Rain In The Winter

Rain In The Winter
97. Dan Ibunya adalah?


__ADS_3

“Jangan pernah mengatakan hal itu lagi di depan Carel, jika dia mendengarnya dia akan sangat terpukul," ujar Bianca pada Rain yang duduk di sampingnya, tampak wajahnya begitu ketat dan masih kesal. Mobil mereka segera berjalan keluar dari area rumah sakit itu.


"Jangan pernah lagi bertemu dengannya tanpa diriku," ujar Rain.


"Kalau tadi aku tidak langsung membawanya, mungkin Carel akan kejang, dokter sudah mengatakan hal itu, jika tak perlu aku tak akan mau bertemu dengan mereka," kata Bianca yang baru sadar ternyata Rain masih mempermasalahkan dia bertemu dengan Lidia dan Carel tanpa dirinya.


"Ya, tapi itu sangat berbahaya, kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan Lidia, apa kau tidak berpikir jika itu bisa saja jadi jebakan dari Lidia, kau tidak tahu betapa mengerikannya dia," kata Rain memandang ke arah Bianca, baru kali ini Bianca melihat wajah kesal namun sorot mata Rain tampak begitu cemas. Melihat kecemasan di mata Rain, Bianca menjadi sedikit merasa bersalah.


"Baiklah, maafkan aku, tapi memangnya apa yang pernah dia lakukan?" tanya Bianca, semua orang mengatakan bahwa Lidia dulu adalah adik Rain namun karena terobsesi dengan Rain dia melakukan hal yang tidak-tidak hingga membuat Rain tak lagi mau mengakui bahwa Lidia adalah adik angkatnya, namun tak satupun orang yang mau bercerita padanya apa yang sudah Lidia lakukan.


Mata Rain meredup, dia tidak penah ingin mengingat kejadian itu, dulu dia begitu trauma melihat keadaan Ceyasa yang harus meregang nyawa di depannya dan akibat dirinya, butuh bertahun-tahun baginya untuk menghilangkan rasa bersalah, untunglah Ceyasa dan anaknya bisa di selamatkan sehingga mengobati sedikit perasaannya,tapi jika itu terjadi kembali pada Bianca maka mungkin seorang Rain yang tampak selalu tegar itu tak bisa lagi menanggungnya.


"Sudahlah," kata Rain tidak ingin mengungkit luka lamanya. Bianca mengerutkan dahinya, menangkap kesan yang ditutup-tutupi.


Bianca semakin penasaran dengan jawaban Rain itu, saat Bianca ingin bertanya lebih lanjut, dia undur melakukannya karena mendengar dering ponsel dari Rain, Rain segera merogoh sakunya, melihat sejenak ke arah ponselnya lalu langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo?" Suara berat nan dingin itu terdengar, selalu berhasil membuat hati Bianca bergetar. Bianca mencoba menyandarkan dirinya ke tempat duduknya yang empuk, tapi melihat jalanan yang mereka lalui, pikirannya kembali ke Carel, dia bahkan masih bisa mencium bau tubuhnya yang seketika membuatnya merindukan sosok lucu itu.


"Apa? Dimana ibunya?" Tanya Rain yang sedikit kaget, mendengar kata-kata itu Bianca yang baru saja bersandar kembali menaikkan tubuhnya, memandang khawatir, sepertinya dia tahu tentang apa telepon ini.


"Tunggu aku di sana," kata Rain langsung mematikan ponselnya.


"Kenapa? Apa itu tentang Carel?" Tanya Bianca langsung bahkan sebelum ponsel itu di simpan oleh Rain, Rain yang kembali berwajah diam, langsung mengangguk, matanya terlihat kecemasan, walaupun dia mengatakan dia tak peduli dengan Carel, tapi bagaimana pun dia sudah terikat dengan pria kecil itu.


"Kembali ke Rumah sakit," perintah Rain pada supirnya, supir pun mengangguk dan segera mencari putaran terdekat, namun karena jalanan padat dia harus mencari jalan tikus agar bisa kembali ke rumah sakit.


"Ada apa dengannya?" Tanya Bianca menuntut jawab pada suaminya, dia pun sama cemasnya dengan Rain.


"Dokter mengatakan dia mengalami kejang," kata Rain.


"Tapi Lidia ada di sana kan?" Tanya Bianca.

__ADS_1


"Tidak, dia pergi setelah kita pergi."


"Jadi maksudmu dia meninggalkan Carel lagi?"


"Ya."


Bianca terdiam, tega sekali Lidia meninggalkan Carel begitu saja padahal dia sudah tahu anaknya sedang di rawat.


"Ibu macam apa dia? Apa kau yakin Carel adalah anaknya?" Tanya Bianca yang malah kesal dan meluapkannya di sana, Rain saja sampai kaget melihat Bianca yang tiba-tiba kesal seperti itu.


