
"Maafkan kami Tuan, namun perdarahannya cepat sekali, seluruh pembuluh darahnya pecah, terutama bagian otak dan paru-parunya, maafkan kami," ujar Dokter itu dengan sangat menyesal, keadaan Carel benar-benar stabil tadi malam, namun menjelang pagi, dia mulai kritis dengan perdarahan hidung dan telinga yang tanpa henti, kejang dan panas yang mengerikan, Bahkan dokter tak bisa lagi berbuat apa-apa.
Rain hanya mengangguk, melirik sejenak pada tubuh kecil yang diselimuti oleh selimut putih itu, sebuah kehilangan yang cukup memukul batinnya.
---***---
Hujan cukup deras dan awan mendung yang tiba-tiba menyelimuti hari ini membuat dingin dan sendu suasana di pemakaman itu, Bianca berdiri diam melihat peti mati itu masuk ke dalam liang lahat, peti mati putih dengan bunga-bunga putih, sangat indah terlihat.
Setelah mendapatkan kepastian kematian Carel, mereka cepat mengurus jenazahnya, membawanya kembali ke Ibukota, Rain memutuskan menguburkannya di pemakaman keluarga, tepat di sisi kuburan ibunya.
Rain tampak tegar, wajahnya diam dan dingin, namun hanya Bianca yang tahu, tangan Rain begitu dingin dan gemetar, tanda dia menahan perasaannya.
Bianca tak bisa lagi menangis, matanya perih dan bengkak, hidungnya sudah sangat memerah dan tersumbat, entah sudah berapa liter air matanya yang tertumpah, kehilangan seseorang memang adalah salah satu hal yang terus terjadi padanya.
Bahkan alam pun seperti turut berduka, saat mereka membawa tubuh Carel yang bahkan tampak begitu damai bagai malaikat tertidur, hanya kapas yang menutupi hidung dan telinga agar darah tak lagi merembes keluarlah yang menandakan dia sudah tak bernapas, Suasana masih cerah, namun saat mereka mengantarkan ke pembaringan terakhirnya, alam gelap mulai muncul, tak lama hujan sedingin es menghantam tanah. Tak banyak orang yang mengantarkannya pada peristirahatan terakhirnya, hanya beberapa orang penjaga dan juga asisten-asisten mereka, namun itu malah menambah sesak keadaan.
"Jangan Coba-coba menguburkan anakku!" Teriak seorang wanita memecah haru suasana, Rain dan Bianca yang berada dalam satu payung menatap ke arah suara.
Samar seluet seorang wanita berjalan tanpa peduli di bawah guyuran hujan, kelamaan semakin jelas, sosok Lidia datang dengan gaun kuningnya yang tampak lusuh terkena hujan, dia langsung mengarah ke arah lubang peristirahatan Anaknya.
Dia tampak tak percaya, dia menutup mulutnya yang ternganga, tampak cukup terpukul hingga jatuh tersujud di tanah basah dan berlumpur, seluruh tubuhnya basah kuyup, suara tangisnya yang meraung tersamar dengan suara hujan yang menderu terhalang payung hitam.
Namun Bianca tampak mengerti, Lidia tak mungkin berakting seperti itu, tentu walaupun dia hanya menciptakan Carel untuk mendapatkan Rain, tapi dia yang mengandungnya, dia yang merawat anak itu hingga sebesar ini, satu atau beberapa momen pasti ada yang berkesan dilewatinya dengan Carel, apalagi anaknya yang begitu tampan, pintar dan lucu itu sangat lihai mengambil hati orang.
Rain kembali meremas tangan Bianca, rasanya raungan Lidia menyayat hati siapapun juga, Rain pasti merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Lidia bangkit, hujan nyatanya sedikit mengurangi kehadirannya, mungkin bersimpati ketika melihat seorang ibu menangis kehilangan putra semata wayangnya, Gaun kuning nya sudah berlumur dengan lumpur, baru saja berdiri dia seolah ingin masuk ke dalam liang lahat anaknya, dia memang ingin masuk, dia ingin melihat wajah anaknya untuk terakhir kalinya.
Kemarin saat dia kembali ke ruang rawat anaknya, dia sudah tak menemukannya, dia mencari dan mencari namun tak satupun yang memberitahunya hingga pagi ini, sebuah kabar menyambarnya bagaikan petir yang datang sebelum badai, membuatnya langsung lemas saat itu juga, anaknya yang lucu sudah tiada.
Saat Lidia ingin melompat turun, untunglah para penjaga langsung sigap menahan dirinya, bahkan Rain tak sadarnya melepaskan pautan tangannya dengan tangan Bianca segera mencoba menahan Lidia, berjalan ke arah Lidia di tengah hujan. Bianca hanya diam, mencoba mengerti suasana walaupun ada rasa tak enak yang mengganggunya, tentu tak munafik saat suami kita mendatangi wanita dari ibu kandung anaknya, pasti ada rasa khawatir yang muncul.
"Anakku sudah tak ada lagi," kata Lidia, akhirnya Raungannya terdengar jelas, air matanya bercampur hujan yang rintik namun kesedihan dari matanya terlihat jelas.
"Relakanlah," ujar Rain, tak ada yang tahu bahwa dia juga tak bisa menahan air matanya, rasanya sakit juga harus kehilangan anak, berusaha terlihat tegar.
