Rain In The Winter

Rain In The Winter
110. Kapan kau datang?


__ADS_3

Ken membuka pintu mobilnya saat mobil itu baru saja sampai di depan rumah bergaya Mediterania, dengan cepat dia membukakan pintu untuk Siena, dengan setelan baju serba hitam mereka cepat melangkahkan kaki ke rumah yang pengamanannya tampak diperketat, itulah perintah langsung dari Luke.


Pintu rumah itu langsung terbuka, mereka segera menuju ke ruang tengah di tuntun oleh pelayan khusus yang menyambut mereka.


Siena menatap ke arah rumah yang sepi itu, di ruang tengah dia bertemu dengan Yuri, Yuri segera menyambut Siena dan Ken, dia sudah tahu Ken dan Siena akan datang sehingga dia sudah menunggunya, Bram juga ada di sana.


"Nona Seina," kata Yuri, Yuri juga melihat ke arah Ken, Ken hanya menganggukkan kepalanya pada Bram dan Yuri, Yuri menyambutnya dengan wajah kusutnya, sedangkan Bram hanya diam.


"Bagaimana keadaan Bianca?" Tanya Siena yang langsung berpikiran tentang Bianca. Wanita itu pasti hancur sekali baru saja menikah harus di tinggalkan oleh orang tercintanya.


"Nyonya semenjak kemarin mengurung dirinya saja di kamar, beliau tak beranjak dari kamar," kata Yuri menjelaskan.


"Siena, aku rasa aku harus segera menemui Luke dan melihat keadaannya," ujar Ken yang merasa dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.


"Baiklah," kata Siena menatap Ken sejenak.


"Jangan Pergi kemana-mana tanpa sepengetahuan ku, jika terjadi apa-apa segera hubungi telepon satelitku," ujar Ken, ada wajah kecemasan yang timbul.


"Ya, aku mengerti, tolong cari keberadaan kakakku, kau harus membawanya pulang," ujar Siena antara meminta dan memelas, "tapi tetap hati-hati di sana."


"Baiklah, aku pergi dulu, Bram aku serahkan keamanan di sini padamu," ujar Ken melirik tajam temannya itu.


"Ya, Baiklah, aku akan menjaga mereka," ujar Bram mantap sebelum Ken pergi meninggalkan mereka segera, tak ingin buang waktu, harus secepatnya tahu kabar Tuannya, walaupun kecil kemungkinan dia selamat jika di pikirkan dengan akal sehat.


Siena hanya melempar senyumannya kala Ken melihat ke belakang sejenak, dia lalu segera melihat Yuri lagi.


"Sedang apa Bianca sekarang?" Tanya Siena lagi, meletakkan tas kecilnya di salah satu sofa yang ada di sana, menuliskan pesan pada ayah angkatnya dia sudah sampai di negara ini.

__ADS_1


"Nyonya sepertinya sedang tertidur, keadaan Nyonya juga sedang tidak baik," kata Yuri melaporkan keadaan Bianca.


Siena yang masih sibuk mengetikkan kata-kata itu segera melirik ke arah Yuri.


"Apakah Bianca sakit?" Tanya Siena secepatnya dia menyelesaikan pengiriman pesan itu.


"Tidak juga Nona, saya rasa itu normal untuk ibu yang sedang mengandung," kata Yuri lagi.


"Mengandung, maksudmu sekarang Bianca sedang hamil?" Tanya Siena cukup kaget, kalau benar dia tak tahu lagi perasaan wanita itu, di tinggal suami saat dirinya sedang mengandung.


"Benar Nona."


"Lalu apakah kakakku sudah tahu hal itu?" Tanya Siena.


"Tidak, ini seharusnya menjadi berita kejutan untuk Tuan Rain sebelum tahu ternyata Tuan mengalami kecelakaan, Nyonya juga sangat merasa bersalah karena sebelumnya Tuan Rain sudah mengatakan dia tak ingin pergi karena nyonya sedang sakit, tapi Nyonya yang mendorongnya untuk pergi bekerja, karena itu hingga sekarang Nyonya merasa begitu bersalah," Jelas Yuri pada Siena.


"Aku ingin melihat keadaannya," ujar Siena.


