Rain In The Winter

Rain In The Winter
176.


__ADS_3

Matahari masih enggan menyelimuti bumi, hanya sedikit cahayanya yang tampak mengusir sedikit pekat gelap malam, Bianca memeluk dirinya sendiri, seberapa tebal pun mantel yang dia gunakan sekarang, rasanya masih tetap saja dingin menyelimuti.


"Belum sampai juga ya?" tanya Siena juga tak sabar, sudah 20 menit mereka menunggu namun tanda-tanda pesawat pribadi itu mendarat belum juga terlihat.


"Sabarlah, sebentar lagi mungkin mereka akan mendarat," kata Bianca tersenyum menenangkan Siena padahal dia sendiri pun sudah sedikit gusar menunggu kedatangan suaminya itu.


"Baiklah," kata Siena, dia menghempaskan dirinya di sofa ruang tunggu itu, mencoba untuk lebih santai.


"Nona, Pesawat Tuan Ken sebentar lagi akan mendarat, apakah ingin menunggu di landasan?" tanya seorang penjaga pada  Siena.


"Tentu, ayo kakak kita sambut mereka," kata Siena dengan wajah sumringah nan semangat, Bianca juga segera berdiri walaupun tak seekpresif Siena, tampak binar bahagia di matanya.


Angin pagi berhembus semilir, menyapa pipi Bianca yang putih kemerahan karena terkena dinginnya, Bianca menggigit bibirnya, melihat pesawat pribadi itu sudah ada di depannya hanya tinggal menunggu pintu pesawat itu terbuka dan setelah itu dia bertemu dengan  suaminya.


Pintu pesawat itu terbuka, berbeda dengan Siena yang sudah dengan senyum sumringahnya menyambut siapapun yang ada di balik pintu itu, Bianca malah terpaku, matanya bahkan tak bisa berkedip menatap ke arah pintu, selain itu jantungnya yang berdetak begitu kencang bahkan menghalanginya untuk bergerak. Suara jantungnya bagaikan seperti genderang sekarang.


Bianca menahan napasnya, melihat ke arah sosok pria yang muncul di balik pintu itu, matanya yang dari tadi berharap berganti menjadi sedikit kecewa melihat sosok pertama yang muncul, sudah pasti bukan Rain, itu Ken, Ken menaikkan sudut bibirnya ketika melihat Siena yang tampak sangat bahagia melihat sosok suaminya yang muncul di sana, bahkan Siena segera menemuinya dan memberikan pelukan hangat, padahal mereka baru berpisah sekitar 2 hari saja, melihat pemandangan itu membuat Bianca tersenyum tipis melihat ke arah pasangan itu.

__ADS_1


Mata Bianca perlahan kembali melihat ke arah pintu pesawat itu, melihat sosok-sosok yang muncul dari Antony dan Rio yang berjejer di dekat pintu  namun tak keluar dari sana. Seolah waktu berhenti berputar, sekali lagi Bianca menahan napasnya yang terasa  makin berat karena detak jantungnya yang sangat memburu hebat, perlahan dengan pasti sosok itu muncul di sana, dengan kepala yang sedikit tertunduk lalu langsung tegap berdiri, matanya yang tajam itu langsung memerangkap Bianca, tak ada senyuman ramah yang seperti Ken tunjukkan untuk Siena tadi, hanya ada wajah datar yang terlihat begitu mempesona, namun tatapan mata itu cukup memberitahukan pada Bianca bahwa dia merindukannya.


Rain segera turun dari tangga kecil pesawat jet itu, Bianca tanpa sadarnya segera berjalan ke arah Rain yang akhirnya menjejakkan kakinya ke aspal basah itu hanya menatap ke arah istrinya, akhirnya wajahnya yang dingin itu melunak di antara udara dingin, dia menunjukkan senyum tipisnya nan manis saat Bianca berhenti tepat di depannya, mata Bianca lekat mengamati wajah suaminya, seperti inilah pertemuan yang ingin dia lihat 4 tahun yang lalu.


"Aku memenuhi janjiku," kata Rain pelan diantara gemuruh angin yang cukup besar.


