Rain In The Winter

Rain In The Winter
133


__ADS_3

Bianca lalu segera merapikan semuanya, memastikan semuanya sempurna karena ingat tamu ini sangat perfeksionis, dia melihat ke arah bajunya, mengelapnya sedikit agar tampak rapi, Bianca lalu segera mendorong troli makanan itu ke sudut ruangan, dan dia berdiri di sana dengan sedikit gugup menunggu pria yang langkahnya semakin dekat.


Bianca menatap pria itu yang mulai tampak perlahan dari arah kamar utama, dia menarik napasnya dan menebar senyuman manis, pria itu lalu menatap ke arah Bianca, seorang pria muda yang mungkin seumuran dengan Bram, Bianca langsung memberikan salam.


"Selamat pagi Tuan," ujar Bianca ramah.


"Selamat pagi," nada suara pria itu ramah, Bianca mengerutkan dahinya, bukannya katanya pria ini tak ramah, tapi malah terasa sangat ramah.


Pria itu mengamati Bianca, tak menyangka di pulau terpencil begini terdapat mutiara yang sangat indah, jika di ibukota, wanita ini bisa menjadi artis karena kecantikannya.


"Silakan sarapan paginya Tuan," ujar Bianca.


Baru saja Bianca ingin beranjak untuk melayani pria itu, Namun pria itu lalu menunjukkan gestur tidak, seperti dia salah memberikan salam, Pria itu menunjuk ke arah dalam, seolah tamu yang paling penting sama sekali belum keluar.


"Oh," kata Bianca, dia salah menilai orang, di kira pria dengan pakaian jas hitam dan celana hitam yang sangat rapi ini adalah tamunya, ternyata bukan.


Bianca langsung ingin mengembalikan cangkir porselen yang sempat dia pegang, namun baru saja dia ingin meletakkan, matanya tertuju pada sosok yang baru keluar, bahkan pria yang tadi langsung minggir sedikit jauh dan memberikan salam padanya.

__ADS_1


Mata Bianca membesar sempurna, wajahnya langsung pucat laksana baru saja melihat hantu atau setan yang sangat menakutkan dirinya, jantungnya berdetak kencang seakan jika bisa akan lari dari dadanya.


Rain yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu sejujurnya juga cukup terkejut melihat sosok wanita yang berdiri di dekat meja makannya, kemarin dia melihatnya sekilas dan mencoba menampik bahwa dia hanya berhalusinasi, dia sering merasa hal itu, dia sesekali memang suka merasa melihat wajah sendu itu.


Bianca juga tak menyangka, pria yang 4 tahun ini di hindarinya malah sekarang begitu gamblang ada di depannya, tubuh Bianca kaku, dia ingin berlari namun rasanya tak bisa sama sekali. Tangannya langsung bergetar dan tanpa sengaja menjatuhkan cangkir porselen itu.


Prang!!!


Suara gaduh menggema di ruang makan yang cukup luas dan juga sepi itu, pria yang tadi salah dimaksud oleh Bianca tampak membesarkan matanya, itu kesalahan fatal bagi tuannya.


Hal itu segera mengantarkan Rain dan Bianca yang tadinya saling tatap kembali ke dunia mereka masing-masing, Bianca mundur melihat ke arah serpihan porselen di lantai marmer itu, dia tampak panik dan cemas hingga napasnya tersengal.


Bianca seolah mendapatkan peringatan dari suara gaduh itu, dia segera sadar diri dan mencoba untuk pergi dari sana, dengan napas terputus- putus dan bagaikan orang terserang panik, Bianca segera menuju ke pintu utama, tak peduli lagi, dia harus keluar dan pergi dari sosok yang baginya sekarang lebih menyeramkan daripada iblis sekalipun.


