
"Bangunkan dia," ujar Lidia yang baru saja sampai di tempat mereka menyembunyikan Rain.
Setelah Rain mengalami kecelakaan, para bawahan Lidia langsung mencari Rain dan berusaha membuat pria itu tetap hidup karena itulah perintah utama dari Lidia.
Saat Lidia sampai di tempat itu, dia melihat Rain sedang tak sadarkan diri dan dibiarkan terduduk, tubuhnya terikat dengan sangat ketat, melihat Rain tak berdaya seperti ini, Lidia merasa senang.
Seorang pengawal Lidia segera mengguyurkan air dingin pada tubuh Rain yang langsung bereaksi, luka di dahinya tampak mengeluarkan darah segar yang cukup banyak, memerahkan setengah wajah Rain yang putih.
Rain membuka matanya dengan susah, kepalanya sangat sakit hingga pandangannya kabur dan berkunang-kunang, dia bagaikan baru di beri minuman keras yang begitu banyak, semuanya terasa buram, hingga akhirnya dia bisa melihat sosok yang membuatnya terdiam.
Lidia tersenyum manis, dia lalu duduk di meja yang ada di depan Rain, Rain menatap wanita itu dengan sangat tajam, kebenciannya terhadap wanita ini sudah melewati batasnya, sekarang dia tak lagi peduli, dia akan membunuh wanita ini jika dia bisa.
"Kenapa? Ingin membunuhku? Sayang sekali kau terlalu meremehkan ku Kakak, kau tak menyangka aku bisa begini? Bukannya aku belajar dari yang terbaik, Dirimu yang dulu," ujar Lidia mengelus lembut wajah Rain dengan punggung jarinya, wajahnya sangat senang bisa melakukannya, sudah lama dia tak bisa melakukannya.
Rain ingin membalasnya, sayang sekali sebuah kain hitam besar menutupi mulutnya hingga menghalanginya berbicara.
"Ah, betapa aku rindu dirimu yang dulu, yang tak takut apa-apa, yang ada hanya dendam, tak menjadi lemah hanya kerena cinta, lihatlah kau sekarang, kau terlalu lemah. Kakak, akan ku buat kau kembali seperti dulu, Seorang yang tak punya hati dan belas kasihan bahkan untuk wanita sekali pun," ujar Lidia memegang kepala Rain, meletakkan bibirnya di bibir Rain yang tertutup kain, membuat Rain berontak, tak Sudi melakukan hal itu pada Lidia.
"Kasar sekali," kata Lidia dengan senyuman yang senang.
"Kau sudah datang, lama sekali," ujar seorang pria datang ke arah mereka, Rain membesarkan matanya, melihat sosok yang tampak santai menghisap rokoknya lalu membuangnya ke lantai dan mematikannya dengan cara menginjaknya.
"Jangan merokok jika aku ada di sini," ujar Lidia mendekati pria itu.
"Baiklah," ujar Drake, dia melipat tangannya di depan dadanya lalu memandang sinis ke arah Rain. "Terkejut?" Ujarnya lagi.
Rain mengepalkan tangannya, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun, Drake tak pernah lagi terlihat batang hidungnya selama ini, Lidia juga pergi dari negaranya itu semua agar Rain tak bisa melacak mereka, ternyata mereka bekerja sama.
"Lakukanlah sekarang," ujar Drake tak sabaran.
Rain menyipitkan matanya, apa yang mereka inginkan.
__ADS_1
"Kakak, aku harap kau tak akan sakit hati, tapi aku akan memberitahukanmu apa rencanaku, aku hanya butuh dirimu dan kau hanya harus mencoba mencintaiku, Sedangkan Drake, aku berjanji pada Drake untuk menyerahkan sebagian daerah kekuasaanmu padanya, jadi dia setuju untuk membantuku,tapi tenang saja setelah ini semua selesai aku yakin kau tak akan ingat semua ini, jadi kau tak perlu terlalu menderita," kata Lidia, dia meminta sesuatu pada asistennya, sebuah kertas.
"Lepaskan ikatan mulutnya, aku ingin dengar apa yang dia katakan sebelum semuanya menjadi milikku," ujar Drake memerintahkan.
Seorang penjaga langsung membuka kain mulut Rain, namun nyatanya Rain tak mengatakan apapun, dia tahu bahwa jika dia mengutarakan emosinya, hal itu malah menjadi hiburan untuk mereka.
"Aku ingin kakak menandatangani kertas ini, biar aku beritahu, ini menyatakan bahwa seluruh aset dan kepemilikan harta bergerak maupun tidak jatuh kepada keluarga Angkatmu, dalam hal ini adalah aku," ujar Lidia pada Rain.
Rain hanya diam, dia meludahi kertas itu, membuat tulisan di sana menjadi luntur, hal itu tentu membuat Lidia tak sabar.
"Jangan terlalu emosi kakak, kakak seharusnya ingat ada wanita yang ringkih dan sangat gampang untuk aku hancurkan di sini, oh, ya, atau kakak ingin melihat istri kakak yang murahan itu kembali di perkosa oleh Drake, dia pasti senang hati melakukannya, atau penjaga-penjaga ini, ah mereka akan sangat menikmati tubuhnya, jangan macam-macam kakak, nasibnya ada di tanganku sekarang," kata Lidia.
"Para pengikutku akan menjaga nya," kata Rain tak meragukan itu.
