelah itu baru pikirkan kompensasi untuknya," kata Rain lagi sama sekali tidak melihat ke arah Ken.
"Akan sangat berbahaya jika Tuan mengizinkan Nona Bianca di sini lebih lama, kita bisa memberikannya perawatan dan pengamanan di tempat lain, karena jika terlalu lama, saya takut Nona Bianca semakin salah sangka dengan kebaikan Tuan, dia akan susah melepaskan Anda," kata Ken yang memang selalu menjadi penasehat untuk Rain.
"Aku tahu," singkat Rain masih dengan posisi berpikirnya.
"Tuan, saran saya berikan saja perumahan di bagian selatan, aku bisa meminta untuk mendapatkan sebuah rumah di daerah militer, Nona Bianca pasti aman," desak Ken lagi.
Ken sebenarnya takut, awalnya mereka memang ingin menyelamatkan Bianca dan juga sedikit memanfaatkannya untuk rencana mereka berikutnya, tapi semakin Ken lihat, tingkah Rain malah menunjukkan perhatian yang bukan hanya sekedar sandiwara Biasa. Ken hanya tak bisa melihat Rain menyukai Bianca, sekali lagi bukan karena Bianca-nya sendiri, tapi karena riwayatnya, jika benar Rain jatuh cinta dengan Bianca, maka mereka dengan mudah mendapatkan kelemahan Rain, Ken tahu benar bagaimana Rain jika menyukai seorang wanita, dia tak peduli apapun, hanya wanitanya saja.
Rain yang merasa Ken sangat mendesaknya hanya melayangkan tatapan tajamnya, tentu langsung membuat Ken tertunduk.
"Pastikan saja semuanya lancar hingga akhir, perintahkan dia untuk mendorongnya hingga akhir, lakukan yang terbaik," kata Rain lagi dingin, lirikan matanya benar-benar tajam seolah menunjukkan siapa pemimpinnya di sana. Rain segera memutar kursi kerjanya agar membelakangi Ken, sebuah gestur bahwa dia tak ingin lagi mendengar jawaban dari Ken.
__ADS_1
Rasa penasaran Ken harus dia telan, toh dia tak bisa berkata apa-apa, dengan perlahan dia keluar dari sana.
Rain hanya diam kembali menatap pemandangan dari dinding kacanya. Ya, dia mendekati Bianca adalah bagian dari rencananya, dia tahu dan yakin Drake akan mengambil kembali Bianca, dia juga tahu kenapa Drake dengan mudah membiarkan Bianca lepas, itu semua sudah bisa dia baca.
Namun satu hal yang tak dia duga dan tak terbaca olehnya, semakin dekat dia melihat mata indah itu, entah kenapa, semakin dia tak bisa lepas darinya, Rain masih ragu, apakah hal itu karena dia tahu sejarah Bianca, atau mungkin karena yang lain, yang pasti dia tak ingin mata indah itu kembali basah.
---***---
Bianca baru saja selesai mandi, dia keluar perlahan dari kamar mandinya dan menemukan Yuri sudah menyiapkan baju yang dia ingin gunakan. Yuri hanya tersenyum manis.
"Terimakasih Yuri, maafkan aku merepotkanmu," ujar Bianca menatap Yuri.
"Tidak masalah Nona, Anda tak merepotkan saya, tapi bolehkah Nona tidak kabur lagi dari saya lagi, saya benar-benar panik melihat Anda menghilang," ujar Yuri dengan wajah sedikit memelas.
Bianca melihat itu sedikit tersenyum manis melihat tingkah Yuri, dia segera mengeringkan rambutnya yang basah.
Saat dia baru saja selesai menata rambutnya, pintu kamar terketuk satu kali, Yuri langsung mendatangi pintu itu dan membukanya, sosok Rain terlihat di sana.
Bianca yang melihat pantulan pria itu di kaca langsung tampak berbinar, dia langsung berdiri dan tersenyum manis melihat Rain, sayangnya pria itu hanya menatapnya saja dengan tatapan yang Bianca sendiri tak bisa mengartikannya.
Bianca mengerutkan dahinya sejenak karena Rain dalam menatapnya, melihat perubahan wajah Bianca itu Rain akhirnya sadar apa yang dia lakukan.
"Ehm, apa sudah lapar? ayo makan," kata Rain lagi, dia tak menunggu Bianca, membuat Bianca mengulum senyumnya sambil menatap Yuri.
"Baiklah, aku akan makan," kata Bianca keluar mencoba mengenyampingkan perasaannya yang mengatakan ada sesuatu pada Rain.
__ADS_1