Rain In The Winter

Rain In The Winter
183.


__ADS_3

Bianca sedikit gugup melihat para pria yang pergi meninggalkan mereka, apa yang harus dia bicarakan dengan wanita ini pikirnya kaku.


"Kak Ceyasa!" Pekik Siena yang membuat suasana diam tadi pecah seketika, dia menghambur langsung memeluk Ceyasa, Ceyasa pun dengan senang hatinya memeluk anak angkat ayahnya ini.


"Ah, kau lama sekali tidak kemari," ujar Ceyasa pada adik angkatnya.


"Kakak, ratu ini adalah anak kandung satu-satunya ayah angkatku, jadi otomatis kami bersaudara," jelas Siena memandang Bianca yang tampak kaget, Siena lalu melihat kakaknya, "aku sibuk, sedang program bayi dan tak boleh terlalu banyak keluar, jadinya begini," jawabnya pada pertanyaan Ceyasa.


"Duduklah Bibi, biasakan saja seperti di rumah, di sini tak perlu terlalu sungkan," Ujar Ceyasa mempersilakan.


Bianca hanya mengulas sebuah senyuman manis, dia lalu duduk, Gio dan Gwi pun mengikutinya, Ceyasa tak bisa melepaskan senyum manisnya, melihat kedua anak kembar yang begitu sangat lucu ini, apalagi Gwi, anak itu menarik perhatiannya sekali, ah, rasanya dia ingin punya anak perempuan.


"Siapa nama kalian?" Tanya Ceyasa.


"Namaku Giovan, dan ini adalah Gwiyomi," kata Gio lagi-lagi mewakili adiknya, mendengar perkataan tegas dari Gio tentu membuat Ceyasa kaget namun diliputi rasa kagum, sekecil ini kharisma pemimpinnya sudah terlihat, langsung diturunkan oleh ayahnya.


"Bukan kah mereka lucu sekali?" Tanya Siena.


"Ya, aduh aku jadi ingin punya anak perempuan," kata Ceyasa.


"Haha, nanti jika anakku perempuan Kakak bisa mengangkatnya jadi anak kakak," kata Siena tersenyum.


"Benarnya, awas melupakannya," kata Ceyasa tampak seperti wanita biasa, tak ada bedanya dengan yang lain.


Dalam gambaran Bianca, wanita di depannya ini sepertinya akan sangat anggun, bertutur kata hati-hati dan lembut, semua gerakannya akan sangat anggun dan lemah lembut, namun dia bahkan tak sungkan tertawa cukup keras dan bertingkah gemas melihat anaknya.


"Yang Mulia Pangeran Xander tiba di istana," suara pemberitahuan yang lantang itu terdengar, membuat semua perhatian menatap ke arah jalan masuk ruangan itu.

__ADS_1


"Akhirnya anak itu datang juga, dia baru pulang dari sekolah jam segini, pasti dia pergi lari lagi," kata Ceyasa yang berdiri, ingin segera menyambut anaknya dengan wajah masamnya, Bianca mengerutkan dahi melihat tingkah Ceyasa.


Tak lama sesosok anak dengan setelan jas berwarna merah tua dengan lambang sekolahnya terlihat, dia menggunakan celana hitam dan tampak sangat rapi, wajahnya tampak begitu tampan perpaduan sempurna ayah dan ibunya, usianya terlihat sekitar 9 tahunan, namun dia segera berhenti melihat ibunya yang menyambut kedatangannya, Siena hanya tertawa kecil, pemandangan seperti ini sudah biasa baginya, Ibu dan anak ini tak pernah akur, bagai kucing dan tikus.


"Xander? semalam ini baru pulang? Xander Dari mana?" Tanya Ceyasa, kali ini nadanya tak terlalu tinggi, ingat ada tamu yang harus dia hormati.


"Ehm, pulang dari sekolah ada ekstrakulikuler yang harus aku ikuti, Ibu, kita punya tamu," kata Xander, sebenarnya mengingatkan ibunya agar menjaga sikap, dia juga harus menjaga sikapnya, tak bisa menjahili ibunya saat ini.


"Ya, benar, ayo kemari Ibu perkenalkan ini adalah Bibi dari ayah dan anak-anaknya, bukankah mereka lucu?" Tanya Ceyasa yang langsung membawa anaknya.


"Lalu bagaimana aku memanggil mereka?" Tanya Xander bingung, wanita muda mungkin jauh lebih muda dari ibunya, tapi dia adalah bibi ayahnya, otomatis dia memanggilnya nenek, tapi apakah dia tak keberatan dipanggil nenek?


