
"Salah satu keponakanmu, aku rasa kau pun tak ingat, dia mengatakan dia pernah ditolong olehmu tentang penyakit keturunan ini juga, jika dia nanti mau, aku akan mengajak mereka ke sini," ujar Bianca.
"Ya," singkat Rain sambil mengangguk, Bianca tak ingin pergi dari sana sebenarnya, melepaskan tangan Rain yang juga seolah terpaut erat pun sangat susah dilakukannya, tapi Bianca harus ke bawah menyiapkan anak-anaknya, lagi-lagi walau tak ingin dia harus melakukannya, Rain tak akan melupakan dirinya hanya karena ditinggal beberapa menit saja kan? Ragu hati Bianca bertanya.
Rain melepas tangannya juga, Bianca perlahan melangkah keluar walaupun berat dan Rain hanya menatap kepergian wanitanya dalam diam.
Bianca membuka pintu rawat kedua anaknya yang langsung terdengar tawa ceria mereka, ternyata Siena pun sudah ada di sana, berperan sebagai penjamu tamu, karena bagaimana pun Siena memposisikan dirinya sebagai salah satu keluarga Rain.
Bianca langsung tersenyum manis melihat pemandangan di depannya. Siena, Ceyasa dan Suri benar-benar menjaga anak-anaknya, mereka bermain bersama, bahkan Ceyasa tampak sedang menyusuri rambut Gwi yang cukup panjang dan lurus itu, Ceyasa selalu ingin melakukannya pada anak perempuannya.
"Mami!" Ujar Kembar serempak menyambut ibunya yang datang, senang melihat wajah ibunya yang tak lagi sesuram tadi.
"Terimakasih sudah menjaga Kembar," ujar Bianca melihat Suri dan Ceyasa.
"Ah, aku malah senang Bi, mereka menggemaskan sekali, Xander dan Gwen juga suka di sini, mereka bermain dengan sangat akur," ujar Ceyasa yang sekaligus mewakili Suri yang hanya tersenyum.
"Ya, mereka sangat akrab, bagaimana kabar kak Rain?" Tanya Siena.
"Baik, dia sudah sangat baik," ujar Bianca, "Rain meminta mereka untuk di pindahkan ke ruang rawatnya."
"Oh, baiklah," kata Siena.
"Bi, maaf jika kami tak bisa mengantar Bibi ke sana, tak etis sepertinya jika kami ke sana tanpa Archie dan Jared, kami akan kembali lagi nantinya jika suami kami sudah bisa ikut kemari," ujar Ceyasa sungkan, belum pernah mereka pergi bertemu pria lain tanpa suami mereka, peraturan kerajaan memang menghalangi Ceyasa untuk melakukan itu.
Untuk Suri sendiri, itu juga sudah tertanam di dirinya sejak kecil yang tumbuh di istana, tanpa Suami atau ayahnya, dia tak bisa menemui pria lain tentunya.
"Tidak masalah, kalian datang saja aku sudah begitu senang, maaf malah tak menemani kalian di sini," kata Bianca lagi.
"Tidak masalah Bi, kami mengerti, lagi pula ini sangat menyenangkan," ujar Ceyasa yang akhirnya selesai juga mengikat rambut Gwi dengan gaya Cepol kecil yang lucu, menambah menggemaskan Gwi, Gwen hanya menatap bibi kecilnya itu dan tertawa, dulu dia yang selalu jadi eksperimen bibinya ini, karena sudah cukup besar jadi Ceyasa sudah tak lagi sering melakukannya pada dirinya.
__ADS_1
Bianca hanya tersenyum melihat Gwi yang meraba rambutnya yang baru selesai di otak Atik oleh Ceyasa, sedangkan Gio nyatanya masih asik dengan Xander bermain bersama.
Tak lama dokter Irene dan 2 perawat masuk ke dalam ruangan yang sekarang penuh tawa itu, Bianca langsung tahu mereka ingin melakukan apa.
Ceyasa, Xander, Suri dan Gwen langsung sedikit menyingkir saat para perawat mulai ingin menyiapkan Gwi dan Gio yang masih saja dipasang infus, dokter Irene belum berani mencabutnya sebelum hasil darah mereka selesai.
Gwi dan Gio segera dinaikkan ke dalam kursi roda untuk di bawa ke lantai atas tempat ayah mereka berada.
