
"Selamat pagi, bagaimana keadaanmu?" tanya Ceyasa melihat ke arah adik angkatnya itu, Suri hanya memberikan senyumannya, Siena segera duduk di samping Bianca lalu menatap Bianca sekilas.
"Baik-baik saja," kata Siena, dia melirik ke arah keponakannya semua, tampak mulai akrab berbincang, Gwyneth dan Gwi pun tampak sudah mulai berinteraksi.
"Bagaimana kabar di atas?" tanya Bianca, rasa penasarannya sudah menghantuinya.
Siena kembali menatap ke arah Bianca, Bianca mengerutkan dahinya melihat respon dari Siena ini, Ceyasa dan Suri pun hanya bisa diam memperhatikannya.
"Aku rasa lebih baik jika kakak mengetahuinya langsung ke sana," kata Siena yang seketika membuat wajah Bianca tampak berubah cemas, perasaannya langsung tak tentram, kenapa Siena malah mengatakan hal itu, apakah ada yang terjadi pada Rain?
"Apakah ada yang terjadi padanya?" tanya Bianca dengan nada paniknya.
Siena tampak diam sejenak, dari raut wajahnya seperti seseorang yang bingung harus mengatakan apa, dia juga melihat ke arah Ceyasa dan Suri yang juga mengerutkan dahi mereka, kenapa?
"Aku rasa lebih baik bibi melihat keadaan paman, tak perlu sungkan untuk meninggalkan kami di sini dan juga tak perlu khawatir dengan si kembar, aku dan Suri akan menjaga mereka selama Bibi ada di sana," kata Ceyasa, takut keberadaan mereka menjadi penghambat bagi Bianca untuk melihat keadaan suaminya.
"Ya, Bibi eh, pergilah," kata Suri, jika hanya sepatah dua patah kata, dia masih bisa mengucapkannya dengan baik.
Bianca menarik napasnya, kepala tiba-tiba kembali terasa berat, Dia lalu melirik ke arah Siena, Siena hanya mengapit kedua bibirnya lalu mengangguk.
"Baiklah, maaf jika aku harus meninggalkan kalian, maaf juga sudah merepotkan untuk menjaga anak-anakku," kata Bianca segera berdiri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bibi, Xander juga sangat senang memiliki saudara baru, dia yang paling heboh ingin pergi ke sini hari ini," kata Ceyasa.
Bianca mencoba memberikan sebuah senyuman, dia lalu segera mengarah ke arah anak-anaknya.
"Gio, Gwi, mami pergi untuk melihat keadaan papi dulu, di sini ada Bibi Ceyasa dan Bibi Suri dan anak-anak mereka, bermain dengan baik ya," kata Bianca meminta izin pada putra dan putrinya, Gio dan Gwi segera mengangguk mantap, tak ingin membuat ibu mereka ragu.
"Baiklah, aku izin dulu," kata Bianca memberikan salam, setelah itu dia bergegas keluar dari ruangan itu, Siena mengikutinya dari belakang.
Bianca memainkan jari jemarinya, menggigit bibirnya keras hingga rasanya nyeri karena gugup menunggu lift yang rasanya sangat lama padahal hanya 1 lantai saja, Siena yang ada di sampingnya pun hanya diam,tak berucap satu katapun pada Bianca, padahal Bianca berharap Siena menyampaikan sesuatu padanya hingga bisa membuatnya bisa sedikit mengetahui bagaimana kabar suaminya itu.
Pintu lift terbuka, susana sepi dan juga dingin kembali terasa, bau menyengat obat-obatan pun masih terasa jelas, Bianca menapakkan kakinya ke lantai yang dingin itu, berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu yang tertutup dengan rapat, Bianca segera membuka dan melihat lorong yang sangat panjang menurutnya.
"Dokter?" kata Bianca cemas.
