Rain In The Winter

Rain In The Winter
209


__ADS_3

Rain mendekati Bianca, Bianca hanya menatap pria itu, terasa canggung karena hal ini.


"Ingin jalan-jalan?" Tanya Rain pada Bianca, Bianca mengerutkan dahinya mendengar permintaan Rain namun dia hanya mengangguk.


"Gio, Gwi, mami akan menemani papi Dulu ya," kata Bianca memberitahukan anak-anaknya, mereka mengangguk sejenak lalu membiarkan kedua orang tuanya pergi.


Bianca menapak di salju di dekat mereka, sedikit terasa amblas saat dia mulai berjalan, hamparan salju yang putih dengan beberapa pohon yang sudah mengugurkan daunnya menjadi pemandangan yang indah, mereka meninggalkan jejak kaki mereka di salju yang putih.


Sedari tadi Rain hanya diam, menatap lurus ke arah jalanan yang entah kemana ujungnya, hanya ada warna putih di sekelilingnya, Bianca pun tak tahu harus mengatakan apa.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Bianca yang akhirnya memutuskan menghancurkan keheningan ini.


"Baik, tidak ada masalah," kata Rain sekenanya saja. Bianca mengerutkan dahinya namun dia sedikit tersenyum.


"Kenapa tersenyum?" Ujar Rain lagi.


"Aku ingat kau seperti ini seperti saat pertama kali kita bertemu," ujar Bianca, ingat sosok pendiam nan dingin ini ternyata cukup membongkar memorinya.


"Kapan kita bertemu?" Kata Rain lagi dengan wajah berkerutnya.


"Sekitar 5 hampir 6 tahun yang lalu," ujar Bianca.


"Bagaimana kita bertemu?"


"Hanya sebuah kebetulan dan kau menolongku saat itu," kata Bianca, tak ingin juga menjelaskan secara detail bagaimana mereka bertemu, itu juga bisa membuka luka lamanya.

__ADS_1


Rain kembali diam, hanya suara salju yang mereka injak dan juga angin dingin yang mengiringi langkah keduanya, sudah cukup jauh meninggalkan villa mereka.


"Bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu?" Ujar Rain berhenti, membuat Bianca pun berhenti dan mereka saling berhadapan. Rain menatap mata indah itu dengan sendu.


Bianca menaikkan sudut bibirnya, pertanyaan yang sama saat pertama kali mereka bertemu setelah Rain kehilangan ingatan dan pertanyaan yang sama pula yang ditanyakan oleh Bianca padanya 7 bulan yang lalu, Bianca menggeleng pelan.


"Aku pernah bertanya itu, dan kau pun tak bisa menjawabnya, jadi apa yang harus aku katakan?" Kata Bianca melihat dalam ke mata yang selalu memerangkapnya.


Rain hanya mengerutkan dahinya, menatap ke arah sekitar seolah mencari jawaban, dia harus merubah satu sifatnya yang selalu diam tentang apapun, seharusnya dia mengatakan apa alasannya menyukai wanita ini. Rain memulai langkahnya Kembali dengan perlahan, Bianca mengikutinya dari belakang.


Angin Kembali berhembus kencang, membawa udara dingin menerpa tubuh Bianca, walaupun namanya bermakna salju namun tetap saja dia tak begitu menyukai dinginnya udara ini, membuat Bianca memeluk dirinya sendiri sembari mengusap kedua lengannya.


Rain mendengar hal itu, melirik wanita yang berjalan sedikit di belakangnya, menemukan wanita itu tampak menggigil, pipi dan telinganya terlihat lebih merah tandanya dia sangat kedinginan.


Rain membuka topi yang dia gunakan, memasangkannya pada kepala Bianca yang hanya bisa diam melihat apa yang dilakukan pria di depannya ini.


Setelah memakaikan topi hangat itu tangan Rain dibiarkannya menutupi daun telinga Bianca hingga menyentuh pipinya yang sedingin es, kehangatan tangan Rain itu masuk hingga ke hati Bianca, tak menyangka hal ini akan dilakukan oleh Rain.


Bianca selalu berpikir jika Rain nantinya kehilangan ingatannya dia akan susah sekali menerobos hati pria ini, dia tak menyangka walaupun kehilangan ingatannya pria ini tetap sehangat itu padanya.


"Lain kali pakailah pakaian yang lebih hangat untuk melindungimu," kata Rain terdengar perhatian, dia juga sejujurnya tak tahu kenapa dia bisa begitu perhatian dengan wanita di depannya ini, hanya saja dia tak bisa tak perhatian dengannya, sangat berbeda dengan dirinya yang biasa.


