
Bianca membuka matanya sedikit demi sedikit, mencium aroma maskulin kuat namun dia sukai, dia menatap ruangan kamar itu, rasanya ada yang berbeda dengan kamarnya, Bianca lalu sadar sebuah yang kekar ada di atas dadanya seolah mendekapnya satu malam ini, dia menyusur dengan mata kaget ke arah pemilik tangan yang tertidur di sampingnya.
Bianca sampai membesarkan matanya dan sedikit menarik kepalanya ke belakang, menatap pria yang terlihat lelap di sampingnya.
Wajah kaget Bianca berubah sedikit kepanikan, dekapan dan kehangatan serta hembusan napas yang bisa dia rasakan membuatnya sesak, apa mereka lakukan semalam?
Bianca bergerak hati-hati, dia membuka sedikit selimut yang menggulung tubuh mereka berdua, mencoba melihat tubuhnya, Mereka berdua masih berpakaian lengkap.
Bianca menarik napas leganya, entah kenapa dia selalu tak bisa mengatasi bayangan pergumulan paksa itu, rasa sakitnya bahkan terpatri sampai sekarang, tapi bukankah Rain Bukan Drake? bagaimana bisa nantinya dia akan menerima Rain jika begini?
Dia menatap wajah nyaman itu, tak ada kesan dingin sama sekali, jauh berbeda saat dia bangun, pria ini tampak begitu ramah dari wajahnya.
Bianca melirik ke arah jendela, masih gelap, dia mencoba tak banyak bergerak hingga pria ini nantinya tak akan terganggu tidurnya.
Semalam, mereka menghabiskan waktu hanya untuk bercengkramah, tentu yang banyak berbicara adalah Bianca, pria ini hanya sesekali menanggapi namun kebanyakan diam, apa yang diharapkan Bianca dengan pria ini. Tapi kenapa mereka sekarang malah ada di sini?
Rain tampak menggeliat, Bianca memperhatikannya, wajahnya itu benar-benar berbeda, Rain menarik tangannya dari tubuh Bianca, berganti posisi sehingga tubuh Bianca sekarang bebas.
Bianca masih dalam posisinya untuk beberapa saat, namun akhirnya dia memutuskan untuk bangun, perlahan dia menyibakkan selimutnya, turun dari ranjang Rain yang besar, dan dengan perlahan Bianca menuju ke pintu kamar Rain.
Dia ingin pergi untuk mencuci muka dan sekedar menggosok giginya dan akan kembali, setidaknya ketika Rain bangun, dia sudah tak lagi merasa minder karena napas bangun tidurnya.
__ADS_1
Bianca membuka pintunya perlahan, namun dia tak langsung membukanya lebar, saat dia membukanya, dia mendapati Luke dan Ken yang sedang tampak mengobrol.
"Dimana Tuan?" tanya Luke yang memang baru datang, dia sengaja datang menyampaikan hasil rapat yang dengan seenak hatinya ditinggalkan oleh Rain kemarin yang segera duduk di sofa, jika tuannya tak ada mereka bisa sedikit bersantai.
"Ya, Tuan menemui Nona Bianca, bahkan mereka sekarang ada di kamar berdua," ujar Ken sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya, diminta menjauh, yang ada Tuannya semakin dekat.
"Kau serius? bukannya ini semua hanya pura-pura, Bukannya Tuan bersikap baik dan manis terhadap Nona Bianca hanya karena ingin mendekati Tuan Drake?" kata Luke tak percaya, bagaimana bisa Tuannya menjadi dekat dengan Bianca.
"Ya, aku tahu, aku juga sudah mengingatkan agar Tuan segera memberikan kompensasi, aku menawarkan rumah di daerah timur dekat dengan kawasan militer agar dia mudah di perhatikan, tapi Tuan bilang dia yang akan mengurusnya, Nona Bianca bisa jadi ancaman besar ke depannya," kata Ken dengan wajahnya yang keras.
