
Mereka segera diantar menuju kamar mereka oleh seorang wanita dengan pakaian tradisionalnya, dengan menggunakan pintu geser, Bianca Sampai terkejut melihat dekorasi kamarnya yang sebenarnya tak terlalu luas, ada 2 kamar dengan kasur lantai di sana, satu ruangan dengan meja kecil di lantai kayu yang terasa hangat, saat wanita itu membuka pemandangan di luar, mata Bianca termanjakan dengan penampakannya, walau tak seindah musim semi, namun melihat tatanan batu dan juga beberapa pohon-pohon yang tertutup salju, jalan setapak kecil dan di ujungnya ada sebuah kolam yang tampak sekali airnya hangat, Bianca menyukai tempat itu.
"Silakan, selamat beristirahat," ujar wanita itu undur diri. Bianca dan Rain mengangguk dan wanita itu menutup kamarnya.
"Wow! Tempat ini indah sekali," ujar Bianca senang sekali dengan nuansa tenang dan tradisionalnya.
"Ya," angguk Rain setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Aku ingin berendam, kau?" Tanya Bianca pada Rain.
"Aku akan menyusul nanti setelah barang-barang kita di antarkan, pergilah dulu," ujar Rain yang melihat antusias dari Bianca.
"Baiklah," ujar Bianca yang segera siap-siap, Bianca langsung masuk ke dalam kamarnya, membuka sehelai demi sehelai baju yang melilit tubuhnya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi dulu, dia membersihkan tubuhnya sebelum dia bisa masuk ke dalam kolam pemandian air panas, setidaknya begitulah peraturan yang tertulis di sana.
Bianca mengatur rambutnya agar nantinya saat dia berendam rambutnya tak basah, dengan hanya lilitan handuk dia berjalan keluar, awalnya melihat kanan kiri namun tidak menemukan Rain, mungkin sedang keluar mengurus barang-barang mereka yang sudah datang karena memang tempat tinggal mereka tidak jauh dari sana.
Bianca berjalan perlahan di sana, karena merasa tak ada siapa-siapa Bianca segera membuka handuknya dan perlahan masuk ke dalam air hangat yang ternyata tak terlalu dalam namun juga tak terlalu dangkal, pas sekali hanya sepinggangnya saat dia berdiri, Bianca merasa kehangatan yang sangat menyenangkan, dia mengusap tubuh bagian atasnya dengan air hangat itu sebelum membenamkan seluruh tubuhnya sebatas dada ke dalam kolam itu dan memutar tubuhnya hendak bersandar di tepian kolam yang entah asli atau tidak dipenuhi bebatuan.
Rain baru saja mendorong koper miliknya dan Bianca masuk ke dalam kamarnya saat dia melihat pemandangan yang langsung membuat matanya tak bisa berkedip, melihat istrinya yang hampir polos hanya menggunakan pakaian dalam bagian bawahnya, berjalan perlahan memasuki kolam itu, dia pun tanpa sadarnya mengikuti jalan ke arah Bianca, Dia melihat Bianca begitu menikmati air hangat itu, mengoleskan air ke tangannya lalu berpindah ke bagian tubuh bagian atasnya, Bianca tentu tak sadar kehadiran Rain karena dia sedang berdiri membelakanginya, dan saat Bianca berbalik dan bersandar, wajah dan matanya terlihat terkejut, melihat Rain sudah bersandar di kusen pintu kamar mereka.
"Sejak kapan kau di sana?" Tanya Bianca yang wajahnya langsung memerah, tak tahu karena menahan panas atau malah karena malu tertangkap basah dengan tubuhnya yang hampir polos sempurna.
"Sejak kau tadi masuk," kata Rain masih dalam posisinya.
"Ingin bergabung?" Tanya Bianca yang entah kenapa punya keberanian mengajak Rain untuk berendam bersamanya, Rain menaikkan satu sudut bibirnya, sudah berani ternyata, pikir Rain.
Rain tak menjawab, bahkan tak menunjukkan gestur apapun, dia segera berbalik, dan masuk ke dalam kamar mereka, Bianca yang melihat Rain pergi hanya mengerutkan dahinya, berdiri sejenak lalu berjalan ke arah tengah, mencari kemana Rain pergi, apa dia tidak ingin bergabung?
__ADS_1
Tak lama Rain keluar, sekali lagi membuat Bianca kaget, dengan hanya lilitan handuk di bagian bawahnya, Rain berjalan menuju ke arah Bianca, Rain yang berwajah datar itu membuat jantung Bianca ingin copot karenanya, setiap langkah Rain mendekat membuat Bianca menjadi terpacu jantungnya.
Rain membuka perlahan handuknya, membuat Bianca yang sadar langsung memalingkan wajahnya, dia mungkin sudah terbiasa melihat Rain tanpa baju, namun jika bagian bawahnya, Bianca bahkan belum pernah melihatnya.
Rain masuk perlahan, meriakkan air hangat yang tenang, perlahan mendekati Bianca di tengah kolam yang hangat itu, Rain menarik dagu Bianca yang sengaja tak ingin melihat Rain, namun saat dia sudah ada di depan Bianca, mau tak mau Bianca harus melihat ke arah Rain.
"Bukannya kau yang mengundang ku?" Tanya Rain.
"Eh, ya, aku akan membantu membersihkan tubuhmu, ayo berputar," ujar Bianca cukup ceria menutupi kegugupannya, pikirannya telah terbang kemana-mana, ingat sensasi yang membuainya tadi siang, sentuhan-sentuhan itu, rasanya dia ingin merasakannya lagi.
Rain menaikan satu sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman manis namun juga terlihat cukup sinis, Rain mengikuti apa mau Bianca, dia berputar dan Bianca ada di belakangnya.