Bianca mengangguk pelan karena tangan Rian masih saja mengapit pipinya yang dingin, Rain menatap mata Bianca, suatu gejolak dirasakannya, perlahan namun pasti mereka saling berpandangan, napas mereka yang berubah menjadi uap karena hangat napas bertemu dengan dinginnya udara segera tampak bersatu, entah bagaimana, tiba-tiba saja Bibir mereka yang dingin saling menempel, kedinginan itu langsung berubah menjadi berbalut kehangatan, ciuman yang lembut dan nyaman bagi Rain, tak sadarnya malah menginginkan lebih untuk bisa melahap bibir kenyal dan manis wanita di depannya.


Bianca yang kaget pun hanya bisa diam, merasakan hangat bibir suaminya diantara dingin yang menusuk, tiba-tiba saja dia merasa bagaikan hal ini pernah terjadi sebelumnya, ya... Bulan madu mereka.

__ADS_1


Rain menarik bibirnya, merasa hangat bahkan lebih ke panas sekarang, menatap Bianca yang pipinya masih saja merah namun sudah memanas, wanita di depannya ini hanya diam menutup matanya seolah sama menikmatinya dengan dirinya, namun anehnya ada air mata yang terlihat.


"Kenapa menangis?" Tanya Rain, merasa dia sudah lancang menciumnya, tapi bukannya dia adalah istrinya? Bukankah itu pengakuannya?


Bianca menyeka air matanya yang hanya berkerumun dimatanya, dia membuang pandang sejenak untuk menenangkan dirinya lalu tersenyum pada Rain yang sedikit bingung melihat respon Bianca.


"Aku hanya merasa pernah melakukan hal ini dulu denganmu, baik kau yang sekarang atau yang sebelumnya sama-sama sudah melupakan hal ini," ujar Bianca, dia menangis karena bahagia mengingat momen indah itu.


"Benarkah? Kapan aku pernah melakukannya?" Tanya Rain lagi, menghapus air mata Bianca di bawah matanya, pemandangan mata basah itu membuatnya tak nyaman. Kali ini dia benar-benar yakin untuk melakukan semua menurut hatinya, bukan logikanya yang dari tadi selalu bertentangan.


"Itu bulan madu kita yang pertama, rasanya persis seperti ini," Ujar Bianca lagi tersenyum, memancing sedikit senyuman di bibir Rain.


Rain menarik napasnya panjang sambil menatap tak tentu arah, hal ini memancing kerutan di wajah Bianca.


"Kau tahu, aku serasa orang bodoh yang tak ingat apapun di otakku, otakku dari tadi merasa meraba dan bingung dengan tindakanku sendiri, di otakku seakan menolak semua hal ini tapi tubuh dan perasaanku selalu melakukan hal yang membuatku kaget, ini rasanya tak adil, di sini kau punya semua ingatan, sedangkan aku merasakannya bagai yang pertama kalinya," ujar Rain, sedikit frustasi tapi juga bingung, rasanya benar-benar terjebak di suatu hal yang indah namun tak bisa mengingatnya.


"Aku yakin ini akan sementara, aku bukannya tak ingin membuatmu ingat, hanya saja dokter melarangku untuk terlalu memaksa," kata Bianca pada Rain, awalnya dia kira ini akan menyiksa baginya tapi nyatanya ini lebih berat untuk Rain sendiri.


"Jika nantinya aku tak bisa mengingat apapun? Bagaimana?" Tanya Rain lagi, tentu membuat Bianca langsung terdiam.


"Aku tak tahu, tapi kau berjanji akan jatuh cinta padaku lagi dan lagi, kau orang yang selalu tepat janji karena itu aku akan mempercayainya," kata Bianca memandang Rain, tak sadar tangan Rain nyatanya sudah terpaut dari tadi dengan tangannya, memberikan kehangatan pada kedua tubuh mereka.


Rain menaikkan sudut bibirnya, lalu menarik tangan Bianca sedikit kencang lalu memasukkannya ke dalam saku mantelnya.


"Tak perlu khawatir, aku rasa aku mulai nyaman denganmu," ujar Rain menarik Bianca untuk kembali ke villa mereka. Bianca hanya menatap pria yang sekarang seolah menariknya karena satu tangan Bianca sekarang ada di mantelnya, kelakuan ini pun dulu pernah dilakukan oleh Rain sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2