Bianca mendengar itu hanya terdiam, apa yang baru saja dia dengarkan? Rain bersikap manis dan baik padanya dengan segala perhatian yang dia tunjukan juga pernyataannya untuk memberikan Rain kesempatan, semua itu hanya pura-pura semata?
Bianca bagaikan tersiram seember air dingin, tubuhnya kaku namun perasaannya nyeri, rasanya seperti baru menerima sinar matahari yang menyinari dunia, namun hujan badai tiba-tiba turun.
Rain kembali menggeliat, membuat Bianca secara refleks menutup pintunya, karena tutupan pintu yang cukup keras suaranya itu, Rain terbangun, dia mengerutkan wajah khas bangun tidur.
"Kau sudah bangun?" suaranya serak tanda bangun tidur.
"Oh, ya, aku ingin kembali ke kamarku, aku pergi dulu," ujar Bianca yang bahkan sudah tak bisa melihat wajah Rain dengan jelas, kabur karena air matanya yang menumpuk, Bianca buru-buru membuka pintu dan dia segera pergi dari sana dan menuju kamarnya, bahkan kepergian Bianca membuat Luke dan Ken yang masih berbincang kaget.
Rain yang baru saja bangun langsung mengerutkan dahinya begitu dalam, kenapa wanita itu pagi-pagi begini? kenapa langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Namun Rain tak ingin ambil pusing, dia mengira mungkin Bianca malu karena tadi malam mereka tidur bersama, Rain bangkit lalu pergi ke kamar mandinya untuk bersiap-siap.
---***---
Bianca menjatuhkan dirinya ke ranjangnya tepat saat air matanya juga jatuh, Perasaan Bianca terasa begitu hancur, Kenapa pria itu begitu kejam padanya? memanfaatkan dirinya hanya untuk mendapatkan tujuannya.
Kenapa dia tak mengatakan sejujurnya saja, Bianca akan membantunya tanpa menaruh harap yang besar, kenapa dia harus datang, memberikan perhatian-perhatian yang meluluhkan hati kecil Bianca yang sudah rapuh, yang membuatnya bahkan merasa ternyata ada orang di dunia ini yang masih menyayanginya, namun apa? semua ini hanya pura-pura belaka dan akibatnya hati rapuh itu sudah pecah berkeping-keping membuat dirinya sakit, sangat sakit.
Air mata Bianca mengalir membasahi seprai berwarna pink itu, menangis hingga matanya lelah dan perih, namun sama sekali tak mengurangi rasa sakitnya, beginikah rasa patah hati, sial sekali, bahkan belum lama dia merasakan cinta,sekarang harus di kubur dalam-dalam, sekarang apa yang harus dia lakukan?
Bianca hanya diam memeluk lututnya, tubuhnya menggigil karena rasa sakit dihatinya, namun dia tak lagi menangis, air matanya sudah menguap meninggalkan jejak di pipi indahnya.
Pintu kamarnya terketuk, membuat Bianca kembali ke alam sadarnya, dia melihat pintu kamarnya, tak punya minat membukanya.
"Nona?" suara Yuri terdengar.
"Ya?" kata Bianca yang beranjak ke pintu namun tak membuka pintunya.
"Tuan Rain ingin Anda untuk sarapan bersamanya sebelum beliau pergi bekerja," ujar Yuri dari luar sana.
Bianca mendengar itu hanya menahan dirinya untuk tidak menangis lagi, untuk apa memanggil Bianca dan ingin sarapan bersama, padahal pria itu sama sekali tak punya perasaan padanya, bukannya itu makin menyakiti Bianca.
__ADS_1
"Aku baru bangun tidur, bisakah aku menolak, aku akan makan nanti," ujar Bianca lagi, tak ingin dia melihat pria itu untuk sesaat, dia harus menata kembali hatinya, berusaha untuk mengubur asa yang dia punya untuk pria itu.
"Tapi …." ujar Yuri.