Rain In The Winter

Rain In The Winter
158.


__ADS_3

Bianca sebenarnya masih ragu, tubuhnya bukanlah mulus, walau sudah bertahun-tahun, namun bekas luka yang pernah ditorehkan pria yang bahkan namanya tak ingin dia ingat itu masih tampak walaupun mulai memudar, apalagi bekas operasi kelahiran si kembar yang cukup terlihat jelas, dia tak yakin Rain bisa menerima hal itu.


Rain membuka perlahan handuk itu, dia sedikit mengerutkan dahinya melihat tubuh Bianca, Bianca segera menggigit bibirnya lalu segera duduk sambil mengambil ujung handuk itu lagi, ingin menutup tubuhnya.


"Apa aku yang melakukan hal ini?" Tanya Rain, apakah dia pernah menyiksa Bianca hingga begini.


"Bukan, aku tidak ingin membicarakannya lagi," kata Bianca menutup tubuhnya dan ingin bangkit duduk di ranjangnya, namun tangannya dan tubuhnya segera di tahan oleh Rain yang ada di atasnya.


"Bukannya aku katakan, jika dulu saja aku menerima dirimu, aku akan merima dirimu sekarang."


Mata mereka saling terpaut, cukup lama mereka menyampaikan perasaan melalui pandangan mata, Rain lalu memegang belakang kepala Bianca, kembali mencium bibir kenyal dan juga manisnya Bianca.


Ciuman itu terasa menggebu, perlahan Rian membuka bajunya, Bianca menyentuh tubuh Rain yang hangat dengan jari jemarinya yang lentik, membuat Rain semakin mengganas. Tubuh Rain sama sekali tak berubah, hanya baunya yang sedikit tercium bau nikotin.


Rain menyentuh, menyusur semua tubuh Bianca baik dengan jarinya atau dengan bibrinya yang hangat membuat Bianca hanya bisa menggigit bibirnya, menahan sensasi juga mencoba menahan suaranya agar tak sampai keluar.


Napas berat dan desahan tertahan mereka bersatu, bersama kehangatan dan juga keringat. Awalnya semua membuat Bianca kehilangan akalnya, namun kemudian dia ingat sesuatu.


"Rain, kau bawa pengaman?" Tanya Bianca, membuat Rain sedikit menghentikan aksi pemanasan ya.


"Ehm? Untuk apa aku membawa barang seperti itu?" Kata Rain menatap wajah merah istrinya.


Bianca terdiam, benar juga untuk apa Rain membawa barang-barang seperti itu, jika dia punya malah menjadi sangat mencurigakan.


"Kenapa?" Tanya Rain lagi.

__ADS_1


"Si kembar masih kecil, aku tak siap mengandung dulu, bisakah mengeluarkannya di luar?" kata Bianca menatap mata indah suaminya.


Rain menarik sudut bibirnya, "baiklah."


Rian memposisikan dirinya di antara kedua kaki Bianca, Bianca meringis menahan sensasi yang ternyata tetap saja tak terbiasa dengan rasanya untuk pertama kalinya walaupun dia sudah menjadi ibu, apalagi setelah 4 tahun dia tak melakukannya.


Rain sedikit mendesak merasakan sensasinya yang dalam ingatannya dia tak mengingatnya, memandang sendu pada wajah Bianca.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Rain yang melihat wajah meringis Bianca.


"Tidak," kata Bianca lemah.


"Bisa aku lanjutkan?"


"Ah, ya."


Bianca menegangkan badannya, tangannya mencengkram erat seprai putih, dari suara napas Rain yang cepat, dia tahu pria ini akan sampai pada puncaknya.


"Ugh!! Rain jangan di …." ujar Bianca, namun tangan Rain menutup mulut Bianca seketika, Rain memeluk tubuh Bianca saat dia sampai ke puncaknya, Bianca pun hanya bisa lemas di dalam pelukan Rain.


Rain menjatuhkan tubuhnya di samping Bianca, mereka tampak saling berpandangan sambil mengatur napas yang masih berburu, Rain menarik tubuh Bianca ke dalam pelukannya, akhirnya tahu kenapa dia begitu merindukan wanita ini.


"Kau membuatku nyaman," bisik Rain, hanya disinilah dia menemukan kenyamanan, ketenangannya,bahkan kebahagiannya, entah dia pernah berjanji pada dirinya dulu atau belum, tapi bahkan bertaruh nyawa pun dia akan lakukan untuk menjaga mereka.


---***---

__ADS_1


Rain terbangun merasakan sakit di kepalanya yang luar biasa, dia segera terduduk di tepi ranjang Bianca, dia melirik ke arah wanita itu masih tidur hanya tertutup selimut putihnya.


Rain mengelap hidungnya yang tiba-tiba terasa hangat, saat itu dia sadar ada cairan yang keluar dari hidungnya, merah darah yang kental.


Rain sekali lagi merasakan serangan yang sangat yang sangat tajam di otaknya, bagaikan di sengat listrik, sakit sekali membuatnya tanpa sadar mengerang.


Suara erangan Rain tidaklah terlalu keras, namun berhasil membuat Bianca terbangun dari tidurnya, dia langsung mencari Rain yang ternyata ada di belakangnya, Bianca langsung terduduk sambil menarik selimut menutupi tubuhnya yang polos, dia lalu meletakkan tangannya pada punggung Rain.


"Ada apa?" Kata Bianca.


"Tidak, aku akan mandi," ujar Rain, mengambil handuk Bianca melilitkannya di bagian pinggulnya lalu segera keluar dari kamar tanpa menoleh, dia yakin di hidungnya masih terlihat jejak darah.


Bianca yang melihat Rain pergi begitu saja hanya bisa mengerutkan dahinya.


Rain menatap ke arah kaca kecil di kamar mandi itu, dia melihat darah cukup banyak, lalu dia segera mencucinya dan segera mandi, lagi pula dia harus segera melakukan Rencananya.


Bianca menggunakan bajunya, dia lalu segera mengambil handuk bersih untuk Rain, dia segera berjalan dan mengetuk pintu kamar mandi yang masih terdengar suara air di dalamnya.


"Hmm?" Suara Rain terdengar sedikit dari dalam.


"Aku membawa handuk bersih," ujar Bianca.


Rain membuka pintu kamar mandi itu sedikit, Bianca segera menyerahkan handuknya namun bukan handuk yang di gapai oleh Rain malah pergelangan Bianca yang dia tarik, membuat tubuh Bianca masuk ke dalam kamar mandi itu, tubuh Bianca ditangkap oleh Rain, dia memeluknya di bawah pancuran air shower yang mengalir, membasahi tubuh Rain dan juga Bianca.


"Kau tak mungkin melakukannya di sini kan?" Tanya Bianca diantara air mengalir.

__ADS_1


"Tak ada salahnya kan?" Kata Rain segera mencium bibir Bianca lagi, bercampur dengan air mengalir yang dari pancuran itu, bersama gemericik air mereka memulainya lagi.


__ADS_2