
"Bukannya tempat ini khusus militer, tempat ini aman bukan?" Kata Luke kaget, sama kagetnya dengan semua orang, Bianca bahkan seperti di sambar petir mendengarnya, benarkah mereka serius ingin melenyapkan mereka, Bianca menatap Siena yang mendekatinya, dia sudah mendengar ceritanya dari Ken, wanita ini pastilah sangat terpukul, dilupakan bahkan Sampai ingin dilukai oleh suaminya sendiri, sekarang ntah apa lagi yang akan terjadi.
"Tidak, jika Antony yang memimpin, dia bisa bebas masuk ke sini, dia juga anggota militer," ujar Ken.
"Kita harus segera bergerak, Antony mengatakan kalau dia menemukan kita, kali ini dia tak akan bisa membuat kita lolos lagi," ujar Bram.
"Baiklah, Siena, kita harus pulang sekarang," ujar Ken.
Siena mengangguk, dia melihat Bianca.
"Kakak, ikutlah denganku," ujar Siena, setidaknya mereka bisa memantau keadaan di sini dari sana, juga bisa memastikan Bianca aman bahkan hingga dia melahirkan.
"Tidak bisa, dokumen dan paspor Nyonya semua ada di kediaman utama, kita tak membawanya saat pergi, Nyonya bukan warga negara di sana, akan menjadi masalah, lagipula kehamilan muda sangat beresiko di atas pesawat," ujar Yuri menjelaskan.
Siena tentu tak masalah dengan dokumen, ayahnya bisa mengatur hal ini semua, tapi jika berisiko dengan kehamilan Bianca, maka lebih baik jangan, akan sangat menyiksa bagi Bianca, kehilangan suami juga kehilangan anaknya.
"Aku akan membawanya pergi," kata Bram langsung, hal itu membuat semua mata menatapnya, bahkan Bianca juga tak percaya.
"Aku ikut denganmu," ujar Yuri.
"Baiklah, aku, Yuri akan menjaga Nyonya di sini," kata Bram, dia menatap ke arah Bianca, walaupun dia enggan, namun tak lagi bisa mengikuti egonya, semua demi kebaikan dirinya, anaknya dan semuanya.
"Baik, aku akan menyiapkan semuanya," kata Yuri bertindak cepat.
"Baik, bawalah mereka ke tempat yang bahkan aku tidak bisa menemukanmu," kata Ken pada Bram menepuk pundak Bram. Bram hanya bisa mengangguk mantap.
Siena menatap ke arah Bianca, mata suram itu menatap ke arah Siena, Siena langsung memeluk tubuh kurus itu.
__ADS_1
"Sampai jumpa lagi Kak, semoga kita bertemu lagi," ujar Siena tak punya waktu berbasa basi lagi, matahari mulai terbenam.
Saat matahari tinggal sedikit di ufuk barat, Ken dan Bram sudah bersiap, mereka saling menyapa dari mobil masing-masing. Luke dan Siena ikut dengan Ken, sedangkan Yuri dan Bianca berada di mobil Bram.
"Sampai jumpa lagi, hubungi aku sebisa mu," ujar Ken.
"Baiklah, ayo berpencar," kata Bram Mulai memasukkan gigi mobilnya.
"Baik," kata Ken dan mereka segera menekan gas mereka mencoba untuk sejauh mungkin pergi dari sana.
---***----
4 tahun kemudian
"Aku ingin bertemu dengan suamiku," ujar Lidia menatap pintu besar yang tertutup.
"Tapi aku sudah tidak bertemu dengan suamiku 2 Minggu, aku harus bertemu dengannya sekarang, kau berani menahanku?" Kata Lidia bersikeras membuat suara gaduh yang sangat, Rain yang ada di dalam terusik karenanya.
"Saya akan melaporkannya dulu Nyonya, mohon tunggu," ujar Antony lagi, dia segera masuk, Rain segera menatapnya.
"Nyonya Ingin bertemu dengan anda, Tuan," kata Antony dengan sikapnya yang hormat.