Bianca mengapitkan bibirnya perlahan, menganggukkan kepalanya pelan sambil menyetuhkan tangannya pada dada bidan suaminya mengusap nya dengan perlahan, dia mencoba menahan air mata sambil mencoba menyakinkan bahwa yang ada dihadapannya sekarang benar-benar adalah Rain. Rain menatap cantiknya wajah istrinya yang tampak terharu, kelihatan bahagia sekali menatapnya.


"Kau tak ingin memelukku?" ujar Rain  sedikit mengarahkan kepalanya ke arah telinga Bianca dan berbisik lembut, Bianca mendengar sedikit terkejut namun tentu dia ingin memeluk suaminya,"Terlalu terlambat, kalau begitu aku saja yang memelukmu.”


Bianca tentu semakin kaget apalagi secara cepat kehangatan itu menyelimutinya dengan erat, Bianca segera membalas pelukan itu, meletakkan sisi kepalanya tepat di dada bidang Rain, bahkan dia bisa mendengar suara detak jantung suaminya, Rain mencium rambut Bianca, menghirup wanginya yang selalu saja dia rasa begitu kenal namun juga begitu asing.


"Ehem, Kakak," kata Siena sedikit menganggu momen drama pertemuan yang menyentuh hati siapapun.


Rain segera melihat ke arah suara itu, melihat Siena yang berjalan mendekat dengan gayanya yang anggun, tentu mempesona seperti biasanya, bukan Siena namanya jika tak menebarkan pesonanya. Rain hanya mengerutkan dahinya melihat Siena, tak ada wanita ini dalam ingatannya, hanya pernah melihatnya saat mengaku menjadi adik angkatnya 4 tahun yang lalu.


"Masih tidak mengingatku?" tanya Siena berdiri di depan kakaknya.

__ADS_1


"Tidak," kata Rain datar saja malah terkesan dingin.


"Yah, tapi aku suka dengan nada bicara itu, benar-benar seperti kakak," kata Siena sedikit tersenyum, memancing tawa kecil Bianca hingga Rain melirik padanya, tawa itu yang ingin dia lihat dari tadi.


"Kakak, bagaimana jika kita ke kediamanan Anda, udara di sini sangat dingin," ujar Ken, Siena melirik suaminya, sejak kapan dia memanggil Rain dengan sebutan Kakak? kemarin-kemarin dia masih memanggilnya dengan sebutan Tuan. Ken hanya mengusap kecil hidungnya, membuat Siena tersenyum.


"Ya, benar, Kita harus sampai di sana sebelum keponakanku bangun, mereka sangat lucu, kau pasti sangat menyukai mereka," kata Siena akhirnya melirik ke arah suaminya.


"Benar, Gwi akan sangat senang bisa bertemu denganmu, dia kemarin mencari papinya, " kata Bianca.


"Sudah kau katakan padanya?" kata Rain sambil menggenggam tangan Bianca membawanya untuk mulai berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka, menghangatkan tangan istrinya yang terasa begitu dingin.


Siena dan Ken membiarkan pasangan itu berjalan di depan mereka, baru mereka mengikutinya dari belakang, asisten dan penjaga yang lain mengikuti setelahnya.


"Aku hanya mengatakan bahwa papinya akan datang pagi ini, dia sangat semangat hingga tidak ingin tidur cepat," kata Bianca mengingat tingkah lucu anaknya tadi malam, dia bahkan mencoba untuk terus terjaga agar tak ketinggalan momen saat ayahnya sampai di rumah.


"Benarkah?" kata Rain mengulas senyum manis ketika dia mengingat betapa lucunya anaknya itu, seketika saja dia sangat merindukan gadis kecilnya. Bianca mengangguk pelan sebagai jawabannya, menikmati kehangatan yang sekarang bukan saja terasa di tangannya, kehangatan itu menyebar hingga ke hati dan seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Mereka segera masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu waktu yang lama mereka segara berjalan menuju ke kediaman Rain, bahkan di sepanjang perjalanan, Rain sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya walaupun dia tampak mengamati negara itu, serasa sangat asing bagaikan baru pertama kali dia masuk ke negara ini.


__ADS_2