
Bianca menatap Video itu dengan wajahnya yang berkerut, awal dari Video itu menunjukkan sebuah tulisan.
*J**ika kau terbangun dan hanya mengingat tentang makan siang di Itali, maka teruskan melihat Video ini*.
Bianca lalu mengerutkan dahinya dengan lebih dalam, video berpindah ke sebuah rekaman tentang Rain yang merekam dirinya sendiri.
"Aku sebenarnya tak ingin melakukan ini, tapi jika kau sampai melihat hal ini berarti kita kehilangan ingatan kita lagi, Saat ini jauh dari ingatan tentang makan siang di Itali, kita mengalami kecelakaan sehingga kita tak mengingat 14 tahun kehidupan kita, sudah banyak yang terjadi dan percayalah kita tak ingin melupakannya, kita sekarang memiliki seorang istri, 2 orang anak kembar, dan jika kau masih belum percaya, lihatlah selanjutnya," kata Rain yang seolah berbicara pada dirinya sendiri, Bianca yang melihat Suaminya menggigit bibirnya, matanya langsung buram tertutup air matanya yang langsung menutupinya, namun Bianca segera menghapusnya, tak ingin melewatkan sedetikpun dari Video itu.
Air mata Bianca menjadi lebih deras keluar, dengan senyuman yang muncul namun penuh kesedihan dia melihat lanjutan dari Video itu, itu adalah Video pernikahan mereka di tempat ibadah kecil beberapa hari yang lalu, saat itu Bianca merasa hidupnya akan baik-baik saja, tampak Rona bahagia yang sangat terpancar di wajah keduanya, bahkan Bianca masih bisa merasakan saat Rain menyisipkan cincin pernikahan mereka, Bianca segera menggenggam tangannya yang terjadi cincin pernikahan itu, tangisnya menjadi sangat tersedu karena merasa terpukul oleh semua ini, hatinya nyeri, momen ini momen bahagia, namun menjadi haru hanya karena keadaan.
"Berapa kalipun aku kehilangan ingatanku aku yakin aku akan selalu jatuh cinta padamu lagi," janji itu membuat Hati Bianca kembali teriris, bisakah dia jatuh hati padanya lagi dan lagi? Badan Bianca bergetar menahan rasa sakitnya, dia tak tahu siapkah dia akan melewati hari-hari dimana dirinya adalah orang asing bagi Rain?
Siena mencoba memeluk kakak iparnya yang tak bisa menahan tangisnya yang pilu, namun Bianca tetap melanjutkan video yang mulai berpindah ke sebuah kolam renang, tampak Rain sedang bermain dengan si kembar, dalam video itu Rain dan si kembar begitu tampak senang, semuanya tampak sehat dan tak ada yang menyangka beberapa hari kemudian mereka akan ada di rumah sakit ini, Bianca kembali menangis sedih, tangisnya yang awalnya dia tahan lagi, sekarang tak bisa terbendung melihat kedekatan ayah dan anak itu, Bianca terus saja menangis melihat sisa Video itu, ada sepenggal kedekatannya dengan Rain yang entah bagaimana bisa dia dapatkan videonya, lalu ada beberapa foto dan video yang menerangkan Ken, Siena, Luke, dan Antony, lalu Video itu ditutup dengan video saat Rain menggandeng kedua anaknya saat mengitari rumah mereka, Bianca bahkan tak ingat ada momen seperti itu.
"Aku ingatkan untuk selalu menulis Jurnal di laptop kita dan memperbaharui video itu, tuliskan semua sebisa yang kau ingat, aku yakin itu akan berguna, percayalah ini sekarang hidup kita dan kita bahagia," ujar Rain menutup rangkaian Video yang sangat menguras emosi siapapun yang melihatnya, bahkan Siena pun tak bisa menutupi rasa sedihnya, dia juga terisak namun mencoba untuk menahannya dan memeluk kakak iparnya dengan erat, dia tahu hidup kakak iparnya ini sangat menderita dan penderitaan itu belum juga lepas darinya.
Semua orang di sana membiarkan Bianca meluapkan kesedihannya hingga dia cukup tenang.
__ADS_1
"Jadi, apakah aku sudah bisa bertemu dengannya sekarang?" tanya Bianca lagi kembali dengan suara bindengnya karena cukup lama menangis.
