
"Ya, Benar, kakak, kau harus memakan obat itu, itu akan membuatmu merasa lebih baik," kata Lidia dengan senyuman manisnya lalu mencoba lebih mendekatkan diri ke arah Rain, tangannya menggapai kotak obat itu, namun Rain segera menjauhkannya.
"Aneh sekali, seorang memberitahuku tentang obat ini, bahwa obat ini adalah obat untuk mengotrol otakku agar tetap dalam keadaan yang kau ingatkan, setelah itu aku membawanya ke dokter pribadiku dan dokter itu mengatakan ini adalah obat untuk menekan saraf dan bisa menyebabkan orang yang memakannya memiliki kerusahkan otak dan juga kehilangan ingatan," kata Rain melirik ke arah Lidia yang hanya bisa diam mendengarkan hal itu.
"Kakak, orang itu bohong, dia pasti sudah menukar obatnya, aku tak mungkin memberikanmu obat seperti itu," ujar Lidia lagi berkelit.
"Kalau begitu kenapa kau tidak mencobanya? " kata Rain menyodorkan obat itu pada Lidia, Lidia segera membesarkan matanya.
Dia tak mungkin makan obat itu, efek obat itu persis apa yang dikatakan oleh Rain, jika dia memakannya, bisa-bisa dia tak akan sadarkan diri dan otaknya akan mengalami kejang.
Rain dengan senyum sinisnya perlahan berjalan ke arah Lidia, membuat aura menekannya menyerebak ke seluruh ruangan, bahkan dengan melihatnya saja membuat semua orang gentar.
Lidia yang terasa ditekan itu mundur pelahan namun langkahnya tertahan ketika dia merasa ada 2 orang di belakangnya, Dia langsung segera melihat ke arah belakang, 2 penjaga berbadan kekar ada di belakangnya.
"Kalian mau apa? minggir?" teriak Lidia yang sangat panik dan ketakutan, apalagi melihat Rain sudah mendekatinya, Rain menganggukkan kepalanya yang seolah memberikan perintah kepada kedua penjaga itu, mereka segera memegang lengan atas Lidia, Lidia langsung berontak sebisa mungkin.
"Lepaskan! Lepaskan Tidak! kau ini tahu aku siapa?" berontak Lidia dengan sangat, mencoba kabur dari kedua pria ini, namun usahanya sia-sia, tentu tenaganya kalah dengna kedua pria yang menahannya ini.
"Berikan dia double dosis," kata Rain menyerahkan obat itu pada Antony, Antony dengan tanpa ragu segera menerima obat itu, mengambil 4 butir obat itu lalu segera mendekati Lidia yang matanya sudah membesar sempurna mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rain.
__ADS_1
"Kakak! kenapa kau tega! Aku ini istrimu! Antony Jangan coba-coba untuk melakukannya?" Teriak Lidia, matanya liar menatap ke dua pria yang sama-sama berwajah bengis baginya.
"Hahaha, masih saja, aku sekarang berpikir, sebenarnya siapa yang terjebak dalam pikirannya? Kau adalah istriku hanya dalam pikiranmu sendiri, sampai kapan pun kau tidak pernah akan menjadi istriku, lakukan secepatnya, aku sudah bosan melihatnya," ujar Rain yang tampak memandang Lidia dengan wajahnya yang mengerikan.
“Charles!! Charles!” Teriak Lidia mencoba untuk memanggil pria yang menjadi asisten pribadinya, tapi pria itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Memanggil bantuan, sayang sekali asistenmu itu kurang berpengalaman, dia sangat mudah ditahlukkan, saran saja jika kau nanti punya waktu memilih asisten, pilihlah dari pihak militer, itu juga kau harus berdoa aku masih punya sedikit rasa kasihan untuk memberimu sedikit waktu," ujar Rain menaikkan tangannya sebagai tanda Antony untuk bisa langsung memberikan pil itu pada Lidia.
Rain kembali membakar rokoknya, dengan gayanya yang sepertinya menikmati apa yang dilakukan oleh Antony pada Lidia, dia hanya melihatnya dengan santai.
