Rain In The Winter

Rain In The Winter
198


__ADS_3

Pikiran Bianca sedikit mengambang, sudah pukul 10 tapi Siena belum juga muncul di kamarnya, dia ingin meninggalkan anak-anaknya namun hatinya juga belum sepenuhnya bisa melakukan hal itu, dia sedang menunggu hasil dari pemeriksaan darah kedua anaknya, jika dokter Irene sudah mengatakan bahwa darah mereka telah bersih dari penyakit mematikan itu dan infus anak-anaknya sudah tercabut, dia pasti akan segera pergi ke tempat Rain.


"Mami, minta kuenya," kata Gio melihat ibunya yang terdiam, menatap kosong duduk di antara ranjangnya dan adik kembarnya.


"Oh, iya," kata Bianca, dia segera berbalik ke belakang dan mengambil kue yang ada di sana, sengaja di beli oleh Yuri tadi untuk cemilan si Kembar.


"Yuri, apa kau melihat Siena?" tanya Bianca yang tak tahan lagi menunggu Siena datang.


"Tidak Nyonya, aku tidak melihatnya, tadi saat mencari makanan, aku tidak melihat siapapun," kata Yuri yang baru selesai mandi setelah menyiapkan semua tugasnya.


"Oh, baiklah," kata Bianca menunduk.


"Mami, Mami khawatir dengan papi ya? " tanya Gio melihat ibunya yang tampak cemas, Gio mengerti sekali ibunya.


"Mami hanya ingin tahu keadaan papi," kata Bianca menyodorkan kue itu ke mulut anaknya.


"Kalau begitu mami lihat papi saja, Gwi dan Kak Gio sudah sehat," kata Gwi menimpali.


"Tidak apa-apa, mami menunggu hingga kalian benar-benar sembuh menurut dokter, setelah ini mami ke sana," kata Bianca tersenyum manis.


Baru saja dia selesai mengatakan hal itu, pintu ruangannya di ketuk seseorang, Bianca dan Yuri saling berpandangan, siapa yang datang, jika yang datang adalah Siena dia pasti langsung masuk saja tanpa mengetuk. Yuri yang mengetahui tugasnya segera membukakan pintu, Wajahnya langsung tampak sungkan.

__ADS_1


Bianca melihat ke arah pintu itu dengan lebih seksama, dia segera berdiri melihat siapa yang datang. Sosok Ceyasa dan Pangeran Xander yang pertama kali dia lihat, lalu seorang wanita dan juga gadis kecil seumuran Xander tampak di belakangnya, dia tak kenal itu siapa.


"Selamat datang Yang Mulia," kata Yuri memberikan salam.


"Terima kasih, " kata Ceyasa yang segera membalasnya dengan senyuman, Bianca segera menyambut mereka.


"Selamat datang Yang Mulia," kata Bianca memberikan salam, Ceyasa hanya mengangguk pelan.


"Maafkan kami baru bisa datang sekarang Bi, Archie sangat ketat dalam urusan aku pergi sendiri, akhirnya setelah dirayu dan juga harus membawa hampir selusin pengawalan, dia memberikan izin juga," kata Ceyasa yang langsung meninggalkan sifat anggunnya sebagai ratu.


"Tidak apa-apa," kata Bianca dengan senyumannya yang manis.


"Oh, iya, perkenalkan ini Suri, dia adalah anak dari Paman Angga, statusnya sama dengan Archie, jadi dia adalah keponakan dari Paman Rain," kata Ceyasa memperkenalkan sosok anggun di sampingnya, "Ini anaknya Gwyneth.”


"Suri mengalami Afasia Broca, sebuah kelainan dalam berbicara karena akibat penyakit keturunan itu juga, jadi dia biasanya menggunakan bahasa Isyarat untuk menyampaikan apa yang dia ingin katakan," kata Ceyasa menjelaskan, Suri hanya tersenyum mendengarnya, sudah biasa dan sudah mengerti jika ada orang yang membicarakan keadaannya, itu tidak lagi menjadi masalah baginya.


Bianca menatap Suri lagi, dia pikir wanita ini begitu sempurna, cantik, anggun dan begitu tampak berkelas, namun ternyata tetap saja memiliki sebuah kekurangan. Bianca cepat mengalihkan pandangannya tak ingin Suri merasa tersinggung karena ulahnya.


