
"Karena aku tahu, kau tidak akan pernah menganggap ku lebih dari adikmu, awalnya aku kira kau masih mencintai wanita murahan itu dan akan menerimaku jika aku punya anak darimu, aku tahu betapa kau menyukai anak-anak, tapi aku tidak tahu ternyata kau sudah punya wanita lain, sekarang pilihlah! Anakmu atau dia," kata Lidia histeris sambil menunjuk Bianca, pancaran matanya yang garang itu membuat Bianca gentar.
"Aku tidak akan percaya begitu saja denganmu, aku butuh tes DNA," kata Rain yang menggapai tangan Bianca, seolah memberikan kekuatan pada istrinya itu, tentu kehangatan itu membuat Bianca jadi merasa lebih tenang, Rain tetap ada di sisinya.
Lidia menyipitkan matanya, memandang dengan sinis ke arah pegangan tangan Rain, namun wajah sinisnya itu berubah menjadi senyuman yang sedikit menakutkan, tak bisa dipercaya, wanita manis tadi bisa semengerikan nenek sihir, pikir Bianca.
"Terserah, lakukan apapun yang ingin kau lakukan karena aku yakin dia adalah anakmu," kata Lidia dengan santai. "selama itu aku tidak akan pergi dari sini, jika kau mengusirku, maka kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan pada anakmu, mungkin dia akan mengalami hal yang sama denganmu saat kau masih kecil, bukannya kau tidak ingin anakmu nantinya seperti dirimu bukan?" kata Lidia dengan seringai menyeramkan, Rain mengerutkan wajahnya namun dengan wajah marah, wanita ini benar-benar sangat berbahaya.
Bianca pun mengerutkan dahinya, bagaimana bisa seorang ibu yang mengandung anak selama 9 bulan, mengasuhnya hingga selucu itu, bisa mengancam untuk merusak hidup anaknya hanya karena Rain tidak ingin bersamanya? Ibu macam apa dia ini?
"Baiklah, kau bisa tinggal di sini," putus Rain, Bianca menatap wajah suaminya itu, walau cukup terkejut, Bianca paham perasaan Rain, dia tak mungkin membiarkan Lidia melakukan hal itu pada seorang anak kecil, terlepas apakah dia anak kandung Rain atau bukan, namun jika dia adalah anak kandung Rain, pasti Rain nantinya akan sangat menyesal jika dia sudah membiarkan wanita ini menyiksa anaknya.
"Kita pergi dari sini," ujar Rain pada Bianca, dia tanpa ragu dan menunggu apapun segera menarik Bianca, tak mengizinkan Bianca lebih lama di sana, Bianca hanya kaget dan sekilas melihat ke arah Lidia yang masih tersenyum licik dan sinis ke arah mereka, dia bahkan mengeluarkan gestur melambaikan tangan sebagai salam perpisahan, tak tahu karena Bianca ingin pergi sekarang atau karena dia memberikan salam perpisahan itu karena dia akan menyingkirkan Bianca dari hidup Rain.
Suasana hening di dalam mobil itu, Bianca tak berani berbicara karena melihat wajah kalut Rain, bahkan semuanya senyap, hanya suara deru kendaraan yang bahkan sangat halus itu yang terdengar, tak lama mereka sampai di apartemen Rain, dengan cepat Rain membuka pintunya, namun walaupun begitu marah dan kalut, dia tak lupa membukakan pintu untuk istrinya, dengan cepat menyambar tangan Bianca dan langsung membawanya ke Lift, mereka segera masuk ke dalam apartemen mereka.
Rain tak menunggu apapun, membawa Bianca ke dalam kamar mereka, dan segera menutupnya, di sana Rain baru melepaskan tangan Bianca.
Bianca hanya bisa menatap Rain yang tampak mondar mandir memikirkan semua hal, bagaimana tiba-tiba saja dia menjadi seorang ayah?
__ADS_1
Bianca pun merasa pikirannya kosong atau malah terlalu penuh, dia merasa bingung dengan semuanya, sudah jelas wanita itu ingin mengambil suaminya, akankah Rain tetap ada di sampingnya?
"Bianca, aku benar-benar tidak tahu tentang ini," ujar Rain memastikan pada Bianca agar Bianca tidak salah paham atas dirinya. Bianca yang dari tadi diam hanya memandang ke arah mata indah milik Rain, di dalamnya dia tak melihat adanya kebohongan, Bianca yakin, Rain pun sama syoknya dengan dirinya.
"Siapa dia?" tanya Bianca perlahan.