"Ehm, secara garis keturunan kau seharusnya memanggilnya nenek, tapi rasanya itu terlalu tua, kau juga harus memanggil mereka paman dan bibi, walaupun kau lebih muda," kata Ceyasa menjelaskan, Bianca, Xander dan si kembar mengerutkan dahinya, bagaimana bisa begini?


"Selamat datang Nenek, Paman, bibi, maaf aku datang terlambat," kata Xander, tetap punya etika jika ada orang baru di rumahnya.


"Ehm, sepertinya lebih baik memanggil bibi saja," kata Bianca, terasa begitu tua dipanggil nenek oleh Xander. Xander hanya mengangguk mengerti.


"Wah Bibi Siena juga ada di sini, sudah lama sekali, Bi, main bersamaku, aku punya game baru," ujar Xander langsung ramah.


"Ya,Xander sudah makan? Jika ingin bermain, ajak Paman dan Bibi kecilmu ke kamarmu, kalian harus saling mengenal dan dekat," ujar Ceyasa.


"Aku akan meminta makananku di bawa ke kamar, Baiklah, Paman dan Bibi, ayo ikut," kata Xander menarik tangan Siena juga mengajak Gwi dan Gio.


Gio dan Gwi menatap ke arah ibunya seolah minta persetujuan, Bianca mengangguk.


"Jadi anak baik di sana ya, bermainlah dengan baik," kata Bainca tak mungkin melarang, Gio dan Gwi mengangguk semangat lalu turun dari sofa itu perlahan, dengan bergandengan tangan mengikuti Siena dan Xander, Yuri juga tanpa di minta langsung mengikuti mereka, sigap menjaga Tuan dan Nona mudanya.

__ADS_1


Hening sesaat kemudian saat mereka hanya berdua. Terasa canggung bagi Bianca dan Ceyasa.


"Bibi, bagaimana bisa bertemu dengan Paman Rain?" Tanya Ceyasa basa basi mengurangi keheningan.


"Ya, ceritanya cukup panjang," kata Bianca sedikit tersenyum.


"Ya, pastilah, dia pria yang sudah sekali jatuh cinta, sekali menyukai wanita akan terus menyukainya," kata Ceyasa, Bianca menggigit bibirnya, mungkin Ceyasa tak tahu bahwa Bianca juga tahu kisah mereka dulu, Bianca hanya tersenyum kaku, membuat Ceyasa merasa mungkin dia salah bicara.


"Oh, ya, aku dengar Paman pernah mengalami kecelakaan hingga dia amnesia dan melupakan semuanya?" Kata Ceyasa kembali.


"Ya, 4 tahun yang lalu," kata Bianca lagi.


"Iya, apakah dia sudah mendapatkan kembali ingatannya?" Tanya Ceyasa, jika dia ingat maka ini akan sangat canggung, sebelumnya dia dan Rain punya cerita tersendiri yang walaupun kebanyakan adalah cerita mengerikan dan juga ingin dia lupakan.


"Tidak, sampai sekarang dia belum mengingat apapun," ujar Bianca masih sungkan berbicara terlalu banyak.


"Benarkah? Tapi walau dia belum mengingat apapun, dia kembali pada Bibi dan jatuh cinta lagi pada Bibi? Itu keren sekali," kata Ceyasa tak percaya, bisa seperti ini jalan cintanya.


"Ya, aku rasa ini juga sangat aneh, dia bisa kembali padaku tanpa ingat siapa aku."


"Itu namanya cinta sejati, dia tahu kemana dia harus kembali jatuh hati," ujar Ceyasa dengan senyuman manisnya.


Bianca tersenyum, ya, mungkin ini cinta sejati, lagi pula untuk apa dari tadi hatinya merasa gusar, Rain adalah suaminya, dia kembali dari amnesia hanya untuknya.


Hening kembali sejenak, Ceyasa mengambil teh yang di suguhkan lalu menyeruputnya sedikit tentu setelah mempersilakan Bianca untuk meminumnya juga.


"Ceyasa," kata Bianca menatap wanita di depannya, mulai berani untuk berbicara.

__ADS_1


"Ya?" Kata Ceyasa setelah meletakkan cangkir porselennya.


"Jika aku boleh bertanya, apa kau tahu tentang penyakit keturunan itu?" Tanya Bianca, tiba-tiba saja otaknya ingat dengan perkataan Rain dulu, bahwa hanya keluarga kerajaan yang tahu pasti penyakit itu dan yang bisa menyembuhkannya.


__ADS_2