
Rain segera mengarahkan Bianca ke ruang makan, sepanjang jalan ke ruangan itu dia bisa mencium harum dan hangatnya tubuh pria itu yang tertinggal di jasnya.
Rain lalu menarik sebuah kursi di meja makan itu, Bianca melihat itu hanya bisa diam, perlakuan kecil Rain itu nyatanya membuat dampak yang besar buat Bianca, belum ada yang melakukan hal itu untuknya, senyum manis bahagia penuh cinta itu terpatri langsung di wajah Bianca, Rain melepas jasnya dari tubuh Bianca menyerahkannya langsung pada Ken yang langsung membawanya ke kamar Rain.
"Ayo makan," ujar Rain yang segera duduk di samping Bianca, membuat Bianca bahkan takut untuk menyentuh makanan yang memang sudah tersedia di depan mereka.
Bianca melirik ke arah Yuri yang memberikan anggukan kecil, Bianca baru saja ingin mengambil sayuran yang ada di dekatnya saat Rain mengambilkan sepotong daging, meletakkannya pada piring Bianca, membuat lagi-lagi Bianca bingung dengan tingkah Rain.
Perubahan sikap itu sangat-sangat terasa, baru 3 hari lalu pria ini bahkan sekaku batu karang, namun setelah 3 hari menghilang begitu saja, sekarang dia bisa sehangat mentari di pagi hari.
"Kenapa memandangku begitu?" tanya Rain menangkap basah pandangan mata Bianca.
"Oh, iya, tidak apa-apa," ujar Bianca segera mencoba untuk tidak terlalu tampak salah tingkah.
"Makanlah, tubuhmu kurus sekali," kata Rain lagi tanpa melihat ke arah Bianca, mengupas udang besar lalu meletakkan udang pertama itu untuk Bianca. Bianca kembali memandangi Rain.
"Ingin aku suapi ya?" tanya Rain dengan sedikit sudut bibir terangkat, perkataan itu langsung membuat mata Bianca membesar, dia menggeleng segera, dan menunduk, sekilas melihat Ken dan Yuri yang ada di ujung ruangan, Ya, Tuhan, dia benar-benar malu menunjukkan mukanya, seperti wajahnya sudah Semerah udang yang ada di piringnya sekarang.
Melihat Bianca yang benar-benar salah tingkah membuat Rain semakin gemas, tanpa sadarnya menarik sudut bibirnya semakin naik.
Setelah makan, Rain segera bangkit membuat Bianca bingung dia harus apa sekarang.
"Aku ingin membersihkan diri, jika sudah lelah, tidurlah," ujar Rain begitu saja lalu berlalu pergi.
Hal ini tentu membuat Bianca mengerutkan dahinya bingung, bagaimana bisa seseorang berpindah dari begitu perhatian menjadi tak peduli lalu perhatian kembali, apa Rain berusaha membuat Bianca jadi gila memikirkannya?
"Nona? apa yang ingin Anda lakukan lagi?" tanya Yuri mendekati Bianca yang hanya diam melihat kepergian Rain.
"Oh, tidak, aku tidak ingin melakukan apapun, kau sudah boleh istirahat Yuri," kata Bianca yang tahu Yuri juga pasti lelah mengikuti dan menjaga dirinya seharian ini.
"Terimakasih Nona," ujar Yuri yang memberikan sebuah salam, lalu dia pergi meninggalkan Bianca.
Bianca segera berdiri, dari pada dia salah tingkah kembali dibuat oleh Rain, lebih baik dia kembali ke kamarnya.
Bianca segera berjalan menuju kamarnya, membersihkan dirinya sejenak lalu segera menggulung tubuhnya dengan selimut, ingin membenamkan diriya diempuknya ranjangnya, mencoba menutup matanya dengan cepat, sialnya dia tak bisa, matanya secemerlang berlian 24 karat.
__ADS_1
Bianca mencoba berputar-putar, mencari posisi yang membuatnya nyaman, sesaat dia dapat namun tak bertahan lama dia malah kembali tak bisa tidur, dan akhirnya dia kesal sendiri dan duduk di ranjangnya, ah kenapa malah tak bisa tidur, apa karena ingat Rain ada di sini.
Bianca merasa tenggorokannya sedikit kering, melirik ke samping tempat tidurnya, dia lupa mengambil air minumnya.
Dengan langkah gontai dan malas Bianca mencoba untuk turun, dia lalu segera membuka pintunya, jantungnya hampir saja meloncat keluar dan dia juga hampir melepaskan gelas kaca itu dari tangannya ketika matanya melihat sosok Rain ada di depan pintu kamarnya, Pria itu tampak santai dengan baju rajut kreamnya dan celana longgar rumahannya.
Raut wajah Rain pun tampak cukup kaget melihat Bianca tiba-tiba membuka pintunya.
"Aku hanya ingin tahu kau sudah tidur atau tidak," ujar Rain sedikit menyembunyikan salah tingkahnya, Bianca sedikit merasa kaget melihat sikap salah tingkah Rain.
"Aku ingin mengambil minum," ujar Bianca, melirik ke sekeliling rumah yang sudah meredup.