"Benarkah? Mana yang mereka pilih, dirimu atau istrimu itu, lagi pula mereka sudah terpecah, sebagian mencarimu sebagian lagi menjaganya, sedangkan kau tahu, kau saja bisa aku buat seperti ini, apalagi mereka dan istrimu itu, jika kau masih ingin melihat istrimu itu bernapas, maka ayo tanda tangani," kata Lidia.
"Kau benar-benar sudah gila," ujar Rain.
"Akhirnya kau sadar itu," kata Lidia.
"Fine! Itu tak masalah, aku tahu selain tanda tanganmu, kau selalu menggunakan satu hal yang dapat melegalkan semuanya, kau lupa aku tumbuh bersamamu, jadi aku hanya butuh sidik jarimu, dengan sidik jarimu saja bukannya semua bisa menjadi legal, kau katakan itu pada pengecara mu kan," kata Lidia licik, Rain memandang Lidia dengan sangat tajam, benar-benar dia akan membunuh wanita ini.
"Tak akan ku biarkan kau melakukan ini semua!" Kata Rain, dia tahu jika dia menandatangi surat itu pun, mereka tak akan melepaskan Bianca, malah mereka akan semakin berkuasa.
"Uh! Sayang sekali kau tak punya jalan lagi, Kakak, aku tadinya sangat berharap kau bangun dan hilang ingatan sehingga aku tak perlu menyiksa dirimu, tapi membuatmu lupa begitu saja sangat susah, karena itu mau tak mau aku harus melakukannya, seorang dokter dari Amerika butuh bahan percobaan untuk mesin penghapus memorinya, aku akan mengizinkanmu menjadi bahan percobaannya, aku ingin lihat apakah dia akan berhasil atau tidak! hahaha ... buat dia kembali pingsan, sudah cukup basa-basinya," kata Lidia, Drake di ujung sana hanya tersenyum sinis, Rain tampak cukup panik karena mendengar hal itu, Rencana itu terdengar sangat gila, dia tak ingin kembali menjadi pria yang penuh dengan kebencian, tak akan lagi.
Seorang penjaga segera memukulkan balok ke bagian belakang kepala Rain, seketika membuat Rain kehilangan kesadarannya.
"Hei, kenapa semua kekayaan Rain akan menjadi milikmu?" Protes Drake melihat ke arah Lidia.
"Ya, karena kalau tiba-tiba di berikan padamu semua akan kaget, aku adalah keluarga angkatnya yang terakhir, masuk akal bukan dia memberikan padaku, setelah itu aku baru menyerahkannya padamu," ujar Lidia menatap Drake yang ada di depannya.
__ADS_1
Drake memicingkan matanya, menatap wajah wanita yang sebenarnya sangat manis ini, namun dia tahu, kemanisan wajahnya itu hanya kedok, dia bagaikan rubah.
"Jangan macam-macam padaku, jika tidak kau tahu akibatnya," kata Drake mencengkram pipi Lidia.
Lidia nyatanya tak takut, dia menyunggingkan senyuman sinis, dengan pelan dia menghalau tangan Drake.
"Kau mengancam ku, tak ingat aku siapa? Tenang, wilayah itu akan jadi milikmu segera, tunggu saja dengan diam," ujar Lidia tak gentar sama sekali, bahkan kilatan ketakutan sama sekali tak tampak.
"Kenapa kalian memukul kepalanya?" Tanya seorang pria berwajah Eropa mendekati Rain.
"Oh, dokter, lalu?" Tanya Lidia sedikit bingung.
"Ini bisa merusak sel sarafnya," kata Dokter itu tampak cemas.
"Tapi tetap bisa dilakukan kan?" Tanya Lidia lagi.
Dokter itu mengerutkan dahinya, tak menyangka dia harus melakukan hal ini, dia kira dia akan mendapatkan bahan percobaan manusia yang suka rela, tapi ternyata dia harus memalukannya pada pria ini.
"Aku akan mencobanya, mudah-mudahan berjalan dengan baik," ujar Dokter itu.
"Aku tak suka mudah-mudahan, lakukan saja, " ujar Lidia.
"Berapa lama kau ingin hapus memorinya?" Tanya dokter itu.
"10 tahun."
"Terlalu lama, aku rasa otaknya tak akan bisa menerimanya, itu bisa membunuhnya," ujar Dokter itu, sebenarnya tak tega, tapi dia sudah terlanjur terlibat, pergi pun dia tak akan bisa.
"Aku tak peduli, lakukan saja, jika dia mati, berarti itu gagal, aku hanya mau 10 tahun, jika kurang dari itu, kau yang akan ku bunuh," ujar Lidia mengacungkan pistol tangan ke arah dokter itu yang segera membuat Dokter itu gugup.
"Baiklah, Bawa dia ke ruang penelitian," kata dokter itu, para penjaga yang ada di sana segera melepaskan tubuh Rain, sebelum mereka membawanya, Lidia mengambil sidik jari Rain dan menempelkannya di surat yang baru, sekarang semua aset Rain adalah miliknya, Lidia tersenyum sini sambil melihat tubuh Rain yang perlahan di bawa ke sebuah ruangan.
__ADS_1
"Kau memang wanita iblis," sindir Drake melihat Senyuman Lidia sambil memegang surat perpindahan kekuasaan itu.
"Kau tak akan pernah tahu, seorang wanita yang sudah tersakiti bisa menjadi sebuas apa, jadi mulai sekarang jangan coba-coba berkhianat padaku, ok," ujar Lidia kecil sambil menepuk dada Drake pelan, membuat Drake merinding melihatnya.