Rain In The Winter

Rain In The Winter
83.


__ADS_3

Di sana Rain sudah menghidupkan perapian, membuat suasana rumah itu menjadi hangat, di atas sofanya bianca melihat 2 selimut tebal dan sebuah kotak yang menurutnya adalah coklat yang ada di atas meja juga dua buah gelas champagne yang sudah terisi.


"Mau nonton film?" tanya Bianca.


"Tadinya hanya ingin menghabiskan waktu menghangatkan diri di depan perapian, tapi jika ingin menonton juga boleh," kata Rain pada istrinya.


"Punya TV yang sangat besar kalau tidak menonton tidak akan menyenangkan," ujar Bianca lagi.


"Ya, di sana, pilih saja, ini terhubung dengan internet, cari saja apa yang kau inginkan," kata Rain yang duluan duduk di sofanya, membiarkan Bianca mengambil remot TV dan menghidupkan TV 110 inch itu, bahkan layarnya lebih besar dari pada dirinya. Bianca terpekik senang, dia lalu segera bergabung dengan Rain, duduk bersandar di tubuh suaminya dengan manja, Rain yang melihat perubahan positif dari Bianca ini mengembangkan senyum senang, ternyata apa yang dikatakan oleh dokter Joselin itu benar adanya.


Bianca awalnya memilih sebuah film horor yang menurutnya cocok dilihatnya berdua dengan Rain, karena jika dia menontonnya sendiri dia pastinya tak berani, tapi karena penasaran dan Rain juga tidak protes dia menonton film itu akhirnya dia bemar-benar melakukannya, walaupun disepanjang menonton film itu Bianca malah lebih banyak bersembunyi di tubuh Rain, terkadang memeluk suaminya itu yang membuat Rain tak bisa menahan geli melihat tingkah Bianca ini, di sadarinya atau tidak, Bianca benar-benar berubah.


Akhirnya film yang cukup membuat Bianca memacu adrenalin walaupun tak banyak dia lihat selesai juga, Bianca yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hanya menyisakan kepalanya itu menghela napas leganya, akhirnya film itu selesai juga, dia menyesal menontonnya.


"Ah, aku tidak ingin nonton film horor lagi, mengesalkan," kata Bianca mengumpat film pilihannya sendiri, Rain mengerutkan dahinya melihat tingkah Bianca yang kesal sendiri, padahal dia sendiri yang memilihnya, dia yang memutuskan ingin menonton film itu, tapi dia yang marah-marah sendiri, lagi-lagi tingkah Bianca membuat Rain tetawa kecil sambil mengambil champagnenya.


"Kenapa tertawa," tanya Bianca kesal karena sepertinya suaminya ini malah mengejeknya.


"Tidak, aku tidak tertawa, hanya lucu melihat kau marah-marah dengan film yang kau pilih sendiri, bukankah itu lucu? " kata Rain yang hanya bisa tertawa kecil melihat lirikan sinis istrinya ini, sudah lama dia tidak melihatnya, terakhir saat mereka masih sama-sama di hutan.


"Karena kau tertawa, aku akan menonton film yang lain," kata Bianca lagi mengambil remote Tvnya, mencari-cari film sebelum suaminya ini mengatakan setuju atau tidak.

__ADS_1


"Ya, silakan," kata Rain yang mau tak mau mengikuti apa keinginan gadisnya ini, bagaimana pun saat ini memang di dedikasikan untuk Bianca, terserahlah dia mau apa, walaupun Rain sebenarnya tidak suka dia akan menahannya sementara demi kesembuhan mental istrinya ini.


Bianca menemukan sebuah film romansa yang ingin dia tonton, dulu dia pernah mendengar bahwa film ini sangat bagus, namun karena dulu dia tidak punya waktu apalagi uang untuk menontonnya di bioskop, Bianca jadi tak bisa melihatnya, saat ini dia bisa menontonnya, pasti dia semangat melihatnya.