Antony segera memegang kedua pipi Lidia yang memandangnya dengan sangat sinis, tatapannya seperti ingin membunuh Antony namun Antony tidak takut ataupun mundur sama sekali melihat tatapan itu, dia menekan pipi Lidia yang mencoba sebisa mungkin mengatupkan bibirnya, tak ingin obat itu masuk ke dalam mulutnya apalagi masuk ke dalama kerongkongannya, namun genggaman Antony sangatlah erat memaksa Lidia yang terus berontak untuk membuka mulutnya, kerena tekanan yang sangat keras akhirnya Lidia menyerah, tanpa sengaja mulutnya terbuka dan dengan cepat Antony memasukkan 4 pil itu, Rio yang ada di belakangnya pun dengan cepat memasukkan air mineral. Mencekoki Lidia dengan air yang banyak agar dia menelannya semua, air keluar dari bibir Lidia yang tampak kesusahan antara minum atau bernapas.
"Telan jika kau ingin bernapas," kata Rain yang menyaksikan semua itu, mata marah Lidia menatap Rain dengan penuh kebencian, paru-parunya mulai tidak bisa mentolerir kehabisan udara, mata Lidia tampak semakin merah dan mulai basah, dia sudah tak bisa lagi berontak, selain kehabisan tenaga dia juga kehabisan napas, mau tak mau dia harus menelan obat yang sudah terasa sangat pahit di mulutnya.
Lidia menelan pil itu dengan sekali teguk, air matanya keluar begitu saja menahan sakit dan susahnya bernapas, melihat semuanya sudah tertelan, Rain menaikkan sudut bibirnya.
"Biarkan dia bernapas, aku ingin tahu bagaimana efek obat itu padanya, apa separah obat itu padaku?" kata Rain santai, Antony segera melepaskan mulut dan bibir Lidia yang sudah tampak kacau, lipstiknya sudah memudar terkena bekapan paksa dari Antony, namun kedua penjaga itu tetap memegangi Lidia, tak melepaskan tubuhnya.
"Kau memang pria Ja*hanam!” teriak Lidia seperti orang kesurupan, mendengar hal itu Rain menaikkan sudut bibirnya, dia mendekati Lidia, memegang dagu wanita itu agar wajahnya yang berantakan dan matanya yang merah itu menatap wajah sinis Rain.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus berterima kasih padamu tentang ini, kau sudah mengembalikan diriku ke diriku yang tak punya rasa belas kasihan sedikit pun pada siapa pun bahkan pada wanita dan adikku sendiri, Terima kasih," kata Rain menaikkan sudut bibirnya.
"Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku, jika ada yang tahu kau sudah melakukan ini padaku, mereka akan segera melenyapkan orang-orang yang paling kau sayangi, dan aku yakin kau akan menyesal seumur hidupmu jika nantinya kau sudah melihat mayat mereka," ujar Lidia segera dengan senyuman sinisnya.
"Kau masih bisa mengancamku? "
"Kau lihat saja, jika nanti ada yang tahu aku tidak ada mereka akan melakukan hal yang telah aku perintahkan pada mereka!” teriak Lidia bagaikan orang gila.
"Benarkah? aku ingin tahu bagaimana mereka bisa melakukannya, oh, ya aku lupa bahwa kau tak tahu dimana istri dan anakku sekarang? bahkan dalam mimpimu kau tak akan bisa menyentuh mereka," ujar Rain dengan sinisnya, Lidia kembali membesarkan matanya, bagaimana Rain tahu tentang Bianca dan anak-anaknya.
--------
Hai, kakak! My beloved Reader wkkwkwk lebay si Quin.
keadaanku masih mabok sampe terkadang ga bisa bangun, udah usaha untuk nulis cuma bisa 2 bab dl, besok aku Insya Allah lanjutin, kalo badannya udah enakan dikit pasti langsung nulis.
terima kasih doa dan pengertiannya, tahu rasanya digantung itu tak enak, huhu maafkan aku yaa....
tapi aku tetep usahain ya kak, love you all..
__ADS_1