
...Dari matamu ku baca sesuatu...
...Tentang rasa bagaikan sembilu...
...Aku tahu bagaimana penderitaanmu...
...Karena itu izinkan aku hadir dan membaginya denganku....
Bianca kembali membuka matanya, kali ini remang dia melihat ruangan putih itu, dia lebih terlihat tenang sekarang, hanya matanya masih terlihat bergitu kosong.
Bianca merasakan tubuhnya remuk, tak ada satu jengkal pun dalam tubuhnya yang tidak terasa sakit, bahkan hanya menggerakan tangannya, dia meringis kesakitan.
Bianca kembali mengamati keadaan sekitar yang penuh dengan alat-alat medis, dia memperhatikan tangannya yang penuh luka, tangan kirinya tertancap infus, Bianca mengerutkan dahinya, apakah ada yang menolong dirinya? Ataukah Drake kembali menemukannya. Tidak, yang terakhir itu tidak lah mungkin, Drake pasti tak akan peduli dengan keadaannya, pasti seseorang telah menyelamatkannya, mungkin hanya orang yang kasihan melihat dirinya.
Bianca lalu melirik ke arah kanan dan kirinya, tenggorokannya terasa kering hingga menyisakan rasa sakit, dia mencoba untuk meraih gelas yang ada di sampingnya, dia berusaha untuk mengambilnya, sayangnya gelas itu hanya tersenggol dan jatuh dari meja itu, membuat suara yang cukup keras menggema disekitarnya.
Karena suara itu seorang perawat langsung masuk ke dalam ruangan rawat, Bianca membesarkan matanya, dia tak ingat bahwa dia pernah histeris sebelumnya, perawat itu segera membersihkan potongan kaca yang berserakan di bawah ranjang Bianca
"Nona, anda ingin minum?” tanya perawat itu saat dia ingin membuang pecahan kaca itu, Bianca yang merasa tenggorokannya sangat serat dan sakit itu hanya menangguk,"Saya akan mengambilkan air panas, Nona, Tunggulah di sini.”
Bianca menangguk kembali, perawat itu langsung meninggalkan Bianca, Bianca lalu ingat tentang pengalaman traumatis yang terakhir dia ingat, darah dan tubuh ibunya, luka pergelangan tangan yang membuat siapa pun ngilu melihatnya, tanpa sadar, air matanya kembali mengalir lagi. Tak akan ada senyuman ibunya lagi, tak akan ada lagi tangan dan pelukan hangat itu menyelimuti, tak akan ada lagi sosok penenang hati, ibunya tak akan pernah kembali. Hatinya bagaikan teriris, merasakan sedih yang amat sangat, seolah separuh nyawanya juga pergi.
Bianca lalu mencoba untuk duduk, saat itu lah ekor matanya melihat sesuatu di bawah ranjangnya, pecahan kaca yang cukup besar ada di sana, sepertinya luput dari pandangan perawat tadi hingga dia tak membersihkannya.
Bianca menyibakkan selimutnya, dia lalu menurunkan kakinya, menyentuh lantai yang dingin dengan kakinya yang lemah, saat dia menginjakkanya, itu terasa bagaikan jarum-jarum kecil yang menusuk kakinya akibat luka-luka di kakinya yang masih dalam masa penyembuhan.
__ADS_1
Bianca meringis saat dia harus melangkah sedikit demi sedikit, sesaat dia berjongkok, mengambil pecahan kaca itu dan memandangi bagian tajamnya, dia ingin merasakan sakitnya yang dirasakan oleh ibunya, apakah sesakit hatinya sekarang? mungkin menyusul ibunya akan lebih baik dari pada harus hidup sendiri di dunia kejam ini, hidup tanpa tujuan, mungkin di dunia sana, mereka akan lebih bisa bahagia. Bianca mencoba menekankan sisi tajam itu ke pergelangan tangannya.
Rain baru saja ingin kembali ke kamarnya saat dia terhenti karena tiba-tiba saja dia teringat tentang keadaan Bianca, Dia membalikkan tubuhnya, seakan ada magnet yang menariknya ke arah ruang rawat Bianca, dia berjalan ke sana.
Rain melihat seorang perawat yang berjalan dari arah ruang rawat Bianca, dia tampak membawa pecahan kaca di tangannya.
"Ada apa?" tanya Rain saat perawat itu berhenti sejenak memberikan salam padanya.
"Nona Bianca sudah sadar dan dia ingin minum saat itu mungkin tangannya mengenai gelas dan gelasnya jatuh, saya permisi Tuan untuk mengambil air hangat untuk nona Bianca," ujar Perawat itu mohon izin, Rain hanya mengangguk sekali, dia lalu memulai langkahnya kembali.
Saat dia sudah hampir sampai, wajahnya langsung berkerut melihat Bianca yang sedang berjongkok melihat sesuatu di tangannya, perasaan Rain langsung tak enak, dia mempercepat langkahnya, apalagi dia melihat Bianca sudah mulai menusukkan benda itu ke pergelangannya.