"Film apa ini? " tanya Rain yang melihat Bianca sudah kembali melompat di sampingnya, duduk meringkuk sambil kembali menjadikan tubuh Rain sebagai sandarannya, memang sandaran tubuh Rain itu yang paling nyaman. Bianca mendongakkan wajahnya agar bisa melihat ke arah Rain.


"Cinta, ini tentang seorang pria yang terus mengejar istrinya yang hilang ingatan akibat kecelakaan, awalnya suaminya sangat semangat namun karena terus di tolak dan istrinya mengatakan mereka tidak akan bisa kembali jadilah mereka berpisah, namun akhirnya saling jatuh cinta kembali, bukankah itu menakjubkan?" tanya Bianca manja sambil melihat wajah suaminya yang hanya diam mendengarkan penjelasannya.


"Terdengar tidak masuk akal untukku," ujar Rain yang memang tidak menyukai film-film seperti ini, dia langsung meminum champangenya, Bianca yang kesal menyiku perut suaminya ini dengan pelan namun sedikit membuat Rain terkejut.


"Kau harus menontonnya! Awas ketiduran," ancam Bianca lagi pada Rain yang terlihat kaget akibat apa yang dia lakukan, walau wajahnya terlihat malas, Rain mau tak mau hanya mengangguk.


Film itu berjalan seperti biasanya, awalnya Rain pun tak memperhatikan namun melihat wajah serius dari Bianca yang bahkan tak bisa berkedip melihatnya, Rain menjadi cukup penasaran dan jadinya menonton film itu, di tengah film itu ada adegan di mana kedua pemeran utama pria dan wanitanya mandi di danau yang dingin dengan hanya menggunakan pakaian dalam mereka, setelah itu scene berpindah ke rumah mereka dan di sana mereka terlihat begitu dekat dan intim hingga masuk ke adegan yang menjurus ke sebuah hubungan suami istri, walau adegan itu tidak ditunjukkan namun cukup membuat menggelitik buat Rain, apalagi istrinya sekarang ada di sampingnya.


Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Bianca yang nyatanya juga tidak berpaling, Bianca membiarkan kehangatan dari bibir Rain segera menyelimuti bibirnya, terpaan napas hangat dan berat yang sama-sama mereka rasakan menyapu kedua pipi mereka. Rain mencium lembut membiarkan Bianca terbiasa dan bisa menikmatinya, sesaat dia melepaskan bibirnya agar bisa melihat bagaimana reaksi Bianca, dan wanita itu seperti menuntut lebih yang membuat Rain sepertinya juga tak tahan lagi melanjutkannya, dia kembali mencium Bianca dengan sangat ganas, tangannya memengang kedua sisi kepala bianca.


Bianca yang menadapatkan itu tak seperti biasanya yang hanya diam dan pasif, entah kenapa sensasi yang diberikan oleh Rain, rasa nyaman dan hangat itu membuatnya ingin menuntut lebih, ingin merasakan lebih dalam, dan lebih lagi. Bianca melawan permainan bibir Rain yang membuat Rain semakin beringas karenanya, melupakan apa yang seharusnya dia lakukan, lembut dan perlahan.


Rain mendorong tubuh istrinya agar tiduran di sofa itu, Bianca pun tak bisa menolaknya, dia menaiki tubuh Bianca menahannya diantara kedua kakinya, Rain dengan tatapan penuh nafsunya memandang Bianca yang juga tampak terengah-engah akibat perlakuan dari suaminya itu, Rain membuka sweaternya membiarkan tubuh atasnya Kembali terekspos.


Rain lalu menurunkan tubuhnya dengan bertumpu pada dua tangannya seakan dia mengurung tubuh Bianca. Kepala Rian tepat di atas wajah Bianca.

__ADS_1


"Kau tak masalah dengan ini? Apa sudah sesak?" Tanya Rain lembut.


