
Rain duduk dengan mata kosongnya, tubuhnya memang ada di ruang rapat itu, namun pikirannya tidak, sudah lama mengembara tak tentu arahnya.
Dia memang sengaja menyuruh Ken untuk menjaga dan menggantikan dirinya agar wanita itu tak kecewa karena Rain sudah berjanji ingin membawanya bermain Ice Skating, namun dia ternyata punya urusan lain.
Namun sekarang pikiran Rain nyatanya tetap saja jatuh pada wanita itu? sedang apa dia? apa dia bersenang-senang? apa dia sedang bermain Ice Skating? bagaimana jika dia jatuh, itu terus tergiang dalam pikiran Rain.
Rain tiba-tiba berdiri, dia sudah tak tahan menahan gusar yang membuatnya malah tak bisa mengikuti rapat ini, untuk apa dia ada di sana tapi dia tak tahu apa isi rapat ini sebenarnya?
Rain segera berjalan, dia lalu menelepon Ken dan pergi dari ruangan itu, membuat seluruh peserta rapat kebingungan, haruskan rapat ini dilanjutkan atau menunggu pemilik perusahaan ini kembali pada tempatnya? atau dibubarkan saja? mereka semua saling berpandangan, Tuan Rain tak pernah begini sebelumnya.
"Apa yang sedang dia lakukan?" tanya Rain ketika panggilan itu diangkat oleh Ken.
"Nona sedang berselancar sangat indah, eh, maksud saya, Nona pintar berselancar," ujar Ken yang tak tahu apa yang baru dia katakan, terlalu terkesima dengan gerakan Bianca mengitari lapangan es itu, sangat anggun membuat seorang Ken bahkan kehilangan fokusnya.
Rain yang mendengar kata-kata Ken segera memberhentikan langkahnya dan wajahnya menjadi dingin sedingin lapangan ice skating itu, bukannya tenang dia merasa semakin parah, apa yang Ken lihat tapi dia tak lihat?
"Kirimkan videonya sekarang!" perintah Rain dengan nada emosi, menunggu cemas apa yang akan dikirimkan Ken padanya.
"Baik Tuan," kata Ken segera.
Rain segera pergi menuju lift khususnya, dia langsung turun ke parkiran bawah tanah, saat di lift itulah dia melihat video yang dikirimkan oleh Ken, Rain membesarkan mataya seolah baru saja melihat video tentang pembunuhan, padahal dia hanya melihat bagaimana anggunnya Bianca di atas es itu. Dia tampak geram melihat Bianca melenggok, dia kesal karena Bianca melakukannya saat dia tak ada.
__ADS_1
Rain segera keluar dari lift itu, dia segera disambut supir yang gelagapan karena bingung kenapa tiba-tiba Rain turun tanpa menjagaan dan pemberitahuan, biasanya dia selalu diberitahu untuk menyiapkan mobil sebelumnya.
"Kunci!" pinta Rain, supir itu makin bingung, dia hanya menyerahkan kunci itu, dan dengan cepat Rain masuk ke dalam mobilnya, menghidupkannya lalu cepat pergi dari sana.
Rain melajukan mobilnya cepat mengoyak jalanan yang untungnya tak begitu ramai, cukup beberapa menit dia qampai juga di sana karena tempatnya memang tak terlalu jauh dari perusahaannya.
Dia langsung keluar dan masuk ke dalam gedung itu, saat dia masuk dia bisa melihat di sana gelap, tak berapa lama suara lagu menggema, membuat Rain kembali kaget dan mengerutkan dahi.
Saat dia sudah masuk, dia terdiam melihat Bianca yang sedang menari dalam ber-skating, lampu sorot yang hanya meneranginya membuat sosoknya benar-benar jadi pusat perhatian, itu yang bisa dia rasakan dan dia lihat, Ken terus menatap wanitanya, hingga akhirnya Ken sadar atas kedatangannya dan dia menunduk.
Rain kembali melihat ke arah Bianca, wanita itu sepertinya tak sadar akan kehadirannya karena di sana gelap, dia terus melakukan aksinya, menari di atas es.
