Rain In The Winter

Rain In The Winter
82.


__ADS_3

Bianca memegang coklat panas yang ada di tangannya sekarang, dia melihat hamparan salju putih yang membentang di luar kabin kayunya yang cukup terasa hangat, tadi malam mereka tiba di sini dan pagi ini sejauh mata Bianca dapat melihat hanya salju dan pohon cemara, juga beberapa pegunungan yang indah. Tempat itu bukanlah tempat wisata, malah merupakan perdesaan kecil yang sangat tenang, Bianca juga sedikit bingung, biasanya Rain pergi selalu membawa begitu banyak penjaga dan orang-orang yang membantunya, kali ini dia bahkan tak mengajak siapapun, hanya dirinya danĀ  Rain yang pergi ke sana.


Bianca bergidik, merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan Rain yang tiba-tiba menyergap dirinya dari belakang, menyusuri kembali tangannya, Rain menghembuskan napas beratnya menerpa pipi Bianca, membuat Bianca semakin bergidik merasakan tubuh Rain yang bahkan seperti tidak merasakan dingin, bertelanjang dada di belakang tubuh Bianca, Bianca meletakkan coklat panasnya, takut karena tubuhnya yang gemetar, segelas coklat panas itu akhirnya akan jatuh dari tangannya.


"Selamat pagi," bisik Rain sambil mencium pipi Bianca dengan lembut, sekali lagi membuat Bianca mengerutkan bahunya.


"Selamat pagi," kata Bianca membalas perkataan suaminya yang sekarang melingkarkan tangan gagahnya itu di perut Bianca, tetap sukses membuat jantung Bianca berdegup kencang karenanya padahal pria ini sudah resmi menjadi suaminya.


"Pemandangan yang indah ya," Bisik lembut Rain lagi melihat hamparan putih yang tampak begitu indah, salju di luar cukup tebal, bagaikan selimut putih yang menutupi semuanya, tak mengizinkan warna lain selain warnanya.


"Ya, di sini indah, tenang dan nyaman," kata Bianca lagi, menyelaraskan matanya sama seperti milik suaminya.


"Kau sudah pernah ke tempat seperti ini? " tanya Rain lagi, Bianca mengerutkan dahinya, pagi ini Rain benar-benar terasa hangat di tempat sedingin ini.


"Belum," geleng Bianca yang sekarang tubuhnya seolah bersandar pada prianya itu.


"Benarkah? bagaimana seseorang bernama salju tidak pernah ke tempat bersalju sebelumnya? " tanya Rain lagi melirik istrinya yang juga memalingkan wajahnya menatap suaminya itu.

__ADS_1


"Tak semua orang seberuntung dirimu yang selalu tahu bagaimana hujan itu bisa turun," kata Bianca tersenyum manis yang di sambut senyuman tipis dari suaminya itu, "kau tidak kedinginan? "


"Asal bersamamu aku akan merasa hangat," gombal Rain sambil memeluk tubuh Bianca lebih erat, Bianca yang masih melihat Rain mengerutkan wajahnya, dia bahkan tidak percaya seorang Rain bisa mengatakan hal yang cukup receh itu, Bianca melepaskan dirinya dari pelukan suaminya yang segera terurai, dia membalikkan tubuhnya agar dia bisa langsung berhadapan dan menatap ke arah suaminya yang benar-benar terasa berubah, namun Bianca suka perubahan ini. Dia tersenyum menganalisa wajah suaminya, memperhatikannya dengan sangat dalam, tangannya yang lentik dia letakkan di dada suaminya yang berbentuk karena ototnya yang selalu dibentuknya.


"Kau ini siapa? Apakah Dokter Joselin juga menerapimu? " tanya Bianca lembut, hampir tidak mengenali sosok pria yang terasa hangat di belakangnya, berbeda dengan suaminya yang biasanya selalu datar dan berbicara apa adanya itu.


"Entahlah, aku hanya ingin membuatmu nyaman terhadapku," ujar Rain sekali lagi menyergap wanitanya itu, memeluk pinggangnya seolah tidak ingin melepaskannya, Bianca tersenyum dengan senyuman sumringah.