Rain sebenarnya tak ingin di ganggu siapa-siapa, sudah 3 tahun ini dia lebih menjadi orang yang suka menyendiri, rasanya seluruh hidupnya yang di ceritakan oleh Lidia begitu banyak drama, hingga dia sendiri pun tak bisa menerimanya.
"Biarkan dia masuk," ujar Rain datar, Antony mengangguk dengan mantap, dia membuka pintu besar itu, Lidia tampak angkuh dan kesal, Rain memberikan gestur agar Antony keluar, Antony mengerti lalu segera keluar dari sana.
Lidia berjalan angkuh ke arah Rain yang bergeming, dia kembali menatap laptopnya, seolah tak menganggap wanita itu ada.
__ADS_1
"Kakak!" Kata Lidia kesal, sudah 4 tahun dia mendapatkan Rain, tapi apa, nyatanya pria itu tetap saja begitu dingin dengannya.
Walaupun Lidia mencoba menggodanya, mencoba untuk memaksanya, melancarkan serangan duluan pun Rain tak pernah menganggapnya, bahkan terakhir kali dia mencoba mendekat pada pria itu, Rain malah makin menjauh darinya, pria ini malah lebih sering tinggal di apartemennya dengan alasan lebih dekat dengan kantornya, terkadang dia lebih suka berpergian ke cabang perusahaannya, menghabiskan waktu 1 bulan bahkan pernah 3 bulan dia tak pulang hingga Lidia harus datang melihatnya, Rain selalu saja beralasan dia belum mendapatkan perasaannya kembali pada Lidia, dan melakukan hubungan suami istri seperti biasanya tak bisa dia lakukan.
"Ada apa?" Tanya Rain bahkan tak ingin melirik ke arah Lidia, dia tak ingin memberikan harapan pada wanita ini, sudah dia coba untuk menemukan alasan dia menikahi adik angkatnya ini, namun sama sekali tidak bisa dia temukan, karena itu dia tak ingin memberikan harapan bahwa pria yang dulu menikahinya itu masih ada.
"Aku sudah tak bertemu denganmu lebih dari 1 bulan dan kau tidak pernah menghubungi ku sudah 2 Minggu ini," kata Lidia mendekati suaminya, bau rokok yang menyengat menyeruak di sana, suaminya ini benar-benar menjadi pecandu rokok sekarang.
"Aku sibuk," katanya datar, sekali lagi tanpa melihat ke arah adik angkatnya itu.
"Kakak!" Kata Lidia mengebrak meja, benar-benar merasa tak dihargai, apa bedanya dia menghapus memory Rain jika begini.
Gebrakan Lidia itu menyulut Rain, inilah salah satu sifat Lidia yang tak pernah dia sukai, selalu emosi dan juga tak bisa mengontrolnya, bagaimana dulu dia bisa menikahinya.
"Kenapa kakak bahkan tak ingin melihat ku?" Tanya Lidia ketika Rain akhirnya menatapnya, cukup frustasi dengan hidupnya.
"Aku hanya ingin bekerja dengan fokus, kau sudah selesai, aku harus pergi ke tempat investasi ku yang baru," kata Rain menutup laptopnya lalu mengambil jasnya, membuat Lidia bahkan terbengong dengan sikap Rain yang terkesan menghindarinya.
Rain pergi begitu saja meninggalkan Lidia.
"Kapan kakak akan pulang?" Tanya Lidia menarik napas, mencoba lebih sabar lagi.
"Tak tahu, mungkin 2 Minggu saja," kata Rain, memberikan jas dan laptopnya pada Antony yang menerima dan menyiapkan helikopter agar menuju bandara, tempat Jet Rain sudah siap.
Rain melirik ke arah Lidia yang tampak kesal, "Baiklah, aku pergi," kata Rain bahkan tanpa menunggu respon dari Lidia.
Lidia yang melihat Rain pergi begitu saja menggertakkan giginya, mengenggam tangannya erat dia bahkan menghentakkan kakinya dengan sangat erat, kesal sekali rasanya, padahal dia sudah melakukan semuanya bahkan meleyapkan orang-orang yang akan menghalanginya namun sikap Rain tak ada ubahnya seperti sebelum dia kehilangan ingatannya.
__ADS_1