"Lidia, dia adalah anak dari orang tua asuhku, aku sudah menganggapnya adik karena dari kecil kami tumbuh bersama, tapi dia menginginkan lebih dan selalu melakukan hal-hal di luar batas, dia tak segan menyakiti siapapun untuk mendapatkanku, karena itu awalnya aku tidak mengizinkanmu bertemu dengannya, aku tak ingin dia melakukan sesuatu padamu," ujar Rain membeberkan maksudnya, Bianca hanya diam menganalisa semuanya.
"Lalu tentang sper-ma itu?" tanya Bianca.
"10 tahun yang lalu, ada hal yang mengharuskan aku memeriksakan seluruh kesehatan tubuhku termasuk sper-ma ku, dan aku tidak tahu ternyata mereka menyimpan itu hingga bisa disalah gunakan oleh Lidia, wanita itu benar-benar licik," kata Rain lagi.
"Ya, kemungkinan itu ada, jika dia melakukan pembuahan dengan bayi tabung, anak itu bisa jadi anakku," kata Rain dengan tatapan tajamnya.
Bianca terdiam, jika benar anak itu adalah anak Rain, pasti wanita jahat itu akan melakukan segalanya demi mendapatkan Rain, bahkan tadi saja dia sudah mengancam Rain menggunakan anak itu, pernikahan mereka bisa saja terancam.
"Bianca, bagaimana pun, aku akan tetap mempertahankanmu, dia boleh menjadi anakku, tapi aku tidak bisa melepasmu," ujar Rain yang segera memegang kedua lengan atas Bianca, mencoba untuk menenangkan dan membuat yakin Bianca bahwa Rain akan selalu ada untuknya, Bianca tampak kosong, Rain tahu bagaimana terpukulnya hati istrinya ini, dia pasti bingung dengan hal ini, Rain lalu menarik Bianca yang tampak terdiam itu dalam pelukannya.
Bianca masih saja diam, tapi bagaimana jika benar-benar Rain harus memilih antara dirinya atau anaknya? Apakah Rain tetap bisa memilih Bianca? Namun bibir Bianca terkunci saat itu, dia tak bisa mengatakannya lagi, atau malah dia takut apa yang akan menjadi jawaban dari Rain, dia hanya bisa terdiam saja.
__ADS_1
"Rain, aku lelah, bisakah kau izinkan aku membersihkan badan dulu," ujar Bianca lemah, semua hal ini benar-benar membuatnya lelah, kejutan yang datang begitu bertubi-tubi memukul dirinya, rasanya dia butuh waktu untuk bisa mencerna dan berpikir jernih, takut dia akan mengambil keputusan gegabah lagi nantinya dan menyusahkan semua orang.
"Baiklah," kata Rain yang melihat kebingungan di mata Bianca, namun dia sudah berjanji, bagaimanapun nantinya, dia tak akan melepaskan istrinya, dia sudah berjuang untuk mendapatkan wanita ini, dan sekarang bahkan untuk apapun, dia tak akan melerakan wanita itu pergi, pikir Rain sambil melihat ke arah Bianca yang berjalan lunglai menuju kamar mandi mereka.
Rain lalu mengambil ponselnya dengan cepat menghubungi Luke.
"Luke, aku ingin kau mengambil sampel DNA dari anak itu dan juga Lidia, lakukan dengan perlahan dan jangan sampai ada yang tahu, lakukan pemeriksaannya di tempat lain, aku ingin datanya segera dan seakurat mungkin," ujar Rain lagi dengan tegas, tentu langsung di-iya-kan oleh Luke yang ada di sana. Rain mematikan panggilannya memandang kamar mandi yang mulai terdengar suara air mengalirnya.
------
Pojok Author :
Halo lagi kakak, Terima kasih banyak yang sudah memberikan doa dan selamat untuk Quin, Amin untuk semua doanya,
Bagi yang sedang mengharapkan kehamilan jangan capek dan lelah berusaha, dan saya Doakan semoga menyusul secepatnya, saya tularin, Amin....
Bagi yang sedang sama-sama menjalani masa kehamilan saya doain semoga lancar dan sehat ibu dan bayinya hingga lahiran ya, semangat Ibu, Amin....
Sekali lagi terima kasih dan juga terima kasih untuk pengertiannya, karena terkadang maunya di bawah selimut aja, kalo gerak dikit langsung lemes, makanya maaf jika upnya mengecewakan, bolong-bolong, aku usahain terbaik untuk bisa up ya kakak2,
__ADS_1
I Love You all