Bianca menyudahi tariannya sesuai lagunya, saat dia memberikan salam lampu lalu di hidupkan, Bianca mengangkat kepalanya perlahan dengan napasnya yang terengah, merasa masih mempersembahkan tarian itu untuk rasa terima kasih bagi Yuri dan Ken, namun yang dia temukan mala Rain yang berdiri terpaku melihat wanita itu.
Mata mereka berpaut sejenak, Rain hanya melihat sosok indah itu di depannya, tampak begitu mempesona dengan segala yang dia punya.
Bianca pun begitu, menatap sosok gagah yang sudah menyusup di hatinya, Bianca tersenyum manis, ternyata dia juga sempat memberikan tarian terima kasihnya pada pria itu.
Bianca memulai langkahnya untuk mengarah ke Rain, saat sudah hampir di depan Rain dia baru berhenti, wajah senang dan sumringahnya maksimal terlihat, membuat Rain menaikkan sedikit sudut bibirnya menjadi lengkungan senyum tipis, senang sekali bisa membuat wanita itu tersenyum seperti ini.
"Kau datang?" kata Bianca yang benar-benar bahagia melihat Rain di sini.
__ADS_1
"Ya, aku datang," ujar Rain yang tanpa sadarnya malah maju dan memeluk Bianca dengar erat, tak tahu dari mana dorongan itu muncul, namun dia hanya ingin merasakan kehangatan itu di tempat yang terasa dingin ini.
Bianca yang ditarik dalam pelukan Rain tentu kaget, pria ini spontan sekali jika melakukan sesuatu, namun perlahan Bianca merasa nyaman dalam pelukan itu.
Rain dan Bianca duduk di tepian lapangan es itu, Rain tak ingin melepaskan pelukannya namun tak mungkin juga melakukannya seterusnya, jadi dia putuskan membawa Bianca duduk di tepian itu, Bianca menyandar manja di bahu Rain.
"Kau tahu, ibuku dulu adalah seorang altit Ice skating, dia sangat cantik menggunakan gaun ice skatingnya, dia sangat berbakat, di sana juga akhirnya dia bisa bertemu ayahku dan mereka jatuh cinta, itu keputusan paling buruk yang pernah dia buat," kata Bianca tampak menerawang jauh lewat es yang ada di depannya.
"Jika mereka tak bertemu maka kau tak akan ada," ujar Rain seperti biasa, datar tak bernada.
Bianca tersenyum tipis mendengarnya, bukan kata-katanya namun nada datar yang malah dia rindukan sekarang.
"Karena itu ibuku memberikan nama Bianca untukku, karena dia begitu menyukai musim dingin dan juga salju, dia selalu bercerita tentang dia berselancar dan saat itu turun salju, dia berjanji jika dia punya anak perempuan, maka dia akan memberikan namanya salju," cerita Bianca lagi, Rain hanya melihat wanita yang terlihat manja menggelayut di bahunya, tak punya niat untuk membalasnya, dia suka keheningan ini.
"Rain," halus Bianca berbicara.
"Hmm?"
"Jangan pulang ya? bisa kita menghabiskan malam di sini?" tanya Bianca semakin mendusel di bahu Rain, suaranya manja terdengar, baru kali ini Rain tak merasa terganggu dengan nada-nada manja itu, padahal dulu dia sangat tak menyukainya.
"Ya," kata Rain, dia mengiyakan saja padahal dia tak ingin tidur di sini semalaman.
__ADS_1
Bianca menaikkan kepalanya, menatap pria yang sedingin hamparan es di depannya. Perlahan dia mendekatkan bibirnya mengarah ke arah Rain, pria itu tanggap apa yang ingin dilakukan oleh Bianca.
Dia tahu dia harusnya menolak hal ini, tapi entah kenapa tubuhnya tak sejalan, enggan menjauh dan nyatanya dia pun mendekatkan tubuhnya, bibir mereka bersentuhan, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh mereka, di bawah sorot lampu di depan lapangan es yang mengabut, ciuman itu terasa melelehkan segalanya, bahkan hati yang sudah membatu sekali pun.