"Tentu Nyonya, hari ini keadaan Tuan Rain baik-baik saja, dia juga pasti sangat ingin bertemu dengan Anda," ujar Dokter Malvis tersenyum, Bianca mencoba untuk membalas senyuman namun tak bisa.
Bianca menatap ragu untuk mendorong pintu kamar rawat itu, ini kabar yang berbeda dengan kabar awal Rain di rawat, dia sudah mengetuknya tadi dan suara Rain sudah terdengar meminta siapapun di luar sana untuk masuk.
Bianca perlahan mendorong pintu kamar itu, melihat seisi ruangan yang berwarna dominasi putih, dia menahan napasnya saat perlahan melihat sosok yang tampak sangat familiar bahkan hanya dengan melihat punggung bidangnya itu saja. Napasnya kembali tercekat saat Rain mulai memutar tubuhnya menatap dirinya.
Rain menaikkan sudut bibirnya, dari matanya terlihat kerinduan yang nyata menatap wanitanya yang tak secantik biasanya, matanya cekung dan menghitam, bibirnya tak terpoles sedikitpun pewarna, dan pipinya yang biasa terlihat memerah sekarang malah cendrung pucat karena kurang tidur.
Namun bagi Rain wanita yang perlahan masuk ke dalam ruangannya itu tampak jauh mempesona dan masuk ke dalam hatinya, tadi pagi dia bisa melihat bagaimana lelahnya Bianca menjaga kedua anaknya, dia bahkan tertidur dengan keadaan begitu berantakan, hal itu pasti karena dia begitu menjaga kedua buah hati mereka.
Bianca mendengar itu dan juga melihat gestur suaminya langsung menghambur, air matanya keluar begitu saja dan langsung membenamkan dirinya dalam pelukan suaminya, kehangatan tubuh Rain seketika terasa begitu menangkan, namun ketenangan itu pula yang membuat Bianca malah semakin menangis, menumpahkan semua kerinduan dan kekhawatirannya. Dia sangat merindukan suaminya ini.
Rain hanya menaikkan sudut bibirnya membuat senyuman yang lebih lebar, dia membalas pelukan Bianca, membiarkan wanitanya menangis menumpahkan segalanya, Rain mencium aroma tubuh yang selalu menenangkannya, mengelus kepala Bianca dengan perlahan. Kenyamanan ini lah yang selalu membuatnya ingin pulang.
"Terima kasih sudah menjaga kami," bisik Rain lembut pada telinga Bianca.
__ADS_1
Bianca yang mendengar hal itu sedikit mendorong tubuhnya agar dia bisa mengurai pelukannya, menatap mata tajam suaminya namun entah bagaimana selalu saja dia bisa mendapatkan kelembutannya di sana.
"Bagaimana kau selalu tak pernah mengatakan apapun padaku?" kata Bianca dengan wajahnya yang kembali basah, entahlah, sudah berapa banyak air matanya yang terkuras hanya dalam 2 hari ini saja.
Rain menaikkan sudut bibir kanannya, menghapus air mata yang meleleh di wajah istrinya, perlahan sekali begitu lembut hingga membuat Bianca merasa terbuai.
"Dokter Malvis sudah memberitahumu?" tanya Rain.
"Jangan salahkan dia, dia hanya ingin aku tahu, bagaimana menurutmu jika saat aku bangun dan kau menatapku bagai orang asing, aku tak bisa membayangkannya," kata Bianca mengusap hidungnya yang basah, Rain hanya bisa tersenyum, dia lama-lama suka melihat dirinya diperhatikan begini oleh Bianca.
"Maafkan aku, aku benar-benar berjanji mulai sekarang akan mengatakan semuanya padamu."
Bianca hanya diam, menatap ke arah mata suaminya yang sangat menghaturkan itu, dia kembali menggigit bibirnya.
"Rain, apa yang membuatmu menyukaiku?" ujar Bianca tiba-tiba, Rain mendengar hal itu mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" tanya Rain.
__ADS_1
"Dari dulu kau tak pernah mengatakan apa yang membuatmu menyukaiku, aku hanya ingin tahu apa yang bisa membuatmu menyukaiku jadi jika nanti suatu saat kau bangun dan kau tak ingat denganku, maka aku bisa melakukan sesuatu yang membuatmu menyukaiku," ujar Bianca dengan mata yang bergerak-gerak, memandang dengan dalam wajah suaminya yang ada di depannya sekarang.