"Baik nona, tapi Nyonya baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat tadi, sedikit saja dia makan, dia langsung mengeluarkannya, hanya sepotong roti yang bisa dia makan tadi," kata Yuri menunjukkan kamar Bianca dan Rain, walaupun Siena adik angkatnya, Siena sama sekali tak di izinkan untuk masuk ke kamar kakaknya itu.


"Benarkah? Sudah melapor pada dokter?" Tanya Siena, separah itukah proses kehamilan Bianca.


"Ya, sudah, katanya wajar, beberapa orang mengalami muntah yang seperti ini apalagi kehamilan pertamanya, aku sudah di resepkan anti mual jika nantinya Nyonya benar-benar parah," kata Yuri lagi, perlahan membuka pintu kamar itu.


Siena masuk pelan-pelan, tak ingin mengeluarkan sedikit saja suara agar tak mengganggu tidur Bianca, dia lalu segera menuju Ranjang Bianca, tempat tubuh wanita yang tampak lemah itu tertidur.


Wajah putihnya tampak lebih putih, lebih tepatnya memucat, dia raut wajahnya yang tertidur itu tampak kesedihan dan tekanan yang mendalam, Siena hanya bisa memperhatikannya dalam-dalam, hati wanita ini pasti sangat terguncang.

__ADS_1


Siena menarik selimut Bianca agar menutupi tubuhnya yang mungil itu, tak sengaja menyentuh kulitnya yang dingin, mungkin karena kekurangan makanan atau karena tekanan batin yang dia rasakan.


Namun karena sentuhan itu pula lah, Bianca langsung membuka matanya, merasa kehangatan yang pelan mengenai kulitnya.


Mata Bianca yang tampak cekung menghitam itu menatap Siena yang ada di sana, Siena merasa tak enak sudah membangunkan kakak iparnya ini.


Bianca memang tertidur, namun tidurnya pun tak nyenyak, begitu banyak pikiran yang muncul hingga membuat otaknya aktif berpikir walaupun raganya tampak tertidur, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya lebih hangat, apalagi sentuhan kulit itu mengingatkannya pada Rain seketika, apa Rain sudah pulang? Hal itulah yang membuatnya langsung membuka matanya.


Dia awalnya kaget ingin melihat sosok Rain di sana, namun samar dan akhirnya menjelas dia bisa melihat sosok Siena dengan senyuman yang mencoba menenangkannya.


"Siena," ujar Bianca dengan suara seraknya.


"Maafkan aku datang terlambat kak," ujar Siena, walau Bianca umurnya jauh lebih muda dari Siena, tapi dia sudah menikahi kakaknya, mau tak mau Siena memanggil Bianca kakak.


Bianca yang melihat wajah peduli dari Siena itu malah kembali menangis, dia masih tak percaya semua ini nyata adanya. Melihat Bianca menangis, Siena segera duduk di tepian ranjang menghadap dirinya, tanpa ragu Siena langsung memeluk Bianca membiarkan wanita itu kembali mencurahkan semua hal yang ada di dalam hatinya, nyatanya tangisan Bianca memang semakin menjadi, dia tak tahu lagi harus bagaimana, mencoba menahan air matanya sendiri yang sudah mengalir di sisi matanya.


"Sabarlah, sebelum kakak di temukan, kita harus yakin dia masih selamat, kakak jangan banyak berpikir nanti kandungannya bermasalah loh, jika kakak Rain pulang dan dia tahu kakak sedang mengandung, dia pasti sangat senang apalagi Kak Rain sangat suka anak-anak," Bisik Siena menenangkan Bianca, mengusap punggungnya perlahan, menunjukkan simpati dan dukungannya.


Bianca mengurai pelukan itu, dia mengangguk perlahan mencoba menghapus air matanya.


"Lapar kak?" Tanya Siena pelan. Bianca tak tahu rasanya, entah dia lapar atau tidak, hanya saja perutnya memang tak nyaman.


"Aku akan mengambilkan makanan dan susu hangat," ujar Yuri segera.


Bianca menatap ke arah Siena, sedikit canggung sebenarnya mengingat mereka bertemu juga baru sekali saat Siena ingin pulang ke negaranya, tapi Siena memperlakukannya dengan sangat baik membuat Bianca langsung merasa nyaman.


"Kapan kau datang?" Tanya Bianca.

__ADS_1


__ADS_2