
Bianca baru saja selesai menyiapkan makanan untuk makan siang mereka, melihat kedua anaknya yang imut baru pulang sekolah.
"Ayo Gio dan Gwi bersih-bersih dan ganti baju, setelah itu kita makan siang bersama, Papi harus pergi ke perusahaan setelah makan siang," ujar Bianca melihat anak perempuannya bergelayut manja pada ayahnya, Anak laki-lakinya malah sudah memeluk kakinya, senang melihat ibunya.
"Baik mami," ujar Gio dan Gwi yang sudah tahu harus apa, Gio dan Gwi segera berlari ke pengasuh mereka masing-masing yang diberikan oleh Rain, dia sengaja melakukannya agar masing-masing anaknya dijaga maksimal, sedangkan Yuri sekarang hanya fokus menemani dan membantu keperluan Bianca.
"Apa Antony dan Rio juga datang?" Tanya Bianca melihat suaminya sudah duduk di tempatnya biasa makan.
"Tidak, Rio sedang mempersiapkan rapat setelah ini, Antony sedang di cabang perusahaan yang lain," ujar Rain tampak serius.
"Oh, baiklah, Yuri, bisa minta pelayan untuk mengambil jus semangka yang sudah di buat, Gwi dan Gio pasti senang meminumnya," ujar Bianca, Yuri mengangguk mengerti.
Rain memperhatikan istrinya yang sedang menata perlengkapan makan untuk anaknya, begitu banyak pelayan di rumah ini namun untuk soal makanan Bianca selalu turun tangan sendiri, tak mau orang lain yang membuatkannya untuk anak dan suaminya, hanya sesekali saat dia benar-benar lelah atau sakit, dia tak melakukannya, tapi hal itu jarang sekali, minimal dia memantau dapurnya.
Rain melingkarkan tangannya tiba-tiba di pinggang istrinya, menariknya hingga Bianca kaget dan tiba-tiba saja dia sudah terduduk di pangkuan Rain, Bianca langsung menatap mata tajam pria itu.
"Kau ini apa-apaan? Aku kaget," ujar Bianca melihat tingkah spontan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa begitu sibuk, pelayan bisa melakukannya," ujar Rain dekat dengan istrinya, suaranya serius tapi juga lembut, ada isyarat seolah dia ingin bermanja-manja dan dekat dengan istrinya yang dari tadi sayangnya sibuk meninggalkannya.
"Hei, ini masih siang, lagi pula nanti ada pelayan, bagaimana jika Gio dan Gwi di sini?" Kata Bianca yang sedikit kelabakan, dia masih canggung memadu kasih dihadapan orang-orang, namun sepertinya ruang makan itu memang sedang kosong.
"Aku hanya ingin istriku saat ini," ujar Rain yang tiba-tiba menyandarkan kepalanya di dada Bianca, tangannya yang melingkar di pinggang Bianca tiba-tiba menjadi erat, membuat Bianca menegang dan kaku tubuhnya, dia yakin Rain pasti bisa mendengar suara detak jantungnya yang berburu.
Bianca diam sejenak namun tak lama dia akhirnya mengerti keinginan suaminya, Bianca tersenyum, dia suka dengan sifat Rain saat dia ingin bermanja begini, Bianca mengelus rambut suaminya, membuat Rain semakin erat memeluk tubuh istrinya yang selalu memberikannya waktu tenang sejenak dari segala masalahnya.
"Mami! Kenapa mami dipangku papi?" Tanya Gwi yang melihat ibunya diperlukan ayahnya juga sedang dipangku ayahnya yang bersender manja, seolah memeluk boneka Teddy bear.
"Papi, tidur papi, istirahat," ujar Gwi memegang lengan atas ayahnya, mencoba melepaskan tubuh ayahnya dari ibunya, anak-anak pasti cemburu melihat ibu dan ayahnya berduaan.
Rain membuka matanya, merasa terganggu namun juga merasa anaknya sangat lucu jika melakukan hal ini, jadi dia mau tak mau melepaskan istrinya juga, Bianca hanya bisa tersenyum melihat wajah kecut Rain yang seolah tak rela namun harus merelakan.
"Ayo makan sekarang," ujar Bianca melihat sosok putranya yang akhirnya bergabung dan mereka segera makan bersama.
"Papi! Minggu depan Gwi dan Gio akan liburan, papi libur tidak?" Tanya Gio pada ayahnya setelah selesai makan, selalu tahu bahwa saat makan mereka dilarang untuk bicara.
__ADS_1
"Ehm? Ada apa jika papi libur?" Tanya Rain.
"Waktu itu di rumah sakit, papi bilang mau bawa Gwi dan kak Gio ke tempat salju, Gwi dan Kak Gio sudah liburan, papi kapan?" Tanya Gwi, Bianca melirik suaminya dengan senyuman tipis.
"Minggu depan papi juga libur, jadi ingin ke sana Minggu depan?" Tanya Rain, tentu sebenarnya dia tak punya hari libur, tapi dialah pemilik perusahaan, kapanpun dia ingin tak bekerja, pasti dia bisa melakukannya.
"Benarkah? mau! Gio mau!" Kata Gio semangat, akhirnya mereka bisa liburan setelah menunggu 7 bulan lamanya.
"Gwi juga! Hore!" Kata Gwi kegirangan, Rain dan Bianca tersenyum lebar, Bianca yang merasa sangat senang, dibalik semua hal yang Rain miliki tapi yanh paling membuatnya kagum pada Rain adalah dia selalu mengutamakan keluarganya bahkan lebih dari perkerjaanya.
"Baiklah, kalau begitu kita harus siap-siap untuk liburan Minggu depan, Gio dan Gwi harus menjaga kesehatan agar Minggu depan bisa pergi ke sana," kata Bianca menimpali.
"Siap mami!" Kata Gio.
"Ya mami, Gwi pasti sehat," jawab Gwi.
Bianca tersenyum kembali, Rain hanya senang melihat kehangatan keluarga kecilnya.
__ADS_1