Rain In The Winter

Rain In The Winter
162.


__ADS_3

Rain menatap kosong pada jalanan ibukota yang hingar bingar, jauh berbeda dengan ketenangan yang dia dapatkan beberapa hari kebelakang, baru saja di mendarat di tempat ini, separuh dari dirinya sudah ingin kembali ke sana.


Namun dia harus menahannya, lari selamanya bukan jalan yang tepat, dia harus segera menuntaskan semuanya, mencabut masalahnya hingga sampai ke akar-akarnya, saat dia sampai dia langsung segera mengurus semua yang dia bisa dan malam ini dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


"Dimana Nyonya?" Tanya Rain sambil menghembuskan asap rokoknya yang segera keluar dari jendela mobil yang berjalan sedang.


"Beliau pergi ke salah satu club di sini, apa aku harus memberitahukan kepulangan Anda?" Tanya Rio.


"Tak perlu, biar dia yang tahu sendiri akan kedatanganku, kita kembali ke rumah saja," ujar Rain santai.


"Baik, Tuan, duplikat anda juga sudah saya tarik mundur," kata Rio sibuk mengutak Atik laptopnya, dari kemarin laptop itu tak bisa lepas dari jarinya barang sedetik pun, tidur saja dia hanya bisa sesekali dan begitu membuka matanya dia langsung mengerjakan kembali tugasnya, ini adalah masa genting bagi semua orang.


"Tuan, permintaan Anda sudah di setujui oleh Jendral Davidson, beliau sudah mengarahkan pasukan Khusus untuk membantu anda," ujar Antony namun Rain tak menjawabnya.


"Selain itu Nyonya Bianca dan Tuan juga Nona Muda sudah dijemput, mereka sudah tinggal landas sekitar 15 menit yang lalu," kata Rio lagi memberitahukan kabar yang dari tadi ingin di dengar oleh Rain, Rain menarik napas panjang, sedikit lega mendengarkan hal itu.


"Ya, baguslah," kata Rain kembali melemparkan pandangnya ke arah gedung-gedung pencakar langit yang tampak berkelap- kelip. Baginya inilah waktu untuk menikmati malam, karena setelah ini perang akan segera di mulai.


---***---


Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, suara sepi di rumah itu terdengar terpecah dengan suara tawa wanita dan pria, tampak tawa itu saling merayu, sesekali mereka seperti menabrak sesuatu hingga akhirnya mereka masuk ke dalam Ruang tengah rumah yang megah namun remang dan sepi itu.


Tawa menggoda wanita itu masih terdengar, pria itu pun masih tampak mencoba memeluknya, menekan tubuhnya ke salah satu tembok terdekat dan mencium leher jenjangnya, tangannya yang lain aktif menggerayangi seluruh tubuhnya yang hanya menggunakan gaun mini yang menampilkan lekuk tubuhnya.

__ADS_1


"Ughh!!" Desar wanita itu memecah Sunyi karena desir perasaan yang di buat oleh pria itu. "Jangan di sini, pelayan akan melihatnya," ucap Lidia dengan berat.


Lampu tiba-tiba di ruangan itu hidup dengan gemerlapnya, tentu langsung membuat Lidia kaget dan juga matanya tertuju pada pria yang dengan santainya duduk di salah satu sofa itu, tampak dengan gayanya menatap mereka, tak ada tampang marah malah terlihat senyum liciknya.


Lidia membesarkan matanya lalu mendorong pria yang bisa dibilang tubuhnya atletis, wajahnya pun tak buruk, mungkin umurnya jauh di bawah Lidia, dia pun kaget melihat pria-pria di sana, bukan hanya Rain, Antony, Rio, bahkan 3 penjaga ada di sana, semua berbaris rapi di belakang Rain.


"Kakak," ujar Lidia kaget setengah mati, bukannya tadi saat dia pergi, Rain masih di pulau terpencil itu, kenapa sekarang malah ada di sini.


"Sudah berani membawa pria ke rumahku?" Kata Rain namun santai dia mengatakannya, tentu tak ada cemburu sama sekali, dia hanya jijik karena rumahnya dimasuki oleh orang-orang seperti ini.


"Kakak! Bagaimana kau bisa di sini? Ini tidak seperti yang kau lihat," kata Lidia terus mendorong pria itu agar menjauh darinya.