"Biar aku temani," ujar Rain langsung, Bianca menggigit bibirnya, sebenarnya tak ingin Rain menemaninya, dia takut malah dengan Rain menemaninya dia malah makin salah tingkah.
Bianca melangkah cukup cepat ke arah dapur, Rain saja sampai mengerutkan dahinya kenapa harus berjalan begitu terburu-buru, apakah bersama dengannya membuat Bianca tak nyaman?
"Minum susu hangat agar bisa tidur lebih nyaman, aku akan menyuruh pelayan untuk membuatkannya," ujar Rain ingin menekan tombol panggilan untuk pelayan.
"Tidak perlu, hanya membuat susu hangat, aku juga bisa," ujar Bianca yang merasa itu sangat merepotkan dan nantinya dia akan tak enak hanya gara-gara dirinya, pelayan harus terganggu tidurnya.
"Lalu kenapa kau tidak tidur?" tanya Bianca.
"Ini bukan jam tidurku, masih terlalu cepat untukku tidur sekarang," ujar Rain serius sekali menjawabnya.
"Ini untukmu," ujar Bianca menyodorkan susu hangat itu untuk Rain.
"Aku tidak minum minuman manis seperti ini," kata Rain.
"Ya, aku tahu, kau hanya minum minuman tanpa pemanis, ini susu khusus milikmu, tidak manis sama sekali," ujar Bianca diam-diam mempelajari semua apa yang Rain suka dan tidak suka.
"Dari mana kau tahu?" tanya Rain mengerutkan dahinya, mengambil susu yang langsung menghangatkan telapak tangannya, sedikit mengecapnya, ternyata benar susu itu hampir hambar.
"Aku mantan pelayanmu bukan, aku harus tau semua kesukaan dan apa yang kau tidak suka," ujar Bianca tersenyum manis, Rain hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya, menghabiskan segera susu hangat itu.
Bianca perlahan menghabiskannya, tapi bagaimana dia bisa menelan susu itu jika di depannya Rain menatap dirinya serius seolah mengawasi Bianca dalam meminum susu hangatnya.
__ADS_1
Gara-gara tatapan tajam itu membuat Bianca sampai tersedak, Rain segera mengambil tisu yang ada di sisinya, menyerahkannya pada Bianca.
"Minum dengan hati-hati," kata Rain datar saja.
"Ya, tapi jangan melihatku seperti itu, aku sampai tidak bisa menelannya," protes Bianca pada Rain, dia lalu segera menghabiskan susu itu, takut Rain kembali memberikannya tatapan mautnya itu lagi.
"Sudah habis, sudah selesai, aku mau tidur," ujar Bianca, semenit lagi lamanya dia dengan pria ini, dia benar-benar akan meledak.
"Baiklah, akan ku antar," kata Rain dengan entengnya berjalan di depan Bianca, Bianca mengerutkan dahi lalu sedikit tertawa kecil, dia merasa seperti anak kecil kalau begini.
"Kenapa tertawa?" tanya Rian lagi berhenti sejenak, dia lalu melirik ke arah Bianca.
"Kamarku hanya beberapa langkah, tak perlu diantar, aku bukan anak kecil dan tak mungkin ada yang menculikku hanya karena aku berjalan sendiri di kamarku, hari ini kau kenapa sih?" ujar Bianca yang benar-benar merasa lucu dan heran dengan Rain.
Rain tak mengubah wajahnya dia malah melihat wajah Bianca yang tertawa kecil, namun saat Bianca melihat wajah serius Rain dia menahan tawanya, menatap pria yang sekarang berdiri di depannya.
"Mungkin karena aku menyukaimu," kata Rain langsung saja.
Seketika membuat Bianca bungkam, sorot matanya kaget dan tak percaya, apa Bianca tak salah mendengarnya, Rain baru saja menyatakan suka padanya. Tidak, Rain pasti hanya bermain-main dengannya bukan?
"Jangan main-main, itu bukan hal yang dijadikan mainan loh," ujar Bianca mencoba untuk memastikan.
"Apa aku terlihat seperti pria yang suka mengatakan sesuatu yang main-main?" ujar Rain lagi sama seriusnya dengan yang pertama.
Bianca menggigit bibirnya, napasnya semakin sesak saja, apa yang harus dia katakan, dia bingung sekarang, antara senang namun juga takut, takut ini hanya mimpi belaka.
"Aku …." ujar Bianca bingung mau menjawab apa.
"Aku tidak meminta jawaban darimu, sudah malam, aku akan antarkan ke kamarmu," ujar Rain sekali lagi menarik Bianca, membawa wanita itu ke kamarnya, memastikan wanita itu kembali ke kamarnya.
Bianca hanya diam ketika dia masuk ke kamarnya, Rain memegang gagang pintu kamar itu, sebelum tertutup sempurna, Rain menahannya sejenak.
"Selamat malam, tidurlah," ujar Rain, lalu dia menutup pintu kamar Bianca.
Bianca nyatanya berdiri terpatung lama di sana, bagaimana dia bisa tidur kalau mendapatkan hal seperti itu sebelum tidur?
__ADS_1