
Rain sekali lagi menyelipkan tangan Bianca ke dalam sakunya tahu bahwa istrinya ini tak tahan dingin, siang itu cerah, salju tidak turun seperti kemarin malam namun sejauh mata mereka memandang semuanya tertutup oleh hamparan salju.
Bianca menikmati perjalanan mereka yang terasa akrab walaupun disepanjang perjalanan mereka sama sekali tak berbicara namun hal ini malah menambah ikatan mereka.
Bianca lalu sedikit teralihkan perhatiannya mendengar suara tawa kecil anak-anak, ternyata tak jauh dari mereka, ada banyak anak-anak yang sedang bermain perang salju, Bianca langsung berbinar melihatnya.
"Rain main yuk!" Antusias Bianca meminta pada Rain, Rain mengerutkan dahinya memandang anak-anak usia dibawah 12 tahun itu bermain, riang memang namun bukankah itu terlalu kekanak-kanakan jika dia yang melakukannya.
"Tidak, terlalu ke kanak-kanakan," ujar Rain memalingkan wajahnya, membuat Bianca cemberut sejenak.
"Seumur hidup aku belum pernah main lempar salju, ayolah, kita main sebentar," ujar Bianca merayu merengek.
"Tidak, aku terlalu tua untuk main itu," ujar Rain yang mengingat umurnya sudah masuk ke kepala 3.
"Yah! Siapa suruh menikah dengan wanita yang jauh lebih muda darimu, ayolah ya!" Pinta Bianca lagi yang membuat Rain mengerutkan dahi namun mau tak mau melakukannya, baru ingat liburan ini didedikasikan untuk Bianca.
Rain mengangguk, Bianca langsung terlonjak senang, bahkan dia sampai bertepuk tangan kecil, melihat tingkah anak-anak dari istrinya ini Rain akhirnya terpancing juga tersenyum.
Bianca langsung menarik suaminya bergabung ke lapangan salju itu, Bianca langsung membentuk bola saljunya, Rian hanya memperhatikannya tak jauh dari sana.
"Bisa aku pinjam bola saljumu?" Tanya Rain pada anak laki-laki yang berdiri di dekatnya, anak itu hanya mengangguk lalu menyerahkan bola salju itu pada Rain, Saat Rain melirik Bianca, wanita itu baru saja berdiri namun masih membentuk bola saljunya, Rain tanpa tunggu lagi segera melemparkan bola salju kecil itu ke arah Bianca, tentu langsung jitu mengenai sisi wajah Bianca.
Bianca yang terkena lemparan itu segera kaget dan wajahnya langsung kesal.
"Kenapa melemparku?" Protes Bianca pada Rain yang hanya mengerutkan Dahinya.
"Bukannya sedang perang bola salju?" Tanya Rain yang tersenyum tipis melihat wajah kesal Bianca.
__ADS_1
"Ya, tapi seharusnya kau membiarkan wanita duluan yang menyerangmu, kenapa malah melempar duluan," kesal Bianca, lagipula bagaimana Rain bisa duluan membuat bola salju, padahal dari tadi dia yang sibuk mengambil saljunya.
"Aku rasa tak ada peraturan yang begitu," ujar Rain, anak laki-laki itu datang lagi, dia menyodorkan bola salju lagi.
"Mau lagi tuan?" Tanya anak laki-laki itu membuat Bianca membesarkan matanya sambil melipat tangannya, pantas saja Rain cepat membuatnya, dia selalu punya cara membuat orang bekerja untuknya.
"Itu tidak adil," ujar Bianca, Rain yang sudah mengambil bola salju yang lain hanya menaikkan satu alisnya, dan tersenyum manis sekali dan tanpa aba-aba melemparkan kembali bola salju itu pada Bianca.
Bianca yang kembali kena serang itu langsung sewot, dia mengambil salju dan tanpa pikir panjang melemparkannya bertubi-tubi ke arah Rain yang hanya bisa menangkis serangan istrinya itu, tak menyangka Bianca bisa kesal sekali seperti itu.
Bianca tersengal, selain udaranya yang dingin dia juga cukup banyak sudah melemparkan bola salju yang nyatanya tak terlalu berpengaruh terhadap Rain, Rain mendekati Bianca, memandang wajah istrinya itu.
"Sudah?" Tanya Rain sambil memperhatikan istrinya terengah karena emosi.