"Kau tahu aku tiba-tiba saja ingin berkelahi dengan Lidia, aku yakin Carel bukan anak kalian," ujar Bianca menggerutu, apalagi sekarang dia cemas memikirkan Carel yang sendirian di sana sedang kejang, lagipula mereka tadi belum jauh, kenapa kembalinya terasa jauh sekali.


"Kita akan mengetahuinya hari ini, aku melakukan tes DNA terhadap Carel dan Lidia, kita akan tahu hasilnya nanti," kata Rain memandang Bianca yang masih berwajah kesal campur cemas.


"Benarkah? Jikalau Carel bukan anak Lidia, bisakah dia bersama kita?" Tanya Bianca.


"Kalau dia anakku namun bukan dari Lidia, aku bisa mendapatkannya, tapi jika Lidia adalah ibunya, aku tak bisa apa-apa, Carel adalah anak di luar nikah, dia adalah milik ibunya, bukan milikku," kata Rain lagi.


"Oh, begitukah? Jadi kalaupun Lidia tak menjaganya dengan baik, kita tak bisa mendapatkannya?" Tanya Bianca.


"Ya, aku harap bisa, aku sangat kasihan dengannya, anak begitu lucu sama sekali tak mendapatkan kasih sayang."


"Apa kau benar-benar ingin menjaganya?"


"Ya, apalagi jika benar dia anakmu, otomatis dia adalah anakku," ujar Bianca enteng saja yang langsung bisa membuat Rain menaikkan sudut bibirnya, Rain meraih tangan istrinya itu, memegangnya dengan sangat erat.


"Kita akan mendapatkannya," kata Rain, dia akan mendapatkan anaknya sesuai keinginan istrinya ini. Bianca tersenyum sambil mengangguk, dia yakin mereka bisa mendapatkan Carel.


Mobil mereka tak lama kembali memasuki area rumah sakit, di depan pintu utamanya mereka segera turun, Rain berjalan cepat namun menyesuaikan langkahnya agar tak terlalu membuat Bianca kewalahan, mereka segera masuk ke dalam lift dan menuju ke ruangan khusus Carel.


Bianca bisa melihat Luke ada di sana, ternyata Rain tetap menjaga Carel dengan memerintahkan Luke untuk berjaga di sana, Luke langsung menyambut Rain namun tanpa mengatakan apapun, Luke membukakan ruangan Carel.

__ADS_1


Di sana Rain melihat beberapa petugas medis yang sedang menangani Carel, namun sepertinya dia sudah di berikan obat hingga dia tak lagi kejang.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bianca langsung yang sudah tak tahan menahan cemasnya.


"Keadaannya sekarang stabil, panasnya sangat tinggi tapi kami sudah memberikan obat penenang baginya, kami akan terus mengawasinya dan berusaha untuk mendapatkan apa yang menyebabkan Tuan Muda seperti ini?" Kata Dokter.


"Baiklah," kata Rain seadanya, para dokter dan perawat yang ada di sana segera meninggalkan mereka.


Rain mendekati istrinya, Bianca menatap cemas pada Rain, tangannya sudah terpaut pada Carel.


"Apa dokter mengatakan apa penyakit Carel?" Tanya Bianca.


"Belum, mereka masih mencarinya," kata Rain.


"Bertahanlah," kata Bianca pelan, mengelus tangan mungil yang tak berdaya itu.


Rain mengelus bahu istrinya berusaha menenangkannya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, membuat perhatian Bianca dan Rain berpindah ke sana, Luke masuk ke dalamnya sambil memberikan salam.


"Tuan, hasil DNA yang anda perintahkan sudah keluar," ujar Luke menyerahkan amplop berwarna putih dengan nama rumah sakit terbesar di sana.


Mendengar hal itu Bianca langsung merasa tegang, dia segera memandang pada Rain yang langsung melihat hasil laporan DNA yang dia minta Luke lakukan terhadap Carel, dirinya dan Lidia.


Rain tampak serius melihat hasil tes DNA itu, wajahnya langsung terlihat tajam dan dingin, Bianca mengerutkan dahinya.


"Hasilnya?" Tanya Bianca pelan.


"Carel adalah anakku," kata Rain dengan pelan, Bianca tak kaget soal itu, siapapun yang melihat Carel pasti yakin hal itu, namun bagaimana dengan ibunya?


"Ibunya?" Tanya Bianca yang langsung berdoa semoga bukan Lidia.


Rain menatap mata Bianca yang berharap, Bianca menganalisa wajah Rain yang tetap keras, hatinya yang tadinya berharap entah kenapa menjadi ciut, sepertinya ada hal yang tak baik.

__ADS_1


"Lidia," ujar Rain serak, seakan menelan batu kerikil tajam. Bianca tampak kecewa, bagaimana anak semanis ini lahir dari rahim wanita sekejam itu.


"Jangan khawatir, kita akan menjaganya," ujar Rain yang bisa merasakan kekecewaan Bianca, hatinya pun begitu. Walau bisa menebak Carel adalah anaknya, tapi tak pernah dalam mimpinya sekalipun akan mendapatkan anak dari wanita seperti Lidia.


__ADS_2