Rain segera memegang tangan Bianca yang mengenggam pecahan kaca itu, menariknya menjauh dari pergelangan tangan Bianca yang sudah berdarah namun belum tergores.
"Lepaskan," ujar Bianca serak belum melihat siapa yang menahan tangannya, karena memang Rain menahannya dari belakang, "aku bilang lepaskan! aku ingin menyusul ibuku!" ujar Bianca lagi bersikeras, Rain tetap menahannya dan mereka saling tarik menarik.
Bianca kaget, memutar tubuhnya dan melihat pria yang sedari tadi menahannya, matanya membesar dan kaca itu jatuh seketika ke lantai ketika dia melihat Rain di sana, rasa kagetnya semakin parah ketika melihat darah yang mulai keluar dari rahang Rain, tak dalam, hanya goresan luar, namun karena wajah Rain yang putih, darah itu terlihat kontras di
kulitnya.
"Maafkan aku, maafkan aku," ujar Bianca yang menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.
Rain hanya menekan kedua giginya melihat wanita ini, selama ini tak ada wanita yang bisa melukainya, tapi wanita ini malah menggores wajahnya.
"Bolehkah aku lihat," kata Bianca yang khawatir melihat luka di wajah Rain. Bianca menjulurkan tangannya ingin melihat luka Rain.
__ADS_1
"Jangan, jangan mendekat," kata Rain yang sebenarnya bukan hanya tak ingin Bianca mendekat padanya, namun juga karena Rain tahu ada serpihan kaca di lantai karena kaca tadi jatuh dan menjadi serpihan kaca yang lebih kecil, Rain tak ingin Bianca tertusuk oleh serpihan kaca itu, dia tahu di telapak kaki Bianca begitu banyak luka.
Kemarin setelah Bianca ditenangkan, Rain yang awalnya tak pernah peduli bagaimana keadaan Bianca, bahkan setelah 3 hari dirawat di sana baru kali itulah dia melihatnya, namun setelah kejadian semalam, dia akhirnya bisa melihat keseluruhan keadaan dan luka Bianca, dia bahkan ngilu membayangkan rasa sakit yang Bianca rasakan saat dia harus lari dengan luka-luka sobek bagaikan terkena pisau di kakinya, gadis ini pasti berlari kencang tak peduli dengan batu-batu yang membuat luka itu, apakah semengerikan itu hingga bagaikan lari dari setan?
Bianca menarik tangannya yang tadinya ingin menggapai Rain, dia hanya memandangi pria itu, rasa dingin dan juga amarah itu terlihat di wajah Rain yang hanya memandangi Bianca dengan tatapan tajamnya.
Bianca akhirnya sadar diri, pastilah pria ini tak mengizinkan dia untuk menyentuhnya, terakhir kali dia sudah memfitnah Rain, bahkan saat ini Rain membantunya, Bianca merasa cukup kaget.
"Maafkan aku," kata Bianca lemah.
"Maafkan dirimu sendiri, Aku tidak peduli kau ingin bunuh diri atau bagaimana pun asal jangan melakukannya di rumahku, dan sebelum itu kau harus menuntaskan rasa sakit hatiku padamu," kata Rain dengan suara dinginnya, membuat Bianca hanya bisa terdiam mendengarkan hal itu, sakit hati? pastilah hal itu yang dirasakan Rain, dia sudah menolongnya namun balasan Bianca adalah membuat namanya tercemar.
"Tuan!" kata Ken yang baru saja masuk, kaget melihat wajah Rain yang berdarah, tak banyak, benar-benar hanya tergores sedikit.
Rain memandang wajah muram Bianca, matanya yang memandang diri Bianca tetap saja menyiratkan sakit yang dalam, entah kenapa baru kali ini Rain merasakannya, tak sanggup untuk menatap mata lawannya lama-lama karena dia bisa merasakan penderitaan itu di dalam hatinya.
"Jaga dia, aku tak ingin dia mati sebelum dia membayar sakit hatiku padanya," ujar Rain langsung di depan Bianca.
Bianca dititik itu sadar, Rain tidak menolongnya, dia hanya tak mengizinkan Bianca mati karena dia ingin membalaskan sakit hatinya, Bianca tersenyum kecut, apakah dia baru saja masuk dalam lubang yang sama?
"Baik Tuan," kata Ken seraya mengangguk mantap. Rain segera pergi meninggalkan wanita itu.
Bianca hanya bisa diam melihat Rain pergi meninggalkannya bahkan dia hanya bisa terdiam saat ingat bagaimana wajah dingin dan marah Rain padanya, sakit ditangannya yang dibersihkan oleh antiseptik nyatanya tak sebanding dengan sakit yang muncul akibat tatapan Rain itu, dia sudah membuat satu-satunya pria yang pernah memperlakukannya baik menjadi membencinya. Itukah kutukannya, tak ada satu pun pria di dunia ini yang akan menyukainya.
---------------------
__ADS_1
Halo kak, maaf ternyata siang aku baru bisa up! selanjutnya di tunggu ya, selamat weekend!