Rain In The Winter

Rain In The Winter
140.


__ADS_3

Rain mengeluarkan gestur, para pelayan yang ada di sana mengerti, mereka segera keluar dari ruang makan itu, Bianca melihat itu pun segera ingin keluar, tapi baru beberapa langkah, dia harus berhenti karena mendengar suara Rain.


"Siapa yang menyuruhmu keluar?"


Bianca melirik pria itu, tampak sedang sibuk mengambil makanannya, Bianca hanya memasang wajah kesalnya namun dia menuru, ingat bahwa ada hal yang ingin dia tanyakan.


Rain satu persatu menyicipi makanan yang di buat Bianca, ada rasa familiar yang bisa dia temukan, lagi-lagi rasanya begitu dekat namun juga ada rasa bingung dimana dia merasakannya.


Bianca sebenarnya tak sabar melihat Rain yang makan Lambat sekali, seolah ingin menikmati rasa makanan itu sedikit demi sedikit, Bianca mulai gelisah, karena semakin lama semakin larut di ada di tempat ini.


Akhirnya Rain selesai juga memakan makanannya, Bianca langsung tampak berbinar, dia langsung ingin menanyakan apa yang ada di kepalanya selama ini.


"Tuan, apa kau benar-benar bisa menjaga kami?" Ujar Bianca yang melihat Rain sedang mengelap bibirnya.


Rain lalu melirik ke arah Bianca, dia menatap wajah berharap wanita itu, namun dia hanya diam saja, hal itu tentu membuat Bianca sedikit mengerutkan dahinya dan salah tingkah, ditatap mata tajam itu tetap saja rasanya tak biasa.


"Siapa yang mengizinkan kau memanggilku tuan?" Kata Rain lagi, Bianca menarik napasnya kesal, kenapa malah membahas sebutannya pada Rain, dia butuh jawaban tentang pertanyaan itu.


"Ya, nanti aku memanggilmu Rain, kau akan tersinggung," ujar Bianca.


Rain berdiri lalu segera ingin meninggalkan Bianca.


"Hei, bagaimana dengan pertanyaan ku? " Kata Bianca.


"Kalau kau sudah kenal denganku kau pasti tahu aku tak pernah main-main dengan perkataan ku," ujar Rain berhenti namun tak melihat ke arah belakang, Bianca mendengar itu sedikit tersenyum jadinya, artinya Rain serius dengan semuanya, kalau begitu dia bisa sedikit bernapas lega, apapun sekarang dia lakukan agar ke dua anaknya bahagia.


"Terima kasih banyak," kata Bianca memberikan salam hormatnya, Rain melirik wajah bahagia wanita itu.

__ADS_1


"Aku boleh pulang sekarang kan?" Kata Bianca dengan senangnya.


"Siapa yang mengizinkanmu pulang," kata Rain lagi, sekarang dia sudah memutar tubuhnya menghadap Bianca.


"Eh? Maksudnya aku harus menginap di sini?" Kata Bianca menatap ke arah Rain tak percaya, Rain hanya menatap Bianca, dari sikapnya Bianca merasa itu seperti kata iya.


"Tidak, aku tidak bisa menginap di sini, aku harus pulang," kata Bianca, tak ingin tidur tanpa kedua anaknya.


"Jika ku katakan tidak pulang, kau tak boleh pulang," tegas Rain lagi berjalan ke arah ruang tengah rumah itu, Bianca melihat Rain pergi jadi mengikutinya, Rain tampak santai duduk di sofanya, mengambil rokok dan segera ingin menghidupkannya.


"Tidak bisa, aku harus pulang, ada orang menungguku pulang," kata Bianca lagi membuat Rain menaikkan satu alisnya, merasa penasaran siapa yang menunggu Bianca pulang, apa dia sudah punya pasangan?


"Siapa?" Tanyanya dengan dingin.


"Sahabatku," ujar Bianca lagi, masih ingat tak ingin mengatakan tentang keberadaan si kembar.


"Ya itu bukan urusanmu, pokoknya aku harus pulang," paksa Bianca sedikit membuat Rain kesal, namun bukan Rain namanya jika dia bisa menunjukkan emosinya itu.