"Silakan duduk, maaf jika kami tak menyediakan apapun, Yuri bisa sediakan minuman dan makanan kecil? " perintah Bianca, Xander yang ikut sudah langsung menyambangi Gio dan Gwi yang masih duduk di ranjang mereka, Gwyneth hanya mengikuti kakak sepupunya itu.


"Tidak perlu sungkan, tentang hal ini kami sudah melewati banyak waktu di sini dan mengerti bagaimana keadaannya sekarang," ujar Ceyasa lagi, melihat Xander langsung akrab dengan Gio, Gwyneth tampak sedikit lebih susah bergaul, dia ingin mendekati Gwi namun sepertinya Gwi yang pendiam pun tak bisa memulai pembicaraan.

__ADS_1


Suri segera menggerakkan tangannya, memberikan sebuah kata-kata dengan gerakan isyaratnya, Ceyasa memperhatikannya dan segera memberitahukan apa maksud dari Suri, dia yakin Bianca tak mengerti hal ini.


"Suri ingin mengatakan, bahwa dia ingin berterima kasih, sebenarnya ingin berterima kasih langsung pada Paman Rain yang sudah menolongnya, dulu Darah Paman Rain menjadi penyelamat untuknya, jika tidak ada Paman Rain mungkin ceritanya akan berbeda," ujar Ceyasa yang mencoba mengartikan apa yang dimaksud oleh Suri, Suri tersenyum manis lalu mengangguk, membenarkan apa yang disampaikan oleh Ceyasa.


"Benarkah?" kata Bianca, dia tak tahu bahwa Rain dulu pernah melakukan hal itu. Dia juga baru tahu bahwa Rain punya keponakan lain selain Archie.


"Ya, mungkin Paman Rain juga belum pernah mengatakan hal ini karena saat itu keadaannya berbeda dan di juga sepertinya tidak tahu pernah menolong Suri, tadinya kami berpikir Si kembar dan juga Paman di rawat di ruang yang sama, ternyata tidak, oh, Ya, Siena juga bilang dia akan segera kemari, " kata Ceyasa lagi.


"Ya, dia ada di lantai atas, Siena dan Ken yang menjaganya karena aku harus fokus dengan si kembar, Gwi mengalami demam tinggi kemarin," kata Bianca menjelaskan, senyumnya sedikit kecut, perasaan cemasnya kembali memikirkan keadaan suaminya, bagaimana dia sekarang? adakah perubahan? Baik kah atau kearah yang buruk?


Suri kembali memberikan bahasa isyaratnya.


"Suri bilang, dia tahu bagaimana perasaan Bibi, dia yakin Bibi pasti merasa sangat berat, saat Gwyneth dulu sakit, dia juga sangat tertekan, apalagi bibi yang harus memperhatikan si kembar juga Paman sekaligus," kata Ceyasa menjelaskan.


"Aku hanya berharap dia baik-baik saja di sana," kata Bianca, matanya meredup dan suram, entah kenapa ingin sekali sekarang berada di lantai atas, walaupun Rain tak ada perbaikan, dia akan senang mengetahui kabar suaminya itu.


"Jangan khawatir bibi, semua akan baik-baik saja, tak perlu risau, jika nantinya memang darah Archie tidak bisa menyembuhkan paman, aku akan mencoba meminta solusi agar darah Xander bisa kembali di buat untuk serum," kata Ceyasa, menangkap kesuraman dari sorot mata Ceyasa.


"Terima kasih," kata Bianca mencoba tersenyum manis, Ceyasa juga membalas senyuman itu.


Tak lama pintu ruang rawat itu terbuka, sosok Siena akhirnya muncul juga, Mata Bianca segera menatap harap pada Siena, namun dia tak bisa langsung menanyakannya pada Siena yang seolah tahu maksud dari tatapan Bianca yang menyambutnya itu.

__ADS_1


"Pagi kakak-kakakku sekalian," ujar Siena tampak ceria, Bianca yang manangkap wajah ceria dari Siena itu sedikit menarik napasnya, jika dia terlihat begitu ceria pastinya keadaan Rain baik-baik saja.


__ADS_2