"Apa yang kau lakukan padanya? Kalau tak menginginkannya, tolong jangan melenyapkannya," ujar Lidia memukul kecil dada Rain yang bidang, menangis kuat, membuat Rain merasakan sakitnya, tanpa sadar memeluk tubuh yang gemetar, tak tahu karena menahan sakit atau karena hujan.
Bianca menatap itu semua, rasanya sakit melihat hal itu walau dia berusaha sekuat tenaga menyakinkan semua ini adalah momen yang tak harus dia cemburui, tapi tetap saja hatinya tak sanggup melihat suaminya memeluk tubuh wanita lain, Bianca memalingkan matanya cepat.
Mata Lidia lalu menatap wanita yang bergeming di bawah payung, sedang menatap peti mati anaknya, Lidia langsung keluar dari pelukan Rain, berjalan lantang dan cepat lalu memegang kedua lengan Bianca, mengucang tubuhnya. Kejadian itu begitu cepat bahwa Rain baru tersadar saat Lidia sudah dekat dengan Bianca.
"Lidia Hentikan, Carel meninggal karena penyakitnya," kata Rain suaranya memecah hujan.
Mata Lidia yang bagai binatang buas itu beralih ke arah Rain tak ada lagi raut sedih, hanya dendam yang tak berdasar.
"Kau masih membelanya, benar! Kau memilih wanita ini dari pada aku dan Carel! Jadi untuk apa kalian ada di sini! Pergi! Pergi! Kalian tak pantas ada di sini," kata Lidia, mendorong beberapa kali ke arah Rain, mendorong Bianca dan beberapa penjaga yang ingin menjaganya.
"Lidia! Tenangkan dirimu," ujar Rain, masih punya simpati, dia tahu sakitnya, bagi Lidia mungkin lebih sakit.
Lidia tak lagi menghiraukannya, dia mengambil sekop yang ada di tangan orang yang ingin menutup lubang tempat peristirahatan terakhir Carel, mengacungkannya pada semua orang seolah tak takut dan ingin membuat semua orang yang ada di sana pergi, Rain dan yang lain melihat itu hanya kaget, namun Lidia tetap mengacungkannya dan mengayunkannya ke arah mereka, "PERGI!"
__ADS_1
Penjaga ingin menenangkannya, namun Rain tahu tak akan mungkin tak membiarkan Lidia ada di sini, jadi dia menahan penjaganya, Rain merasa mereka harus mengalah, biarlah Lidia menuntaskan semua dukanya.
Rain menarik tangan Bianca, walau enggan Bianca pun tak bisa menolak, semua orang Rain perintahkan untuk mundur dan kembali ke mobil mereka, namun sebelum Bianca dan Rain naik ke mobil mereka, sebuah teriakan menghentikan langkah keduanya.
"Aku bersumpah, Aku tak akan membiarkan kau bisa hidup dengannya! Kau membunuh anakkku, maka aku akan membuat kalian tak akan bisa bersama lagi, Wanita murahan! Kau rebut anakku dariku! Akan ku buat kau merasakan bagaimana pahitnya itu, aku bersumpah kalian tak akan bisa bersama sampai kapanpun, Akan ku rebut suamimu bagaimana pun caranya!" sumpah Lidia menggelegar di tengah hujan, membuat semua orang menggigil karenanya.
Rain segera mendorong Bianca masuk ke mobilnya, Bianca masih tertegun, sumpah Lidia terasa mengiang di telinganya, menancap erat diotaknya, bahkan dia tak memperhatikan Rain yang membersihkan dirinya karena dia terguyur hujan saat menenangkan Lidia tadi.
"Tuan Anda basah kuyup, apa harus mengambil baju ganti?" Ujar Luke, dia selalu punya Jas pengganti buat Rain.
Mendengar ucapan Luke, Bianca baru sadar akan hal yang ada di sekitarnya, melihat tubuh suaminya yang sudah basah kuyup.
"Kau basah," kata Bianca mengambil tisu yang ada di depannya, mencoba mengusap air hujan yang turun di pipi putih wajah tampan itu.
"Tak apa, tak usah mengambil jas," ujar Rain.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Luke.
"Pulang," ujar Rain dingin, sama dinginnya dengan air hujan yang menguyur tadi.
"Tapi upacaranya belum selesai," kata Bianca, berharap bisa melihatnya walau dari mobil.
"Kita pulang," kata Rain menatap tajam mata Bianca.
Bianca terdiam, Rain bukannya tak mau melihat penguburan anaknya, tapi bagaimanapun di lihat, Carel sudah tiada, tak akan bisa hidup lagi walaupun dia ada di sana dan sebelum Lidia melakukan hal yang tidak-tidak lagi, lebih baik memutuskan segala sesuatu dari wanita itu.
__ADS_1
Mobil mereka segera berjalan menerobos hujan, Mata Lidia menatap tajam ke arah mobil hitam itu, tangannya mengerat pada sekop yang ada di tangannya, rasa sakitnya kehilangan tak sebanding dengan rasa sakit saat Rain masih membela wanita murahan itu!
Rain! Akan ku buat kau melupakan wanita itu, dan membuat wanita itu hilang selamanya, sumpah Lidia dalam hatinya.