"Aku tak mengizinkan kau pulang tanpa tahu dia pria atau wanita," ujar Rain santai sambil menghembuskan asap tarikkan pertamanya, tapi sikap santai itu malah membuat Bianca geram.


"Kau pikir aku wanita apaan? Tinggal bersama pria, tentu saja dia wanita," ujar Bianca geram, mendengar itu Rain menaikkan sedikit sudut bibirnya, tipis sekali bahkan Bianca tak bisa melihatny, kenapa dia malah senang mengetahui sahabat Bianca adalah seorang wanita. "Sekarang aku ingin pulang!"


"Tak ada yang memberimu izin, tanpa izinku kau tak akan bisa keluar dari sini."


"Tapi kau sudah bilang aku boleh pulang kalau aku mengatakan sahabatku pria atau wanita," kesal Bianca.


"Aku tak mengatakan itu," kata Rain singkat, membuat Bianca geram setengah mati, ingin dia memukul kepala pria ini sekarang.

__ADS_1


"Ok! Sekarang apa mau mu?" Kata Bianca kesal, dia segera duduk di sofa yang ada di dekat Rain, persetan Rain tak suka dia melakukan itu atau tidak, kalau Rain bisa membuatnya kesal kenapa dia tak boleh membuat pria ini kesal.


Rain melihat tingkah Bianca, wanita itu memasang wajah ngambek dan kesalnya, dia tampak memeluk bantal sofanya erat-erat seolah itu adalah kepala Rain.


"Kenapa? Aku tak boleh duduk di sini? Jadi aku tidak boleh pulang, juga tak boleh duduk di sofa? Kau ingin menyiksaku tak perlu begini caranya," cerocos Bianca keluar bagaikan kereta api, kesal sekali hingga tak tahu harus bagaimana.


"Sudah?" Tanya Rain yang menunggu Bianca diam, melihat wanita itu menata napasnya yang berat.


"Sudah!" Kata Bianca lagi, melirik pria itu dengan tajamnya.


"Apa kau dulu adalah wanita simpanan ku?" Tanya Rain to the point, dia sudah lama memikirkan hal ini, dia mencari tahu tentang wanita ini, semuanya, namun dia tak menemukan apapun tentangnya, bahkan seperti wanita ini tak pernah ada.


Bianca yang tadinya dikuasai oleh amarah tiba-tiba terdiam, dia lalu menatap pria yang sekarang menatapnya dengan serius, Bianca menggigit bibirnya, bagaimana dari istri yang sah dia sekarang malah dikira seorang simpanan.


"Aku bukan simpananmu dan simpanan siapa-siapa, aku bukan wanita yang seperti itu," kata Bianca membuang wajahnya, dia mengenggam tangannya kuat, luka hatinya sepertinya kembali lagi. Rain bisa melihat bersitan Luka itu. Hanya itu yang bisa dipikirkan oleh Rain, wanita ini tahu semua tentang dirinya, mungkin dia awalnya menikahi Lidi namun malah tertarik pada wanita ini dan menjadikannya simpanannya sehingga dia bisa mengaku sebagai istrinya dulu.


"Bagaimana kita bertemu?" Tanya Rain lagi seolah mengintrogasi Bianca.


"Entahlah, aku tak ingat," acuh Bianca. Sebenarnya dia masih ingat jelas bagaimana mereka bertemu, bagaimana pria ini melindunginya mati-matian hingga membuatnya luluh.


"Kenapa aku bisa menyukaimu?" Tanya Rain, sejujurnya Bianca bukan gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta, bukan tipenya baik dalam fisik dan sifat, Rain tak suka dengan gadis murung yang cerewet, dia suka gadis tangguh yang tak menunjukkan rasa takut dan tersenyum bahkan saat dia tersakiti.


"Pertanyaan seperti apa itu? Mana aku tahu kau menyukai ku karena apa? Lagi pula tak ada yang mengatakan kau menyukaiku," ujar Bianca semakin acuh.


"4 tahun yang lalu, kau katakan kau mengandung, bagaimana anak itu?" Tanya Rain lagi.


Bianca menggigit bibirnya lagi, dia menarik napasnya panjang, namun dia tak ingin mengatakan tentang si kembar pada Rain.

__ADS_1


__ADS_2