Rain In The Winter

Rain In The Winter
27. Perasaan yang Nyeri


__ADS_3

Bianca menatap ke arah ruangan barunya, tadi pagi perawat membawa Bianca ke kamarnya, sebenarnya keadaanya belum pulih total, bahkan lukanya belum kering sepenuhnya, tapi Bianca hanya bisa mengikuti apa yang mereka lakukan padanya.


Bianca melirik kamar sederhana itu, jauh kontras dengan ruangan-ruangan di rumah itu yang tampak begitu mewah.


Bianca baru saja ingin kembali merebahkan diriya yang entah kenapa selalu terasa lelah saat pintu ruangannya terketuk. Bianca langsung bangkit dan membuka pintu kamarnya.


Bianca lalu melihat sosok pria yang gagah masuk ke dalam ruangannya, wajah Bianca langsung siaga karena entah kenapa dia mulai takut melihat pria-pria yang medekatinya, Bianca sampai mundur beberapa langkah, wajah ketakutannya itu terlihat jelas.


"Maaf Nona Bianca, saya Ken, dan ini Lisa, saya datang ke sini untuk menyampaikan beberapa hal untuk Anda, Tuan Rain yang meminta saya untuk menyampaikannya," kata Ken yang melihat wajah ketakutan dari Bianca.


Bianca lalu sedikit mengendurkan mimik wajahnya yang tadinya tegang karena mendengar nama Rain, nama yang entah kenapa selalu saja bisa membuatnya tenang.


"Apakah keadaannya baik-baik saja?" suara serak Bianca akhirnya terdengar. Dia ingat terakhir kali bertemu, dia membuat luka pada wajah pria itu.


"Tuan baik-baik saja, Beliau sedang bersiap untuk kembali ke Ibukota, saya tidak bisa berlama-lama di sini, Tuan Rain mengatakan bahwa Anda tidak diizinkan untuk keluar dari tempat ini dan menjadi pelayan di sini, selanjutkan Lisa yang akan menjelaskan semua tugas Anda, saya permisi dahulu," kata Ken hendak segera pergi.


"Bolehkah aku bertemu dengan Rain sekarang?" tanya Bianca ragu-ragu.


"Saya rasa Beliau tidak ingin berjumpa dengan Anda sekarang, lebih baik Anda mengikuti apa yang dikatakan oleh Tuan Rain, Tuan Rain sangat tidak suka dibantah," ujar Ken lagi, dia lalu pergi tanpa menunggu apa yang akan dikatakan oleh Bianca lagi.

__ADS_1


Bianca menggigit bibirnya, sebenarnya dia hanya ingin meminta maaf pada Rain karena apa yang sudah dia katakan dan memojokkan Rain dengan fitnah yang sudah dia lontarkan, namun sepertinya pria itu benar-benar membencinya hingga dia sama sekali tidak ingin bertemu dengannya.


"Namaku Lisa," ujar Lisa masuk dengan senyum ceria dan langsung meletakkan beberapa seragam pelayan yang akan digunakan oleh Bianca nantinya di atas ranjang Bianca. Memacah pikiran Bianca.


"Aku Bianca," ujar Bianca mencoba tersenyum walaupun tak bisa selebar senyuman dari Lisa.


"Aku akan memberitahu tentang pekerjaanmu, gantilah bajumu setelah itu baru kita akan berkeliling," kata Lisa lagi.


"Baiklah."


Lisa langsung menutup pintunya, Bianca mengambil seragam pelayan yang sudah di siapkan itu, dia menatapnya sesaat, dia kembali menggigit bibirnya, setidaknya dia hanya menjadi pelayan, bukan seorang budak.


Bianca segera memakai saragam berwarna merah muda dengan celemek putih yang sebenarnya cukup tampak imut, dia lalu mengikat rambutnya cepol dan segera keluar dari kamarnya.


"Sudah siap untuk kerja pertamamu?" tanya Lisa lagi mulai berjalan ke arah sekitar rumah, Bianca perlahan mengikutinya.


"Ini rumah persinggahan khusus Tuan Rain, di tempat ini ada 3 bangunan, 1 bangunan utama tempat tinggal Tuan Rain yang langsung bersambung dengan bagian pengobatan tempatmu kemarin di rawat, kita hanya boleh memasuki tempat itu pagi dan malam hari, setiap jam 5 pagi kita sudah tidak boleh terlihat di sana kecuali memang dipanggil untuk ke sana, kita boleh kembali ke sana pukul 11 malam untuk membersihkannya, itu jika Tuan Rain ada di sana, jika tidak, kita bebas keluar masuk untuk membersihkannya kapan saja," ungkap Lisa menunjukkan bangunan utama yang terpisah tak jauh dari tempat mereka.