"Selamat pagi Nyonya," kata Dokter Malvis sedikit tersenyum ramah, Bianca hanya mengamati pria dengan setelan serba putih itu, "ingin melihat keadaan Tuan Rain? "
Bianca segera mengangguk mendengar hal itu, matanya berharap cemas menantikan apa kabar yang akan disampaikan oleh dokter yang sudah cukup berumur ini.
"Sebelum melihat keadaan Tuan Rain, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda, Sebelumnya mari membicarakannya di ruang tunggu khusus, lagi pula ada yang ingin bertemu dengan Anda hari ini," kata dokter Malvis, melihat gelagat dan juga kata-kata dari dokter Malvis entah kenapa rasanya Bianca memiliki firasat yang buruk.
Dokter Malvis memimpin jalan menuju ke ruang tunggu khusus itu, saat pintu terbuka ada 3 orang yang langsung berdiri melihat kedatangan Bianca. Ken, Luke dan Antony nyatanya ada di sana, Ken dan Luke memang selalu ada di sana sejak kemarin, tapi Antony, dia baru melihat batang hidungnya hari ini.
__ADS_1
"Selamat pagi Nyonya, " kata Antony yang merasa dipandangi oleh Bianca.
"Selamat pagi," kata Bianca seadanya saja.
"Baiklah, silakan duduk Nyonya, saya ingin menjelaskan tentang keadaan Tuan Rain hari ini," kata Dokter Malvis segera, tentu Bianca tak ingin membuang waktunya, dia segera menurut, duduk di salah satu sofa dengan Siena yang ada di sisinya, Siena memandang ke arah Ken, Ken hanya diam saja.
"Nyonya, Keadaan Tuan hari ini sangat baik, bahkan saya ingin mengatakan bahwa tadi malam tepatnya pukul 1 malam tadi, Tuan Rain sudah sadar," kata Dokter Malvis segera menyampaikan kabar bahagia itu.
Bianca terdiam mendengar hal itu namun matanya langsung tampak membesar dan ada binar kebahagian tampak, dia tentu senang mendapakan kabar itu, dia melirik ke arah Siena, Siena sudah merubah wajahnya yang tadinya datar menjadi senyuman bahagia, tentu dia sangat menikmati wajah cemas Bianca yang berubah menjadi bahagia, sukses sedikit mengerjai Kakak iparnya ini.
"Lalu, bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah sembuh?" kata Bianca dengan suara yang cukup riang, tak menyangka hari ini menjadi hari yang sangat bertolak belakang dengan hari kemarin yang penuh derai air mata, hari ini benar-benar hari yang bahagia.
Pikiran Bianca lalu pergi, teringat oleh kata-kata dari kedua anaknya yang tadi pagi melihat ayah mereka, jangan-jangan itu benar-benar Rain, Rasa bahagia membucah sudah dihati Bianca, mereka akan kembali berkumpul menjadi keluarga yang bahagia.
"Saat ini statusnya sangat baik, tanda vital baik, bahkan darahnya juga sudah kami ambil dan saya yakin melihat keadaan Tuan Rain sekarang, dia pasti sudah tak punya masalah dengan penyakit keturunan itu, dan saya dengar Si kembar juga menunjukkan progres yang baik, " kata dokter Malvis, dia pun lega dengan hasil yang dia dapatkan untuk penyakit keturunan ini, tuntas sudah penyakit ini, mudah-mudahan tak ada lagi keturuan kerajaan yang terkena penyakit mematikan ini.
"Benarkah? jadi apa aku sudah boleh melihatnya?" tanya Bianca, dia ingin sekali melihat suaminya, tentu saja setelah melihatnya terbaring lemah kemarin hingga harus memilih dimana dia harus ada, dia pasti sangat ingin bertemu dengan suaminya, dia ingin menjelaskan kenapa saat Rain sadar, dia tak ada di sana.
"Tentu, tapi setelah Anda mengerti keadaan lain dari Tuan Rain," kata Dokter Malvis.
"Keadaan lain?" tanya Bianca yang mengerutkan dahinya, keadaan lain apa lagi? "Apa dia kehilangan ingatannya lagi tentang kami?”
__ADS_1