Bianca menggelengkan kepalanya, dia hanya merasa dirinya sesak tapi karena hal lain.


"Apa harus aku lanjutkan?" Kata Rain yang masih punya sedikit ingatan bahwa dia tak boleh memaksa Bianca. Bianca menggigit bibirnya, tak tahu dia harus apa, takut mengiyakan namun akhirnya malah mengecewakan, namun takut pula menolak karena perasaannya yang menggebu.


Rain diam sesaat, dia tahu walaupun tampak sudah lebih membaik dari sebelumnya namun Bianca juga belum yakin tentang dirinya.


"Nikmati saja dulu," ujar Rain,


Rain segera mencium bibir Bianca, Rain juga kembali memberikan sentuhan-sentuhan yang terkadang begitu lembut dan pelan tapi terkadang juga terkesan kasar dan keras, hal ini yang membuat Bianca semakin tak bisa mengontrol dirinya, perlahan Rain melucuti satu persatu yang melekat pada tubuh Bianca, Rain menahan dirinya melihat lekuk tubuh indah istrinya, dia tak berniat untuk melakukan Aksi itu pada Bianca, dia hanya ingin memuaskan istrinya ini saja agar dia tahu bahwa Rain tak akan menyakitinya.


Bianca terpekik saat tangan Rain menyentuh daerah yang membuatnya kaget, Bianca segera menghentikan Rain menyentuh daerah sensitif itu.


"Jangan," pinta Bianca yang takut kenikmatan yang berlebih yang diberikan oleh Rain dan membuatnya gila, apalagi sekarang Bianca sudah tak memiliki sehelai benang pun.


Rain tersenyum manis, dia menatap mata sendu yang semakin menggoda itu, dia lalu memeluk tubuh Bianca, dan memposisikan bibirnya tepat di telinga Bianca.


"Aku akan membuatmu merasa nyaman, nikmati saja," kata Rain mulai melakukan serangan dengan sentuhan-sentuhan jari jemarinya, memeluk Bianca yang tampak meronta, bukan karena ketakutan namun juga sensasi yang membuatnya bahkan tak bisa ingat apapun lagi, hanya kenikmatan yang terasa, dia mengerang, lengguhan suara yang sangat menggoda tepat di samping telinga Rain, pria itu hanya menatap bagaimana wajah Bianca yang merasakan kenikmatan, terlalu menggoda apalagi melihat lirikan matanya.


Bianca merasakan kilatan yang membuat dunianya serasa berhenti berputar, tubuhnya menegang dan membuat napasnya tersengal, dia memeluk erat tubuh Rain bahkan tanpa sadarnya mencengkramkan kuku-kukunya dan membuat goresan panjang di punggung pria itu.

__ADS_1


Rain berhenti ketika hal itu terjadi, mendengarkan suara napas Bianca yang cepat dan dangkal, tubuhnya tak lama melemas dalam pelukannya, walaupun punggungnya terasa nyeri, namun dia puas membuat istrinya bisa merasakan hal itu, dia melihat wajah Bianca yang tampak lemas, meliriknya pun sudah tak bisa, Rain menaikkan satu sudut bibirnya, mengecup pelan bibir Bianca dan membiarkan wanita itu menikmati sisa-sisa surga dunianya, Rain hanya menarik selimut membiarkan tubuhnya dan tubuh Bianca tertutupi agar istrinya ini tidak jatuh sakit.


"Sudah?" Tanya Rain pada Bianca yang akhirnya bisa mengatur napasnya. Bianca mengangguk pelan, lalu masuk lagi dalam pelukan suaminya karena malu dengan apa yang terjadi, baru kali ini dia merasakan pengalaman itu, pengalaman yang tak akan pernah akan dia lupakan, Rain terus memeluk tubuh polos istrinya, membiarkan wanita itu tertidur dalam pelukannya yang juga akhirnya membuatnya tertidur dalam kehangatannya.


__ADS_2