"Pergilah mandi, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua," kata Bianca yang tahu tidak akan ada yang melayani mereka untuk menyiapkan makanan.


"Baik," kata Rain patuh, sebelum dia melepaskan tangannya dari pinggang bianca, dia mengecup bibir Bianca, lalu dengan senyuman begitu manis dia pergi meninggalkan Bianca, kelakukan Rain ini benar-benar membuat Bianca terkejut dan ingin meledak karena terlalu senangnya.


Rain melihat wajah berbinar istrinya segera melayangkan senyuman manisnya, sangat mengembang, tak seperti biasanya yang selalu tipis, Bianca sekali lagi tersenyum namun dengan kerutan di wajahnya.


"Terima kasih," kata Rain mengecup rambut Bianca lagi sambil mengelusnya sebelum dia duduk di tempat duduknya, sebuah perlakuan yang bahkan bisa membuat semua wanita meleleh dibuatnya karena merasa dihargai.


"Ya, makanlah," ujar Bianca mengambil coklat panasnya yang sudah tak lagi panas, lupa dia minum karena begitu semangatnya karena tindakan luar biasa dari Rain ini, Rain segera melahap semua yang sudah disediakan istrinya, sesekali melirik ke arah Bianca yang tak bisa berhenti untuk tersenyum, hatinya terlalu manis sekarang, bahkan coklat itu pun tak lagi terasa manis.

__ADS_1


"Apa yang ingin kita lakukan hari ini? " tanya Bianca, dia tahu Rain selalu punya rencana jika dia sudah mengajak Bianca ke suatu tempat.


"Tak ada, jika ingin kita bisa duduk di rumah seharian dan nanti malam kita bisa keluar untuk mencoba melihat desa di dekat sini? bagaimana? " kata Rain yang memang tak punya rencana, hanya mengikuti kata-kata dari Doker Joselin yang memintanya lebih intim bersama dengan istrinya ini.


"Ehm, sempurna, kita bisa tiduran, bersama menonton film, menikmati coklat panas, atau memasak bersama, " ujar Bianca semangat, dia sudah bisa membayangkan semua hal seru yang bisa mereka lakukan berdua di rumah itu, apalagi sekarang mereka benar-benar berdua, jika di rumah mereka, setiap sudut dipenuhi oleh penjaga dan juga orang-orang Rain, bahkan untuk bermanja sedikit saja rasanya sungguh sungkan. Sekarang, mereka hanya berdua, Bianca lebih bisa mengekpresikan dirinya.


Rain mendengar kata-kata Bianca yang tampak begitu semangat langsung mengerutkan dahinya, merasa perubahan dari Bianca yang biasanya cukup diam sekarang tampak begitu riang dan ceria, hal itu membuat Rain cukup senang.


Selesai mereka makan, Bianca membersihkan piringnya, membawa piringnya ke tempat cuci piring dan mulai membersihkannya, namun airnya ternyata terlalu dingin untuknya, bahkan Bianca merasa tangannya langsung mati rasa.


"Kenapa? " tanya Rain yang melihat Bianca menggenggam tangannya untuk menghangatkannya.


"Tanganku dingin, membeku," manja Bianca mengatakannya seolah anak yang mengadu pada orang tuanya, dia menyerahkan tangannya yang tampak pucat karena kedinginan itu, Rain yang melihat Bainca menyerahkan tangannya itu segera mengambil tangannya, perlahan dia menghembuskan napas hangatnya pada Bianca yang malah membuat hati Bianca yang meleleh karena kehangatannya, Rain mengenggam tangan Bianca, meletakkannya pada dua pipinya.


"Sudah hangat? " tanya Rain memandang lembut Bianca di depannya.


"Sudah," kata Bianca yang ternyata terperangkap dengan mata yang selalu menghipnotis itu.

__ADS_1


"Lain kali jangan mencucinya, biar aku saja, aku tidak terlalu bermasalah dengan dingin," kata Rain lembut, membuat Bianca hanya bisa mengangguk manja dengan bibirnya yang sedikit dimajukannya, hal itu sukses membuat Rain tertawa kecil, menarik istri manjanya itu dalam pelukannya lalu membawa Bianca ke arah ruang tengah mereka.


__ADS_2