Bianca melihat rumah itu, hanya terdiri dari satu lantai namun terlihat luas dengan cat putih dan juga dinding-dinding kacanya, semua tertutup oleh gorden putih senada, sekilas saja melihatnya, Bianca langsung tahu itu tempat yang sangat nyaman.

__ADS_1


"Sekarang kita tidak bisa masuk ke sana, Tuan Rain masih ada di bangunan utama itu, kata Ken, mungkin mereka akan pergi sebentar lagi," ujar Lisa yang kembali menerangkan, Bianca masih melihat bangunan utama itu, dia lalu teralihakan saat tahu Lisa memandanginya terus menerus.


"Baik, aku mengerti," ujar Bianca.


"Ini adalah ruangan para pelayan, ini gedung untuk pelayan wanita, sedangkan gedung yang lebih ke belakang sana, adalah gedung para penjaga dan pelayan pria, kita dilarang untuk datang ke tempat mereka, apapun yang terjadi," peringat Lisa pada Bianca yang matanya kembali ke gedung utama itu. Bianca hanya menjawab dengan anggukan kecilnya.


Mata Biaca tiba-tiba menangkap satu sosok yang membuatnya langsung tak bisa memalingkan wajahnya, Sosok dengan mata tajam, wajah datar dan dingin, berjalan cepat dan mantap ke arah landasan helikopter yang ada di halaman belakangnya, sesaat, hanya sesaat, pria itu melirik ke arah Bianca. Bianca menahan napasnya saat itu terjadi, tak tahu bagaimana hanya dengan lirikannya, Bianca merasa perasaan seakan bercampur aduk, takut, ngeri, bersalah bahkan senang menjadi satu.Bianca tak tahu apa itu artinya. Mata Bianca bahkan tak lepas dari helikopter yang sudah mengudara pergi meninggalkan tempat itu.


"Ehm, Tuan Rain itu memang tampan ya," ujar Lisa malah berbisik di sebelah Bianca, membuat Bianca memandang wanita ceria itu kembali, "aku harap kau tidak menyukainya, karena itu hanya akan membuatmu patah hati."


Perkataan Lisa membuat Bianca mengerutkan dahinya, namun dia tidak berkata apapun untuk menanggapinya.


"Karena Tuan Rain hanya pernah jatuh cinta dengan seorang wanita, tapi wanita itu sudah memiliki pria lain dan menolak Tuan Rain dan kau tahu, desas desus yang aku dengar, Tuan Rain di penjara juga karena wanita itu, dan dia tetap tidak ingin keluar dari penjara bukan karena dia tidak bisa, tapi dia sengaja agar dirinya tidak lagi mengejar wanita itu," kata Lisa menatap Bianca yang hanya diam mendengarkan perkataan Lisa.


Bianca menggigit bibir dalamnya kecil, ada rasa nyeri yang tiba-tiba muncul dalam dadanya, dia mengalihkan pandangnya ke arah bawah, tak mungkin wanita seperti dirinya yang sudah begitu hina bisa mencintai seorang Rain, bahkan berandai pun itu sudah terlarang. Bianca sadar diri dengan semua itu.


"Baiklah, ayo kita pergi membersihkan rumah utama," ujar Lisa menarik tangan Bianca Bianca, Bianca meringis kesakitan karena kakinya masih terasa sakit jika berjalan tergesa,"maaf, apakah sakit?"


"Sedikit," kata Bianca.

__ADS_1


"Kau tahu kau menjadi omongan dari para pelayan di sini, kau harus terus dekat denganku, sebagian dari mereka tidak menyukaimu karena mereka tahu kau pernah di rawat oleh Tuan Rain, hanya dua wanita yang pernah dirawat di ruang rawatmu, satu wanita yang sangat di cintai oleh Tuan Rain dan yang kedua adalah kau, Kau ini sebenarnya siapa? kenapa Tuan Ken mengatakan Tuan Rain menghukummu menjadi pelayannya?" tanya Lisa lagi menyamakan langkahnya dengan langkah tertatih Bianca.


Bianca hanya tersenyum sedikit, namun terlihat manis, Bianca hanya menggelengkan kepalanya, Lisa mencucurkan bibirnya, ingin tahu lebih banyak namun sepertinya Bianca bukanlah tipe wanita yang terbuka.


__ADS_2