Bianca cukup ragu menyentuh punggung bidang itu, ada bekas cakaran yang dia buat, terlihat cukup parah ternyata karena memang kuku Bianca cukup panjang, Bianca mengalirkan air ke tubuh bagian belakang Rain, dengan jari gemetaran karena gugupnya, Bianca menyentuh punggung suaminya itu, mengusapnya perlahan agar tak terasa sakit, Rain hanya melirik ke belakang, melihat bagaimana seriusnya Bianca melakukan hal itu.
Sentuhan-sentuhan tangan lembut Bianca pastinya membuat Rain merasakan hal lain, apalagi sisi kejantanannya tergelitik dari siang tadi dan belum tuntas sama sekali hingga saat ini, membuatnya segera tak bisa menahan dirinya.
Sesaat mereka hanya melempar pandang dan tak lama Rain menarik Bianca masuk dalam pelukannya, langsung menyerang bibir Bianca yang merah merekah, menyatukan tubuh mereka yang berada di bawah air, hangatnya bahkan lebih hangat dari pada air di sekitar mereka.
Bianca kehabisan napas saat Rain menyedot semua napasnya, di saat bersamaan tangan Rain kembali menyapu seluruh tubuh Bianca, membuatnya terkadang terpekik dan menahan gelinya, namun tangan Rain yang lain menahan tubuh Bianca agar dia tak meronta dan juga tak menjauh darinya.
Rain melepas ciumannya, melihat wajah menggoda istrinya yang tersengal kembali gara-gara dirinya. Rain tersenyum manis membuat Bianca menutup wajahnya karena dia yakin sekarang mukanya pasti seperti udang rebus.
Rain mengambil ancang-ancang, mengendong tubuh Bianca dari kolam air panas itu membuat Bianca terpekik kaget, apalagi udara dingin segera menyergap mereka.
"Pria tak Terlalu lama berendam di air hangat," alasan Rain, membawa tubuh istrinya langsung memasuki ruangan mereka menuju salah satu kamar yang ada di sana, menghempaskan tubuh Bianca ke ranjangnya, dan tanpa menunggu lama kembali menyerang tubuh istrinya.
Bianca hanya bisa menutup matanya, merasakan setiap sengatan yang dibuat oleh jemari dan bibir Rain di sepanjang tubuhnya, terkadang dia mende-sah menahan rasa yang semakin membuatnya melayang, kali ini pergulatan mereka benar-benar membuat suasana dingin bahkan tak terasa.
__ADS_1
Rain benar-benar bersabar agar dia bisa diterima oleh Bianca, lagi-lagi berusaha memuaskan istrinya ini dulu agar dia bisa tenang, tak memaksanya karena ingat apa perkataan dari dokter Joselin.
Bianca berteriak cukup keras sebelum dia menggigit bibirnya karena perasaan itu kembali terulang, membuat tubuhnya perlahan melemas, napasnya tersengal, Rain memeluknya dengan erat agar Bianca bisa menikmati sisa-sisa kenikmatan yang dia berikan.
Rain berbisik pelan pada Bianca, membuat gadis itu membuka matanya.
"Bianca, apa kau bisa menerimaku?" Bisik Rain.
Bianca yang masih sesekali menarik napasnya melirik pria itu, matanya menunjukkan kelembutan dan tanpa pemaksaan. Walaupun ada rasa gugup namun kehangatan dan perasaan yang disampaikan oleh Rain menutup rasa ragu dan gugup Bianca. Bianca akhirnya dengan perlahan mengangguk.
Rain melihat tanda penerimaan itu tersenyum manis sekali.
"Aku akan melakukannya perlahan, aku janji," kata Rain pada Bianca yang bahkan tak bisa lagi mencerna perkataan Rain dengan baik, Bianca hanya mengangguk saat itulah Rain kembali mencium bibir Bianca, kali ini ciuman manis yang membuat nyaman.
Rain memulai aksinya, tetap menautkan bibirnya agar Bianca tak terlalu terfokus dengan apa yang dia lakukan.
Bianca mengerutkan wajahnya, Rain perlahan sekali memperlakukan Bianca walau nafsunya bahkan sudah sampai ke ubun-ubunnya, namun dia tak ingin Bianca menjadi tak nyaman akan kehadirannya, sebisa mungkin melakukannya dengan lembut hingga nantinya bisa menerima Rain seutuhnya.
Bianca yang awalnya kaku dan gugup bagai perngalaman pertamanya akhirnya terbuai juga, mengikuti pergerakan yang Rain buat.
"Bersuara saja jika ingin," bisik Rain yang merasa Bianca menahan suaranya, Bianca mengangguk, perlahan melepaskan semua yang dia rasa tanpa menahan apapun.
Rain mencium, mengelus, terkadang dengan lembut, namun terkadang kasar membuat Bianca terbuai sekali dengan semuanya, kadang dia mendesah namun tak jarang berteriak cukup kencang membuat Rain pun semakin terpacu karenanya.
Cukup lama mereka menyatukan rasa, tubuh, keringat dan juga napas hingga akhirnya Rain bisa melepaskan segala yang tertahan selama ini, bersamaan dengan itu pula Bianca juga mencapai puncaknya kembali, membuat keduanya saling menikmati apa yang telah mereka coba rengkuh bersama.
"Terima kasih," ujar Rain mengecup dahi Bianca sebelum dia mengatur napasnya sambil membiarkan wanitanya yang sudah tak berdaya itu diperlukannya.
__ADS_1
Bianca memandang wajah Rain yang sudah mulai menutup mata, senyuman terkembang sedikit di wajahnya, dia senang, akhirnya sebagai istri dan wanita, dia bisa melayani pria yang pantas baginya.