Rain mengerutkan dahinya, mengapa wanita itu tampak begitu takut dengannya, di ujung dia melihat Antony, Rain mengangguk, Antony langsung tahu maksudnya apalagi sebelumnya dia melihat wanita itu berlari melewatinya, dengan sigap dan cepat Antony berlari ke arah pintu utama, mendahului Bianca dan menahannya.


Bianca tentu kaget melihat sosok tinggi di depannya, matanya semakin membulat, melihat sosok jagal yang memburu mereka 4 tahun ini, Bram selalu mengatakan Antony mengejar mereka dan juga ingin membunuh mereka, baginya Antony bagaikan malaikat pencabut nyawa.

__ADS_1


Antony menatap dingin wajah Bianca, setelah mencari begitu lama nyatanya wanita ini datang sendiri padanya, tak ada simpati menatap mata yang sudah basah berlinang air mata itu, dari bibirnya yang tampak bergetar Antony tahu Bianca takut sekali.


Kepala Bianca rasanya tak bisa berpikir, seketika kosong begitu saja melihat sosok-sosok kejam itu, Bianca tak tahu harus apa, tak bisa dia keluar.


Di saat seperti ini tiba-tiba bayang-bayang si kembar muncul di kepalanya? Apa Rain juga sudah tahu di mana mereka? Apa mereka tak apa-apa sekarang? Mengingat Bram pasti sudah pergi berlayar sekarang, hanya Yuri yang ada di rumah dan menjaga mereka.


Gambaran tentang wajah kedua anaknya bagaikan menyulut api emosinya, entah dari mana, Bianca pun tak tahu, rasanya ada keberanian yang muncul begitu saja di dalam dirinya, dia tak boleh terlihat lemah, dia adalah seorang ibu, dia bukan Bianca yang dulu yang hanya bisa diam menerima nasibnya, Bianca sekarang harus berani untuk kedua anaknya.


Bianca mengepalkan tangannya lalu dengan sekuat tenaga yang entah didapatkannya dari mana, dia memutar tubuhnya, berjalan kembali ke arah ruang tamu dan ruang tengah yang sekarang ada sosok Rain menunggu di sana dengan santai di sofanya, seolah tak ada masalah apa-apa, seolah dia tidak baru saja menahan seorang wanita di dalam kediamannya ini.


"Apa yang kau mau lagi dariku?!" Suara Bianca lantang, tak ada nada bergetar, hanya penuh emosi yang jelas.


Rain mengerutkan dahinya, pria yang tadi berdiri di belakang Rain hanya bisa mengerutkan dahinya, berani sekali wanita ini berkata begitu pada seorang Rain.


"Tidak cukupkah membuat hidup kami seperti di neraka 4 tahun ini? Tidak bisakah membiarkan kami pergi dan tenang di sini?! Bukannya kami tak lagi mengusikmu sama sekali?" Ujar Bianca dengan sangat emosi, bahkan air matanya turun begitu saja menandakan dia begitu emosinya.


Rain masih menganalisa wanita ini, kenapa begitu emosi melihat dirinya, bukannya dia tak pernah melakukan apapun padanya? Dia juga tak pernah bertemu dengannya, dia hanya pernah memerintahkan pengawalnya untuk melenyapkan mereka 4 tahun yang lalu yang langsung dia anulir, dia hanya pernah meminta Antony untuk mencari tahu keberadaan wanita ini, karena setelah bertemu dengannya, dia terus terngiang dengan mata indah penuh penderitaan itu.

__ADS_1


Suasana hening, hanya suara napas berat Bianca yang terdengar, Bianca semakin kesal melihat tingkah Rain yang tampak tak peduli dengan semua yang dia katakan, bagaimana bisa orang bisa bersikap begitu santai seperti itu setelah dia mempermainkan hidup seseorang.


"Kenapa kau begitu ingin membunuh kami?" Ujar Bianca, suaranya melunak, tersirat luka dalam yang membuat hati Rain tak nyaman, kenapa bisa merasakan hal ini pada wanita yang bahkan tak pernah ada dalam ingatannya.


__ADS_2