"Siapa dia?" Kata Pria yang kancing kemejanya bahkan sudah terbuka setengah.


"Tenang saja, aku pastikan dia akan membayar jasamu, Aku akan membayar jasamu 2 kali lipat darinya, pergilah," kata Rain berdiri dan segera menuangkan Whisky Dalmore 62 ke gelas kristalnya, dia melirik pria itu yang tampak panik bergegas pergi, Rain meneguk whisky itu sekali tegukan.


"Kakak! Bagaimana kau tak mengatakan akan pulang?" Kata Lidia mencoba mendekati Rain, mencoba memaksakan senyuman yang canggung pada Rain.


Rain menjulurkan tangannya sambil menunjukkan jari telunjuknya yang dia goyangkan, tanda tak ingin Lidia mendekatinya lebih lagi.


"Apa kau tak bisa melacak keberadaanku? Kau habiskan begitu banyak uangku hanya untuk melacak keberadaanku bukan?" Kata Rain lagi segera duduk, kali ini menyalakan rokoknya, santai dia menaikkan kakinya ke meja di depan sofanya, lalu mengisap rokok dan membuang asapnya ke atas, membuatnya membumbung tinggi, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berkedip ke arah meja, alat pelacak yang sElalu di selipkan oleh Lidia agar tahu kemana Rain pergi.


"Kakak, aku tahu tapi ini tidak seperti yang terlihat, aku hanya …." Kata Lidia lagi mencoba membela dirinya.

__ADS_1


"Sudahlah, Lidia aku tak bodoh, aku tahu apa yang kau lakukan dengan pria-pria itu, hanya saja tak menyangka kau sudah berani untuk membawa mereka ke rumahku, kau tahu itu sangat menjijikkan," ujar Rain dengan nada mengejek.


"Itu semua karena kau tak pernah lagi ada untukku, 4 tahun ini aku merasa kesepian, kau benar-benar berubah hanya karena kecelakaan itu, kita bahkan tak lagi seperti suami istri, kau bahkan tak mau menyentuhku," ujar Lidia histeris, dia tak bisa di salahkan, walaupun dia mencintai Rain, namun dia punya hasrat juga, dia butuh pria yang bisa memuaskannya, dan Rain tak pernah bisa menjadi pria itu.


"Benarkah? Apakah dulu kita pernah seperti seperti suami istri? Ehm … aku rasa aku tak akan pernah mengingatnya karena kita tak pernah seperti itu," ujar Rain menaikkan sedikit alisnya, seperti menunjukkan bahwa bahkan tak peduli.


"Ya, itu karena semua kecelakaan bodohmu itu! Aku jadi harus seperti ini, semua jadi berubah," kata Lidia lagi


"Aku berubah karena kecelakaan itu atau karena sesuatu yang kau perbuat padaku?" kata Rain melirik Lidia dengan tajam, Lidia langsung membesarkan matanya? Apakah Rain sudah ingat?


"Apa maksudmu?" Kata Lidia cukup tergagap.


"Kau tahu maksudku, sampai kapan kau akan menutupinya, aku tahu semuanya," kata Rain tampak berwajah datar.


"Apa maksudmu kakak? Aku benar-benar tak tahu, jangan bermain teka-teki seperti ini," ujar Lidia gugup, matanya tampak mengepalkan tangannya.


"Apa kita benar-benar pasangan suami istri? Apakah kau benar-benar istriku," kata Rain lagi, kali ini dia berdiri, berjalan perlahan dan santai menuju ke Lidia.


"Kakak! Ini yang aku takutkan, kau pergi terlalu lama hingga kau tak meminum obatmu bukan? Kau harus minum double dosis hari ini, apa kepala mu tak sakit?" Kata Lidia, dia mencoba untuk mengambil obat yang selalu dia letakkan dimana saja tempat yang mudah dia jangkau.


"Maksudmu obat ini?" Tanya Rain menggoyangkan kotak obat di depan Lidia yang langsung tampak lebih cemas.


_______

__ADS_1


Halo kak, aku sedang tak sanggup nulis banyak, hari ini up 1 dl ya, besok aku lanjutkan, Insya Allah akan diselesaikan sisanya konfliknya, mudah2an aku besok keadaannya jauh membaik ya... sekali lagi maaf, hanya satu dulu, tanggung lagi, maaf ya kak


__ADS_2