"Sudah," ucap Bianca yang lega, entah kenapa melempar salju seperti melampiaskan seluruh emosinya yang terpendam.
"Masih ingin marah padaku?" Tanya Rain lagi lembut kembali melingkarkan tangannya menahan pinggang Bianca yang kecil.
"Boleh minta hadiahnya?" Tanya Rain, Bianca tersenyum malu-malu, Rain langsung mencium bibir Bianca, seolah di tempat itu hanya ada mereka berdua, tak lama karena tiba-tiba saja dengan lembut dan anggunnya salju turun, Bianca menadah beberapa salju yang turun.
"Lihat," ujar Bianca senang.
"Ya," kata Rain seadanya, dia lalu melirik ke arah anak-anak kecil di sekitar mereka, kaget karena semua anak-anak itu ternyata menutup mata mereka dengan jari-jari mereka, tak ingin melihat adegan mereka tadi.
"Apakah sudah selesai? Aku ingin pipis," celoteh anak perempuan kecil yang imut sambil menggoyangkan kakinya khas menahan kencingnya.
"Haha, sudah-sudah, kalian boleh melihat sekarang," ujar Bianca yang lucu melihat tingkah mereka.
__ADS_1
Mereka satu per satu membuka matanya, sesaat ragu namun setelah melihat Rain dan Bianca sudah tak lagi berciuman, mereka segera kembali bermain.
"Kita pergi dari sini," ujar Rain.
"Ya, ayo," kata Bianca yang masih takjub lembaran salju jatuh dari langit.
Mereka sekali lagi mengelilingi daerah-daerah itu, Bianca dengan manjanya mengandeng tangan Rain yang hanya biasa tersenyum hingga mereka sampai sebuah bangunan yang tampak sudah tua namun begitu indah dengan dekorasi khas tradisional di sana.
"Tempat apa ini?" Tanya Bianca melihat gedung yang mencolok itu.
Rain pun mengerutkan dahinya, tak tahu tempat apa itu, tak lama seorang pria keluar dari gedung itu dan Rain segera menghentikannya.
"Maaf, tempat apa ini?" Ujar Rain bertanya.
"Oh, ini hotel tertua yang ada di sini, selain itu ada tempat pemandian air hangat alami, sangat ramai musim dingin seperti ini," ujar Pria tua itu menjelaskan.
"Benarkah? Wah berendam akan menyenangkan," kata Bianca yang mulai merasa dinginnya menusuk hingga kulitnya.
"Kau ingin?" Tanya Rain melirik ke arah istrinya.
"Silakan Tuan," ujar pria itu yang mungkin bekerja di sana, Bianca tampak semangat melihat dekorasi yang benar-benar masih terjaga keasliannya, lantai kayu, tatanan tepat duduk dan juga semuanya terlihat rapi namun juga nyaman.
Bianca membiarkan Rain menyewa tempat untuk mereka, Bianca awalnya berpikir mungkin mereka akan berendam sejenak, mungkin mencoba beberapa makanan dan pulang, namun dia salah, saat Rain datang dan mendekatinya, Bianca baru tahu Rain memesan sekaligus 1 kamarnya.
"Kita akan menginap? Tapi rumah kita hanya beberapa menit dari sini," kata Bianca yang bingung kenapa hingga harus menyewa semuanya.
"Tak ada peraturan mengatakan jarak rumah harus berapa jam dari sini baru boleh menyewa hotel, aku tak suka berendam dengan orang-orang, mereka mengatakan mereka memiliki pemandian pribadi di salah satu kamar VVIP suitenya, jadi aku menyewanya saja," kata Rain, Bianca awalnya mengerutkan dahinya namun baru masuk akal ketika Rain mengatakan bahwa dia menyewanya karena tak suka beramai-ramai.
__ADS_1
"Kita ambil baju dulu? Menginap satu malam di sini terdengar seru juga," Tanya Bianca yang merasa sayang menyewa 1 kamar namun tak menikmatinya dan hanya berendam.
"Baiklah, aku akan menyuruh supir membawakan koper kita," ujar Rain segera mengirimkan pesan ke supirnya yang tadi, walaupun sebenarnya tak bersama mereka namun sebenarnya Yuri dan Luke ada di dekat mereka, hanya berbeda pondok saja.