"Paman, Bibi, cepatlah sembuh agar kita bisa bermain lagi," ujar Xander pada kedua paman dan Bibi kecilnya yang sekarang sudah ada di kursi roda sebelum mereka masuk ke dalam lift.
"Baiklah, kami akan cepat sembuh," ujar Gio, dia senang sekali punya banyak teman.
"Ya, datang juga ke rumahku, kita bisa main rumah-rumahan dan boneka sepuasnya," ujar Gwen ditujukan pada Gwi, bibi kecilnya itu hanya mengangguk keras.
"Bibi, kami hanya mengantar sampai sini, karena itu kami izin untuk pulang," Ceyasa berkata sambil menebar senyumnya.
"Ya, hati-hati di jalan, sekali lagi kami berterimakasih sudah datang," ujar Bianca yang berdiri di sisi anak-anaknya.
Para perawat segera menarik kursi roda itu ke dalam lift, sambil melambaikan tangan disertai oleh senyuman manis nan semangat, mereka saling melambaikan tangan hingga lift itu tertutup sempurna.
"Mami, papi sudah sehat?" Tanya Gwi membuka suaranya.
"Ya, karena itu papi ingin bertemu Gio dan Gwi, nanti Gio dan Gwi akan bersama 1 malam lagi di sini," kata Bianca memberikan Penjelasannya pada kedua anaknya.
Pintu lift terbuka, dan dengan cepat para perawat membawa si kembar menuju ke ruangan Rain. Pintu Ruangan rawat itu segera terbuka, membuat Gwi dan Gio yang melihat ayahnya menunggu di sana segera tampak berbinar senang.
"Papi! Papi!" Suara Gio dan Gwi terdengar semangat, jika saja tak ingat ada infus yang ada di tangan mereka masing-masing mungkin Gio dan Gwi sudah berlari ke arah ayahnya.
Rain menaikan senyumnya yang paling lebar menatap semangat anak-anaknya, dengan cepat berjalan ke arah mereka, Gwi yang paling semangat ingin di gendong ayahnya, tapi Rain cukup takut karena infus di tangan anaknya.
__ADS_1
"Nanti papi gendong setelah Gwi tidak diinfus lagi," kata Rain, tahu sakitnya hal itu.
"Iya Papi," kata Gwi patuh.
"Gio juga ingin di gendong," kata Gio, kemarin dia sudah membagi ibunya untuk Gwi, sekarang dia ingin ayahnya bersama dengannya.
"Pasti, nanti papi gendong kalian berdua," ujar Rain tersenyum, lalu segera membiarkan perawat membawa Gwi dan Gio ke ranjang mereka yang sudah disiapkan oleh perawat lain tadi.
"Ceyasa dan Suri sudah pulang, jika nanti ada kesempatan mereka akan datang lagi dengan suami mereka," ujar Bianca memberitahukan suaminya.
"Ya," kata Rain singkat saja sambil melihat keadaan anaknya.
"Kakak, aku pulang dulu ya, ada yang harus aku urus dulu di rumah, Ken juga sudah harus ke perusahaan," ujar Siena yang dari tadi memang mengikuti mereka.
"Ya, terimakasih sudah ada di sini," kata Rain menatap Siena dan Ken yang juga ada disana.
"Jika butuh apa-apa kakak bisa hubungi aku," Siena menatap ke arah Bianca.
"Ya, tak perlu khawatir, terimakasih banyak sudah membantuku 2 hari ini," kata Bianca memeluk Siena sebelum dia pergi.
"Tak perlu kemari lagi nanti, besok kita bertemu di rumah saja, besok kami sudah pulang," kata Rain menatap ke arah Ken.
Siena mengerutkan dahinya, namun langsung menatap ke arah Bianca, dari wajahnya Siena sudah bisa menebak pasti ini paksaan dari Rain, tapi siapa yang bisa menahan Rain jika dia memang ingin pulang.
"Baiklah kakak, kami pergi dulu," ujar Ken tegas.
"Bye Gio, Bye Gwi, bibi pulang dulu ya," ujar Siena ramah sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati bibi, Terima kasih robotnya," ujar Gio dengan senyumannya.
__ADS_1
"Bibi terimakasih bonekanya," ujar Gwi menimpali.
"Sama-sama sayang Bibi, Kakak, aku pergi dulu," ujar Siena yang akhirnya setelah salam perpisahan yang panjang pergi juga Dari sana.